Arya Wiraraja dan Salam Perjuangan Tiada Henti Dalam Pelestarian Situs Biting Lumajang

Opini

Kabupaten Lumajang merupakan sebuah wilayah yang terletak di sebelah timur gunung Semeru, sebuah gunung tertinggi di Jawa yang di masa lalu dianggap gunung suci. Karena kesuciannya wilayah ini kemudian diberi nama Lumajang yang menurut sohibul hikayat berasal dari istilah Lemah dan Hyang yang artinya tanah para Dewa. Hal ini menyebabkan Lumajang menjadi wilayah penting bagi para penganut Syiwa Buddha dan senantiasa diperebutkan oleh berbagai kerajaan. Namun sejak hilangnya pengaruh Syiwa Buddha sejak abad ke-17 dan pendudukan VOC Kumpeni pada tahun 1767, lama kelamaan perang penting wilayah bernama Lumajang ini mulai surut tertelan jaman.

Oleh : Ananda Kenyo

Surutnya arti penting wilayah Lumajang ternyata simetris dengan hancurnya dan lenyapnya bukti- bukti peradaban tinggi Syiwa Buddha dan jejak arkeologi dari berbagai kerajaan yang pernah mendiami wilayah ini. Seperti yang ada dalam catatan sejarah, wilayah ini pernah menjadi pusat kekuasaan Arya Wiraraja dan Mpu Nambi dengan Lamajang Tigang Juru-nya di kawasan timur Jawa dan Madura, Lembu Miruda dengan kerajaan Blambangan yang hampir menguasai separuh Propinsi Jawa Timur sekarang ini maupun basis perlawanan anak cucu Untung Suropati dalam melawan Kumpeni. Semangat mempertahankan wilayah suci telah berakibat wilayah ini menjadi medan peperangan hebat dan terus-menerus yang berlangsung 450-an tahun lamanya. Tentu saja efek peperangan seperti Genaosida, wabah penyakit, migrasi penduduk sampai perpindahan agama menjadikan daerah ini seolah tanah tak bertuan. Disamping itu peperangan panjang ini telah menjadikan karya-karya peradaban berupa bangunan dan aristektur telah hancur tidak bersisa dan hanya meninggalkan struktur yang terpendam atau artefak berserakan disana-sini. Peradaban warisan kerajaan Lumajang seolah lenyak tak berbekas, meski hanya sebatas dongeng pengantar tidur.

Perusakan Kawasan Situs Biting, Kesepakatan Dini Hari Di Tengah Kuburan

Kawasan Situs Biting sebenarnya sudah ditemukan dan dikenal sejak jaman pemerintah Hindia Belanda berkat temuan J. Hageman pada tahun 1861 dan kemudian pada tahun 1920-1923 dilakukan penggalian awal pada Blok Menak Koncar yang dipimpin Asisten reiden A. Muhlenfeld dan arkeolog Van Koningswald. Tidak berhenti disini saja, meski pemerintahan sudah berganti dari Hindia Belanda yang bersifat kolonial menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang merdeka, penelitian Situs Biting terus dilaksanakan. Pada tahun 1982-1991 Balai Arkeologi Yogyakarta melakukan penelitian yang intensif dalam 12 tahap untuk mengekspoler bekas ibu kota Arya Wiraraja ini, hasilnya diperoleh kesimpimpulan bahwa kawasan ini adalah sebuah situs yang sangat penting yang berasal dari abad ke-14. Namun pada tahun 1995 dikeluarkan ijin prinsip pembangunan PT Perumnas Biting Indah seluas 12,5 hektar. Meski sempat mendapat protes dari peneliti Balai Arkeologi, namun pembangunan perumahan ini jalan terus.

Pembangunan perumahan di kawasan situs bersejarah ini berlangsung selama 15 tahun lamanya dan ketika ada perluasan kembali pada tahun 2010 terjadi perlawanan dari masyarakat Lumajang. Menurut Mansur Hidayat yang merupakan alumni sejarah, mendengar adanya perluasan pembangunan Perumnas Biting ke situs perbentengan di kawasan barat tersebut maka pada 20 Desember 2010 di tepat jam 12 malam di terangi cahaya lilin, beberapa orang dari unsur sejarah dan kaum spiritual ditengah kuburan Biting sepakat membentuk lembaga pelestarian sejarah bernama Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit Timur (MPPM Timur). Setelah adanya kesepakatan  tersebut, kemudian berbagai macam unsur masyarakat mulai bergabung baik dari kalangan arkeologi seperti Aries Puwantiny dan ada awal tahun 2011 dari kalangan mahasiswa membentuk Komunitas Mahasiswa Peduli Lumajang (KMPL) yang di komandani oleh Agus Sholeh dan Babun Wahyudi dari Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Lumajang.

