Arya Wiraraja dan Salam Perjuangan Tiada Henti Dalam Pelestarian Situs Biting Lumajang

Cagar Budaya Sejarah

Perlu diketahui bahwa perjuangan pelestarian Situs Biting membutuhkan waktu yang sangat panjang terhitung dari awal Januari 2011 sampai akhir Januari 2014. Berbagai macam halangan dan rintangan dilalui oleh para pelestari MPPM Timur dan KMPL. Disamping serangan dari pihak luar yang dalam hal ini terdiri dari pihak pengembang, pihak pemerintah maupun kelompok-kelompok masyarakat yang menuduh pihak pelestari sebagai agen Hindu maupun berbagai dinamika yang ada di kalangan pelestari sendiri. Perjuangan pelestarian dalam waktu yang lama merupakan tantangan tersendiri yang membutuhkan pengelolaan sumber daya dan regenerasi berkala karena jenjang karir dan prestasi merupakan suatu hal yang tidak bisa dielakkan dalam setiap perjuangan.

Oleh : Ananda Kenyo & Vivi

Jalan terjal dilalui para pelestari untuk melawan pengembang yang merusak kawasan Situs Biting. Berbagai metode perjuangan dikembangkan diantaranya adalah pembuatan Museum Swadaya Situs Biting untuk pengenalan kepada masyarakat terutama kepada generasi muda, pembuatan website untuk media online suaranusantara.com yang kemudian berganti menjadi pedomannusantara.com, penulisan buku maupun Seminar tentang Situs Biting dan ketika semua usaha damai tidak bisa menyelesaikan masalah pelestarian maka jalan terakhir adalah aksi turun ke jalan.

Museum Situs Biting: Museum Perjuangan Untuk Pengenalan Sejarah Lumajang

Menurut Mansur Hidayat (48 tahun), bersamaan dengan event Napak Tilas dan Pagelaran Seni Budaya Nusantara 1 pada tanggal 21 Mei 2011, Museum Situs Biting di perkenalkan kepada khalayak ramai. Pada saat itu para pelestari menyewa sekretariat bersama di sekitaran Situs Biting supaya dapat mengawal secara serius upaya pelestarian situs yang luar biasa ini. Menurutnya saat itu Aries Purwantiny yang merupakan Litbang MPPM Timur mengusulkan supaya penemuan barang-barang kuno yang ada di masyarakat Biting maupun berbagai temuan permukaan yang ada di sekitaran Dusun Biting hendaknya diselamatkan dan diperkenalkan kepada masyarakat. Perlu diketahui saat itu banyak temuan permukaan seperti porselin Cina bekas guci atau piring ditemukan di lokasi Blok Jeding dan Blok Menak Koncar maupun temuan-temuan seperti lumpang batu dan juga foto-foto artefak-artefak situs-situs di Lumajang dimiliki oleh para pelestari. Dengan adanya Museum sebagai tempat penyimpanan tentu saja dapat menggugah pemikiran masyarakat akan kebesaran sejarah Lumajang dan juga menggugah pemerintah supaya membuat Museum Daerah untuk menyelamatkan benda-benda bersejarah Lumajang. Dengan dilengkapi sebuah etalase dan ruang pajang berukuran 4X6 Meter jadilah Museum pertama yang terbesar di Kabupaten Lumajang dengan Aries Purwantiny sebagai Kepala Museum dan staf Museumnya adalah para pelestari yang tinggal di Sekretariat sekaligus Museum seperti Agus Sholeh, Babun Wahyudi maupun Imron Ghozali.

Menurut Aries Purwantiny (49 tahun), mantan Litbang MPPM Timur dan pelestari Situs Biting yang saat ini menjadi Kurator Museum Daerah Lumajang menyatakan Museum Situs Biting tersebut sebenarnya tidak layak dikatakan sebagai  Museum tetapi lebih kepada rumah penyelamatan atau Rumah Informasi tentang Situs Biting  pada khususnya dan Sejarah Lumajang pada umumnya. Gagasan itu sebenarnya untuk mengenalkan kepada masayarakat Lumajang tentang keberadaan Benteng Kutorenon (Situs Biting) terutama kepada pelajar dan pemudanya agar mereka mengetahui tentang Sejarah lokal atau Daerah-nya, sekaligus mengedukasi masyarakat sekitar Situs Biting tentang nilai penting sejarah, pendidikan, ilmu pengetahuan, ekonomi, agama dan budaya.

