UBUBAN, TEKNIK “POMPA UDARA” DALAM TEKNOLOGI TEMPA LOGAM (PANDE WESI) PADA ERA MAJAPAHIT

Sejarah

Salah satu alat produksi tempa logam (pande wesi) adalah apa yang dinamai dengan “ubub- an”. Sebutan “ububan” adalah suatu kata jadian, dengan kata dasar (lingga) “ubub”, yang secara harafiah berarti : (1) alat  untuk mengembus api pada tungku pandai besi, berbentuk seperti pompa besar, (2) puputan, (3) embusan (KBBI, 2002). Kata “ubub” juga terdapat dalam bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan, yang berarti : ubub(an). Kata jadian “ububan” mengandung arti : mengipasi (dengan ububan). Istilah ini selalu disebut dalam konteks kerajinan aneka logam. Misal dalam “BKI 95. 441f. A.13”, kata “ububan” disebut berturutan dengan “pandai wesi, tambaga, gangsa ……”.

Oleh : M. Dwi Cahyono

A. Arti istilah Lama “Ubub (Ububan)

Salah satu alat produksi tempa logam (pande wesi) adalah apa yang dinamai dengan “ubub- an”. Sebutan “ububan” adalah suatu kata jadian, dengan kata dasar (lingga) “ubub”, yang secara harafiah berarti : (1) alat  untuk mengembus api pada tungku pandai besi, berbentuk seperti pompa besar, (2) puputan, (3) embusan (KBBI, 2002). Kata “ubub” juga terdapat dalam bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan, yang berarti : ubub(an). Kata jadian “ububan” mengandung arti : mengipasi (dengan ububan). Istilah ini selalu disebut dalam konteks kerajinan aneka logam. Misal dalam “BKI 95. 441f. A.13”, kata “ububan” disebut berturutan dengan “pandai wesi, tambaga, gangsa ……”.

Selain itu istilah ini juga dijadikan sebagai istilah perumpamaan, seperti pada kata jadian “angububan”, yang berarti : seperti ububan (Zoetmulder, 1995:1314). Dalam bahasa Jawa Baru ada kalimat perumpamaan “panese koyo diubub”. Sebenarnya, bukanlah hembusan udaranya yang panas, melainkan peningkatan panas pada tungku api karena mendapat hem- busan udara dari ububan. Selain itu tak selalu “ubub” berkait dengan pengerjaan logam. Buah pun bisa terhubung dengan “ubub”. Misalnya, ububan digunakan untuk mempercepat masak- nya pisang, yang bisa disebut dengan “ngubub gedang”. Cara kerja ububan seperti orang yang bernafas, yaitu :  menyedot udara, kemudian mengembuskan udara yang disedotnya tersebut. Oleh karena itulah pernafasan orang yang sakit di ibarati dengan bunyi ubub pada pandai besi.

Istilah lain untuk menyebut perangkat empasan udara pada proses penempaan logam adalah “puput”. Sebutan yang demikian antara lain di jumpai di DAS Pawan Prov. Kalimantan Barat  (Yogi, 2016). Puput adalah perangkat penghasil udara yang dihasilkan oleh dua tabung pipa paralon (D = 5 inci) yang dipompa oleh seorang pekerja. Dalam tabung ini tedapat kelep, yang berfungsi sebagai penekan udara ke arah luar,  bekerja seperti piston pada kendaraan bermotor. Dulu puput dibuat  dari batang kayu belian (kayu besi atau kayu ulin) yang dilubangi pada tengahnya dan kelepnya terbuat dari kumpulan bulu burung ruai (kuau). Adapun tangkai untuk menggerakan kelep dari rotan. Hembusan udara dari puput dialirkan ke tungku perapian menggunakan dua pipa kecil. Teknologi tempa logam dengan memakai puput sudah dikenal semenjak dulu dan diwariskan secara turun- temurun di lingkungan keluarga yang berprofesi sebagai pandai besi untuk menghasilkan :  peralatan pertanian, peralatan berburu, dan peralatan rumah tangga.

