Gairah Revolusi Membara, BKR Malang Sukses Lucuti Senjata Jepang

Sejarah Tokoh

Tak banyak orang mengetahui tentang suasana Revolusi di daerah pada hari-hari di awal kemerdekaan pasca Proklamasi 17 Agustus 1945 oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Para penulis sejarah dan sastra lebih banyak menumpahkan cerita awal Revolusi di seputaran ibu kota Jakarta yang saat itu menjadi pusat pemerintahan Kabinet Presidentil yang dipimpin oleh Bung Karno. Suasana Jakarta direkam sangat revolusioner sejak anak-anak muda Menteng 31 bergerak menculik para pemimpin  bangsa ke Rengas Dengklok yang kemudian disusul Proklamasi dan sidang-sidang maha penting Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang menghasilkan poin-poin maha penting dalam ke- tata negaraan Republik Indonesia seperti di catat dalam buku karangan sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer berjudul Kronik Revolusi Indonesia Jilid I.

Oleh : Mansur Hidayat

Poin- poin tersebut antara lain rapat pertama Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada tanggal 18 Agustus 1945  memutuskan: Pertama adalah menetapkan Undang Undang dasar Republik Indonesia yaitu UUD 1945, kedua adalah mengangkat Ir. Sukarno sebagai Presiden dan Drs. Muhammad Hatta sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia dan ketiga adalah pekerjaan Presiden untuk sementara waktu dibantu oleh sebuah Komite Nasional. Rapat kedua dilaksanakan pada 19 Agustus 1945 yang memutuskan antara lain pertama adalah membentuk Kabinet Presidentil dengan 12 Kementrian, kedua adalah Membagi wilayah Republik Indonesia (RI) menjadi 8 Propinsi, ketiga adalah membentuk Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan keempat  adalah membentuk tentara kebangsaan. Rapat terakhir Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dilaksanakan pada tanggal 22 Agustus 1945 yang kemudian menetapkan, pertama adalah membentuk Komite Nasional Indonesia, kedua adalah membentuk Partai Nasional Indonesia dan ketiga adalah membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR).

Seperti yang dicatat oleh banyak penulis, setelah Proklamasi Kemerdekaan, berbagai aksi revolusioner diteruskan oleh para pemuda yang digagas oleh 11 tokoh pemuda dari kelompok Menteng 31dengan membentuk melalui Komite Van Aksi Revolusi Proklamasi yang dibentuk pada 18 Agustus 1945. Komite Van Aksi ini kemudian membentuk laskar pemuda bersenjata dengan nama Angkatan Pemuda Indonesia(API).Para tokoh pemuda itu antara lain Sukarni, Chaerul Saleh, A.M. Hanafi, Wilkana, Adam Malik, Pandu Kartawiguna, Armunanto, Maruto Nitimihardjo Kusnaeni, dan Djohar Nur. Tidak berhenti hanya menculik Sukarno- Hatta ke Rengas Dengklok, Angkatan Pemuda Indonesia (API) ini kemudian mengadakan rapat yang dipimpin Adam Malik dengan mengundang Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta dan memaksa keduanya untuk memberi laporan tentang sidang-sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada rapat yang berkeinginan dianggap parlemen namun ditentang oleh Sutan Syahrir sehingga gagal. Pada tanggal 22 Nopember Angkatan Pemuda Indonesia (API) dan beberapa organisasi pemuda di Jakarta seperti Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS), Barisan Banteng Republik Indonesia, Barisan Pelopor dan Pemuda Indonesia Maluku (PIM) membentuk laskar bersenjata bernama Laskar Rakyat Djakarta Raya (LRDR).

Ternyata greget revolusi di kalangan rakyat Jakarta sendiri ternyata masih lemah sehingga peralihan kekuasaan hanya bersifat pengambil-alihan kantor-kantor pemerintahan dan belum mengarah pada perlucutan senjata yang dimiliki pihak Jepang. Seperti yang dicatat oleh Adam Malik seorang anggota pemuda Menteng 31 yang kemudian menjadi pelopor Komite vam Aksi dan Angkatan Pemuda Indonesia (API) dalam memoarnya, Mengabdi Republik: Angkatan 45, pada saat itu massa rakyat di Jakarta bingung mau berbuat apa. Para pemuda API inilah yang mempelopori berbagai sabotase dan pengambil-alihan mulai mobil-mobil milik Jepang, perkantoran di Jakarta dan pada 3 September 1945 diadakan pengambil-alihan  transportasi kereta api yang tergolong sukses. Namun cerita perlucutan senjata besar-besaran ternyata masih jauh dari kenyataan sampai Sekutu mendarat di Jakarta pada 29 September 1945 dan kalaupun ada perlucutan senjata bersifat spontanitas dan dalam skala terbatas.