Menurut Aries Purwatiny salah seorang pengurus MPPM Timur tahap pertama dari perjuangan dan perlawanan dalam rangka menghentikan perluasan pembangunan perumahan adalah dilakukan  sosialisasi ke mahasiswa, pemuda, siswa maupun masyarakat di Lumajang yang saat itu tidak mengenal sejarahnya. Disamping itu juga dilakukan silaturrahmi dan sosialisasi ke rumah warga di sekitaran Dusun Biting, sekolah-sekolah sampai warung kopi. Hasil yang dicapai dari kegiatan ini adalah adanya kesadaran sejarah masyarakat Lumajang dan masyarakat di Dusun Biting sehingga tumbuh kebanggaan akan sejarahnya. Setelah mulai mendapat dukungan dari masyarakat maupun para pemuda di Lumajang maka MPPM Timur terus mengadakan berbagai pertemuan dan silaturrahmi terhadap pemerintah Lumajang sampai Kantor Pariwisata.

Dari berbagai silaturrahmi dan pertemuan dengan pemerintah tersebut dapat diperoleh gambaran tentang posisi PT Perumnas Biting Indah yang sangat kuat karena telah mengantongi ijin prinsip terkait pembangunan perumahan. Demikian juga sikap pemerintah Kabupaten Lumajang yang saat itu masih belum menunjukkan keperdulian para pelestarian peninggalan bersejarah. Oleh karena belum mendapatkan dukungan yang memuaskan dari pemerintah Kabupaten Lumajang, para pelestari-pun mulai mengambil sikap dan ancang-ancang yang jelas yaitu melakukan perlawanan terhadap para perusak situs bersejarah.

Dukungan Keturunan Arya Wiraraja dari Pulau Dewata, Pelestari Dituduh Agen Hindu

Menurut Mansur Hidayat dalam suatu forum diskusi di Mojokerto, Ketua MPPM Timur Mansur Hidayat dan Pegiat KMPL Agus Sholeh bertemu dengan salah seorang pegiat muda dari Paguyuban Arya Wang Bang Pinatih (AWBP) dan sempat membicarakan perusakan situs peninggalan Arya Wiraraja di Lumajang. Mendengar kabar tersebut, segenap keturunan Arya Wiraraja di pulau Bali yang tergabung dalam Paguyuban Arya Wang Bang Pinatih bersikap dengan menyatrakan hadir dalam event yang akan di gagas para pelestari Situs Biting.

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2011 dijadikan momentum bagi bangkit dan lestarinya kawasan bersejarah Situs Biting yang selama ini seolah dipinggirkan dan ditepikan. Lembaga pelestarian MPPM Timur dengan dibantu KMPL menggagas event Napak Tilas dan Pagelaran Seni Budaya Nusantara yang akan mengundang segenap masyarakat pecinta sejarah tidak hanyak dari Jawa Timur namun juga dari pulau Bali. Event ini kemudian berlangsung pada tanggal 21-22 Mei 2011 yang bertempat di Kawasan Situs Biting dengan acara jalan sehat menelusuri Museum Swadaya Situs Biting,  kawasan perbentengan, kawasan taman sari dan kawasan Kraton dan diakhiri hiburan.

Sebelum event Napak Tilas berlangsung, dalam suatu acara yang digagas Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Timur yang sekarang menjadi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) dan bertempat di kantor Pemerintah Kabupaten Lumajang seorang peserta diskusi menuduh para pelestari MPPM Timur adalah agen Hindu karena kedua pengurusnya adalah lulusan Universitas Udayana. Peserta yang juga tokoh politik dan pemuka Tarikat di Indonesia tersebut mengancam, jika acara di Biting diteruskan dengan mendatangkan orang-orang Bali maka dirinya akan mengerahkan laskar Islam untuk membubarkannya. Namun berbagai ancaman dan tuduhan tersebut tidak menjadikan para pelestari dari MPPM Timur dan KMPL mundur namun semakin berani menunjukkan jalan perlawanan untuk pelestarian peninggalan bersejarah.

