Kyai Ilyas: Pahlawan Santri Dari Lumajang

Sejarah Tokoh

Masuknya tentara Jepang yang pada tanggal 8 Maret 1942 diikuti penyerahan tanpa syarat pasukan Koninlijk Netherlands Indies Leger (KNIL) di bawah pimpinan Jenderal Ter Poorten dan Guberneur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer pada pimpinan pasukan Jepang di Jawa yaitu Jenderal Hitoshi Imamura di Kali Jati, Bandung. Setelah penyerahan tanpa syarat pasukan KNIL tersebut, secara resmi pemerintah pendudukan Jepang dimulai di Hindia Belanda. Pemerintahan pendudukan Jepang diawali dengan sambutan yang luar biasa dari segenap rakyat Indonesia sehingga dianggap sebagai saudara tua.

Oleh : Mansur Hidayat

Namun beberapa bulan setelah memerintah, pemerintah pendudukan ini kemudian melakukan pembubaran dan pembekuan seluruh organisasi baik politik maupun keagamaan. Pemerintah baru ini kemudian menunjukkan watak yang sebenarnya dengan melakukan berbagai kekejaman dan pemerasan baik pada para aktifis organisasi politik maupun penghisapan ekonomi rakyat. Para aktifis yang melakukan perlawanan kerap kali dianiaya dan di siksa secara keji sedang masyarakat juga dipaksa untuk menyerahkan lahan maupun penghasilannya untuk menyumbang dana perang. Oleh karena itu, pada pertengahan tahun 1943 pemerintah pendudukan Jepang sudah tidak mendapat simpati dikalangan rakyat.

Terbentuknya Pasukan Hibullah

Menurut sejarawan Harry J. Benda dalam bukunya, Bulan Sabit dan Matahari Terbit: Islam Indonesia Pada Masa Pendudukan Jepang, menyatakan dalam perkembangan di medan Asia Pasifik, pada pertengahan tahun 1942 pasukan Jepang mulai mendapat perlawanan sengit dari Sekutu dan semakin terdesak di awal tahun  1943. Karena keadaan yang mendesak dan mengharapkan dukungan dari rakyat Indonesia yang sebagian besar adalah umat Islam, pemerintah pendudukan Jepang kemudian membubarkan organisasi Majelis Islam A’la Indonesia dan diganti menjadi organisasi baru bernama Masjelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) pada 24 Oktober 1943. Pada pendudukan Jepang berbagai organisasi baik politik maupun sosial termasuk Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) dibekukan sehingga keberadaan Masyumi menjadi daya tarik tersendiri bagi perjuangan umat Islam pada masa pendudukan Jepang.

Menurut Zainul Milal Bizawie dalam bukunya, Laskar Ulama- Santri & Resolusi Jihad: Garda Depan Menegakkan Indonesia (1945-1949), menguraikan tidak hanya berhenti dalam mendukung keberadaan MIAI semata, pemerintah pendudukan Jepang kemudian mengakomodir dukungan 10 Ulama Islam terkemuka terkait permintaan membentuk pasukan suka rela dari kalangan umat Islam yang dilayangkan pada 13 Septemnber 1945. Oleh karena itu pada tanggal 14 Oktober 1944 pemerintah pendudukan Jepang menyetujui usulan tersebut dan pada 8 Desember 1944 dalam rangka perayaan 3 tahun Perang Asia Pasifik dan penyerangan Pearl Harbour, maka diumumkanlah secara resmi terbentuknya pasukan suka rela Hizbullah yang artinya “Tentara Allah”. 

Adapun tugas pokok pasukan Hizbullah adalah, pertama tenaga cadangan membantu pihak Jepang jika ada serangan dari tentara Sekutu, menjaga bahaya udara dan mengintai mata-mata musuh. menggiatkan dan menguatkan usaha-usaha kepentingan peperangan dan melatih diri jasmani dan ruhani sengan segiat-giatnya, Kedua adalah kewajiban sebagai muslim untuk menyiarkan agama Islam, memimpin umat Islam agar menjalankan dan membela agama Islam. Untuk menindaklanjuti pembentukan pasukan Hizbullah tersebut, maka pemerintah pendudukan Jepang membuat pendididikan dan pelatihan calon perwira Hizbullah di Cibarusa, Bogor pada 2 Januari 1945-15 Mei 1945 yang di ikuti oleh 500 pemuda yang berasal dari Jawa dan Madura. Sampai dengan Proklamasi 17 Agustus 1945, kekuatan Hizbullah diperkirakan mencapai 50 ribu orang.