Menurut Muhammad Imron Ghozali, salah seorang mahasiswa pelestari dari Komunitas Mahasiswa Peduli Lumajang (KMPL) yang tinggal di Sekretariat dan otomatis menjadi staf Museum Situs Biting menyatakan bahwa keterlibatannya dalam pelestarian Cagar Budaya berawal dari ketertarikannya untuk mengetahui asal usul sejarah Lumajang dan belajar dari sejarawan dan arkeolog MPPM Timur. Namun ternyata semakin di dalami semakin penasaran  sehingga dirinya yang saat itu tinggal di Sekretariat Perjuangan otomatis menjadi staf Museum karena jika ada pengunjung datang sebisa mungkin menjelaskan berbagai temuan yang dipajang. Hal ini berlaku juga bagi teman-teman yang tinggal di Sekretariat seperti Agus Sholeh maupun Babun Wahyudi, kenang pria yang bergelar Sarjana Hukum ini.

Lebih jauh Mansur Hidayat menyatakan bahwa setelah dibuka, Museum Situs Biting banyak dikunjungi oleh masyarakat Lumajang maupun diluar Lumajang yang salah satunya adalah dari pulau Bali. Pihak Museum Situs Biting-pun terus menambah koleksi seperti membuat replika Yoni Nagaraja dari Candipuro dan Prasasti Pasru Jambe. Aktifitas Museum Situs Biting juga mendapat apresiasi dari Pemerintah Propinsi Jawa Timur dalam mewakili Kabupaten Lumajang sampai tahun 2014-an meski nantinya Kepala Museum Situs Biting telah berganti dari Aries Purwantiny yang saat itu mengundurkan diri untuk menjadi Kurator Museum Daerah ke tangan Lutfia yang merupakan alumni sejarah. Karena keaktifan dan semangat pengenalan sejarah yang luar biasa tersebut, maka pihak media massa nasional seperti Kompas pernah memberitakan perjuangan Museum Situs Biting pada tahun 2012-an. Museum Situs Biting ini nantinya terus bertahan sampai tahun 2014, namun karena ketiadaan sokongan dana, maka Museum perjuangan ini akhirnya ditutup.

Media Online pedomannusantara.com, Media Perjuangan dan Pembelajaran Pelestari Situs Biting

Mansur Hidayat yang merupakan ketua MPPM Timur sekaligus penggerak perjuangan pelestarian Situs Biting merupakan salah seorang usahawan yang pada masa mahasiswa dan awal karirnya berangkat dari jurnalis kampus. Oleh karena itu pelestari yang satu ini juga memilih perjuangan dengan metode mendirikan media massa dalam hal ini media online untuk menyuarakan pelestarian situs Biting. Menurut Muhammad Imron Ghozali (36 tahun), pembuatan media online pedomannusantara.com itu ditujukan sebagai corong kami untuk menyuarakan agar masyarakat Indonesia, khususnya Kabupaten Lumajang bisa mengetahui bahwa di Lumajang ada bekas kerajaan besar yang tidak diperhatikan sama sekali. Media online pedomannusantara.com pada awalnya di pimpin oleh Babun Wahyudi yang sekarang menjadi pemimpin redaksi media online lumajangsatu.com dengan staf redaksinya Agus Sholeh, Muhammad Imron Ghozali dan Lutfia. Namun setelah Babun Wahyudi mengundurkan diri maka pimpinan redaksi dilanjutkan oleh Muhammad Imron Ghozali.

