Bung Karno Inisiatifi Pembentukan Pasukan Pembela Tanah Air (PETA)

Sejarah

Berbicara masalah kemiliteran di Indonesia tentu tidak bisa dilepaskan dari sebuah lembaga ketentaraan yang bernama Jawa Bōei Giyūgun Kanbu Resentai atau yang dikenal dengan nama Pembela Tanah Air (PETA). Wacana pembentukan sebuah lembaga semi militer yang terdiri dari bangsa Indonesia sebenarnya bermula ketika pasukan Jepang terdesak dalam berbagai pertempuran semenjak pertengahan tahun 1942 yang diawali dengan pertempuran di laut karang, pertempuran Midway, pertempuran Guadal Kanal dan pada tahun 1943 Jepang sudah kalah dalam berbagai pertempuran. Hal ini membuat suasana psikis pasukan Jepang menjadi lemah.

Oleh : Mansur Hidayat

Disamping kondisi psikologi yang melemah, jumlah pasukan yang semakin menipis dengan wilayah teritorial yang sangat luas menyebabkan kebutuhan tentara yang begitu mendesak. Oleh karena itulah, diperlukan jumlah tentara yang cukup untuk mempertahankan wilayah yang didudukinya dengan tenaga orang-orang pribumi sendiri. Tidak mengherankan pada 9 Maret 1943 pemerintah pendudukan Jepang mulai membentuk lembaga-lembaga semi militer seperti Seinendan yang merupakan kesatuan pelajar yang dilatih kedisiplinan militer yang sangat anti barat. Jumlah anggota Seinendan tercatat sebanyak 35.500 dan pada akhir pendudukan Jepang menjadi 500.000 orang. Demikian juga pada tanggal 29 April 1943 diadakan pembentukan Keibodan yang merupakan lembaga semi militer yang terdiri dari pemuda desa yang berumur 20-35 tahun yang nantinya pada akhir pendudukan Jepang berjumlah 1 juta orang.

Kekalahan Jepang ini kemudian dimanfaatkan oleh para pemimpin Indonesia yang saat itu bekerja sama dengan Jepang terutama Bung Karno untuk terus memanfaatkan situasi dengan mengusulkan berbagai macam lembaga yang dapat dijadikan dasar untuk mengorganisir massa rakyat. Setelah sukses membentuk Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) yang dipimpin oleh 4 Serangkai dengan ketua Bung Karno sendiri, maka persiapan untuk membentuk lembaga semi militer sangat diperlukan jika nantinya Indonesia benar-benar berhasil untuk merdeka. Pada saat itu posisi Bung Karno sangat sentral dalam pengorganisiran rakyat untuk kepentingan Jepang sehingga para petinggi pemerintah pendudukannya sangat menghormatinya. Hal inilah yang seringkali dimanfaatkan tokoh pergerakan rakyat yang sebelumnya sangat anti Belanda untuk membentuk lembaga semi militer bernama Jawa Bōei Giyūgun Kanbu Resentai atau yang dikenal dengan nama Pembela Tanah Air (PETA).

Memang dalam masalah pembentukan pasukan sukarela Pembela Tanah Air (PETA) ini ada beberapa pendapat terkait pengusulnya seperti yang dilontarkan oleh Prof. Nugroho Notosusanto dalam disertasinya yang berjudul “Tentara PETA: Pada Jaman Pendudukan Jepang di Indonesia” yang menyatakan bahwa PETA dibentuk atas usulan Gatot Mangkupraja yaitu dengan menulis surat kepada pimpinan militer Jepang. Pendapat Prof. Nugroho Notosusanto inilah yang kemudian menjadi dasar tulisan dan wacana secara umum. Dalam tulisan ini kita juga ingin merunut pendapat yang berbeda sesuai dengan pendapat Bung Karno yang terdapat dalam biografinya yang ditulis oleh Cindy Adams “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” menyatakan bahwa ia menginisiatifi dan meyakinkan para Jenderal Jepang  yang sedang terdesak dan mengalami banyak kekalahan dalam peperangannya melawan Amerika.

Oleh karena itu dalam rangka mempertahankan wilayah jajahannya seperti di Jawa, Bung Karno menyatakan bahwa banyak pemimpin dan pemuda Indonesia yang sangat anti pada Belanda sehingga nanti tenaganya dapat dimanfaatkan oleh Jepang. Dalam buku Cindy Adams tersebut dijelaskan lebih jauh bahwa Gatot Mangkupraja merupakan orang kepercayaan Bung Karno sejak jaman sebelum perang yaitu ketika mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) telah dipenjara bersama-sama di Sukamiskin dan juga nantinya pasca kemerdekaan menjadi salah seorang petinggi Partai Nasional Indonesia (PNI) yang merupakan sebuah partai yang sangat dekat dengan Bung Karno. Melihat situasi politik saat itu  ketokohan Gatot Mangkupraja masih jauh dibanding Bung Karno yang merupakan salah seorang pemimpin pergerakan rakyat yang dekat dengan pemerintah Jepang, tentu saja pendapat Bung Karno ini dapat dibenarkan.

