Pelopori Perang Gerilya, Sang Jenderal Diculik Bawahan dan Diberhentikan Atasan

Sejarah Tokoh

Pada umumnya dalam banyak tulisan dan diskusi, membicarakan Perang Gerilya di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari 2 sosok Jenderal yang sudah tidak asing lagi di Indonesia. Pertama adalah Panglima Besar Jenderal Sudirman sebagai seorang Jenderal yang dianggap melaksanakan Perang Gerilya pertama kali sewaktu menyingkir dari kota Yogyakarta dan memulai Perang Gerilya ketika menyingkir dari kota Yogyakarta sewaktu Agresi Militer Belanda I. Kedua adalah Jenderal AH Nasuition yang secara teori telah menuliskan sebuah buku yang mengulas tentang dasar-dasar dalam melakukan Perang Gerilya. Dari tulisan inilah kemudian Jenderal Siliwangi ini dikenal sebagai ahli Perang Gerilya Modern di dunia.

Oleh: Mansur Hidayat

Menurut Nugroho Notosusanto dalam disertasinya tentang tentara PETA  yang telah di bukukan, Tentara PETA: Pada Jaman Pendudukan Jepang di Indonesia,  menyatakan bahwa terbentuknya pasukan sukarela Pembela Tanah Air (PETA) ini dikarenakan pasukan Jepang pada pertengahan tahun 1943 mulai mengalami kekalahan berturut-turut terhadap pasukan Amerika Serikat. Pada saat itu Jepang mengalami kekurangan pasukan dikarenakan wilayah yang dikuasai dan medan pertempuran semakin luas mulai dari Birma di daratan Asia sampai ke lautan pasifik sehingga membutuhkan pasukan yang tidak sedikit. Sebenarnya Militer Jepang telah membentuk tentara yang terdiri dari masyarakat pribumi dengan memanfaatkan sentimen nasionalis di beberapa negeri seperti  Indian National Army di Malaya yang dikomandani oleh Mohan Sing dan Burma Independence Army di Burma yang dikomandani oleh Aung San. Di Indonesia sendiri sebenarnya pasukan Jepang telah membentuk kesatuan dari tentara pribumi bernama Heiho yang dijadikan pembantu pasukan Jepang, namun pasukan ini tidak mempunyai perwira orang pribumi sendiri.

Pada saat Perang Asia Timur Raya atau Perang Pasifik sedang berlangsung terutama di wilayah tentara Selatan yang meliputi Asia Tenggara ada 2 aliran pemikiran tentang ketentaraan pribumi yang berkembang saat itu. Pertama adalah pemikiran tentang  pasukan pribumi yang dilatih namun fungsinya adalah sebagai pembantu dan pekerja kasar yang perwiranya tetap dipegang oleh orang Jepang yang nantinya diwujudkan dalam pembentukan pasukan Heiho. Kedua adalah pemikiran tentang pasukan pribumi yang dilatih untuk mempertahankan negerinya dengan perwira dari orang pribumi sendiri. Pada awalnya, pemikiran  tentang pasukan pribumi yang dipimpin perwira Jepang mendapatkan angin segar sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama setelah pendudukan Jepang di Indonesia pasukan Heiho segera terbentuk. Pemikiran tentang perlunya pasukan pribumi yang di komandani perwira pribumi sendiri merupakan pendapat Letnan Jenderal Inada Masazumi yang daingkat menjadi Deputy Kepala Staf  Tentara Selatan yang berpusat di Singapura pada pertengahan Maret 1943.

Letjen Inada mempunyai keyakinan bahwa pasukan Jepang akan kalah dari Amerika Serikat namun sebelum itu Jepang harus memperoleh dukungan dari setiap negeri yang didudukinya yang akan menjadi hak tawar untuk ber-negosiasi pada Sekutu. Dukungan dari negeri-negeri yang didudukinya tersebut akan tumbuh jika mereka diberi kepercayaan dari awal untuk mempimpin tentaranya sendiri sehingga mempunyai rasa cinta tanah air yang tinggi untuk menolakkembalinya neger-negeri Eropa yang akan menjajahnya kembali. Dari sinilah kemudian Letjen Inada berkonsultasi dan didukung oleh Perdana Menteri Tojo dan yang paling bersemangat hanya Panglima Tentara ke-enam belas Letjen Harada Kamakuchi yang berkedudukan di Jawa dan Sumatra sehingga dapat dilaksanakan.