Imam Soedja’i Pimpin Perlucutan Senjata Jepang di Malang

Suasana revolusioner yang dipelopori oleh para pemuda sangat terasa dan nyata wilayah Jawa Timur terutama di kota Surabaya yang merupakan ibu kota Propinsi dan kemudian Malang yang juga merupakan salah satu pusat kekuatan militer Jepang di timur Jawa. Khusus kota Surabaya yang dapat dianggap sebagai kota revolusioner dapat dirunut dari gerakan bawah tanah revolusioner yang tersisa sejak jaman Partai Komunis Indonesia (PKI) Illegal yang dibentuk Musso pada sekitar tahun 1935. Menurut Riadi Ngasiran dalam bukunya Kesabaran Revolusioner Johan Sjahrozah: Pejuang Kemerdekaan Bawah Tanahpada tahun 1943 sekretaris Mohammad Hatta bernama Johan Sjarrozah ditugaskan ke Surabaya untuk mendalami dan mengorganisir serikat buruh di Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) dan kemudian mengkader tokoh-tokoh pemuda Surabaya maupun jaringan PKI Illegal sisa Musso seperti Sumarsono, Ruslan Wijayasastra, Bambang Kaslan. Ketika Proklamasi 17 Agustus 1945 para pemuda Surabaya masih belum bisa berbuat apa-apa melihat bayonet Jepang ditangan. Menindaklanjuti Proklamasi para pemimpin Surabaya kemudian membentuk Badan Kemanan Rakyat (BKR) Surabaya dibawah pimpinan bekas Daidancho dr. Mustopo dan Shodancho Yonoseowoyo,  namun belum mempunyai senjata yang berarti.

Peristiwa pertama yang meledak di Surabaya adalah terjadinya insiden pengibaran bendera Belanda oleh orang-orang Netherland Indische Civil Administratie (NICA) yang membonceng Sekutu. Dalam penyerbuan massa rakyat ke Hotel Yamato tersebut menyebabkan seorang Belanda bernama W. V. C. Ploegman tewas dikeroyok dan sang merah putih bisa berkibar kembali. Hal ini menyebabkan semangat para pemuda bertambah terutama para kader pemuda radikal dari Serikat Buruh Minyak seperti Sumarsono dan Ruslan Wijayasastra yang tergabung dalam Angkatan Muda Indonesia (AMI) kemudian mengorganisir Rapat Samudra di Tambaksari pada tanggal 21 September 1945 yang dihadiri kira-kira 150 ribu orang.

Setelah itu para pemuda tersebut membentuk organisasi bernama Pemuda Republik Indonesia(PRI) yang kemudian menjadi payung pergerakan para pemuda dan terus mem-provokasi Sekutu di kota Surabaya. Pada sekitar 1 Oktober 1945 pihak pejuang Surabaya baik dari Komite Nasional Indonesia (KNI) pimpinan Doel Arnowo, pimpinan Badan Kemanan Rakyat (BKR) dr. Mustopo dan Yonosewoyo dan Pemuda Republik Indonesia (PRI) pimpinan Sumarsono mampu memaksa pihak Jepang dibawah Mayor Jenderal Iwabe dan menyusul pada tanggal 2 Oktober markas Angkatan laut Jepang dibawah pimpinan Laksamana Sibata menyerahkan senjata secara damai. Lebih Jauh Jenderal Nasution dalam buku, Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia I: Proklamasi, menyatakan kisah sukses ini kemudian ditiru oleh kota-kota lainnya di Jawa Timur seperti Bojonegoro, Kediri dan Madiun  dibawah pimpinan R. Sudirman, Sumantri, Surakhmad dan Sudiro. Meskipun senjata yang diperoleh tidak begitu besar seperti di Surabaya namun hal ini menjadi penyemangat bagi para pemuda di daerah tersebut.

