Mayor Hamid Rusdi: Diberhentikan Atasan, Membuktikan Pengabdian Sebagai Kusuma Bangsa

Sejarah

Hamid Rusdi adalah sebuah legenda bagi Revolusi Indonesia di kota Malang. Ia adalah seorang pejuang asli dari Malang yang dilahirkan di desa Sumbermanjing Kulon, Kecamatan Pagak. Lahir pada tahun 1911, orang tuanya bernama Haji Umar Rusdi merupakan seorang pengusaha yang berhasil sehingga dapat menyekolahkan anak-anaknya dengan baik. Pada jaman Belanda, Hamid Rusdi sempat bekerja sebagai sipir di penjara Lowokwaru namun di jaman pendudukan Jepang meninggalkan pekerjaannya untuk bergabung dalam sebuah pasukan suka rela bernama Pembela Tanah Air (PETA).

Oleh : Fifi

Bertugas sebagai Chudancho I di Daidan Malang Gondanglegi pimpinan Daidancho Kyai Iskandar Sulaiman, ia terus membuktikan kecintaan tanah airnya untuk membela negara Proklamasi dan Revolusi Indonesia dengan bergabung dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) Malang yang saat itu dipimpin Imam Soedja’i. Pada saat perebutan senjata dari tangan Jepang di Malang yang berlangsung sukses, ia merupakan salah satu anggota dari tim negosiasi. Pasca perebutan senjata ini, BKR  Malang kemudian berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan Hamid Rusdi kemudian menjadi salah satu perwira Divisi VII Untung Suropati.

Memimpin Resimen 38, Bertugas Amankan Malang dan Pasuruan

Menurut Mansur Hidayat dalam buku Mayor Jenderal Imam Soedjai” Sumbangsih untuk Pergerakan Rakyat dan Revolusi Indonesia”, Hamid Rusdi menjadi perwira kepercayaan Imam Soedjai sejak pembentukan BKR Malang dan berlanjut sampai menjadi Panglima Divisi VII. Menjelang Agresi Militer I pada 21 Juli 1947, diadakan perombakan besar terhadap struktur organisasi Divisi VII Untung Suropati, Hamid diangkat menjadi Komandan Resimen 38 dengan pangkat Letnan Kolonel yang mengawal kota Malang, Pandaan dan Pasuruan. Pada saat Agresi Militer Belanda I dan pelaksanaan Malang Bumi hangus pada 31 Juli 1947, Letkol Hamid Rusdi bertugas mempertahankan kota Pandaan, Lawang dan Singosari. Sesuai dengan perintah Panglima Divisi VII Unutng Suropati Mayor Jenderal Imam Soedjai bahwa taktik perang yang digunakan adalah taktik perang Gerilya dimana, pasukan secepatnya harus menarik diri. Hal ini rupanya menjadi cela bagi Letkol Hamid Rusdi, dengan alasan dianggap tergesa-gesa mengundurkan diri sehingga melemahkan pertahanan. Letkol Hamid Rusdi mendapatkan surat pemecatan bersama dengan 4 Perwira dari Divisi VII Untung Suropati oleh Panglima Markas Besar Pertempuran Jawa Timur Mayjend, drg Mustofo dan Perdana Mentri Amir Syarifuddin.