Menurut Mansur Hidayat, keberadaan media online pedomannusantara.com yang didirikan pada tahun 2011 tersebut sebenarnya adalah untuk menjadi corong bagi pelestarian Situs Biting, namun secara internal ia ingin melatih para pelestari yang berasal dari kalangan mahasiswa untuk belajar menjadi jurnalis sebagai bekal bagi pekerjaannya. Pada saat itu Babun Wahyudi dan Imron Ghozali merupakan mahasiswa yang menujukkan minat sebagai jurnalis ditambah Lutfia yang merupakan alumni sejarah. Oleh karena semangat dan keseriusan dalam pengelolaan, setelah ditinggal Babun Wahyudi pada pertengahan tahun 2011, Imron Ghozali, Agus Sholeh dan Lutfia merupakan trio jurnalis yang mewarnai penulisan berita umum di Lumajang saat itu.

Pada pertengahan tahun 2013 tenaga muda di media online pedomannusantara.com semakin berkurang ketika Imron Ghozali dan Agus Sholeh mengundurkan diri sehingga media online ini praktis digawangi oleh Lutfia seorang diri. Pada saat itu perjuangan pelestarian Situs Biting sedang memasuki tahap akhir ketika perluasan pembangunan oleh pengembang mulai meraja lela kembali. Para pelestari MPPM Timur dan KMPL pun bergerak dan pedomannusanatara.com menjadi media online yang berada di garda depan untuk memberitakannya. Keberadaan media Online pedomannusantara.com ini terus berlangsung dan kemudian ditutup tahun 2015 ketika perjuangan pelestarian Situs Biting sudah selesai dengan berhentinya pengambangan perumahan dan dijadikannya Kawasan Situs Biting menjadi Cagar Budaya Propinsi Jawa Timur.

Penulisan Buku dan Seminar: Dasar Akademis Bagi Kawasan Situs Biting

Menurut Lutfiati (35 tahun) yang merupakan Sekretaris MPPM timur, pada awal perjuangan pelestarian Situs Biting para pelestari tidak mempunyai dasar pedoman yang komprehensif dan lengkap terkait penulisan sejarah Lumajang maupun peninggalan arkeologinya. Oleh karena itu para pelestari dari MPPM Timur kemudian menggagas sebuah seminar nasional tentang Situs Biting sehingga dapat diperoleh landasan akademis yang sangat dibutuhkan untuk menjadi dasar perjuangan.

Bertepatan dengan Bulan jadi Kabupaten Lumajang dan ulang tahun pertama MPPM Timur, diadakanlah sebuah seminar nasional tentang Situs Biting dengan narasumber yaitu Novida Abbas dari Balai Arkeologi Yogyakarta yang pada saat penelitian Situs Biting tahun 1982-1991 menjadi salah satu peneliti utamanya, Dwi Cahyono yang merupakan akademisi dari Universitas Negeri Malang dan Wicaksono Dwi Nugroho dari BP3 Jawa Timur. Seminar Nasional tentang Situs Biting yang pertama ini mampu menggebrak kesadaran masyarakat terutama guru-guru sejarah yang hadir pada saat itu sehingga keberadaan peninggalan bersejarah di Situs Biting semakin luas dan secara otomatis ditularkan pada pengetahuan siswanya.

Pasca seminar tentang Situs Biting, pada akhir tahun 2011 para pelestari beserta seorang jurnalis bernama Harry Purwanto menggagas sebuah ide untuk membuat buku yang nantinya dapat dijadikan bekal dalam perjuangan pelestarian maupun sosialisasi pada masyarakat Lumajang. Dalam diskusi tersebut kemudian dibagi tugas Mansur Hidayat membuat buku sejarah dan Aries Purwantiny membuat buku  arkeologi. Kedua buku ini kemudian diluncurkan pada saat event Napak Tilas dan Pagelaran Seni Budaya Lumajang pada 7 Juli 2012. Mansur Hidayat meluncurkan buku berjudul “Sejarah Lumajang: Melacak Ketokohan Arya Wiraraja dan Zaman Keemasan Lamajang Tigang Juru” yang kemudian mendapat apresiasi luas dan pada tahun 2013 diperbarui judulnya menjadi “Arya Wiraraja dan Lamajang Tigang Juru: Menafsir Ulang Sejarah Majapahit Timur”. Untuk buku arkeologi karya Aries Purwantiny berjudul “Peradaban Lamajang Kuno” juga mendapat tanggapan yang luas dari berbagai pihak.

