Komunitas Pecinta Sejarah: Pasang Surut Mencintai Sejarah Nusantara

SUARA REDAKSI

Berbicara sejarah tentu akan banyak tafsir dan pendapat yang bisa dikemukakan sehingga satu sama lain, bisa saling mendukung namun terkadang juga bisa bertentangan, ada suatu pendapat yang pesimis namun di satu sisi ada pendapat yang optimis memandangnya. Salah satu pendapat yang pesimis  yang umum dikalangan anak muda adalah ungkapa terkenal, “kita tutup saja masa lalu, lebih baik kita melangkah untuk masa depan, namun ada juga ungkapan yang membuat seseorang bangga dalam  mempelajari sejarah seperti diungkapkan oleh sejarawan Herodotus “sejarah membuat kita bijaksana”. Ungkapan yang paling terkenal sehingga membangkitkan semangat kesejarahan bagi bangsa Indonesia berasal dari semboyan Bung Karno yang merupakan Bapak Bangsa yang telah membebaskan negerinya dari alam penjajahan. Dalam sebuah pidatonya pada tahun 1966, Bung Karno mengungkapkan istilah “Jasmerah”, yang artinya “jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”. Ungkapan ini kemudian menjadi panduan dan pedoman bagi masyarakat Indonesia dan tentu saja para pecinta sejarah.

Dalam menyambut Hari Sejarah Nasional yang jatuh pada 14 Desember mendatang, tim masmansoer.com akan menurunkan berita terkait komunitas, LSM maupun lembaga penelitian yang konsern berkaitan dengan sejarah. Berbagai komunitas maupun lembaga tersebut banyak yang diinisiasi oleh para lulusan sejarah maupun arkeologi namun banyak juga yang di inisiasi oleh kalangan non alumni sejarah dan arkelogi, namun hal ini tidak menghalangi berbagai komunitas tersebut untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat seperti advokasi, penelitian, penulisan buku, sanggar kesenian dan bahkan jelajah medan atau sekedar jalan-jalan sejarah yang semuanya menghasilkan sinergi kesejarahan yang luar biasa.

Sejak tahun 2010-an tercatat berbagai komunitas sejarah dan arkeologi bermunculan baik yang bersifat pelestarian, penelitian, Napak Tilas, bahkan juga adventure dan petualangan. Di Lumajang, Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit Timur (MPPM Timur) menggebrak dan melawan perusakan Kawasan Situs Biting oleh PT Perumnas Biting Indah bersama elemen mahasiswa Komunitas Mahasiswa Peduli Lumajang (KMPL). Pelestarian di Lumajang ini kemudian dilanjutkan dengan pembuatan Museum, membuat event sejarah, jelajah dan penulisan buku-buku sejarah dan Arkeologi.  Di Lamongan muncul Komunitas bernama Pusat Informasi Kebudayaan Lamongan (PIKULAN) bersama Laskar Airlangga-nya yang intensif mengadakan penelitian dan jelajah situs-situs prasasti raja Airlangga maupun candi-candi yang ada di Lamongan.  

Di Situbondo muncul Komunitas Forum Penyelamat Cagar Budaya (FPCB) Situbondo dalam rangka menyelamatkan bekas gedung Kawedanan Sumber Waru yang merupakan bekas markas gerilya para pejuang, demikian juga LSM Wirabhumi didirikan yang kemudian terus mengawal pelestarian Situs Melik dari penambangan liar. Di Malang komunitas Pandu Pusaka juga intensif mengadakan diskusi maupun jelajah tempat-tempat bersejarah yang bertebaran. Di Jember sebuah komunitas bernama Forum Komunikasi Bhatara Sapta Phrabu imtensif untuk mengadakan jelajah medan maupun penulisan buku. Disamping itu komunitas Blambangan Kingdom Explorer dan Kedhaton Blambangan sedang di Bondowoso ada komunitas Megalith Bondowoso. Di Trowulan Mojokerto juga berdiri Sanggar Bhagaskara yang berlandaskan pada kesenian yang berasal dari jaman Majapahit. Di kawasan Tapal Kuda sendiri pada sekitar tahun 2017 lahir suatu federasi atau kumpulan lembaga advokasi dan penelitian bernama Dewan Advokasi dan Perjuangan Cagar Budaya (DANG ACARYA) yang secara intensif terus mengadakan koordinasi dengan para pegiat yang ada di wilayah bekas kekuasaan Arya Wiraraja ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.