Setelah serangan Agresi Militer II, Mayor Hamid Rusdi diangkat sebagai Komandan Gerakan Rakyat Kota Malang (GRK). Sebuah gerakan penyusupan ke wilayah-wilayah yang telah dikuasai Belanda. Penyusupan yang dilakukan oleh Hamid Rusdi menuju ke kota Malang terhalang oleh kebijakan Belanda yang telah memberikan kartu penduduk Belanda kepada rakyat Malang. Hal ini tentu membuat penyusupan ke wilayah kota Malang agak sulit, karena jika tidak mempunyai kartu tersebut secara otomatis dianggap sebagai anggota TNI. Atas ide dari A.J Tjokrohadi untuk mempermudah penyusupan maka mereka harus meminta kartu buatan Belanda tersebut kepada rakyat, sehingga nantinya memudahkan penyusupan ke wilayah Belanda dan Belanda sendiri juga susah membedakan mana gerilyawan dan mana rakyat biasa. Hal ini rupanya cukup efektif untuk mengelabuhi Belanda, sehingga Gerakan Rakyat Kota (GRK) membuat Belanda sangat ketakutan. Pada waktu-waktu tertentu Letkol Hamid Rusdi melakukan serangan-serangan umum terhadap wilayah Belanda. Hamid Rusdi tidak kenal lelah dan terus melakukan penyusupan dari wilayah Republik Indonesia ke wilayah Belanda, yaitu dari wilayah Malang Selatan dan Malang Timur menuju ke Malang Barat. Hamid Rusdi melakukan perjalanan keliling untuk mengkoordinasikan perjuangan dengan jalan mendatangi sektor-sektor di Malang Barat pimpinan Abdul Manan dan Malang Selatan pimpinan Kapten Mochlas Rowie.

Meninggalnya Hamid Rusdi

Hamid Rusdi adalah seorang pemimpin yang ditakuti, disegani dan ditaati oleh anak buahnya. Beliau sangat berani dan sering muncul di kota-kota Malang. Sementara itu di dalam kota Malang, pasukan Belanda menempatkan meriamnya di pojok kota yang dapat dipergunakan sewaktu-waktu. Keberanian seorang Hamid Rusdi harus terhenti pada saat Republik Indonesia belum sepenuhnya lepas dari cengkraman Belanda. Sepertinya firasat menjelang hari kematiannya sudah dirasakan oleh Letkol Hamid Rusdi, sebelum perjalanan kembali ke Nongkojajar beliau berpesan kepada Kapten Sabar Soetopo supaya segera mengadakan serangan umum. Dalam perjalanan ke Nongkojajar Hamid Rusdi yang memang jarang bertemu dengan istrinya Siti Fatimah menyempatkan untuk bertemu. Dimana istrinya telah terlebih dahulu bertempat tinggal di rumah penduduk di Desa Wonokoyo. Pertemuan yang terakhir kalinya dengan istrinya.

Setelah bertemu dengan istrinya, seperti biasanya Hamid Rusdi tidak memberitahukan kemana perginya, hal ini untuk menghindari pelacakan yang dilakukan oleh Belanda. Dua hari sebelum meninggalnya Hamid Rusdi Belanda sedang gencar melakukan patroli. Dan Letkol Hamid Rusdi bersama stafnya sudah naik ke puncak Gunung Buring. Sementara itu keadaan di bawah Gunung Buring belum aman, sehingga Serma Tjokro Hadi selaku komandan sektor Tajinan mengirimkan pesan kepada  nota kepada Letkol Hamid Rusdi untuk tidak turun terlebih dahulu karene kondisi di bawah sangatlah genting. Tetapi nota tersebut tidak dibalas oleh Letkol Hamid Rusdi, dan memilih untuk turun serta pulang ke tempat pondokan istrinya.

Tepat pada tanggal 7 Maret 1949 ada pasukan Belanda dengan kekuatan dua peleton dengan senjata lengkap telah mengepung lokasi yang menjadi tempat bermalamnya Letkol Hamid Rusdi, yaitu rumah Moesmari. Pasukan Belanda melakukan penangkapan dan membawa Hamid Rusdi, tuan rumah Moesmari dan menantunya Yoenoes. Tidak lama setelah penangkapan Kopda Soekarman yang memang berada tidak jauh dari lokasi rumah Moesmari terbangun karena suara tembakan dan segera melapor kepada Kapten Wahman. Setelah melapor ke Kapten Wahman, Soekarman segera mencari keberadaan Hamid Rusdi. Soekarman dan rombongan menemukan jenazah Letkol Hamid Rusdi bersama jenazah yang lain di sekitar jembatan Sekarputih Wonokoyo. Jenazah Hamid Rusdi pada awalnya di makamkan di Desa Wonokoyo dipindahkan ke makam Pahlawan Suropati di Malang kota pada tanggal 15 Mei 1950.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.