Fakta Perang 10 November 1945 di Surabaya Yang Rugikan Pihak Indonesia

Sejarah

Lonceng Revolusi Indonesia yang di mulai pada 17 Agustus 1945 pukul 10.00 di Pegangsaan timur 56 Jakarta memang telah membangunkan bangsa Indonesia dari tidur panjang dan mimpi buruknya selama kurang lebih 350 tahun lamanya. Saat itu daya sihir Bung Karno sebagai Pemimpin perjuangan benar-benar mampu menghipnotis dan membuat massa rakyat bangkit dan keluar dari persembunyian  untuk tegak berdiri menantang para penjajah yang ingin menduduki negerinya kembali.

Oleh : Mansur Hidayat

Semangat rakyat yang telah terpendam lama sejak jaman kerajaan-kerajaan Nusantara yang kalah sama VOC Kumpeni seperti kerajaan Goa di Makassar pada abad ke-17, kerajaan Blambangan di timur Jawa pada abad ke-18, kerajaan Palembang di Sumatra pada abad ke-19 yang kemudian dilanjutkan dengan semangat perlawanan lokal seperti Perang Diponegoro di Jawa pada abad ke-19, Perang Padri di Sumatra pada abad ke-19, Perang Pattimura di Ambon pada abad ke-19. Kekalahan terus-menerus ini  ditambah perlawanan para petani desa seperti pemberontakan petani Banten tahun 1888, Pemberontakan petani Madura oleh Kyai Ger Tanah tahun 1915 yang semuanya juga gagal ternyata membawa dendam kesumat di dalam benak rakyat yang tertindas. Kesadaran berorganisasi yang dibangun pada awal ke-20 baik dengan ideologi Islam, ideologi Komunis maupun ideologi Nasionalis telah membangkitkan semangat perlawanan dan tekad mengusir penjajah yang tiada duanya.

Pasca Proklamasi 17 Agustus 1945 berbagai kelompok terus melakukan pengorganisiran rakyat dan pemuda, mulai dari kelompok Komunis Tan Malaka yang berbasis di Banten dan Jawa Barat dan dikoordinir oleh Komite Van Aksi pimpinan Sukarni dan Chaerul Saleh, Kelompok Amir Syarifuddin yang berbasis di Surabaya dan Surakarta yang di koordinir oleh Pemuda Republik Indonesia (PRI) yang di komandani oleh Sumarsono dan kemudian menjadi Pemuda Sosialis Indonesis (PSI) yang merupakan kelompok pemuda paling aktif di awal-awal pertama pasca Proklamasi. Sementara itu para pemuda dan tokoh-tokoh Islam yang agak ketiunggalan pada awal Revolusi mulai bergerak secara perlahan dan pasti lewat organisasi Masyumi dan Laskar Hizbullah.

Sampai akhir Agustus 1945 suasana kota Jakarta berjalan seperti biasa tanpa ada perubahan yang berarti. Pemerintahan sipil dan militer masih dalam kendali Jepang yang terus berjaga-jaga di ibu kota sehingga masyarakat umum belum merasakan secara nyata geliat Proklamasi. Keadaan mulai berubah ketika awal September para pemuda mulai mengadakan kegiatan pengambil-alihan gedung-gedung perkantoran dan sarana transportasi kereta api. Sejak saat itu tulisan-tulisan “Milik Republik Indonesia” dan “Merdeka Atau Mati” banyak menghiasi gedung-gedung atau gerbong kereta api yang hilir mudik membawa pesan kemerdekaan. Menurut sejarawan Harry A. Poeze support besar-besaran dari rakyat terjadi ketika ada aksi massa membela negara Proklamasi 17 Agustus 1945 dengan adanya Rapat Raksasa di lapangan IKADA pada 19 September 1945 yang di organisir oleh kelompok Tan Malaka yang dihadiri sekitar 200.000 orang yang sebagian besar dari Banten.

Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan Pemuda Republik Indonesia (PRI) Pimpinan Sumarsono Koordinir Perang Surabaya

Kota Surabaya adalah kota revolusioner yang tak kalah bergeloranya. Tokoh-tokoh pergerakan nasional mulai menanamkan paham kepada anak-anak muda sejak HOS Cokroaminoto memimpin Sarekat Islam pada tahun 1912 dan kemudian banyak melatih tokoh-tokoh muda seperti Semaun, Musso, Bung Karno maupun Kartosuwiryo. Menurut buku yang di editori oleh Anton Lucas, Radikalisme Lokal: Oposisi dan Perlawanan Terhadap Pendudukan Jepang di Jawa (1942-1945), pada tahun 1935 salah seorang tokoh didikan HOS Cokroaminoto yang kemudian menjadi pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) dan di buang ke Eropa datang kembali secara rahasia di Surabaya untuk mendirikan organisasi bawah tanah yang disebut PKI Ilegal dan kemudian menghasilkan kader-kader seperti Amir Syarifuddin maupun Widarta.

Menurut Riadi Ngasiran dalam bukunya Kesabaran Revolusioner Johan Sjahrozah: Pejuang Kemerdekaan Bawah Tanah pada tahun 1943 kota Surabaya juga kedatangan seorang tokoh pergerakan ahli teori Marxis bernama Johan Sjahrozah yang datang untuk melatih para pemuda di Serikat Buruh Minyak. Dari tangan Johan Sjahrozah ini kemudian muncul para pemuda seperti Sumarsono dan Ruslan Wijayasastra yang paham tentang Marxisme dan kemudian berhubungan erat dengan kelompok bawah tanah Amir Syarifuddin. Pada dasarnya kelompok pemuda Komunis Surabaya bersifat radikal dan ingin secepatnya melakukan pengambil-alihan kekuasaan dari tangan Jepang maupun melawan penjajah seperti Inggris dan Belanda dengan cara radikal tanpa kompromi.

Dalam buku Hersutejo dijelaskan bagaimana para pemuda radikal dari Serikat Buruh Minyak yang dipimpin oleh Sumarsono dan Ruslan Wijayasastra ini kemudian mempelopori Rapat Samudra di lapangan Tambaksari pada tanggal 21 September 1945 yang dihadiri oleh 150 ribu orang dan melakukan pawai keliling kota Surabaya dan kemudian pada tanggal 23 September 1945 membentuk organisasi Pemuda Republik Indonesia (PRI) dengan susunan:

Ketua                                      : Sumarsono

Sekretaris                                : Bambang Kaslan

Wakil Ketua Penerangan        : Sutomo atau Bung Tomo

Disamping para pemuda Komunis, para pemuda bekas pasukan sukarela Pembela Tanah Air (PETA) yang tergabung dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) Surabaya pimpinan dokter Mustopo, HR Muhamad Mangoen Mihardjo dan Yonosewoyo. Mereka ini kemudian saling bekerja sama dalam kerangka mengambil-alih senjata pasukan Jepang dan melakukan koordinasi dengan dengan pemerintah Surabaya pimpinan Residen Sudirman. Setelah pengambil-alihan senjata yang sukses para pejuang Surabaya yang tergabung dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan kemudian menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) bersama Pemuda Republik Indonesia (PRI) banyak mendapatkan senjata bekas tentara jepang yang nantinya dijadikan modal perjuangan bersenjata.

Hal ini menjadikan semangat revolusi di Surabaya semakin membara. Dimana-mana rakyat berbicara pengusiran Jepang maupun Inggris dan Belanda yang ingin menajajah kembali Indonesia, di jalanan para pemuda terlihat menenteng senjata rampasan Jepang dan juga senjata tradisional seperti keris dan pedang dan tidak ketinggalan anak-anak kecil di kampung-kampung yang kebiasaan bermainnya berubah dari pedang-pedangan menjadi tembak-tembakan. Suasana yang mendidih dan membara di surabaya ini kemudian terus dilakukan pengorganisiran massa untuk melawan kedatangan Inggris dan para sekutunya.