Peristiwa pelucutan senjata yang cukup besar dan sering lolos dari pandangan jurnalis maupun para sejarawan terjadi di kota Malang. Suasana revolusioner di kota Malang sebenarnya terjadi beberapa minggu pasca Proklamasi ketika pada tanggal 23 Agustus 1945 Bung Karno lewat corong radio menyerukan segenap pemuda bekas Heiho, Peta, Seinendan, Keibodan dan badan-badan kemasyarakatan untuk bergabung dalam sebuah Badan keamanan Rakyat (BKR). Dalam buku karya Nur Hadi dkk., Perjuangan Total Brigade IV: Pada Perang Kemerdekaan di Karesidenan Malang, menjelaskan setelah mendengar seruan Bung Karno tersebut keesokan harinya pada tanggal 24 Agustus 1945 mantan Daidancho PETA Malang Kota, Imam Soedja’i kemudian mengundang bekas rekan-rekannya dan para tokoh perjuangan di kota Malang untuk membahas seruan tersebut di rumahnya Jalan Tenis 28. Dalam pertemuan bersejarah tersebut disepakati untuk melakukan pembelaan terhadap Proklamasi 17 Agustus 1945 dan melaksanakan seruan Bung Karno dengan membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) di kota Malang. Adapun susunan kepengurusan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Malang adalah sebagai berikut:

Ketua                          : Imam Soedja’i (Mantan Daidancho Malang Kota)

Wakil Ketua                : Kyai Iskandar Sulaiman (Mantan Daidancho Gondang Legi)

Anggota                        :Subiyanto, Hamid Rusdi, Muchlas Rowie, Sulam Samsun, Sochifudin, dr. Imam, Iwan Stambul, Susilo, Asmanu, Ridwan Naim, Mutakad Hurip, Bambang Supeno, D. Sukariyadi, Sunyoto, Slamet, Suyono, Abdul Manan, Sugito, Sudi Harjohudoyo, Abdul Rahman (Kepala Polisi Malang), Mr. Abdul Wahab (Ahli Hukum).

Khusus Bambang Supeno kemudian di minta untuk membentuk Badan Kemanan Rakyat (BKR) Penyelidik dan dr. Imam untuk menangani bagian Rumah Sakit. Setelah terbentuknya Badan Kemanan Rakyat (BKR) Malang, maka tugas berat yang harusdilakukan adalah memperoleh senjata yang saat itu masih berada ditangan Jepang. Entah kenapa suasana revolusioner begitu meluas dan cepat di kota Malang. Pelucutan senjata Jepang ini dimulai pada awal September ketika suatu pagi massa berkumpul yang kemungkinan di organisir Badan Kemanan Rakyat (BKR) Malang mengepung markas Kemepetei di jalan Semeru nomer 42 dan meminta polisi militer Jepang yang sangat ditakuti selama masa pendudukan tersebut untuk meninggalkan gedung dan menyerahkan senjata. Setelah berunding selama 2 jam, maka pihak Kemepetai-pun menyerahkan senjatanya kepada pihak Badan Keamanan Rakyat (BKR). Peristiwa ini kemudian menjadi pemicu semangat untuk perebutan senjata yang lebih besar.

Peristiwa pengambil alihan senjata Kempetai tersebut kemudian menginspirasi Badan Kemanan Rakyat (BKR) Malang dan para pemimpin Malang untuk lebih giat melakukan gerakan massa menekan pasukan Jepang. Masih di awal bulan September, terjadi gerakan massa mengepung Katagiri Butai (Batalyon Katagiri) karena santer terdengar persenjataan Jepang yang ada di Malang akan diserahkan pada Sekutu. Para pemimpin Malang seperti RAA Sam (Pejabat Residen Malang), Imam Soedja’i (Ketua BKR), Kyai Iskandar  Sulaiman (Wakil Ketua BKR), Mutakad Hurip (Anggota BKR), Subiyanto (Anggota BKR), Hamid Rusdi (Anggota BKR), Bambang Suimadi (Kepala Polisi Karesidenan Malang), Abdul Rahman (Komisasris Polisi), Domino Susilo (Pemuda) dan Kadarman (Sekretaris Residen Malang). melakukan pengawalan gerakan massa ini supaya tidak terjadi konflik yang tidak diharapkan dengan menjadi delegasi berunding dengan para pimpinan milter Jepang. Delegasi Republik Indonesia di Malang ini kemudian di temui oleh Butai Cok (Komandan Batalyon) Kolonel Katagiri, Kapten Yanagawa dan Kapten Suzuki. Pertemuan yang berlangsung singkat selama 1 jam itu menghasilkan persetujuan prinsip untuk selanjutnya dilaksanakan pada pertemuan kedua.

