Mochammad Sroedji: Sepenggal Kisah dari Mumbulsari

Citizen Jurnalistik

Hampir setiap pengunjung yang bertandang ke Jember khususnya ketika duduk santai menikmati udara perkotaan di Kabupaten Jember pasti timbul tanda tanya. Pasalnya di depan kantor Pemerintah Kabupaten Jember terdapat patung dengan tinggi sekitar 3 meter yang mengarah tepat ke Alun-alun Jember. Patung dengan badan tegap dan gagah perkasa serta pandangan yang tajam seolah mengisyaratkan keberanian ini menjadi simbol perjuangan sekaligus memiliki nilai estetika melengkapi keindahan pusat kota Jember. Siapapun yang melihat akan terheran dan menimbulkan rasa ingin tahu siapakah patung tersebut.

Oleh: Yebqi Farhan

Ya, patung tersebut merupakan patung seorang komandan Tentara Republik Indonesia yang gagah berani bernama Letkol Inf. (anumerta) Mochammad Sroedji. Keberanian seorang prajurit yang merelakan nyawa semata wayangnya untuk tegaknya bendera Merah Putih di Jember tergambar jelas pada patung ini. Dengan badan tegapnya, patung dengan balutan cat berwarna hitam dan bersanding keris di pinggangnya ini menggambarkan betapa besar tekadnya untuk mempertahankan kemerdekaan.

Sroedji merupakan pejuang yang patut dibanggakan karena kegigihannya mempertahankan kemerdekan Indonesia khususnya wilayah Jember kala itu. Sebagai seorang prajurit militer yang memegang teguh janji setia, Sroedji tidak kenal lelah mengikuti komando Panglima Besar Soedirman sebagai Panglima Besar Tentara Republik Indonesia. Seperti apakah perjuangan Mochammad Sroedji dalam membela Tanah Airhingga gugur sebagai kusuma bangsa? Yuk kita baca ulasan-ulasan MasMansoer.com dibawah ini.

Sekilas Profil dan Karir

Mochammad Sroedji merupakan seorang prajurit kelahiran Bangkalan 1 Pebruari 1915. Prajurit yang gugur di Jember ini lahir dari pasangan H. Hasan dan Hj. Amni Sroedji. Sroedji memiliki seorang istri bernama Hj. Mas Roro Rukmini dan dari perkawinanya lahir 4 orang anak yaitu Drs. H. Sucahjo, Drs. H. Supomo, Sudi Astuti dan Pudji Redjeki Irawati (Juprianto dan Tim Penyusun, 2018: 526).

Dalam hal pendidikan, Sroedji pernah menempuh sekolah dasar pada masa Belanda hingga menamatkan pendidikannya di Hollands Indische School (HIS). Setelah itu Sroedji melanjutkan pendidikannya di pertukangan pada Ambacts Leergang selama 3 tahun. Sejak tahun 1938 sampai 1943 Moh Sroedji menjabat sebagai Pegawai Jawatan dengan kedudukan sebagai Mantri Malaria di RS. Kreongan. Rumah sakit ini setelah nasionalisasi menjadi Rumah Sakit Paru-Jember dibawah naungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Sementara itu karir militernya dimulai sejak menjadi tentara PETA pada masa pendudukan Jepang pada tahun 1943. Pangkat awal yang diterima adalah komandan kompi yang dalam bahasa jepang dinamakan chuudanchoo. Untuk mengembangkan bakatnya, Mochammad Sroedji melanjutkan pendidikan militer sebagai perwira di Bogor. Setelah menamatkan pendidikannya di Bogor, prajurit  militer kelahiran Madura ini menjabat sebagai komandan kompi untuk wilayah Karesidenan Besuki. Dalam buku yang disusun oleh Tim Penyusun Jember dari Waktu ke Waktu dijelaskan secara lengkap bahwa sejak bulan Mei 1948 hingga Oktotober 1948 jabatan yang diberikan kepada prajurit tamatan perwira di Bogor ini adalah Komandan Resimen 40 Damar Woelan pada Divisi VIII. Melalui keputusan Menteri Pertahanan Republik Indonesia No.A/532/42 Resimen 40 Damar Woelan dijadikan satu dan dirubah namanya menjadi  Brigade III Damar Woelan Divisi I Tentara Nasional Indonesia Jawa Timur.