Menurut Jenderal Nasution dalam bukunya, Sekitar Perang Kemerdekaan 1-2,pada 29 September 1945 pasukan Inggris sebagai perwujudan Sekutu mulai mendarat di Tanjung Priok Jakarta tanpa memberitahu kepada pemerintah Republik Indonesia sebagai pemerintahan yang resmi. Pada saat itu Sekutu menilai bahwa pemerintahan Sukarno Hatta adalah boneka Jepang sehingga mereka tidak terlalu memperdulikannya dan bahkan santer terdengar bahwa pucuk pimpinan tertinggi Republik Indonesia tersebut akan ditahan oleh Sekutu. Dalam suasana darurat inilah pada tanggal 5 Oktober 1945, Badan Keamanan Rakyat (BKR) berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang ditindak-lanjuti dengan penunjukkan Menteri Keamanan Rakyat Supriyadi meski tidak pernah muncul dan pembentukan 10 Divisi TKR di Jawa dan 6 Divisi di Sumatra. Kedatangan pasukan Inggris ini ternyata disambut dengan baik oleh pemerintah Republik Indonesia di Jakarta yang saat itu ingin medapat pengakuan internasional dari pemenang Perang Dunia II. Namun niat baik pemerintah ternyata di lapangan tidak pernah disambut baik oleh Inggris dan bahkan mereka sedikit demi sedikit terus melakukan keberpihakan untuk memperkuat posisi pasukan Belanda yang ingin menjajah Indonesia.

Perang Linear Hadapi Pasukan Inggris

Berbeda dengan pemerintah Republik Indonesia yang ada di Jakarta, situasi kota Surabaya yang sejak 21 September dengan adanya Rapat Samudra di Stadion Tambaksari dan pawai pemuda keliling Surabaya guna mendukung negara Proklamsi 17 Agustus 1945 terus memanas. Badan Keamanan Rakyat (BKR) Surabaya maupun para pemuda yang berhasil melucuti senjata tentara Jepang terus memasang kewaspadaan tinggi terhadap kedatangan pasukan Sekutu tersebut. Pada tanggal 25 Oktober 1945 pasukan Inggris atas restu pemerintah Jakarta yang berjumlah 6000 orang dari Brigade 49 yang sebagian adalah tentara Ghurka pimpinan Brigadir Jenderal AWS Mallaby mendaratkan pasukannya di Surabaya.

Kekerasan mulai terjadi pada tanggal 27 Oktober ketika pesawat Sekutu menjatuhkan pamflet ancaman dari Panglima Divisi ke-23 Mayor Jenderal HC. Hawthorn supaya masyarakat Jawa termasuk Surabaya untuk menyerahkan senjata yang telah dirampas dari Jepang ke tangan Inggris dalam waktu 48 jam. Jika ada yang menolak maka pasukan Sekutu tidak segan-segan untuk menembaknya. Hal ini tentu saja menimbulkan kemarahan pasukan TKR dan para pemuda pejuang terutama dari Pemuda Republik Indonesia (PRI). Pertempuran segera berkecamuk, pasukan Inggris pimpinan Brigjen Mallaby yang tidak siap menghadapi semangat rakyat Surabaya-pun kemudian dan terjepit untuk meminta perdamaian. Panglima divisi ke-23 Mayor Jenderal DC. Hawthornpun kemudian menghubungi Panglima Tertinggi Sekutu di Asia Tenggara Letjen Christison untuk meminta gencatan sejata dengan datang ke Jakarta menemui Bung Karno dan Bung Hatta.

Untuk menjaga nama Republik Indonesia di mata dunia, Maka Bung Karno, Bung Hatta dan Amir Syarifuddin beserta Mayjen DC Hathorn datang ke Surabya tanggal 29 Oktober 1945 dan memulai gencata senjata dengan keliling kota Surabaya. Atas kharisma Bung Karno gencatan senjata bisa dilaksanakan dan para pemimpin pulang ke Jakarta pada keesokan harinya tanggal 30 Oktober 1945. Setelah kepulangan para pemimpin Jakarta ternyata di sekitar gedung Internatio terjadi insiden yang menewaskan Brigjen AWS Malaby. Hal ini kemudian menjadi dalih Sekutu untuk menyerang Surabaya.

