Belum Pernah Alami Peperangan, Korban Sipil-pun Berjatuhan

Sejarah

Pasca Perjanjian Renville tanggal 25 Maret 1947 pihak Belanda tidak serta merta menyerahkan kedaulatan Jawa, Sumatra dan Madura terhadap Republik Indonesia, namun sang mantan penjajah ini terus merongrong kedaulatan dari segi politik maupun militer yang ada di lapangan.

Oleh : Mansur Hidayat

Perbedaan pandangan kedua belah pihak kemudian memuncak ketika pada pertengahan Mei, Perdana Menteri Syahrir menolak segala tuntutan pihak Belanda yang sangat merugikan pihak Republik Indonesia. Oleh karena penolakan ini maka pada tanggal 21 Mei 1947 pemerintah Belanda mengultimatum Republik Indonesia untuk menerima tuntutannya dan jika tidak mau maka harus bersiap untuk menerima konsekuensi serangan besar-besaran. Karena pemerintah Republik Indonesia lewat Perdana Menteri Sutan Syahrir bersikukuh untuk menolak, maka  pada tanggal 20 Juni 1947 Perdana Menteri Beel mengumumkan pernyataan perang pada Republik Indonesia dan selanjutnya pada 21 Juli 1947 Panglima Koninlijk Natherlands Indies Leger (KNIL) Jenderal Simon H. Spoor mengerahkan 120.000 pasukannya untuk menyerang 3 daerah utama yaitu Jawa Barat, Jawa Timur dan Sumatra Timur yang merupakan daerah-daerah perkebunan yang merupakan kantong-kantong ekonomi Hindia Belanda pada masa yang lalu.

Penyerangan di Jawa Timur khususnya kawasan Timur Jawa (Java Oosthoek) dilakukan oleh pasukan Marinir yang mendarat di pantai Pasir Putih Kabupaten Panarukan (sekarang Kabupaten Situbondo) pada tanggal 21 Juli 1947 jam 06.00 WIB pagi. Pasukan Tentara Republik Indonesia (TRI) Divisi VII Untung Suropati yang mengawal wilayah Karesidenan Malang Besuki telah jauh hari mempersiapkan taktik Perang Gerilya yang nantinya akan menarik pasukan dari kota-kota besar maupun jalan-jalan besar menuju pedesaan dan pegunungan. Karena sifatnya Perang Gerilya, maka masyarakat sipil-pun tidak di komando untuk melakukan pengungsian seperti yang terjadi pada perang sebelumnya seperti Perang Surabaya 10 Nopember 1945. Rakyat sipil dan bahkan pemerintah sipil-pun karena tidak adanya penjelasan yang memadai dan juga pengalaman pertama menghadapi serangan pasukan Belanda tidak serta merta mempersiapkan diri dengan baik. Disini kami ingin menjelaskan beberapa korban jatuh dari pihak sipil Indonesia akibat keganansan tentara Belanda yang sudah bernafsu ingin menghancur- lumatkan pemerintah Republik Indonesia.

Menurut Joko Pramono dkk., dalam buku Perjuangan Rakyat Lumajang: Dalam Merebut dan Mempertahankan Kemerdekaan (1942-1949) menceritakan bahwa dengan peralatan perang modern seperti senapan mesin, tank, panser, meriam dan bahkan truk-truk pengangkut pasukan yang didatangkan dari Eropa pasukan Belanda dalam waktu singkat. Induk pasukan Belanda dibagi 2 bagian besar, yang pertama adalah ke jalur timur menuju kota Situbondo kemudian ke Bondowoso dan keesokan harinya pada tanggal 22 Juli 1947 sudah menguasai kota Jember dan yang kedua menuju barat yaitu ke kota Probolinggo dan sebagian lagi berbelok ke selatan menuju kota Lumajang. Karena peralatan yang begitu modern dan komando pasukan Tentara Republik Indonesia (TRI) yang melakukan pengungsian ke luar kota dan jalan-jalan besar, maka pasukan Belanda dengan cepat menjangkau kota Lumajang. Sekitar jam 20.00 WIB malam hari ternyata pasukan Belanda sudah mencapai perbatasan Lumajang dan terjadi perlawanan kecil-kecilan dari pasukan TRI dan laskar perjuangan untuk mengundurkan diri sambil menebang pohon disepanjang jalan untuk menahan laju pasukan Belanda. Perlawanan kecil-kecilan ini sempat menahan laju pasukan Belanda yang ada di perbatasan Lumajang sehingga memberi kesempatan para pejuang yang ada dalam kota untuk menyingkir keluar kota.