Setalah Bung Karno meyakinkan para pejabat Jepang, maka sudah saatnya meramaikan isu dukungan terhadap pembentukan pasukan sukarela tersebut. Tentu saja dukungan orang-orang dekat Bung Karno semakin meyakinkan bahwa tindakannya untuk membentuk pasukan sukarela mendapat dukungan dari seluruh kalangan rakyat. Sejak saat itu seperti tertera dalam berita-berita tentu saja dukungan dari Gatot Mangkupraja dengan menulis surat bertanda tangan darah. Setelah surat Gatot Mangkupraja, baru surat-surat dukungan dari berbagai kalangan dilakukan seperti dukungan kalangan Islam diantaranya KH. Mas Mansur, KH. Adnan, Dr. Karim Amrullah dan lain-lannya.

Demikian juga dari kalangan bangsawan seperti Sri Paku Alam, Ki Ageng Suryomentaraman dan lainnya ditambah dari kalangan Pusat Tenaga Rakyat (Putera) yang merupakan organisasi yang dipimpin Bung Karno sendiri yang salah satunya adalah dukungan R. Sudirman (bukan Sudirman yang akan jadi Panglima TNI) yang saat itu menjadi ketua Putera Karesidenan Surabaya. Karena inisiatif Bung Karno yang didukung banyak kalangan inilah maka pemerintah pendudukan Jepang kemudian Osamu Seirei No.44 pada tanggal 3 Oktober 1944 untuk membentuk pasukan sukarela bernama Pembela Tanah Air (PETA).

Setelah pembentukan pasukan sukarela Pembela Tanah Air (PETA) maka dilakukanlah pengumuman perekrutannya yang memakai 2 jalur. Jalur pertama adalah terbuka untuk umum dan diumumkan di surat-surat kabar yaitu untuk pemuda berusia dibawah 25 tahun yang nantinya akan mengisi kepangkatan shodanchoo (Sersan) dan jajaran dibawahnya. Rekrutan para pemuda secara terbuka ini kemudian banyak yang menjadi Jenderal maupun perwira tinggi TNI di masa Indonesia merdeka seperti Akhmad Yani, Suharto, Sumitro, Sarwo Edhi Wibowo dan yang lainnya. Jalur kedua adalah yang secara tertutup merupakan tokoh-tokoh masyarakat yang mendapat rekomendasi dari para pemimpin Indonesia seperti Bung Karno. Disini Bung Karno banyak memberi rekomendasi pada para pemimpin Pusat Tenaga Rakyat daerah seperti R. Sudirman dari Surabaya dan Imam Soedja’i dari Lumajang.

Disamping para pemimpin Putera, Bung Karno juga banyak merekomendasi mantan aktifis Sarekat Islam  (SI) yang dulu merupakan kawan separtainya seperti Aruji Kartawinata dan Muhammad Sulyoadikusumo. Dalam perkembangannya para tokoh yang direkomendasi oleh Bung Karno ini tentu saja sangat loyal dan setia pada Bung Karno sebagai pemimpin Revolusi Indonesia meski secara politik kemudian dikebiri oleh kelompok Sutan Syahrir dan Amir Syarifuddin. Seperti diketahui bahwa Muhammad Sulyoadikusumo merupakan Menteri Pertahanan ad Interim menggantikan posisi Supriyadi yang tidak kunjung muncul.

Pasukan sukarela Pembela Tanah Air (PETA) ini terbagi dalam 3 gelombang. Gelombang pertama pelatihan dilakukan pada tanggal 15 Oktober 1943 dengan mengambil tempat di bekas markas Belanda di daerah Bogor dengan parade pembukaan pada 19 Oktober. Untuk gelombang pertama diterima 850 pemuda dengan perincian untuk Daidancho 33 orang, Chudanco 127 orangdan Shodancho maupun Bundancho sebanyak 690 orang. Angkatan pertama ini kemudian dilantik secara besar-besaran pada tanggal 8 Desember 1944 di lapangan Gambir Jakarta. Gelombang kedua dilakukan sejak 1 April 1944 dengan 200 taruna dan 10 April 1944 ditambah 400 taruna, tanggal 10 Mei datang lagi 81 taruna Chudancho  dan pada 10 Juni 1944 datang 20 taruna Daidancho.

Gelombang terakhir diadakan pada bulan Oktober 1944 dengan Bundancho dan Shodancho sebanyak 515 orang, Chudancho sebanyak 44 orang dan Daidancho sebanyak 11 orang. Setelah pelatihan selesai maka seluruh taruna Pembela Tanah Air (PETA) tersebut disebarkan di 66 Daidan di Jawa dan Madura dan 3 di Bali dengan personil setiap Daidan terdiri dari 535 taruna sehingga jumlah keseluruhannya sebanyak 35.915 orang taruna. Jumlah pemuda Indonesia yang menjadi anggota PETA dan mendapat pelatihan militer dari Jepang ini seperti prediksi Bung Karno ternyata dapat menjadi tulang punggung dalam mempertahankan Negara Proklamasi 17 Agustus 1945.

·  Editor : Oren/Kenyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.