Punden Mbah Selo Gending, Punden Berundak di Lereng Mahameru

Sejarah

Berbicara situs prasejarah di Jawa Timur biasanya tidak bisa dilepaskan dari peninggalan megalithikum di Bondowoso karena memang daerah ini tersebar peninggalan-peningalan prasejarah yang cukup banyak. Manusia pada masa prasejarah mempunyai keyakinan untuk menghormati gunung, sehingga peninggalan-peninggalannya biasanya selalu menghadap ke arah gunung.

Oleh : Mansur Hidayat

Di Kabupaten Lumajang yang wilayah bagian baratnya berbatasan dengan gunung Mahameru atau Semeru banyak ditemukan peninggalan bersejarah. Sebagian besar adalah peninggalan jaman sejarah terutama peninggalan jaman klasik atau jaman kerajaan yang biasanya bersifat Hindu Buddha. Sehingga dapat dikatakan wilayah Lumajang minim dengan peninggalan prasejarah. Tim MMC pada hari Minggu, 3 Oktober 2021 melakukan penelusuran terhadap sebuah situs bernama Punden Sanggar Sejati Mbah Selo Gending yang ada di Dusun Krajan, Desa Kandangan Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang.

Dalam penelusuran Tim MMC, di situs Sanggar Sejati Mbah Selo Gending yang letaknya kira-kira 5 kilo meter ke arah barat dari kecamatan Senduro dengan jalan naik turun yang menandai ciri khas desa-desa di lereng timur Gunung Semeru. Kebetulan Tim MMC ditemani oleh pegiat situs yaitu Mas Wira Dharma yang merupakan pemimpin para pemuda di Desa Kandangan. Ketika memasuki areal situs, kita dapat melihat pemandangan yang berbeda dengan daerah-daerah  sekitarnya dimana banyak pepohonan besar dan kicauan burung menambah suasana khas yang alami. Dari penuturannya dikatakan bahwa punden ini mempunyai hubungan dan kedekatan dengan Gunung Mahameru atau Semeru yang dari jaman prasejarah dihormati dan disucikan oleh masyarakat.

Kawasan Situs Punden Sanggar Sejati Mbah Selo Gending ini merupakan peninggalan budaya jaman prasejarah untuk menghormati gunung Mahameru yang dianggap suci yang dilanjutkan terus sampai masa Hindu Buddha dan terus berlangsung sampai sekarang ini. Menurut penulis sejarah Blambangan Samsubur, dalam kepercayaan Hindu batu Menhir yang diletakkan di tanah seperti di kawasan ini disebut linggod bawah sedangkan dalam budaya Jawa disebut Bapa Angkasa  (langit). Pada masa Hindu Buddha sebagai Kawasan tempat memuja Dewa Syiwa yang diyakini terletak di gunung Mahameru yang letaknya tidak jauh dari situs ini. Tentu saja kawasan ini mempunyai makna yang begitu penting di masa yang lampau. Menurut cerita yang dituturkan secara turun temurun, dulu punden tersebut adalah tempat bersemadinya para Wiku sakti yang linuwih untuk mensucikan dirinya memuja Dewa Syiwa di gunung Mahameru.

Menurut penuturan Wira Dharma, di Kawasan ini terdapat 5 punden yang berwujud batu Menhir atau batu tegak yang diyakini sebagi tempat suci bagi penduduk yang berada di lereng Mahameru dan gunung Bromo yang disebut Wong Tengger yang meliputi 4 Kabupaten yaitu Malang, Pasuruan , Probolinggo dan Lumajang. Pada masa yang lampau ketika memperingati Hari Raya Karo atau Unan Unan, seluruh warga Tengger memulai upacaranya di Kawasan punden Sanggar sejati Mbah Selo Gending.

Lebih lanjut Wira Dharma menyebutkan bahwa punden Sanggar Sejati Mbah Selo Gending terdiri dari 5 punden sebagai berikut:

1. Punden Mbah Tejo Gedang

Punden ini terletak di jalan masuk paling depan sehingga ketika seseorang mengunjungi situs ini dapat dengan mudah untuk melihat dan menjangkaunya.  Situs ini berbentuk batu tegak dan dibawahnya terdapat batu-batu kecil yang bentuknya sangat rapi seolah di gergaji. Kalau dilihat dari namanya Tejo artinya adalah sinar atau cahaya dan gedang adalah pisang sehingga dapat diartikan bahwa punden ini berarti cahaya pisang. Jika dilihat dari ukurannya punden Mbah Tejo Gedang ini ukurannya tidak terlalu besar yang diperkirakan tingginya berkisar 60 cm.

2. Punden Mbah Tejo Kusumo

Tidak jauh dari Mbah Tejo Gedang kira-kira 10 meter disebelah kirinya ada sebuah punden yang Namanya adalah Mbah Tejo Kusumo. Dilihat dari Namanya Tejo artinya adalah sinar atau cahaya sedang Kusumo adalah bau bunga yang sangat harum. Jadi Tejo Kusumo adalah sinar yang baunya harum. Dilihat dari bentuknya punden Mbah Tejo Kusumo punden ini bentuknya tidak terlalu besar namun sangat tinggi yang diperkirakan 2 meteran yang sebagiannya ditanam ditanah dan dibawahnya banyak batu-batu berserakan dengan bentuk pipih seperti digergaji.

3. Punden Hyang Pukulun

Punden Hyang Pukulun terletak kira-kira 30 meter ke arah atas dari punden Mbah Tejo Gedang dan Mbah Tejo Kusumo. Bentuknya tidak terlalu besar diperkirakan tingginya sekitar 40 centi meter dengan lebar kira-kira 10 centi meter yang dibawahnya banyak batu-batu pipih yang berserakan. Dilihat dari Namanya ternyata Hyang Pukulun artinya Hyang Batara sehingga punden ini menjadi pusat persajian jika melakukan ritual seperti Nyadran, Karo atau Unan Unan di Kawasan ini. Oleh karena itu meskipun bentuknya kecil, punden Mbah Pukulun ini cukup penting karena menjadi pusat ritual di Kawasan situs ini

4. Punden Mbah Wadung Prabu

 Mbah Wadung Prabu terletak kira-kira 20 meter dan letaknya diketinggian sehingga peziarah harus melewati tangga dengan ketinggian kira-kira 15- 20 meter dan merupakan punden yang secara fisik paling besar bentuknya dengan batu-batu pipih berserakan paling banyak. Menurut Wira Dharma karena punden ini terletak di ketinggian maka seorang peziarah yang melakukan ritual ditempat ini dianggap sebagai orang yang mempunyai kemantapan dalam melakukan ritual sehingga lebih direstui. Oleh karena itu para peziarah setelah melakukan peziarah di punden Hyang Pukulun biasanya akan melakukan ritual yang lebih khusyuk di punden yang paling tinggi tempatnya ini.

5. Punden Mbah Selo Gending

Punden Mbah Selo Gending letaknya berada agak tersendiri dan paling pojok dari Punden Mbah Wadung Prabu. Secara sekilas para peziarah atau pengunjung tidak melihat sesuatu yang istimewa dari punden ini, namun dari keterangan Wiradharma ternyata punden ini merupakan punden yang dianggap paling tua diantara keempat punden yang lain.

  • Editor : Yoshi/Oren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.