Ada suatu cerita dari RR. Fatimah yang merupakan istri dari Asisten Wedono Klakah atau Camat Ranuyoso bernama Cokrosoedjono. Sebagai pejabat sipil suaminya belum mendengar kabar detail terkait serangan Belanda ke Lumajang sehingga ketika mendengar ada keributan di perbatasan Lumajang yang masuk wilayahnya bukannya menyingkir namun malah mengadakan tinjauan lapangan. Saat itu di rumah kontrakannya, ia berpesan kepada istrinya untuk meninjau lokasi kerusuhan dan menitipkan sepeda yang biasanya dipakai untuk berdinas. Asisten Wedono Cokrosujono sambil berpakaian dinas kemudian berjalan kaki ke kantornya yang tak jauh dari rumahnya untuk mengumpulkan bawahannya. Setelah itu Cokrosudjono yang berpakain dinas tersebut datang ke perbatasan dan tidak disangka ternyata menghadapi pasukan Belanda. Karena berpakaian dinas Asisten Wedono dan menujukkan perlawanan, Cokrosudjono kemudian ditembak oleh Belanda dan menjadi korban sipil pertama kali di bumi Lumajang.

Kabar gugurnya Asisten Wedono Cokrosudjono ini tidak langsung diterima oleh sang istri, RR. Fatimah. Dari dalam rumahnya ia hanya mendengar letusan senjata dan suaminya tidak pulang ke rumah semalaman. Pagi harinya ia mendapatkan banyak masyarakat mulai mengungsi dan pukul 08.00 beberapa warga masyarakat mendorong gerobak yang memuat jenazah suami yang dicintainya. Jenazah Asisten Wedono Cokrosudjono kemudian dikuburkan secara sederhana di belakang kantornya di Ranusyoso dan sang istri RR. Fatimah dengan bayi 3 bulan dalam kandungan pulang ke rumah orang tuanya di Lumajang.  Perlu diketahui Asisten Wedono Cokrosudjono ini mempunyai adik bernama Sukertiyo yang merupakan salah Komandan Kompi yang berjuang di wilayah Lumajang timur mulai dari Jatiroto dan Yosowilangun dan pada tahun 1966-an sempat menjadi Panglima Kodam Udayana.

Menurut KH. Amak Fadholi sebagai pelaku sejarah dalam buku, Kyai Ilyas: Pahlawan Santri dari Lumajang, edisi pemutakhiran oleh Mansur Hidayat dkk., menceritakan bahwa rakyat Lumajang tidak mengerti apa-apa tentang serangan Belanda dalam Agresi Militer Belanda I 22 Juli 1947. Seperti yang digambarkan bahwa Divisi VII Untung Suropati ternyata lebih menginginkan masyarakat untuk tidak mengadakan perlawanan secara frontal sehingga tidak menimbulkan suatu gejolak yang berlebihan dan menimbulkan gelombang pengungsian besar-besaran yang merugikan perjuangan. Rakyat dan bahkan pejabat pemerintah sekelas Asisten Wedono atau Camat-pun tidak mengetahui serangan pasukan Belanda tersebut sehingga terjadi korban seperti Asisten Wedono Klakah yaitu Cokrosudjono. Dalam serangan selanjutnya pada tanggal 22 pagi hari sekali pasukan Belanda sudah masuk kota Lumajang. Pada saat itu rakyat banyak yang tidak tahu dan juga tidak mengerti mana yang akan diperbuat sehingga terjadi perlawanan spontanitas ketika melihat kedatangan penjajah lama tersebut.

Lebih jauh Kyai Amak Fadholi menceritakan salah satu perlawanan sporadis dilakukan oleh beberapa anggota Sabilillah. Meski secara keseluruhan anggota Hizbullah dan Sabilillah maupun laskar perjuangan telah menyingkir keluar kota, namun tidak demikian halnya dengan 2 orang anggota Sabilillah yang tidak mau menyingkir ke luar kota. Mereka ini tetap melawan pasukan Belanda dengan senjata seadanya dan yang dipunyainya. Pada saat pasukan Belanda masuk kota Lumajang di pagi hari Tohlah Masykur sedang berada di rumahnya di sekitar kawasan Klojen. Melihat kedatangan pasukan Belanda yang dengan angkuhnya ia kemudian melawan dengan senjata tajam dan kemudian gugur di berondong peluru oleh musuh. Demikian juga Sukawi yang merupakan adik ipar Kyai Mukhsin (seorang Kyai kharismatik di Lumajang) yang saat kedatangan pasukan Belanda berada di rumahnya. Anggota Sabilillah ini kemudian bergerak spontan untuk membunuh salah seorang pasukan Belanda dengan pedangnya yang kemudian gugur diberondong peluru pasukan Belanda. Karena jasa dan keberaniannya kedua orang pejuang tersebut kemudian dikuburkan dibelakang Madrasah Muslimat atas ijin Bupati Lumajang.

  • Editor : Oren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.