Pada tanggal 31 Oktober 1945 Letjen Christison memberi peringatan kepada pihak Indonesia untuk menyerahkan orang-orang yang terlibat pembunuhan tersebut yang kemudian ditindak-lanjuti dengan penyebaran pamflet oleh pesawat Sekutu pada tanggal 9 Nopember yang isinya kepada seluruh rakyat Surabaya untuk menyerahkan senjata dengan tangah diatas dan menyerah tanpa syarat. Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Pemuda Republik Indonesia (PRI), Barisan Pemberontak Republik Indonesia (BPRI) dan elemen rakyat bersatu padu menolak dengan tekad Merdeka atau Mati. Pertempuran dimulai dengan semangat membara dan 100.000 pasukan rakyat dari Jawa Timur berhadapan dengan pemenang Perang Dunia II di medan Surabya. Pertempuran berlangsung dengan semangat keberanian dari bangsa yang baru saja merdeka, pertempuran dijalankan oleh rakyat yang membawa senjata seadanya melawan pasukan Inggris dengan peralatan perang modern. Di jalan-jalan, di kampung-kampung yang ada di Surabaya rakyat bertekad melawan Inggris sampai titik darah penghabisan, disamping itu pidato para pemimpin lewat corong radio telah menyebabkan keberanian rakyat berlipat ganda. Yang jelas saat itu, taktik perang yang digunakan adalah Perang Linear, perang hadap-hadapan dan adu kuat antara pihak Republik Indonesia dan pihak Sekutu. Akibatnya 20.000 jiwa rakyat Surabaya gugur membela kehormatan bangsanya dan hasilnya para pejuang Surabaya harus menyingkir keluar kota setelah bertempur selama 3 minggu.

Kelemahan Taktik Perang Linear Saat Menghadapi Pasukan Inggris

Pertempuran Surabaya adalah pertempuran yang sangat heroik dan menjadi inspirasi bagi para pejuang dipelosok negeri untuk melakukan perlawanan bersenjata terhadap Inggris. Perkiraan Surabaya akan jatuh ke tangan pemenang Perang Dunia II ini dalam waktu sepekan ternyata tidak terbukti. Rakyat Surabaya dan Jawa Timur tumpah ruah menyerang pasukan Inggris yang bersenjata lengkap.  Mengenai jumlah korban dari pihak Indonesia yang tercatat adalah 20.000 jiwa sedang dari pihak Inggris sekitar 1500- 3000 jiwa dengan hasil kekalahan pasukan pejuang yang terpaksa menyingkir keluar kota. Penyingkiran para pejuang ini diikuti juga oleh puluhan ribu rakyat yang tidak mau dijajah oleh Inggris dan Belanda. Karena keberanian yang luar biasa, maka Presiden Sukarno pada tahun 1951 menetapkan 10 Nopember sebagai Hari Pahlawan.

Dalam tulisan ini disamping hal-hal positif yang terjadi pada medan pertempuran Surabaya, juga ada beberapa kelemahan mendasar yang mendasari perjuangan bersenjata tentara maupun laskar pejuang kita saat itu. Jenderal AH Nasution dalam bukunya Sekitar Perang Kemerdekaan dan Pokok- Pokok Perang Gerilya memberi ulasan terkait perang besar ini dari sudut pandang taktik militer sehingga menyebabkan kerugian besar baik material maupun personal dipihak kita.

Pertama adalah suasana psikologi rakyat dan terutama para pemuda yang sedang rindu akan kemerdekaan sehingga tidak memperdulikan keselamatannya. Bagi para pejuang saat itu karena memang belum ada satu kesatuan komando, maka kedatangan Inggris yang sebenarnya bukan musuh utama malah di lawan habis-habisan dengan memakai seluruh kekuatan kita baik personal maupun persenjataan. Hal ini tentu saja sangat merugikan karena memang Inggris tidak berniat menduduki wilayah Indonesia. Ratusan ribu peluru dan amunisi kita terbuang sia-sia ditambah 20 ribu nyawa rakyat yang seharusnya digunakan melawan Belanda yang sedang mengadakan persiapan perang malah gugur lebih dahulu.