Sebutan untuk puput (ububan) di daerah Tidore adalah “dua-dua”, yang dibuat dari batang pohon linggua yang dilubangi bagian tengahnya atau bisa juga mempergunakan pipa. Hembusan udara dari dua-dua itu disambung dengan bambu atau pipa kecil di bagian bawah untuk diarahkan ke tungku. Tangkai pemompa berupa dua buah batang rotan atau bambu, yang terhubung dengan kelep terbuat dari bulu ayam (Dukomalamo, 2012: 6-7). Walau beda sebutan dengan ububan dan puput, ketiganya menunjuk pada perkataan yang sama, yakni pompa pengempas udara. Pada pandai tradisional yang ububan-nya bersifat manual, mengubub musti dilakukan secara konstan untuk mendapatkan api yang baik.

Pekerja di bengkel logam yang bertugas untuk memompa angin yang dihembuskan ke tungku perapian dinamai “tukang ubub (pengubub)”. Aktifitas diri utamanya adalah gerakan tangan untuk menaik-turunkan tangkai ububan dengan irama irama dua ketukan. Pada relief “Pandai Besi” di halaman candi Sukuh, tukang ubub digambarkan dengan jelas, yaitu seorang pria dewasa dalam posisi berdiri untuk mengoperasikan ububan. Ada kalanya, misalnya yang dulu (akhir tahun 1980-an) terdapat di bengkel tempa logam Desa Kiping Kecamatan Kauman Kabupaten Tulungagung, bertindak sebagai pengubub adalah seorang wanita dewasa, istri pemilik bengkel tempa logam bersangkutan.

B. Ububan pada Perbengkelan Logam Masa Lampau

1. Alat Produksi Perbengkelan Logam

Peralatan produksi pada bengkel tempa logam masa lalu antara lain diperlengkapi dengan perangkat hembus udara, yang dinamai dengan “ububan”. Penggunaan peralatan ini paling ti- dak telah ada pada masa Majapahit. Bahkan, serupa benar dengan ububan pada masa kini. Perihal itu tergambar jelas pada relief “Pande Besi” di halaman samping kanan Candi Sukuh. Relief menggambarkan proses produksi di suatu bengkel (workshop). Pada relief ini terlihat gambaran tentang perangkat produksi, produk tempa logam yang dihasilkannya (Subroto dan Pinardi, 1993: 208-209), pekerja dan tempat kerjanya, sehingga tergambar cara kerja pengrajin tempa logam (pandai besi) pada zamannya.

Relief itu memperlihatkan dua orang pekerja, yaitu (a) tukang ubub (pengubub), dan (2) pe- nempa logam (empu). Tukang ubub itu berdiri  dengan menghadap ububan. Kedua tangannya memegangi tongkat ububan. Adapun penempa logam dalam posisi jongkok, dengan kedua kakinya terbuka. Tangan kanannya dengan jari- jari kepalnya diangkat, dan terkesan diarahkan untuk kemudian dijatuhkan ke sebilah (calon senjata tajam, serupa keris) yang berada di atas pelandas tempa (parwan, yang kini dinamai “paron”). Seakan-akan tangan kanannya gantikan fungsi palu (hammer) untuk menempa logam. Alat- alat yang tampak pada relief ini berupa ububan, supit (sapit), palu, paron (istlah kuno “parwan”), tatah dan kikir. Hasil produksi- nya berupa ragam senjata tajam, yang dahulu diistilahi dengan ‘gandring”. Terdapat juga sebutan “agandring” di Bali, dalam arti : perajin alat atau senjata dari besi, yakni salah satu diantara tiga kelompok perajin (1. agandring, 2. angaluh, dan 3. merangggi, atau undagi, atau wana) yang menjadi leluhur dari wangsa (trah, soroh) Maha Semaya Warga Pande (MSWP).

Dahulu senjata tajam antara lain dipergunakan untuk perlengkapan perang. Memang, pada mulanya peralatan dari bahan logam dibuat untuk  perlengkapan perang, barulah kemudian dibuat peralatan untuk pertanian. Logam, khususnya besi, dipandang sebagai mengandung kekuatan dab keteguhan (Reid, 2011: 120). Salah seorang pandai yang secara khusus memproduksi “senjata tajam”, yang di dalam bahasa Jawa Tengahan dan Baru diistilahi dengan “keris (kris)”,

adalah tokoh peran dengan sebutan “Mpu Gandring” menurut pengkisahan di dalam susastra gancaran Pararaton. Ia sangat mungkin adalah keturunan para pandai di Sangguran, yang ke- lompok perajin ini mendapat anugerah status perdikan (sima) dari Raja Wawa dan menantu/ pejabat tingginya (Rakai Hino Pu Sindok) pada tahun 928 Masehi. Sebutan “Gandring” terhadapnya itu sesuai dengan spesifikasi produk kerajinan logamnya, yaitu senjata tajam. Pande wesi yang dipahatkan pada relief Candi Sukuh sangatlah mungkin adalah “pande agandring”.