Kebijakan Nasional hingga Lokal

Secara de fakto Indonesia merdeka 17 Agustus 1945, tetapi secara de jure Indonesia belum melengkapi persyaratan sebagai Negara yang berdaulat secara penuh. Pasalnya dalam masa tersebut berdirinya suatu negara memerlukan pengakuan negara lain sebagai negara yang merdeka. Indonesia dalam proses Revolusinya telah mengantongi beberapa negara yang mengakui kemerdekaan Indonesia seperti Mesir, Lebanon, Arab Saudi dan banyak Negara di Asia yang mengakui kemerdekaan Indonesia seperti India dan Palestina. Namun Belanda yang pada waktu itu belum mengakui kemerdekaan Indonesia secara penuh cukup memberatkan pihak Indonesia sebab setelah Jepang hengkang dari Indonesia, Indonesia dalam status-quo dan pihak NICA (pihak sekutu) yang memenangkan Perang Dunia II masih ingin menguasai kembali Indonesia khususnya Belanda yang telah lama menduduki Indonesia. Perjuangan diplomasi dan fisik sering ditempuh oleh Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan hingga akhirnya terjadilah Agresi Militer Belanda I.

Di Jember kabar tentang kemerdekaan juga tersiar dan telah berkibar bendera Merah-Putih sebagai penanda bahwa Indonesia telah merdeka. Sulthan Fajar Noto yang pada masa kemerdekaan tergabung dalam laskar Hisbullah Jember menceritakan bahwa pada tanggal 20 Agustus 1945 di Ambulu berkibar 2 bendera yaitu bendera Merah-Putih dan bendera China Nasionalis. Njoto memberikan penjelasan dan akhirnya bendera China tersebut diturunkan dan hanya berkibar bendera Merah-Putih .Bendera kebanggan Indonesia ini menyebar luas di Ambulu dan wilayah Jember lainnya karena peran radio (Habib dkk, 2009: 114).

Setelah kemerdekaan Indonesia tersiar ke seluruh penjuru kota Jember, maka ketika terjadi Agresi Militer Belanda I Jember merupakan target operasi, pasukan Belanda mendarat di Pasir Putih-Situbondo untuk kemudian melakukan operasi ke wilayah Tapal Kuda. Dalam operasinya pasukan Belanda terbagi dalam dua koloni (kelompok), koloni pertama dari dermaga menuju Probolinggo melalui Jalan Daendles, setelah itu pasukan Belanda melanjutkan perjalanan kearah selatan menuju Lumajang hingga sampai di Kota Jember. Koloni kedua bergerak dari Situbondo menuju Bondowoso hingga akhirnya bermarkas di Jember (Mashoed,2004:80).

Wilayah Jember yang merupakan target operasi dan bertemunya dua koloni berhasil diduduki oleh Belanda pada tanggal 21 Juli 1947. Dalam Agresi tersebut beberapa bangunan diambil alih oleh Belanda salah satunya adalah NV.Hotel Jember (sekarang Bank BRI Cabang Jember) yang dijadikan sebagai markas pasukan Belanda. Kekerasan Belanda tidak cukup dengan mengambil alih bangunan, pasukan Belanda menangkap Bupati Jember kala itu yaitu R. Sudarman yang menjabat dari tahun 1943-1947. Bupati R. Sudarman yang tidak mau tunduk kepada Belanda tersebut ditahan di Sidoarjo hingga akhirnya wafat pada tahun 1947 (Habib, 2009:123). Untuk menggantikan posisinya sebagai bupati, maka diangkatlah Roekmoroto sebagai Bupati Jember yang awalnya menjabat sebagai Wedono Kencong .Pengangkatan Roekmoroto ini diwarnai dengan protes dan perlawanan rakyat karena Bupati R. Soedarman terkenal baik dan memihak rakyat.