Kedua adalah para pejuang Surabaya lebih suka melakukan perlawanan bersenjata dengan taktik perang linear atau perang berhadap-hadapan yang tentu saja mengandalkan kekuatan yang ada. Dalam kenyataan lapangan, para pejuang kita mempunyai kelemahan mendasar baik organisasinya maupun persenjataannya. Taktik perang linear yang hanya mengandalkan keberanian tentu saja tidak cukup untuk melawan kekuatan Inggris yang modern peralatan dan organisasinya.

Ketiga adalah para pemimpin dan komandan  perang saat itu sering menggunakan corong radio yang bersifat massif untuk menggerakkan rakyat dengan semboyan “Jangan mundur sejengkalpun, jangan serahkan sejengkal tanah pada musuh” sehingga dalam waktu yang cepat pesan akan sampai kepada seluruh pejuang yang ada di kota Surabaya. Fakta dilapangan meskipun yang dihadapi tank Inggris yang modern maka rakyat tidak segan-segan mengepungnya dengan hanya bersenjata golok dan bambu runcing. Hal ini tentu saja sangat merugikan karena keberanian tersebut harus ditebus dengan darah dan nyawa.

Keempat adalah pemanfaatan corong radio sebagai komando untuk operasi penyerangan terhadap obyek musuh. Hal ini merukan kelebihan sekaligus kelemahan yang mendasar bagi pihak Indonesia yang banyak dimanfaatkan musuh dalam hal ini adalah para Komandan Perang Inggris yang senantiasa mengamati corong radio setiap waktu. Suatu contoh ketika pihak Indonesia ingin menyerang instalasi A pada jam 07.00 pagi lewat corong radio. Para Komandan perang Inggris yang pekerjaannya setiap waktu mendengarkan corong radio kemudian tinggal melakukan penghadangan tanpa susah-susah mengirimkan inteljennya menyusup ke pasukan kita. Informasi yang sangat penting ini tentu saja sangat merugikan pihak kita dan mengakibatkan korban personal maupun material dalam perang ini.

Kelima adalah kemarahan rakyat diimbangi dengan langkah-langkah pengungsian secara menyeluruh karena tidak sudi dijajah kembali oleh musuh. Hal ini mnyebabkan puluhan ribu rumah di Surabaya kosong tanpa penghuni. Memang dilihat secara sekilas hal ini menunjukkan sifat patriotisme, namun dalam kenyataannya hal ini malah merugikan perlawanan terhadap musuh. Dan buku pokok-pokok perang gerilya, Jenderal AH Nasution menyatakan bahwa rakyat itu ibarat air dan pejuang itu ibarat ikan. Logikanya ikan tidak dapat hidup tanpa ada rakyat disekililingnya. Rakyat seharusnya melindungi para pejuangnya seperti ketika siang hari sang pejuang bisa menyamar sebagai rakyat dan ketika malam hari tiba keluar dari persembunyian untuk membunuh lawan. Dalam perang Surabaya ternyata hal ini tidak dilaksanakan. Puluhan ribu rakyat mengungsi keluar kota dan mengakibatkan kosongnya kawasan kota yang seharusnya dapat dipakai sebagai medan perang gerilya.

Disamping itu kekosongan ini menyebabkan juga beberapa hal yaitu pertama adalah  kawasan atau kampung yang kosong menjadi sarang nyamuk dan ketika digunakan sebagai tempat perlindungan oleh para pejuang maka penyakit malaria datang mengancam. Kedua adalah karena kosongnya kawasan kota Surabaya maka dapur umum yang menjadi pusat logistik para pejuang banyak ditempatkan di Sidoarjo atau Mojokerto. Hal ini tentu saja sangat merugikan karena para pejuang banyak yang bertempur dengan perut kosong dan kelaparan. 

·  Editor : Kenyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.