Bangunan bengkel logam yang dipahatkan itu berupa suatu teras dengan empat tiang yang dilengkapi pelandas tiang (umpak) sebagai menyangga atap sirap (atau bergenting). Pada  bahasa Jawa Baru, bengkel tempa logam (pandai besi) diistilahi dengan “besalen” berkata dasar “besali (besali+ an)”. Sebutan “besali” ataupun “besalen” baru terdapat pada bahasa Jawa Baru, yang pada bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan adalah “gusali (varian sebutan “gosali”). Bila istilah ini didahului dengan istilah lain, yang berkenaan dengan jabatan, seperti “juru” atau “tuha” menjadi kata gabung “juru gusali, juru gosali, tuha gusali atau tuha gosali”, menunjuk pada kepala para pandai besi.

Pada “VG (Verspriede Geschriften), Kern, 1917- 1922” VII 32f. VIa, perkataan “juru gosali”  disebut bersama dengan para juru lainnya, seperti : juru jalir, juru judi dan juru hunjeman. Perihal ini juga kedapatan dalam Prasasti Sangguran (Ngandat, Minto Steen) bertarikh 928 Masehi, yang menyebut kalimat “bhatara i sang hyang prasada kabhaktyan ing sima kajurugusalyan i Mananjung (OJO 31 no. 8)”. Pada kutipan kalimat itu dinyatakan bahwa kajurugusalyan yang berada di (anak wanua) Mananjung merupakan sima (perdikan, swatantra). Pada daerah ini konon tentu terdapat para pandai besi beserta pimpinannya. Selain itu, kata “gusali/ gosali” juga disebut di dalam Paparaton (11.17) dan buku “Saptaparwa (Yamin, 1962) 12B, dengan kalimat “pande wesi …. kapwa patang gosali ring sawangwa (Zoetmulder, 1995:322).

Konon pada masa lampau, pandai logam yang merupakan usaha ekonomik yang produktif turut dikenai pungutan pajak. Besaran pajak yang dipungutkan padanya dihitung berdasarkan jumlah ububan yang digunakan di suatu pande besi, yaitu per tiga ububan “pandai wesi, tambaga, gangsa telung ububan ing sasima (BKI 95. 441f.A.13). Dengan menjadikan ububan sebagai dasar perhitungan buat tentukan besaran pajak menjadi petunjuk bahwa “ububan” merupakan alat produksi yang penting pada bengkel logam, yang berfungsi sebagai pompa angin ke arah tungku. Tanpa ububan tak dimungkinkan untuk mendapatkan suhu tinggi buat membarakan logam yang ditempa, mengingat bahwa pandai besi menggunakan teknik tempa panas (hotworking).

Keberadaan ububan pada perbengkelan tempa logam bukan hanya tergambarkan pada “Relief Pandai Besi” halaman candi Sukuh, namun juga disebut dalam sumber data prasasti. Alat penghembus udara yang terhubung dengan tungku api ini disebut dalam konteks kerajinan logam. Misalnya dalam “BKI 95.441f”, “ububan” disebutkan berturutan dengan “pandai wesi, pandai tamwaga (tembaga), dan pandai gangsa (perunggu)”. Demikianlah, ububan sebagai perangkat penghembus udara dibutuhan pada proses pengerjaan logam, terlepas dari jenis logamnya. Pandai emas pun, meskipun tidak menggunakan alat penghembus udara berupa ububan, namun dilengkapi pula dengan alat hembus udara dalam bentuk lain. 

