Pegiat Sejarah Lamongan, Kepedulian Terhadap Situs Peninggalan Raja Airlangga

Citizen Jurnalistik

Jagad kepurbakalaan Indonesia mulai ramai sejak ada pemberitaan tentang penghancuran situs-situs peninggalan Majapahit di Trowulan untuk pembangunan Pusat Informasi Majapahit (PIM). Saat itu semua elemen pecinta sejarah bergerak untuk membela situs bersejarah kebanggaan masyarakat nusantara tersebut. Bersamaan dengan di Lumajang yang melahirkan gerakan pelestarian Situs Biting dengan lembaga bernama Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit Timur (MPPM Timur), di Lamongan  muncul lembaga pelestarian bernama Laskar Airlangga.

Oleh : Ananda Kenyo

Indonesia memiliki peninggalan sejarah masa lalu yang tidak terhitung, hal ini membuktikan jika peradaban Indonesia sudah unggul sejak dulu. Upaya dalam pelestarian situs-situs bersejarah yang ada di Nusantara merupakan tugas kita bersama, mengawal serta berjuang dalam melestarikan peninggalan sejarah inilah yang dilakukan oleh Supriyo (45), pria asal Lamongan yang pernah mendalami ilmu teknik di sebuah perguruan tinggi di Surabaya.

Berawal dari ketertarikan personal dan kesadaran akan temuan benda-benda purbakala yang tidak terurus, kumuh dan kurangnya perhatian dari masyarakat sekitar. Priyo sapaan akrabnya mulai menelisik dan mendalami asal-usul benda yang ditemukan didekat kampungnya pada awal tahun 2009.

“Hal ini pun berlanjut kemudian mencoba mencari informasi lebih lanjut pada saat mengetahui, apa namanya, asal muasalnya awalnya kan saya gak tau sama sekali karena tidak memiliki background kepurbakalaan, arkeologi dan sejarah . Kalau dari saya pribadi malah seorang lulusan STM, otomatis kemudian saya berupaya untuk menggali informasi.” Tuturnya pada saat diwawancarai masmansoer.com via sambungan telfon.

“ Saya ambil contoh kasus pada saat saya pertama kali melihat atau meninjau situs Lumpang di tahun 2008 saya juga tidak tahu apa-apa sama sekali, situs itu apa, kenapa bisa membentuk begini, ada batu persegi  yang kemudian saya kenal Yoni. Itu justru belajar kemudian. Jadi justru dari lapangan kita tahu bahwa ada secara umum disebut kepurbakalaan, atau orang-orang sekitar bilangnya tempat keramat yang ada peninggalan kunonya. Lah itu baru kemudian saya belajar, menggali sekaligus apa yang bisa saya lakukan terkait dengan ini. Apa benar ini sesuatu yang harus kita lindungi, dan upayakan untuk mendapatkan perhatian dari pemerintah. Itu yang saya lakukan setahun kemudian.” Imbuhnya.

Lebih lanjut ia juga baru memahami bahwa ternyata ada peraturan Cagar Budaya dan keterkaitan dengan pemerintah di dalam melestarikan benda-benda bersejarah tersebut. Hal ini kemudian menghantarkan Priyo kepada salah satu orang dinas dan berupaya menghubungi pihak BPCB terkait temuan situs yang bernama Watu Lumpang di Lamongan.

“Kita mengkomunikasikan itu kepada pihak BPCB di akhir tahun 2009 saya baru mulai mengkomunikasikan keberadaan benda-benda temuan lapangan tersebut kepada dinas bahkan Trowulan pada saat itu sudah BP3 atau BPCB.”

Setelah mendalami dan mempelajari temuan-temuan Cagar Budaya kemudian pihaknya melakukan pendataan dan kemudian melaporkan lebih lanjut terutama yang benar-benar terdapat peninggalan kuno. Informasi yang diberikan oleh pihaknya kepada pemerintah, misalnya 2009 melaporkan Situs Slumpang dan 2010 melaporkan candi patakan. Setalah ada laporan maka tahun 2012 Situs Candi Slumpang mulai dieskavasi dan berlanjut di tahun 2013.Untuk candi Patakan sendiri ekskavasi pertama dilakukan pada tahun 2013 dan kemudian berlanjut tahun 2018, 2019 dan 2020.

Berkat perjuangan tiada henti dan kepedulian terhadap situs-situs peninggalan bersejarah yang ada di Lamongan, kini perjuangan itu membuahkan hasil. Pada awal tahun 2010 pihak BPCB (Badan Pelestarian Cagar Budaya) melakukan tinjauan langsung, sebelumnya sudah ada tinjauan dari pihak Kabupaten namun nampaknya mereka juga kurang memahami ini apa dan apa yang harus dilakukan karena pada saat itu juga masih baru.

“Kemudian itu ditindaklanjuti BPCB atau BP3 tahun 2010 dengan tinjauan lapangan situs Lumpang, Kecamatan Laren. Pada saat itu juga saya melaporkan situs baru juga yang saat ini dikenal dengan nama Situs Candi Patakan. Jadi laporan keberadaan situs berikutnya saya laporkan pada saat ada peninjauan situs lumpang tahun 2010.” Lanjutnya.

Komunitas Laskar Airlangga, Pusat Informasi Kebudayaan Lamongan (Pikulan) dan  dan para pegiat Cagar Budaya memang berhasil menggugah semangat dan kesadaran masyarakat akan kepedulian terhadap situs-situs bersejarah terutama yang ada di Lamongan, menurutnya sejak diatas tahun 2015 hingga pada 2021 ini perkembangannya sudah cukup populer, perjuangannya tak sesulit di awal-awal dulu tahun 2010. Hingga saat ini, Priyo bersama rekan-rekan seperjuangannya sudah melaporkan lebih dari 10 penemuan situs di Lamongan.

“Kalau masalah jumlah yang sudah dilaporkan saya lupa lebih dari 10. Temuan prasasti yang belum terdata saja lebih dari 2 yang kemudian itu muncul di tahun-tahun kemudian belum lagi situs-situs lain yang strukturnya belum ketahuan identitasnya. Kalau saya asumsi untuk situs yang ada di Lamongan lebih dari 100. Itu yang kita laporkan ke dinas, untuk kepurbakaalan secara umum ada lebih dari 39 yang terdata sebagai cagar budaya sisanya yang hari ini berkembang hampir semua ini upaya kita untuk melaporkan, mengindentifikasi, kemudian meninjau di lapangan dan kemudian data itu juga diadopsi oleh pemerintah daerah.”

Tak hanya berhenti disitu, para pegiat sejarah dan Cagar Budaya di Lamongan ini juga berusaha untuk mensosialisasikan peninggalan bersejarah kepada masyarakat luas terutama generasi muda dengan mengadakan kegiatan seperti jelajah situs atau tergabung dalam diskusi-diskusi publik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.