Menurut KH Amak Fadholi yang merupakan mantan angota Hizbullah berjudul, Kyai Ilyas: Pahlawan Santri Dari Lumajang, menyatakan bahwa dalam pelatihan 500 calon perwira Hizbullah di Cibarusa Bogor ada 2 orang pemuda Lumajang yang ikut yaitu Ro’i yang merupakan guru Madrasah Nurul Islam di Lumajang dan Abdul Rosul yang merupakan adik Kandung KH. Anas Machfud. Sepulang dari pelatihan tersebut, keduanya kemudian membuat pelatihan yang dikuti oleh 50 orang pemuda dari seluruh pelosok Lumajang yang bertempat di markas Hizbullah yang sekarang menjadi kantor Polres Lumajang. Pelatihan calon anggota Hizbullah ini di mulai pada 23 Mei 1945 dan berakhir pada 13 Agustus 1945 bersamaan dengan diadakannya latihan muballigh dan Konperensi Besar Alim Ulama se- Jawa Timur yang dihadiri oleh KH. Wahab Hasbullah. Empat hari setelah pelatihan ini, Proklamasi 17 Agustus 1945 dikumandangkan oleh  Bung Karno dan Bung Hatta dan pemerintah pendudukan Jepang kemudian membubarkan salah satu pasukan sukarela terbesarnya yaitu Pembela Tanah Air (PETA) pada 18 Agustus 1945 sehingga negara baru yang bernama Republik Indonesia ini berdiri tanpa dukungan pasukan yang kuat. Untungnya salah satu pasukan cadangan sukarela yang cukup besar bernama Hizbullah luput dari pembubaran tersebut dan terus mengkonsolidasikan kekuatannya dibawah Panglima Besarnya yaitu KH Zainul Arifin.

Pada awal Oktober 1945 ketika Badan Kemananan Rakyat (BKR) Malang berhasil memaksa tentara Jepang untuk melucuti senjatanya yang ada di kawasan Karesidenan  Malang Besuki, maka kekuatan rakyat di Lumajang termasuk BKR Lumajang dan pasukan Hizbullah dapat merebut senjatanya dengan damai. Setelah berhasil mengkonsolidasi kekuatan dan merebut senjata, maka pasukan Hizullah kemudian menempati markas barunya di sebelah rel jalan kereta api Lumajang- Pasirian (Kantor BPN sekarang). Batalyon Hizbullah Lumajang ini kemudian dipimpin oleh Akhmad Baidlowi dengan 4 kompi yaitu:

  1. Kompi I dengan Komandannya yaitu Akhmad Hanafi yang berkedudukan di Lumajang.
  2. Kompi II dengan Komandannya yaitu A. Jalal yang berkedudukan di Pasirian.
  3. Kompi III dengan Komandannnya yaitu Shodiq berkedudukan di Yosowilangun.
  4. Kompi IV dengan Komandannya yaitu Said Munir berkedudukan di Jatiroto.

Kyai Ilyas Tampil Ke Depan

Sebelum pendudukan Jepang, Kyail Ilyas yang nama sebenarnya adalah Kartimen merupakan seorang guru ngaji di Dusun Galingan Desa Boreng Kecamatan Lumajang. Pekerjaan sehari-harinya adalah bertani dan suatu waktu pernah menjadi pengurus Koperasi tani di desanya. Pada saat menjadi pengurus Koperasi ini, ia bercita-cita untuk menunaikan ibadah haji yang tidak pernah dilaksanakan sampai akhir hayat. Karena keteguhannya dalam belajar ilmu agama dan kesabarannya dalam menjadi guru ngaji di kampungnya maka oleh gurunya dari Pesantren Jogoyudan yang bernama Kyai Anom, maka Kartimen kemudian diberi nama “Ilyas”.