2. Ragam Bentuk Ububan Lama

Ububan itu sendiri berbeda-beda, baik dilihat dari : (a) bahan, (b) ukuran, (c) jumlah, ataupun (d) posisi berdirinya. Pada umumnya berbahan batang kayu membulat, yang diberikan lubang yang membulat pula, sehingga membentuk tabung kayu. Di dalam tabung itulah ditempatkan kelep pompa, bersambung dengan tangkai pemompa. Proses penghembusan udara itu terjadi lewat gerakan (naik – turun) kelep pompa melalui penggerakan tangkai pemompa. Selain kayu bahan lain yang juga digunakan untuk membuat tabung (bumbung) ububan adalah bambu jenis bambu besar dan lurus, seperti pring petung ataupun pring wulung. Malahan tak terlalu sulit membuatnya bila dibanding dengan dengan ububan kayu. Sebenarnya, tabung besi bisa pula dipakai, namun jarang dijumpai pada pande besi tradisional. Alih-alih “puput” di DAS Pawan ataupun “dua-dua” di Tidore menggunakan tabung pipa paralon.

Tak semua tabung ububan memiliki diameter yang sama besarnya. Ububan dari kayu memiliki ukuran lebih besar daripada tungku yang dibuat dari batang bagian bawah bambu jenis petung atau wulung. Lebih besar juga dari pipa paralon yang hanya berdiameter 5 inci. Tentu ukuran perangkat empasan udara ini berpengaruh terhadap seberapa besarnya udara yang dihembuskan ke tungku perapian. Berpengaruh pula pada berat ringan pemompaannya. Kelihatannya saja ringan untuk menggerakan naik- turun kelep pompa di ububan, padahal cukup berat bagi yang tidak terbiasa, ternama ketika mengawali pemompaan.

Tidak semua ububan terdiri atas sepasang tabung pompa (double tube). Ada kalanya, jumlah tabung tersebut hanya sebuah (single tube). Yang terpahat pada relief “Pandai Besi” candi Sukuh (abad XV Masehi) adalah tabung ganda. Begitu pula ububan di Jawa dari masa lebih kemudian, yang kebanyakan terdiri atas sepasang tabung. Pandai besi dengan tabung ubub- an tunggal masuk perajin logam yang berskala lebih kecil bila dibanding dengan pandai besi yang menggunakan ububan bertabung ganda. Terlepas jumlah tabung hembus udara yang digunakan, konon dalam suatu perbengkelan tempa logam, perangkat ububan senantiasa terdapat.

Perihal posisi berdiri dari tabung ububan dibedakan menjadi : (a) ububan dengan posisi vertikal (tegak lurus), dan (b) ububan dengan posisi miring. Pada relief “Pandai Besi” candi Sukuh posisi dari tabung sepasang tabung ububan itu adalah vertikal. Begitu pula, pada pandai besi yang berasal dari masa lebih kemudian, yang kebanyakan posisi tabungnya vertikal. Pada posisi tabung verikal, pengubub (tukang) ubub berdiri ketika melakukan pengububan. Bisa juga pengubub duduk di suatu anjungan tinggi sambil kedua tangannya gerakkan naik-turun tangkai tabung ububan. Sedangkan pada ububan yang posisinya miring, pengubub bisa saja sambil duduk ketika mengubub.

C. Keraiban Ububan pada Perbengkelan Tempa Logam Kini

Ububan bukan hanya telah tidak diketemukan lagi pada bengkel tempa logam (padai besi, se- butan Jawa “pande wesi”), namun pandai wesi itu sendiri kini telah nyaris tiada di masyarakat. Bahkan, tak sedikit orang yang tak mengetahui apa itu ububan? Tidak sedikit ububan kayu di masa lampau yang telah rusak, dibakar, atau ada beberapa yang lebih beruntung dengan dijadikan sebagai benda koleksi pecinta antikan. Benda yang konon berkontribusi teknologis dalam kerajinan logam itu kini tinggal menjadi “cerita masa lalu”. Kalaupun masih ada pande besi, fungsi ububan sebagai perangkat penghembus udara yang bersifat manual kini digantikan dengan kipas angin elektronik atau blower. Dengan demikian, tidak ada lagi “tukang ubub (pengubub) dalam bengkel tempa logam. Relief “Pandai Besi” di halaman Candi Sukuh menjadi dokumen tradisi teknologi tempa logam pada akhir Majapahit, dimana ububan menjadi salah satu perangkat produksi yang utama. Walau kelihatan bersahaja, pada lebih dari setengah milenium lalu “teknik pompa udara” telah hadir dalam kompleksitas teknologi Nusantara lama yang bisa dibilang maju pada zamannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.