Pembentukan tentara Pasukan bantu pribumi yang kemudian disebut pasukan sukarela Pembela Tanah Air (PETA) tersebut pada dasarnya adalah pasukan yang anggotanya adalah para prajurit pribumi yang di komandani oleh orang-orang pribumi sendiri dengan semangat kecintaan pada tanah airnya. Pasukan PETA dipersiapkan untuk menjadi pasukan yang akan melawan tentara Sekutu jika melakukan pendaratan di Jawa dengan skema Perang Gerilya yang akan memanfaatkan sumber daya alam dan manusia di sekitarnya. Oleh karena itu perekrutan para perwiranya lebih mengandalkan pada tokoh masyarakat, pimpinan organisasi dan tokoh-tokoh agama yang mempunyai pengaruh dan bisa menggerakan masyarakat dalam pertempuran malawan tentara Sekutu.

Perang Linier dan Perang Frontal, Adu Keberanian Melawan Sekutu

Proklamasi 17 Agustus 1945 menjadi suatu lonceng panggilan bagi seluruh rakyat baik yang tua dan muda untuk memenuhi panggilan ibu pertiwi dalam rangka Revolusi Indonesia yang dalam bayangan setiap orang adalah melakukan perubahan dalam bidang politik pemerintahan, bidang ekonomi maupun bidang sosial. Sejak saat itu setiap orang terutama para pemuda yang tergabung dalam organisasi tentara maupun lasykar perjuangan saling berlomba menujukkan keberaniannya baik dalam melucuti senjata Jepang maupun melawan kedatangan pasukan Sekutu Inggris yang dicurigai diboncengi oleh pasukan Netherlands Indies Civil Adminitration (NICA). Oleh karena itu tidak mengherankan jika saat itu semua energi dikerahkan untuk melawan kedatangan Inggris dan jika perlu melawannya sampai titik darah penghabisan.

Menurut Jenderal Nasution dalam bukunya Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia 1: Proklmasi diuraikan bahwa pertempuran habis-habisan melawan Inggris sebenarnya kurang bermanfaat dan kurang efektif. Hal ini dikarenakan kedatangan pasukan Inggris sendiri adalah bersifat sementara dan lebih ditujukan untuk perlucutan senjata tentara Jepang maupun pemulangan tawanan perang Sekutu dan Belanda. Memang keadaan dilapangan seringkali tidak sesuai dengan harapan dimana tentara Inggris seringkali bersifat arogan dan juga membantu pasukan NICA yang datang membonceng, namun reaksi para pejuang baik lasykar maupun tentara seringkali jauh berlebihan. Pasukan Inggris lebih sering dianggap musuh yang harus diusir dari bumi Indonesia apapun resikonya. Hal ini seringkali merugikan agenda perjuangan secara umum baik dari segi diplomasi dimana pemerintah republik Indonesia harus senantiasa menjaga kepercayaan internasional tentang Revolusi Indonesia yang beradab dan berkemanusiaan maupun dari segi militer dimana pasukan Inggris yang sebenarnya bukan musuh kita, ternyata dilawan dengan menggunakan pasukan rakyat dan amunisi sehebat-hebatnya. Salah satu contoh kerugian besar terjadi dalam perang Surabaya mislanya saja ketika 20.000 jiwa pemuda Indonesia harus gugur sebelum melawan musuh yang sebenanya yaitu pasukan Belanda. Disamping itu tak terhitung jumlah amunisi yang dikeluarkan sehingga merupakan kerugian besar bagi pihak Indonesia.