Pada awal pembentukan pasukan sukarela Hizbullah di Lumajang, dua orang yang telah lulus pelatihan di Cibarusa, Bogor yaitu Roi dan Abdul Rosul kemudian melatih sekitar 50 orang para pemuda. Salah satu pemuda yang ikut adalah Kartimen dari Dusun Galingan Desa Boreng yang menyelesaikan pada tanggal 13 Agustus 1945 dilantik menjadi pasukan Hizbullah Lumajang. Ketika Revolusi Indonesia memanggil dan pasukan Hizbullah terus mengkonsolidasikan diri, maka jumlah pasukannya semakin bertambah dan berhimpun dalam batalyon Akhmad Baidlowi. Pada awal pembentukan pasukan Hizbullah Lumajang, Kartimen atau Ilyas merupakan anggota biasa yang menjadi bagian dari Kompi Hanafi. Keberanian dan prestasi Kyai Ilyas mulai ditunjukkan ketika masuknya pasukan Belanda di Lumajang pada 22 Juli 1947.

Setelah pendudukan Belanda atas kota Lumajang, para pimpinan pemerintahan mengungis keluar kota. Bupati Abu Bakar dan Patih Sastrodikoro  mengungsi ke wilayah Pronojiwo di Lumajang selatan yang jauh dari jangkauan musuh, sedang pasukan Tentara Republik Indonesia (TRI) maupun Badan Perjuangan seperti Pesindo dan Hizbullah masih bertahan di pinggiran kota untuk terus melakukan serangan-serangan dadakan terutama di malam hari sehingga sangat mengganggu ketenangan pasukan Belanda. Menurut penuturan Arif (40 tahun) yang berasal dari ayahnya yaitu Abdul Halim yang merupakan putra bungsu Kyai Ilyas menceritakan bahwa pasukan Belanda sering melakukan razia kepada orang-orang yang dianggap membahayakan dan dianggap tidak mau bekerja sama. Salah satu razia dan target besar pasukan Belanda di wilayah pinggiran Lumajang adalah Kyai Anom yang saat itu merupakan pengasuh pesantren di Gambiran.

Atas petunjuk seorang mata-mata bernama Marsam, Kyai Anom kemudian ditangkap dan dibawa ke tangsi Belanda di Lumajang. Ditangsi Belanda ini sang Kyai yang ternyata adalah guru Kyai Ilyas yng sangat dihormatinya disiksa dengan berbagai macam penganiayaan termasuk sundutan rokok dari para regu penyiksanya. Mendengar penyiksaan sang guru tersebut, Kyai Ilyas yang sudah menjadi Komandan Kompi Hizbullah di Lumajang kemudian semakin banyak melakukan serangan malam kepada Belanda termasuk pada akhir bulan Agustus 1947 ikut berpartisipasi melakukan serangan umum malam hari pada kedudukan pasukan Belanda di Lumajang. Keberhasilan pasukan Kompi Hizbullah Lumajang dalam membantu Tentara Republik Indonesia (TRI) inilah yang membuat Komandan Kompinya yang bernama Kyai Ilyas menjadi target penangkapan pasukan Belanda.

Pasca serangan umum di kota Lumajang yang berhasil mengganggu kenyamanan pasukan Belanda, mereka kemudian melakukan serangan balasan ke berbagai markas pasukan TRI maupun Badan Perjuangan yang ada di pinggiran Lumajang. Salah satu sasaran serangan besar-besaran pasukan Belanda adalah menduduki markas Kompi pasukan Hizbullah yang dipimpin Kyai Ilyas yang berkedudukan di Dusun Galingan yang kebetulan rumah sang Komandannya sendiri. Pada saat itu memang markas Kompi Hizbullah kota Lumajang bertempat di rumah Kyai Ilyas dikarenakan tidak mempunyai markas sendiri. Serangan dilakukan secara besar-besaran yang diawali dengan hujan mortir sehingga anggota Hizullah tidak mempunyai kesempatan untuk melakukan perlawanan. Sejak serangan ke Galingan ini Komandan Kompi Hizbullah yang bernama Kyai Ilyas pergi meninggalkan rumah sekaligus markas besarnya untuk bergerilya melawan pasukan musuh.