Dengan keberadaan 2 buku bersifat sejarah dan arkeologi tersebut mulai terkuaklah cerita tentang Arya Wiraraja maupun peningalan-peninggalannya yang berserakan di seluruh Lumajang. Disamping itu keberadaan 2 buku ini juga membuat dorongan guru maupun siswa di Lumajang untuk mempelajari sejarahnya semakin luas. Para pelestari dari MPPM Timur-pun senantiasa berkeliling dari sekolah ke sekolah untuk melakukan sosialisasi terkait sejarah Lumajang.

Seputar Petilasan Arya Wiraraja dan Sayyid Abdurrahman

Menurut Mansur Hidayat, ada satu cerita yang menarik tentang keberadaan pengurus Makam Arya Wiraraja/ Menak Koncar maupun Sayyid Abdurrohman As- Syaiban. Pada saat gencarnya tuduhan Agen Hindu terhadap para pelestari Situs Biting, para pelestari telah mendorong masyarakat untuk membentuk kepengurusan Makam dan Petilasan. Pembangunan cungkup Petilasan Arya Wiraraja menimbulkan sikap pro dan kontra di masyarakat Dusun Biting. Sikap pro ditunjukkan sebagian besar masyarakat karena menganggap keberadaan petilasan Arya Wiraraja merupakan asset besar bagi Situs Biting sehingga nantinya bisa dimaksimalkan sebagai potensi wisata. Tentang yang kontra tentu saja menilai bahwa keberadaan petilasan Arya Wiraraja ini merupakan suatu Hindunisasi yang perlu di waspadai.

Pergesekan dan sikap pro kontra semakin menjadi-jadi pada akhir tahun 2012 yang menyebabkan kebingungan bagi masyarakat Dusun Biting. Dalam rangka pelestarian situs Biting yang saat itu masih terancam oleh perumahan maka ketua MPPM Timur tersebut mengadakan komunikasi yang intensif dengan pengurus Makam  Menak Koncar/ Arya Wiraraja terkait masalah ini. Dalam sebuah diskusi, ketua MPPM Timur yang juga sejarawan tersebut kemudian membantu mengenalkan keberadaan Sayyid Abdurrohman As- Syaiban yang belum terlalu kuat fakta sejarahnya sejauh hanya diperkenalkan sebagai dongeng dan bukan fakta sejarah.Dari sinilah kemudian MPPM Timur melakukan istigotsah dan pengajian sehingga pelestarian sejarah Nasional maupun sejarah Islam akan terjaga dan tidak ada saling curiga. Bagi MPPM Timur ini adalah suatu langkah taktis yang perlu ditempuh dalam rangka meyakinkan masyarakat untuk mendukung penyelamatan Situs Biting.

Dari gerakan yang ditempuh oleh MPPM Timur ini, maka dalam waktu yang singkat banyak sumbangan mengalir untuk pembangunan Mushollah Sayyid Abdurrohman baik berupa tanah Waqaf, bahan bangunan maupun sumbangan pembangunan. Sejak itulah keberadaan Sayyid Abdurrohman As- Syaiban terus berkembang di Kawasan Situs Biting yang terkadang jauh dari diskusi semula.