Dalam perang Surabaya, general Mayor Imam Soedja’i berperan sebagai koordinator dalam mengirim pasukan pejuang baik lasykar maupun tentara. Setelah bertempur selama 3 minggu dan kahirnya pihak Indonesia terdesak keluar kota Surabaya pada akhir Nopember 1945, maka Jenderal Senior ini ditugaskan menjaga front selatan untuk menahan gempuran tentara Inggris dan kemudian berganti menjadi pasukan Belanda sejak akhir tahun 1946. Dalam buku Nurhadi dkk., berjudul Perjuangan Total Brigade IV Pada Perang Kemerdekaan di Karesidenan Malang menyatakan bahwa selepas pemarapan darft Perjanjian Linggarjati pada 15 Nopember 1946 terjadi gencatan senjata antara pihak Belanda dengan pihak Indonesia. Namun dalam kenyataannya pada tanggal 25 Januari 1947 pasukan Belanda terus mengadakan serangan terhadap kedudukan Tentara Republik Indonesia (TRI) di sektor selatan Surabaya. Pada tanggal 25 Januari 1947 daerah Buduran dan Tulangan di duduki pasukan Belanda dan pada tanggal 27 Januari 1947 pasukan Belanda semakin bergerak ke selatan menuju Sidoarjo, Candi dan Tanggulangin. Pada tanggal 28 Januari 1947 pagi pihak Belanda mengadakan serangan militer besar-besaran ke tiga jurusan sekaligus yaitu dari Watutulis ke Prambon, dari Tulangan ke Krembung dan Tanggulangin ke Porong dengan tujuan untuk merampas daera-daerah delta Brantas dan jembatan yang ada di Kali Porong. Serangan pasukan Belanda ini dimudahkan dengan bantuan serangan dari pesawat pembom udaranya.

Melihat perkembangan yang tdiak menguntungkan ini Panglima Divisi VII Untung Suropati General Mayor Imam Soedja’i mengadakan peninjauan lapangan ke markas komando yang ada di Japanan untuk mengangkat moral pasukan. Namun pada tanggal 28 Januari 1947 wilayah Porong dan Gempol dapat direbut musuh dengan hujan mortir dan meriam dari pasukan Belanda. Pada tanggal 29 Januari 1947 sang Jenderal-pun mengundurkan diri ke wilayah Pandaan disertai hujan peluru dan mortir. Saat itu juga Komandan Pertempuran diganti dari Letkol Prabowo ke Letkol Bambang Supeno. Sebagai catatan saat itu kerugian Divisi VII Untung Suropati tercatat 35 prajurit yang gugur termasuk Komandan Kompi Letnan Suparji.  

Berbagai pertempuran ini kemudian menjadi catatan bagi Panglima Divisi VII General Mayor Imam Soedja’i untuk menghadapi pasukan Belanda yang bersiap mengadakan serangan yang lebih besar. Menurut Letkol Andul Kahar yang merupakan perwira kepercayaan sang Panglima beberapa catatan dan kelemahan berbagai peperangan menghadapi Belanda karena minimnya pengalaman dalam mempraktekkan perang gerilya. Oleh karena itu pasukan TRI sering membiarkan penduduk untuk mengungsi meninggalkan kotanya karena takut dianggap sebagai pengkhianat, padahal ini menyebabkan kelemahan yang ada pada pasukan TRI yaitu, pertama karena desa-desa sudah kosong ditinggalkan sehingga pasukan TRI tidak bisa menyamar sebagai rakyat, kedua karena desa-desa kosong tersebut menyebabkan pasokan makanan dari dapur umum yang terletak di garis belakang dan ketiga adalah desa-desa kosong itu menyebabkan nyamuk malaria berkembang begitu banyak. Semua ini menyebabkan kebugaran pasukan terganggu. Demikian juga letak markas komando yang seringnya dipinggir jalan raya dan taktik perang linear menyebabkan keuntungan pada musuh.