Mengembara di 3 Kota

Sejak meninggalkan rumah sekaligus markasnya kemudian Kyai Ilyas menuju arah tenggara kota Lumajang tepatnya di Desa Meleman Kecamatan Yosowilangun yang dipakai sebagai markas perjuangan baru, Dari Desa Meleman ini Kompi Kyai Ilyas terus mengadakan gangguan pada pasukan Belanda yang ada di Yosowilangun oleh karena itu pasukan Kyai Ilyas menjadi sasaran penangkapan oleh pasukan Belanda. Serangan besar-besaran ke Meleman dilakukan dan pasukan Kyai Ilyas kemudian mundur ke timur menuju Desa Cakru yang terletak di pesisir selatan dan sudah masuk Kabupaten Jember. Di desa Cakru inilah Kompi Kyai Ilyas bermarkas cukup lama yaitu 3 bulan.

Kisah kemanusiaan dan persaudaraan Kompi Kyai Ilyas dengan rakyat Cakru berlangsugsung dengan hangat. Para anggota Hizbullah  pada siang hari tidak segan-segan untuk membantu rakyat dalam mengelola tanah pertaniannya. Pada petang hari, banyak anggota Kompi Hizbullah yang ikut sholat berjamaah di langgar dan tidak jarang menjadi imam atau memimpin selamatan atau tahlilan. Karena kedekatan, kerajinan dan ketekunan para anggota Kompi Hizbullah di Cakru tersebut, maka rakyat Desa dengan senang hati menanggung konsumsi seluruh pasukan termasuk 1 minggu sekali memotong kambing bergiliran untuk konsumsi pasukan. Demikian juga sebuah informasi yang datang dari Letkol. Purn. Akhamd Juremi (91 tahun) yang merupakan seroang penduduk Cakru yang kemudian ikut berjuang seperti dituturkan pada tim Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit Timur (Oktober 2018) meyatakan bahwa dirinya saat itu sekitar umur 17 an tahunan yang baru keluar dari Pondok Pesantren. Karena kedekatan Kompi Hizbullah dengan rakyat Cakru termasuk ayahnya, kemudian Juremi muda dititipkan oleh sang ayah kepada Kyai Ilyas. Sejak itu Juremi muda menjadi bagian dari Kompi Kyai Ilyas kemanapun bergerilya sampai kemudian berkarir menjadi seorang perwira di Tentara Nasional Indonesia (TNI). Ketika bermarkas di Cakru ini rakyat menginginkan Kompi Hizbullah ini untuk meneruskan tinggal di desanya, namun gangguan demi gangguan pada kedudukan pasukan Belanda di Kencong telah membuat Kompi ini menjadi sasaran utama bagi Belanda.

Setelah sekitar 3 bulan bermarkas di Desa Cakru, pasukan Belanda berusaha menduduki Cakru dari tangan Kompi Hizbullah  dan mengerahkan ratusah personel disertai meriam dan tank. Karena kuatnya persenjataan Belanda, Kompi Kyai Ilyas kemudian mengundurkan pasukannya menuju ke arah barat kembali ke wilayah Lumajang yaitu Desa Penanggal yang terletak di bawah kaki gunung Semeru. Sampai di Desa Penanggal , pasukan Kyai Kyai Ilyas disambut dengan hujan mortir yang banyak menghancurkan rumah-rumah penduduk. Oleh karena itu sang Kyai kemudian memindahkan pasukannya ke Desa Pagoan yang terletak di Kecamatan Senduro sekaligus untuk terus mengganggu kedudukan pasukan Belanda di wilayah tersebut. Tidak terasa perjanjalanan gerilya pasukan sudah berjalan lebih dari setengah tahun dan ketika itu sudah memasuki tahun 1948 di mana pemerintah Amir Syarifuddin menanda tangani Perjanjian Renville yang sangat merugikan pihak Republik Indonesia dimana wilayahnya hanya terbatas pada Banten, Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat. Wilayah Jawa Timur Oost Hoek atau Kawasan Tapal Kuda ini menjadi wilayah kekuasan Belanda dan secepatnya pasukan TRI maupun Badan Perjuangan untuk Hijrah ke wilayah Malang yang merupakan wilayah Republik Indonesia. Sejak itulah Kompi Kyai Ilyas-pun Hijrah ke wilayah Dampit, Kabupaten Malang dan meninggalkan basis gerilyanya di Kabupaten Lumajang.

