Imam Soedja’i dalam Pandangan Generasi Muda

Citizen Jurnalistik

Nama Jenderal Mayor Imam Soedja’i memang belum banyak dikenal masyarakat luas khususnya generasi muda saat ini. Namanya  hanya diabadikan sebagai nama jalan kecil dekat pusat kota di Lumajang. Padahal jika ditelisik lebih jauh, perjuangan Imam Soedja’i atau yang akrab disapa pak Dja’i dalam mempertahankan kemerdekaan dan pergerakan dunia pencak silat sungguh luar biasa. Dimulai dari setelah lulus  sekolah menjadi pekerja di salah satu perusahaan Belanda hingga akhirnya memilih berhenti karena penghinaan orang-orang Belanda karena menyebutnya “Inlander”.

Oleh : Ananda Kenyo

Setelah berhenti dari pekerjaannya, pak Dja’i memilih untuk mendalami ilmu pencak silat dari eyangnya yang bernama Eyang Kusumo. Tak cukup puas disitu, pria kelahiran Pohjentrek, Kabupaten Pasurusan pada 25 September 1902 ini pergi ke daerah Garut untuk lebih mendalami ilmu pencak silat dari perguruan yang berbeda.

Singkat cerita, dari sana muncul inisiatif untuk mendirikan suatu wadah yang berisi para pemuda untuk ikut serta dalam pergerakan melawan Belanda dengan mendirikan perguruan Pencak Silat bernama “Pencak Organisasi” pada 1 Agustus 1927. Dengan adanya organisasi pencak silat, Pak Dja’i berharap para pemuda ikut turut serta berjuang melawan penjajahan Belanda.

Disamping Pencak Silat, Imam Soedja’i juga aktif dalam Sarekat Islam (SI) dan dekat dengan tokoh-tokoh pergerakan seperti Bung Karno dan Bung Hatta. Bahkan pak Dja’i juga sempat didapuk menjadi ketua Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) pada tahun 1943.

Pada tanggal 5 Oktober 1945 ketika pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), pak Dja’i diangkat sebagai Panglima divisi VIII yang kemudian berubah menjadi Divisi VII Untung Suropati yang membawahi wilayah karesidenan Malang- Besuki dengan pangkat Jendral Mayor. Beliau juga ikut serta mengkoordinir dan mengirim ribuan pejuang dari Karesidenan Malang- Besuki untuk melawan Inggris yang saat itu sedang melakukan bombardir di Surabaya pada 10 November.

Ketika Agresi Militer Belanda I, pak Dja’i juga sempat memimpin perlawanan sebagai Panglima Divisi VII untung Suropati sehingga Belanda tersulitkan posisinya. Namun karena pertentangan dengan golongan kiri, akhirnya pak Dja’i dinonaktifkan sebagai tentara.

Setelah tidak menjadi tentara, Pak Dja’i kemudian memilih untuk fokus mengembangan organisasi silat “Pencak Organisasi”  yang telah didirikannya. Hingga pada 29 Januari 1953, Imam Soedja’i menghembuskan nafas terakhir dan dimakamkan di komplek pemakanan umum Jogoyudan, Lumajang. Sebelum akhirnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan (TMP).

Jika melihat cerita jejak perjuangan Imam Soedja’i yang sungguh luar biasa tadi, sudah sepatutnya kita sebagai generasi muda untuk mengenal bahkan meneladani sikap pantang menyerah dan rela berkorrban demi kepentingan bangsa dari sosok Imam Soedja’i. Namun ironinya kini, belum banyak yang tahu siapa sosok Imam Soedja’i sesungguhnya sehingga Beliau masih dipandang sebelah mata.

• Editor : Oren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.