Perang Gerilya di Malang Besuki, General Mayor Imam Soedja’i Diberhentikan

Berbagai kesuksesan tugas  Divisi VII Untung Surpati yang dipimpin General Mayor Imam Soedja’i telah diraih dalam bidang militer seperti membangun organisasi ketentaraan seperti merebut senjata dari tangan Jepang, mengirimkan lasykar dan tentara ke medan Perang Surabaya maupun mempertahankan sektor selatan Surabaya sejak akhir tahun 1945- pertengahan tahun 1947. Demikian sumbangsihnya dalam menjaga politik pemerintah Republik Indonesia seperti pemulangan tawanan Jepang dan Belanda, pengawalan diplomasi beras ke India maupun menjaga keamanan sidang pleno V yang sangat darurat di kota Malang telah menjadi catatan positif sehingga Divisi ini cukup disegani. Disisi lain pihak Belanda mulai mengincar wilayah Malang Besuki yang menjadi basis ekonomi dengan banyaknya perkebunan di daerah ini menjadi incaran dan target dalam peperangan selanjutnya.

Dalam buku Mayor Jenderal Imam Soedja’i: Sumbangsih Untuk Pergerakan Rakyat dan Revolusi Indonesia,  dijelaskan bahwa pada pertengahan tahun 1947 pasukan Belanda yang sudah berjumlah 130.000 prajurit bersiap menyerang dan menghancurkan Republik. Salah satu target pihak Belanda adalah mengembalikan ekonominya dengan merebut kembali kantong-kantong ekonomi sehingga dapat menopang biaya perang yang selama ini ditanggungnya. Pada tanggal 20 Juni 1947 Perdana Menteri Belanda Beel mengumumkan pernyataan perang terhadap Republik Indonesia yang oleh Panglim KNIL Jenderal Simon H. Spoor dinamakan Operatie Product yang menyasar pusat-pusat perkebunan di Jawa Timur, Jawa Barat dan Sumatra Timur.  Untuk wilayah Oosthoek atau Ujung Timur Jawa Divisi A dibawah pimpinan Mayor Jenderal de Bruyne melakukan 2 penyerbuan sekaligus, pertama adalah pendaratan pasukan di pantai Pasir Putih untuk menduduki Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi, Probolinggo dan Lumajang dan kedua adalah penyerbuan langsung dari front Proong menuju Pasuruan menuju Malang.

Berdasarkan pengalaman bertempur dengan pasukan Inggris dan Bleanda sepanjang tahun 1945-1947 dan menyadari besarnya kekuatan musuh dan peralatan senjata Blanda yang modern, maka Panglima Divisi VII Untung Suropati memerintahkan pergantian taktik dari Perang Linear dan Frontal menjadi Perang Gerilya. Dalam waktu singkat terjadi pengosongan kota-kota di Besuki menuju pegunungan Bromo, Agopuro dan Raung, sedang pegunungan Semeru selatan disiapkan untuk markas besar gerilya pasukannya yang akan mengundurkan diri dari kota Malang dan Lumajang. Tidak mengherankan jika kemudian pasukan Belanda yang mendarat di pantai Pasir Putih pada tanggal 21 Juli 1947 keesokan harinya yaitu tanggal 22 Juli 1947 telah dapat merebut seluruh kota-kota di Jawa Oosthoek tersebut.

Pertempuran yang agak lama terjadi di kota Malang karena sebagai ibu kota Propinsi butuh persiapan untuk pengosongan segenap aparat sipil dan militernya. Penerobosan front Sidoarjo pada tanggal 21 Januari mendapat perlawanan sengit dari para pejuang baik lasykar maupun TRI Divisi VII Untung Suropati dengan komando mengundurkan diri perlahan-lahan sebagai persiapan pengosongan kota. Pada hari ke-8 serangan ke Malang, persiapan pengosongan kota untuk pengunduran pasukan ke pegunungan Semeru selatan sudah hampir selesai dan pem-bumi hangusan kota Malang akan dimulai. Oleh karena itu pada tanggal 29 Januari 1947 Panglima Divisi VII Untung Suropati General Mayor Imam Soedja’i keluar dari kota Malang menuju Lebakroto di Malang selatan untuk memimpin Perang Gerilya dan taktik Pertahanan Semesta.