Menjadi TNI dan Kembali Bergerilya di Lumajang

Ketika berada di Dampit, Kabupaten Malang seluruh anggota Kompi Hibullah Kyai Ilyas ditempatkan di sebuah gudang milik pedagang kopi bernama Pak Kerto Dul, demikian juga para Ulama Lumajang yang tergabung dalam Markas Oelama Djawa Timoer (MODT) seperti KH Anas Mahfudz beserta istrinya Nyonya Saidah ikut pindah ke Dampit. Pada saat berada di Malang ini, Kompi Hizbullah dari Lumajang pimpinan Kyai Ilyas mengikuti program Reorganisasi dan Rasionalisasi (RERA) untuk melebur menjadi bagian Tentara Nasional Indonesia Kompi I Bn. IV Brig. IVV Divisi I dibawah pimpinan Komandannya Kapten Kyai Ilyas. Pelantikan dilakukan pada tanggal 11 Desember 1948 di lapangan sedayu, Turen, Malang. Sejak menjadi bagian dari TNI, Kompi Kyai Ilyas ering mendapat tugas untuk melakukan infiltrasi dan penyusupan ke wilayah Pronojiwo guna mengetahui keinginan rakyat di daerah pendududkan Belanda.

Pasca penghianatan Belanda atas persetujuan Renville dengan melakukan Agresi Militer belanda I pada 21 Desember 1948 dengan menyerang ibu kota Yogyakarta dan kemudian menawan para pemimpin republik Indonesia seperti Bung Karno, Bung Hatta dan para Menteri maka Panglima Sudirman menyingkir keluar kota dan melakukan perlawanan gerilya. Hal ini diikuti juga oleh segenap pasukan TNI yang ada di wliayah Republik Indonesia untuk melakukan serangan pada wilayah yang diduki oleh Belanda. Pasukan Kompi Kyai Ilyas yang saat itu tergabung dalam Batalyon Mayor Samsul Islam yang bermarkas di Pasuruan kemudian ditugaskan kembali ke daerah basis gerilya mereka di Lumajang. Dengan semangat membara untuk mengusir Belanda sekaligus menengok keluarga yang ditinggalkan, maka pasukan TNI kembali masuk wilayah Lumajang seperti Brigade Damar Wulannya Letkol Sruji yang masuk kembali ke markasnya di jember, Batalyon Magenda yang menuju Bondowoso.

Kompi bekas Hizbullah yang dipimpin oleh Kapten Kyai Ilyas segera bergerak melewati garis pantai menuju Tempursari yang saat itu menjadi wilayah terbuka bagi gerilyawan Republik Indonesia karena pasukan belanda sudah terusir oleh pasukan Brigade Letkol Sruji ketika menuju Jember. Beberapa hari menginap di Tempursari, pasukan Belanda dari Pasirian-pun memberikan bantuan sehingga Kompi Kyai Ilyas-pun menghindar untuk menuju Lumajang. Pada tanggal 30 Desember 1948 dalam perjalanan melewati desa Jugosari terjadi pertempuran besar dengan pasukan Belanda di saat hujan deras. Dalam pertempuran tersebut, korban dari pihak TNI bekas Hizbullah adalah 3 orang meninggal dan 3 orang luka. Pada malam harinya pasukan terus di berangkatkan dan menginap di Desa Urang Gantung. Pagi Harinya tanggal 31 Desember 1948 pasukan Belanda menyerang wilayah ini yang kemudian terjadi pertempura dimana pasukan Belanda lari kocar-kacir. Karena wilayah Pasirian sudah diserahkan pada Seksi Abdul Jalal, Kapten Kyai Ilyas-pun meneruskan perjalanan dan pada 3 Januari mengadakan serangan besar di desa Sumbersuko sehingga mendapat senjata rampasan berupa 11 pucuk senjata Moser 7,7.