Panglima Besar Jenderal Soedirman dalam mengatasi Agresi Militer Belanda mengeluarkan Perintah Kilat No. 1/PB/D/48 pada tanggal 19 Desember 1948 yang isinya adalah memerintahkan seluruh pasukan militer melakukan Perang Gerilya karena keterbatasan persenjataan dan kondisi geografis Indonesia yang masih berupa hutan dan pegunungan, perang semacam ini sepertinya sering dilakukan oleh pasukan militer Indonesia karena keterbatasan senjata dan lokasi yang berupa lembah dan perbukitan. Dalam hal ini Letkol Mochammad Sroedji sebagai komandan Brigade III Damar Woelan bersama pasukannya setelah melakukan operasi penumpasan PKI Madiun 1948 melakukan wingate action selama 51 hari dengan menempuh jarak sekitar 500 km dengan rute Blitar menuju Besuki untuk kembali melanjutkan tugasnya yaitu melakukan pengamanan sesuai daerah operasi karena setelah Perundingan Renville terjadi Agresi Militer Belanda II pasukan Belanda dan Nica semakin memperkuat pertahananya di Besuki Khususnya Jember. Saat melakukanwingate action pasukan Brigade III Damar Woelan terbagi kedalam 3 batalion yaitu Batalion 26, Batalion 27 dan Batalion Depot. Perjalanan ini berlangsung cukup lama dan dalam perjalanan masing-masing batalion menghadapi musuh, dalam pertempuran pasukan ini mengalami kemenangan meskipun ada beberapa pasukan yang gugur. Wingate action mulai mencapai titik terang setelah masing-masing Batalion memasuki Jember Selatan via Gumukmas-Puger (Nasution,1991:305).

Gugur Bunga di Mumbulsari

Setelah memasuki Jember via Gumukmas-Puger Mochammad Sroedji Komandan Pasukan dan Komandan Sub Teritori merancang strategi dan membagi tugas Brigade III Damar Woelan sesuai dengan Perintah Siasat No. 1 yang telah diterimanya. Pasukan Damar Woelan ini diserahi tugas sesuai Batalion yang sudah terbentuk. Setiap Batalion bertanggung jawab sesuai daerah teritorial masing-masing yang telah ditentukan untuk mengamankan daerah Besuki.

Pasukan Damar Woelan mencapai turning poin pada tanggal 7 Pebruari 1949 ketika pasukan Brigade Damarwoelan akan menembus wilayah Mumbulsari. Sekitar Pukul 3.00 WIB terdengar derap langkah sepatu. Masyarakat Karang Kedawung yang kala itu masih terlelap tidur terjaga dari tidurnya. Masyarakat kaget dan ketakutan karena desa mereka kedatangan tamu dengan senjata lengkap. Belakangan rasa takut mereka hilang seketika setelah tamu yang tidak diundang itu adalah pasukan tentara yang membela kemerdekaan Indonesia. Misjeni, saksi hidup mengatakan jika waktu itu Tentara Damar Woelan itu datang dalam keadaan letih dan setelah bercengkrama warga desa mengetahui jika pasukan tersebut dipimpin oleh Letkol. Mochammad Sroedji dan seorang Letkol bernama dr. Soebandhi.

Karena datang dalam keadaan lapar dan lelah, masayarakat yang kala itu masih belum hidup makmur dan masih kondisi gelap berinisiatif untuk memasak sekedar pengganjal perut prajutit yang sedang istirahat. Setelah melakukan sholat Subuh, dan pasukan memakan masakan yang disediakan oleh penduduk sekedar mengisi perut yang kosong. Tetapi belum usai mereka menyantap makanan, pasukan Belanda datang dari Kebun Lengkong dan langsung membombardir desa tersebut dengan menghujani peluru. Mochammad Sroedji pada waktu itu langsung menyerukan untuk tiarap dan berlindung. Dalam pertempuran tersebut dr. Soebandi gugur terlebih dahulu dalam peperangan. Mengetahui sahabatnya tertembak, maka  Mochammad Sroedji berusaha memopongnya menembus hujan peluru yang cukup lebat. Namun takdir berkata lain. Letkol Mochammad Sroedji gugur di Karang Kedawung dalam keadaan tertembak dan muka dalam keadaan hancur seperti terkena benda tumpul (Dandhi dan Priyo, 2018:56-58).

Setelah Letkol Mochammad Sroedji gugur sebagai kusuma bangsa, jenazahnya di bawa ke Jember untuk dimakamkan di TPU Kreongan Jember. Karena Jasanya Letkol Infantri (anumerta) Mochammad Sroedji mendapatkan penghargaan Bintang Mahaputera oleh Presiden Joko Widodo melalui Keppres RI No. 91/TK/2016 tertanggal 3 November 2017. Selain itu untuk mengenang perjuangan Mochammad Sroedji di Karang Kedawung dibangun monumen beserta musholla sebagai tanda bahwa telah terjadi pertumpahan darah di Kedawung-Mumbulsari. Mochammad Sroedji Sungguh besar jasamu, semoga kau istirahat dengan tenang wahai kusuma bangsa yang tetap harum namanya meski masa berganti masa.

·  Editor : Oren/Kenyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.