Sesuai dengan kesepakatan,  perundingan kedua dilakukan untuk membahas secara rinci protokol perundingan tentang pengambil alihan kekuasaan dari pemerintah militer Jepang di Malang kepada pemerintah Republik Indonesia. Delegasi Indonesia terdiri dari RAA Sam (Pejabat Residen Malang- Ketua), Imam Soedja’i (BKR- anggota), Kyai Iskandar  Sulaiman (BKR- anggota), Mutakad Hurip (BKR- anggota), Subiyanto (BKR), Hamid Rusdi (Anggota BKR), Bambang Suimadi (Kepolisian- anggota), Abdul Rahman (Kepolisian- anggota) dan  Domino Susilo (Pemuda), sedang delegasi pemerintah Militer Jepang terdiri dari Mayjen Iwabe (Tobu Boetai Cok- Ketua), Laksamana Muda Isido (Angkatan Laut), Kolonel Angkatan Udara, Kolonel Katagiri Hisashi (Angkatan Darat), Kolonel Kempetai dan seorang peneprjemah Mayor AL. Watanabe.  Pertemuan ini kemudian teruskan oleh pertemuan masing-masing angkatan untuk membicarakan pengambil alihan senjata, bahan makanan dan alat transportasi (kendaraan). Pertemuan ini meliputi penyerahan senjata di seluruh Karesidenan Malang Besuki yang terdiri dari 8 Kabupaten dan berlangsung sukses.

Untuk pengambil alihan senjata di kota Malang yang dikuasai oleh Katagiri Butai dan Brigade Kempetei diselesaikan dalam waktu 3 hari dan hasilnya ternyata diluar perkiraan semula. Ternyata senjata yang ditemukan demikian banyak dan cukup untuk memenuhi kebutuhan 1 Divisi yang jumlahnya sekitar 15.000 orang. Adapun senjata-senjata tersebut meliputi dari yang ringan sampai yang berat seperti pistol, amunisi, senapan, Jukikanju, meriam darat, meriam anti serangan udara, kendaraan pengangkut pasukan dan alat-alat perang lainnya. Sejak saat itu Badan Kemanan Rakyat (BKR) Malang yang nantinya menjadi Tentara Kemanan Rakyat (TKR) Divisi VII Untung Suropati mempunyai persenjataan terlengkap dan terkuat diantara Divisi yang ada dalam tubuh tentara Republik Indonesia lainnya.

Setelah pengambil lalihan senjata dari Batalyon Katagiri selesai, maka dimulailah pengambil alihan Angkatan Udara Jepang di pangkalan udara Bugis. Perlu diketahui bahwa pada saat itu, pangkalan udara Bugis adalah pangkalan udara terkuat di Jawa Timur. Pada bulan Oktober dilakukan beberapa perundingan yang hasilnya  oleh pimpinan militer pangkalan udara Bugis bersedia menyerahkan persenjataannya secara damai. Ada sekitar 64 buah pesawat dengan rincian 22 dapat dipakai, 12 sedang diperbaiki dan sebanyak 30 dalam keadaan rusak. Disamping itu ada generator pembangkit listrik, granat, amunisi dan senjata ringan. Dengan adanya pengambil alihan ini dapat dikatakan Republik Indonesia mempunyai pangkalan udara pertama kali di Malang. Setelah pengambilalihan ini Kepala Badan Kemanan Rakyat (BKR) Malang, Imam Soedja’i kemudian menetapkan Suhud sebagai Komandan pangkalan udara Bugis. Selang beberapa waktu, Pemerintah RI  menunjuk Karmen sebagai Kepala BKR Udara dan menjadi Komandan Pangkalan Bugis menggantikan Suhud.

Langkah selanjutnya adalah pengabil alihan senjata dari Angkatan Laut di Pujon yang dipimpin oleh seorang Laksamana Jepang. Sama seperti pengambil alihan yang sebelumya dilakukan dengan cara perundingan dan damai, maka seluruh persenjataan Angkatan Laut Jepang ini diserahkan pada pihak republik Indonesia. Semua personel pasukan Jepang baik yang angkatan darat, angkatan udara dan angkatan laut di konsentrasikan di tangsi militer Lebak Roto Lumajang Selatan sambil menunggu pemulangan dari pihak Sekutu.

Demikianlah gambaran umum pengambil alihan senjata yang didukung suasana revolusioner masyarakat di kota Malang uang sudah mendidih seperti kesaksian seorang wartawan keturunan Cina yang Republiken dan diuraikan dalam Memoar Kwee Thiam Tjing, Menjadi Tjamboek Berdoer, bagaimana para pemuda menyandang pistol, senapan, peluru yang diikuti oleh anak-anak yang permainannya berubah dari kuda-kudaan menjadi perang-perangan. Pada permulaan revolusi di Malang berjalan seolah kacau balau namun dengan kesigapan para pemimpin pejuang seperti Imam Soedja’i, revolusi ternyata berjalan sesuai dengan rel yang diharapkan.

·  Editor : Oren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.