Keberhasilan Kompi Kyai Ilyas dalam pertempuran di Sumbersuko ini menyebabkan pasukan Belanda semakin bernafsu untuk memburu sang Kyai tersebut. Setelah pertempuran Sumbersuko, pasukan Kyai Ilyas-pun dipindahkan ke Desa Ledok Banjarwaru. Belanda-pun mendengar tentang perpindahan pasukan yang ditakuti dan dicari selama ini sehingga mereka akan melakukan serangan besar-besaran. Salah satu serangan besar-besaran yang disiapkan adalah menyerang Ledok. Pada tanggal 14 Januari 1949 di dengar kabar bahwa pasukan Belanda akan mengerahkan kekuatannya menuju Srebet dimana pasukan TNI Kyai Ilyas melakukan penyergapan disana. Namun ditunggu siang pasukan musuh tidak datang. Akhirnya pasukan Kyai Ilyas-pun melakukan sholat Jum’at dan mengikuti peringatan Maulid Nabi. Tak disangka pasukan Belanda menyerang dengan kekuatan penuh sehingga menyebabkan pasukan TNI Kyai Ilyas kocar kacir dan menundurkan diri di persawahan. Dalam pertempuran ini, korban di pihak kita ada 11 orang dari bekas Hizbullah Dampit dan 3 luka-luka. Setelah berkumpul kembali pasukan berpindah-pindah dari satu desa ke desa lainnya selama berbulan-bulan dan sangat mengganggu kedudukan Belanda.

Pada tanggal 9 April pasukan Kyai Ilyas-pun kembali berada di desa Ledok. Kali ini pasukan Belanda tidak mau sasaran utamanya lepas dari cengkeraman. Ratusan personel disiapkan untuk menangkap hidup atau mati Kyai Ilyas dan rekan-rekannya. Taktik pasukan Belanda yang pertama adalah menyerang regu Mukhtar yang ada di Desa Babaan. Karena keterbatasan personil dan persenjataan, maka pasukan Mukhtar mengundurkan diri ke induk pasuknnya yang ada di Desa Ledok. Hal yang diharapkan Belanda-pun terjadi karena pasukan yang mundur ini telah menujukkan jalan menuju persembunyian Kapten Kyai Ilyas. Pasukan Belanda dalam jumlah besr-pun kemudian mengepun desa Ledok dan pertempuran hebat terjadi dipinggiran sawah. Posisi pasukan yang tidak menguntungkan tidak membuat sang Kapten untuk melarikan diri. Kapten Kyai Ilyas menunjukkan keteladanan dengan memimpin pertempuran hidup dan mati tersebut.

Dalam sebuah baku tembak akhirnya ada seorang pasukan Belanda yang membawa senjata otomatis roboh terkena tembakan/ Kapten Kyai Ilyas keumdian merebut senjata tersebut namun berondongan peluru Belanda telah mengakhiri perlawanannya. Sebelum meninggal sang Komandan bekas Hizbullah ini memberi pesan pada wakilnya yaitu Letnan Anas Zaini supaya terus memimpin perlawanan pada Belanda. Kapten Kyai Ilyas gugur sebagai kusuma bangsa di pesawahan Dusun ledok, Desa Banjarwaru kecamatan Lumajang. Setelah pertempuran usai di sore harinya jenazah pejuang bangsa ini dikebumikan di bekas wilayah pertempurannya dan pada tahun 1975 Bupati Lumajang Kolonel Suwandi membangun Monumen Perjuangan Kapten Kyai Ilyas di area tersebut.

·  Editor : Oren/Kenyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.