Pada tanggal 4 September sang Panglima mengadakan pertemuan persiapan dengan  Komandan Resimen 39 Menak Koncar Letkol Suruji, pimpinan markas Lebakroto seperti Letkol.dr. Sujono, Letkol Sunyoto, Letkol. Dr. Moh. Imam, Mayor Wiyono maupun Bupati Lumajang Abu Bakar dan Patihnya yaitu Sastrodikoro. Adapun hasil keputusan pertemuan tersebut adalah mempersiapkan Perang Semesta dengan rakyat sebagi benteng pertahanannya dengan langkah-langkah sebagai berikut: Pertama adalah pembentukan Desa-desa darurat di bekas perkebunan Belanda, kedua adalah pemilihan Kepala Desa secara demokratis, ketiga adalah pembentukan pertahanan rakyat, keempat adalah pembagian tanah perkebunan untuk rakyat dimana setiap kepala keluarga mendapatkan 1 hektar, keempat adalah sumbangan wajib dan logistik bagi pasukan dan pemerintah dan kelima adalah pembentukan pegawai-pegawai perkebunan yang pro Republik.

Persiapan konsep Perang Gerilya dan Pertahanan Semesta ini telah disiapkan dengan matang dan mulai dilaksanakan, namun pada tanggal 5 Agustus 1947 datang seorang utusan dari Panglima Markas Besar Pertempuran (MBP) general Mayor dr. Mustopo yaitu Mayor Darsan Iru ke Malang Selatan. Menurut Jenderal Sumitro yang merupakan Ajudan Ajudan Panglima Divisi VII Untung Suropati saat itu dalam bukunya Memoar Jeneral TNI (Purn.) Soemitro: Perjalanan Seorang Prajurit Pejuang dan Professional, utusan Panglima MBP ini menyatakan bahwa keadaan di Malang Selatan tidak aman dan memaksa setengah menculik General Mayor Imam Soedja’i untuk memenuhi panggilan pimpinan ke Madiun. Di Madiun inilah sang Panglima diadili secara kilat dan dituduh melakukan pengkhianatan terhadap negara karena tidak mengikuti perintah Panglima MBP tertanggal 29 Juli 1947 terkait perintah para Panglima Divisi di Jawa Timur untuk tidak meningglkan kota.

Perlu diketahui bahwa surat Panglima MBP tersebut tidak pernah sampai ketangan Panglima Divsi VII Untung Suropati beserta tuduhan-tuduhan seperti melakukan desersi ke Madiun pada tanggal 22 Juli 1947 dan tergesa-gesa melakukan Perang Gerilya di gunung-gunung. Disamping General Mayor Imam Soedja’i ada 4 Perwira tinggi Divisi VII Untung Suropati yang dilakukan pemberhentian seperti Letkol Prayudi Atmosudiryo, Letkol Hamid Rusdi, Mayor Pirngadi dan Letkol Sudarsono. Namun yang sungguh-sungguh diberhentikan adalah sang Panglima Divisi karena yang lainnya seperti Mayor Hamid Rusdi masih terus melanjutkan karir ketentaraannya sampai gugur dalam Agresi Militer Belanda II di kota Malang apda tahun 1949. Lebih jauh Jenderal Sumitro mengenang saat itu kabarnya Panglima Divisi VII General Mayor Imam Soedja’i ada indikasi di kudeta oleh bawahannya sendiri.

Dalam kenyataannya sebagai pejuang pergerakan sejak muda, General Mayor Imam Soedja’i-pun menerima pemberhetiannya dengan lapang dada karena tidak ingin mempengaruhi mental para prajurit di lapangan. Sang Panglima kemudian meletakkan jabatan dengan suka rela, kembali menjadi rakyat dan karena merupakan orang yang dicari oleh pasukan Belanda ia tidak kembali ke Malang atau Lumajang yang merupakan rumah tinggalnya namun mengungsi sebagai kusir delman di Tulungagung. Mantan Panglima Divisi VII Untung Suropati ini kemudian balik ke Lumajang sebagai rumah tinggalnya pasca penyerahan kedaulatan tahun 1950-an dan melatih perguruan silat Pencak Organisasi (PO) sampai meninggalnya tanggal 29 Januari 1953 dan dimakamkan dipekuburan rakyat Jogoyudan Lumajang.

·  Editor : Oren/Kenyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.