Perjuangan Tiada Henti: Aksi Turun ke Jalan Menghentikan Perusakan Situs Biting

Berbagai macam cara telah dilakukan oleh para pelestari Situs Biting dalam menghadapi keberadaan pengembang yang tetap ngotot ingin membangun perumahan di areal lahan yang merupakan kawasan situs bersejarah. Berbagai tanggapan miring-pun banyak ditujukan kepada pengembang plat merah ini yang seolah tidak peduli keberadaan sejarah kota Lumajang yang telah dikenal oleh masyarakat luas. Setelah berhenti selama 1,5 tahun maka pada awal tahun 2013 pihak pengembang mulai melakukan perluasan pembangunan di areal situs. Setelah berbagai protes damai kepada pemerintah Kabupaten Lumajang tidak dihiraukan, maka sudah saatnya para pelestari Situs Biting membuktikan semboyan Perjuangan Tiada Henti yang sering dikumandangkannya.

Pada pertengahan tahun 2013 kekuatan para pelestari Situs Biting sudah jauh berkurang. Banyak para pegiatnya yang mengundurkan diri karena memang tuntutan kerja dan panjangnya durasi pelestarian. Namun semangat “Perjuangan Tiada Henti” ini ternyata mampu membalikkan prediksi sang pengembang sehingga nantinya mampu untuk menghentikan perusakan Situs Biting secara permanen.  Karena protes damai tidak dihiraukan, maka para pelestaripun bersiap untuk melakukan aksi turun ke jalan.

Menurut Lutfia, ketika banyak pelestari Situs Biting mengundurkan diri Rina Rohkmawati yang merupakan seorang akademisi dari Jember-pun ikut turun ke jalan membantu perjuangan di penghentian perusakan Situs Biting oleh pengembang perumahan. Bertepatan dengan Hari Purbakala ke 100 pada tanggal 14 Juni 2013 dilakukan aksi turun ke jalan yang dilakukan oleh trio Srikandi MPPM Timur dengan cara membagikan bunga kepada para pemakai jalan di perempatan tugu Adipura Lumajang. Aksi simpatik ini kemudian mendapat apresiasi dan dukungan luas dari masyarakat sehingga perusakan kawasan bersejarah oleh pengembang tersebut dapat diketahui secara luas oleh publik. Namun ternyata pihak pengembang tetap tidak perduli dan terus mengadakan perusakan Kawasan Situs Biting. Melihat ketidak-pedulian pembang perumahan tersebut tidak hanya akademisi, pihak peneliti Balai Arkeologi Yogyakarta-pun mengakan dukungan dengan cara melakukan ekskavasi yang bersebelahan dengan tempat perusakan situs untuk dibangun perumahan pada awal Oktober 2013. Hal ini tentu saja membuat masyarakat berang karena dukungan kalangan akademisi dan peneliti ini mampu membuat publik tersadar akan ancaman terhadap peninggalan sejarahnya.

Lebih jauh Lutfia menyatakan bahwa ketika pihak pengembang semakin tidak peduli terhadap pelestarian situs, maka pada tanggal 7 Oktober 2013 diadakan aksi ke depan kantor pemerintah Kabupaten Lumajang, namun pihak Bupati nampaknya enggan menemui para pengunjuk rasa. Aksi yang lebih besar dilakukan oleh MPPM Timur dan KMPL yang dipimpin oleh Akhmad Mustofa Jamil pada tanggal 21 Oktober 2013 yang kemudian di temui Ketua DPRD Lumajang Agus Wicaksono yang berjanji untuk membantu menghentikan pembangunan oleh pengembang perumahan.

Dalam perkembangan selanjutnya, tanggal 22 Oktober 2013, Bupati Lumajang Sjahrazad Masdar mengeluarkan surat keputusan untuk penghentian sementara pembangunan perumahan di Kawasan Situs Biting dan pada 30 Januari 2014 dalam pertemuan Tri Partit antara MPPM Timur, PT Perumnas Biting Indah dan Pemerintah Kabupaten Lumajang ditanda tangani pernyataan penghentian pembangunan secara permanen oleh pihak pengembang. Landasan hukum terkait pelestarian Kawasan Situs Biting ini kemudian di perkuat dengan adanya SK Gubernur Jawa Timur Sukarwo pada tanggal 14 April 2014 tentang pengesahan Kawasan Situs Biting menjadi Cagar Budaya Propinsi Jawa Timur. (Selesai)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.