Bentuk dan Keistimewaan Wedhung Pusaka Empu Sanibin

Budaya Lokal Sejarah

Empu Sanibin adalah pembuat wedhung atau golok pusaka yang cukup melegenda di kawasan ujung timur Jawa khususnya Lumajang dan sekitarnya. Lebih dari satu bulan tim MMC melakukan penelusuran lapangan terkait manfaat, bentuk maupun siapa saja orang-orang yang menyimpan untuk koleksi wedhung pusaka Empu Sanibin. Wedhung pusaka ini ternyata tidak hanya di gemari oleh para pedagang yang usahanya sukses dan merasa mempunyai musuh dimana-mana, politisi yang juga merasa banyak pihak yang tidak menyukainya namun juga para pentolan preman. Hal ini dikarenakan banyak manfaat yang bisa diperoleh ketika menyimpannya.

Oleh : Mansur Hidayat

Untuk menelisik lebih jauh  terkait wedhung pusaka Empu Sanibin ini ada beberapa hal yang menjadi ciri khasnya mulai dari bentuk sampai manfaatnya. Dilihat dari bentuknya wedhung pusaka ini dapat dikatakan Tangguh dari Lumajang karena memang dibuat di Desa Kunir Lumajang pada sekitar abad ke-19 atau jaman sebelum kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945. Seperti yang dikatakan oleh Subakir (70 tahun) yang merupakan cucu buyut dari adiknya yaitu Empu Sampuro, dikatakan bahwa Empu Sanibin nampaknya meng- khususkan karyanya semata-mata hanya membentuk wedhung pusaka dan tidak pernah membuat keris. Hal ini diduga karena situasi Lumajang jaman kolonial Belanda yang sudah tertekan alam penjajahan dan tersapu habisnya para punggawa atau pemimpin perang Lumajang pada abad sebelumnya. Oleh karena itu pemerintah Kolonial Belanda nampaknya tidak mengijinkan para Empu untuk membuat keris pusaka yang dapat dijadikan simbol perlawanan kembali di wilayah yang sering bergolak ini.

Dari segi pamor, wedhung pusaka ini dibuat secara sederhana dengan campuran besi dan baja sehingga hasilnya terkadang bisa keluar pamornya. Karena memang tidak semua wedhung pusaka karya Empu dari Kunir ini berpamor maka dapat dikatakan jika terdapat pamor didalamnya dapat dikatakan sebagai pamor tiban. Oleh karena tidak mementingkan pamor, maka wedhung pusaka buatan Empu yang satu ini terlihat tampak sederhana sehingga nilai estetikanya dapat dikatakan kurang baik. Demikian juga gagangnya dapat dikatakan mempunyai ciri khas tersendiri karena biasanya pecah. Hal ini dikarenakan energi besar yang terdapat dalam wedhung pusaka ini mampu menjebolkan gagang kayu yang menjadi pegangannya.

Berbagai macam bentuk wedhung pusaka Empu Sanibin dilihat dari wujud besarannya. Secara umum dapat dikatakan wedhung pusaka buatan Empu dari Kunir ini tidak terlalu besar dan umumnya diperkirakan panjangnya rata-rata 30-an cm dengan lebar 5-7 cm dan terlihat ketajamannya kurang maksimal. Namun ada juga yang sampai 70 cm panjangnya dengan lebar maksimal 7 cm. Disamping itu terdapat juga yang ukurannya sangat kecil  seperti pisau dapur dengan panjang tidak lebih dari 10-an cm.

Menurut Karyawanto (40 tahun) yang merupakan ketua Paguyuban Keris Lumpang Joyo Lumajang, dilihat dari fungsinya, wedhung pusaka Empu Sanibin tidak diboleh digunakan sebagai peralatan rumah tangga atau pertanian seperti memotong daging atau memotong kayu dan daun. Oleh karena itu wedhung ini biasanya oleh sang pemilik diletakkan di dalam kamar sebagai koleksi pusaka yang fungsinya mirip dengan keris atau hiasan di beranda rumah. Lebih jauh, pria yang merupakan pengamat pusaka di Lumajang ini mengatakan bahwa wedhung pusaka Empu Sanibin ini mempunyai fungsi yang sangat baik dan humanis. Wedhung pusaka ini juga disebut sebagai wedhung keselamatan yang artinya wedhung yang kegunaannya bukan untuk gagah-gagahan, bukan untuk melukai apalagi membunuh seseorang namun lebih berfungsi untuk menjaga keselamatan sang pemilik. Sering terjadi jika seseorang memegang wedhung pusaka ini pihak musuh secara spontan tidak mau bertengkar, berkelahi dan bahkan tidak bisa berjumpa sehingga terhindar dari perkelahian yang merugikan.

Oleh karena fungsinya yang sangat baik ini Karyawanto menambahkan bahwa wedhung pusaka Empu Sanibin banyak digemari berbagai kalangan sehingga susah dicari di pasaran. Tentu saja harga bisa selangit untuk mendapatkannya. Karena permintaan pasar yang luar biasa tersebut maka banyak juga pembuat wedhung yang menjiplak dan meniru bentuknya, kesederhanaannya maupun gagangnya yang pecah sehingga banyak orang yang tertipu sehingga harus berhati-hati jika akan mengoleksinya.

• Penulis : Mansur Hidayat
• Reporter : Yoshi/Kenyo
• Editor : Oren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.