Pada hari Sabtu tanggal 21 Mei 2011 acara Napak Tilas dan Pagelaran Seni Budaya-pun dilaksanakan dengan sangat mencekam. Dari paguyuban Arya Wang Bang Pinatih (AWBP) datang peziarah sebanyak 250-an orang atau sekitar 6 bus pariwisata hadir dalam acara Napak Tilas ini. Sekitar 100 orang ditempatkan untuk menginap di rumah-rumah warga supaya terjadi keakraban satu sama lain. Pada Sabtu malam ketika menyambut kedatangan 300 orang dari pulau Bali tersebut berhembus isu santer akan ada pembubaran acara oleh oramas Islam seperti yang diancamkan beberapa waktu lalu. Saat itu  diperkirakan hampir 10 ribu orang memenuhi sebuah tanah lapang yang disulap menjadi lapangan mendadak yang ada di Dusun Biting. Para tokoh Paguyuban Arya Wang Bang Pinatih dengan pakaian tradisional Bali disambut hangat oleh para sesepuh warga Dusun Biting termasuk para Ulama-nya. Acara malam itu berlangsung dengan aman dan lancar. Pada keesokan harinya lebih dari 5000 orang peserta Napak Tilas dari Lumajang dan Bali-pun memenuhi lapangan dadakan di Dusun Biting.

Keberhasilan acara pertama ini kemudian di ikuti dengan acara Napak Tilas yang kedua dengan persiapan yang lebih maksimal. Para pegiat MPPM Timur kemudian membidani kelahiran sebuah organisasi masyarakat di Dusun Biting bernama Pengurus Makam Manak Koncar/ Arya Wiraraja pada awal Juli 2012 yang akan bekerja sama menyambut acara Napak Tilas yang kedua. Pada saat Napak Tilas tahun kedua ini, acar dikemas dengan lebih meriah. Diawali dengan pembangunan Cungkup Petilasan Arya Wiraraja sumbangan dari Paguyuban keturunan Arya Wiraraja tersebut yang setelah selesai diadakan syukuran bersama. Namun tuduhan agen Hindu terhadap para pelestari semakin santer karena ada seorang pemilik pesantren yang melarang warga mengikuti acara syukuran dan tersebut. Hal ini menyebabkan hampir seprauh warga Dusun Biting membatalkan ke-ikut sertaan dalam menghadiri acara selamatan tersebut.

Acara Naspak Tilas kedua ini pada Sabtu 7 juli 2012 siang hari diisi dengan pertemuan para tokoh pelestari Lumajang, Sumenep, dari Bali seperti Wakil Bupati Badung saat itu Ketut Sudikertadan Kepala BPCB Aris Soviyani, fasion Show, kesenian jaran kencak, kirab pasukan berkuda dan reok keliling dusun Biting. Pada malam harinya acara dilanjutkan dengan berbagai macam tarian seperti tarian Sandyakalaning Lamajang Tigang Juru oleh maestro tari Parmin RAS dan 7 tarian yang didatangkan dari pulau Dewata maupun pencak silat. Keesokan harinya dilakukan Napak Tilas menelusi jejak perbentengan di bekas ibu kota Lamajang Tigang Juru. Acara kedua inipun berlangsung lebih sukses dan mendapat apresiasi dari pemerintah Jawa Timur sehingga Napak Tilas saat itu sempat dijadikan agenda tetap bagi Pariwisata Jawa Timur.

Disamping agenda Napak Tilas masih banyak event maupun kegiatan para pelestari Situs Biting yang diadakan setiap bulan sekali seperti Touring sejarah ke situs-situs yang ada di Kabupaten Lumajang, Lomba Lukis tingkat TK sampai Sekolah Dasar maupun lomba mewarnai. Kegiatan dengan masyarakat Dusun Biting dilakukan seperti menanam bunga Andong Merah di sepanjang jalan menuju lahan situs yang masih belum dikenal oleh masyarakat saat itu sampai pada kegiatan Istigotsah untuk mendampingi Pengurus Makam Arya Wiraraja/ Menak Koncar yang saat itu sedang mengembangkan makam Sayyid Abdurrohman. Perlu diketahui pelestarian Situs Biting ini memakan waktu cukup panjang yaitu sekitar 3 tahun sejak 2011-2014. (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.