Perlawanan Berdarah di Palagan Malang- Besuki

SUARA REDAKSI

Proklamasi yang di bacakan oleh Sukarno Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10 pagi di jalan Pegangsaan timur nomer 56 Jakarta gemanya bagai menghipnotis seluruh persada nusantara. Di seluruh pelosok tanah air, rakyat dari berbagai kalangan bahu-membahu mengumandangkan dan melaksanakan perintah Sukarno- Hatta untuk melaksanakan pemindahan kekuasaan dalam tempo yang sesingkat- singkatnya. Salah satu seruan yang kemudian diterjemahkan oleh rakyat dan disambut bak jamur di musim hujan adalah panggilan seluruh pemuda untuk memasuki sebuah organisasi semi ketentaraan bernama Badan Keamanan Rakyat (BKR). Dimana-mana BKR tumbuh dari bawah dari rahim rakyat yang memang merindukan pembelaan atas tanah airnya.

Oleh : Mansur Hidayat

Demikian juga organisasi kelaskaran seperti Hizbullah yang merupakan organisasi semi- militer yang dibentuk Jepang dan tidak pernah dibubarkan terus berkembang dengan Panglimanya KH Zainul Arifin. Para pemuda-pun tidak ketinggalan, di kota Surabaya membentuk sebuah organisasi perjuangan bernama Pemuda Republik Indonesia (PRI) yang di komandani Sumarsono dan kemudian secara lebih besar di Yogyakarta terbentuk organisasi pemuda bernama Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo).

Berbagai organisasi perjuangan baik yang resmi yaitu Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang kemudian menjadi Tentara Keamanan Rakyat, berganti lagi menjadi Tentara Keselamatan Rakyat (TKR), menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) dan terakhir menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Demikian juga berbagai badan perjuangan mulai dari Hizbullah, Pemuda Republik Indonesia (PRI), Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo), Laskar Rakyat Djakarta Raya (LRDR), Laskar Rakyat Djawa Barat (LRDB), Laskar Buruh maupun yang lainnya bersatu padu mempertahankan negara Proklamasi yang dicintainya. Semangat membela Proklamasi ini kemudian dibuktikan ketika mereka bersatu padu menentang pendudukan Inggris yang diboncengi oleh Netherlands Indies Civil Administration (NICA) yang ingin melanjutkan penjajahannya kembali di Indonesia.

Ujian pertama melawan Inggris sudah dilalui, selanjutnya rakyat yang pendapatnya terbelah tentang cara melawan Belanda apakah berdiplomasi dan bernegosiasi atau dengan cara frontal dengan ide Merdeka 100%. Kepatuhan rakyat dalam revolusi kemudian diuji. Jika melakukan dengan cara konfrontatif berarti tidak mematuhi perintah dari pemerintahan yang sah namun jika harus bertegak sesuai dengan perintah atasan dalam kenyataan lapangan pasukan Belanda terus merangsek maju di persada bumi pertiwi.

Ujian sesungguhnya terhadap kebersamaan rakyat dengan pemerintahnya adalah ketika pemerintah Perdana Menteri Syahrir menanda tangani Pejanjian Linggarjati yang dianggap jauh dari harapan karena tidak sesuai dengan gaung Proklamasi dimana wilayah Republik Indonesia meliputi bekas Hindia Belanda menjadi sebatas Jawa, Madura dan Sumatra. Perpecahan dan kekecewaan-pun semakin meluas yang menyebabkan jatuhnya pemerintahan Perdana Menteri Syahrir. Ujian besar terhadap republik Indonesia yang baru berumur 2 tahun-pun terjadi, pada tanggal 20 Juli 1947 pemerintah Belanda melalui Perdana Menteri Beel menyatakan perang dan tidak mengakui lagi Perjanjian Linggarjati dan disusul pada 21 Juli 1947, Panglima Koninlijk Netherlands Indies Leger (KNIL) Jenderal Simon H. Spoor mengerahkan pasukan di Jawa Barat, Jawa Timur dan Sumatra Timur sebagai tanda Agresi Militer Belanda I yang diberi kode Operatie Product dimulai untuk merebut kantong-kantong ekonomi dari tangan Republik Indonesia. Rakyat baik yang tergabung dalam Tentara Republik Indonesia (TRI) maupun badan-badan Perjuangan bersatu padu. Di Karesidenan Malang Besuki yang merupakan salah satu sasaran Agresi Militer Belanda I,  rakyat dan tentara membuktikan kesetiaannya. Perlawanan tak kenal takut dengan taktik Perang Gerilya dilakukan sampai titik darah penghabisan.

Pasca Agresi Militer Belanda I, lonceng kematian pendudukan Belanda di dunia internasional-pun di mulai. Pemerintah India sebagai teman seperjuangan Republik Indonesia memprotes pendudukan Belanda yang dianggap aksi militer tersebut, demikian juga negara-negara timur tengah dan disusul Inggris dan Amerika sehingga Dewan keamanan Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) mengultimatum Belanda untuk menarik pasukannya dari bumi Indonesia. Namun keinginan Belanda untuk menduduki dan menjajah persada Nusantara tidak surut, sekali lagi setelah perjalanan panjang satu tahun setengah ber- negosiasi yang di puncaki dengan Perjanjian Renville yang sangat menguntungkannya tidak membuat Belanda puas. Mereka ingin dalam waktu 3 bulan Republik Indonesia lumat.

Pada tanggal 20 Desember 1948 pemerintah Belanda mengumumkan perang kembali kepada Republik Indonesia dan pagi-pagi sekali tanggal 21 Desember 1948 ibu kota Yogyakarta telah diduduki. Presiden Sukarno, Wakil Presiden Muhammad Hatta dan para anggota Kabinet di tawan ke Sumatra. Panglima Besar Jenderal Sudirman beserta segenap pasukan Tentara Nasional Indonesia menyingkir dan bergerilya di luar kota. Berkebalikan dengan suasana di ibu kota republik Indonesia Yogyakarta, di Kawasan Malang Besuki yang sebagian besar telah diduduki pasukan Belanda, laskar maupun tentara mempunyai kesempatan untuk menyusup dan menyerang kembali wilayah yang direbut pasukan belanda pada Agresi Militer I pada 21 Juli 1947. Penyusupan dan penyerangan gerilya di mulai. Darah-pun kemudian menetes di wilayah lumbung padi yang terkenal Gemah Ripah Loh Jinawi. Para pejuang bangsa berguguran disini tanpa pernah ditulis dengan baik. Dalam kesempatan ini, masmansoer.com ingin mempersembahkan tulisan ini bagi para pejuang yang namanya jarang ditulis oleh anak-anak negeri ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.