Punden Mbah Lecari, Pemujaan Dewa Syiwa Yang Kian Merana

Cagar Budaya

Desa Kertosari  terletak sejauh 20 kilometer di sebelah selatan kota Lumajang dan 18 kilometer ke arah Gunung Semeru. Terletak di lereng sebelah timur Gunung Mahameru desa ini  udaranya sejuk dan suasananya masih asri menjadikan setiap orang betah berlama-lama untuk menikmati pemandangan alam.

Oleh : Mansur Hidayat

Dibalik suasana desa yang masih sederhana tersebut, terdapat tersimpan berbagai kenangan sejarah yang sangat berharga tidak hanya bagi kota Lumajang namun juga bagi sejarah nasional. Di Dusun Tesirejo pernah ditemukan sebuah batu bertuliskan candra sengkala, kaya bhumi shasiku yang artinya tahun Saka 1113 atau 1191 Masehi yang sekarang di simpan di Museum Mpu Tantular di kota Sidoarjo. Dari bukti tersebut sangat jelas bahwa Desa Kertosari adalah desa yang sangat tua.

Di sebelah Dusun Tesirejo terletak Dusun Dadapan yang penduduknya sebagian masih memeluk agama Hindu sampai sekarang, terdapat peninggalan sejarah yang diperkirakan sejaman dengan peninggalan di Dusun Tesirejo. Orang Dadapan menyebutnya Punden Mbah Lecari. Tidak banyak orang tahu tentang punden yang satu ini, tidak juga Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas), tidak juga Balai Arkeologi Yogyakarta maupun Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur. Keberadaan punden yang satu ini memang tidak pernah terdeteksi oleh penelitian akademis, namun dari peninggalannya jelas menunjukkan sifat kekunoannya.

Dilihat dari peninggalan yang ada di sekitarnya dimana terdapat penemuan prasasti berangka tahun 1113 Saka atau 1191 Masehi di Dusun Tesirejo dan kemudian ada arca Nandi di Punden Mbah Lecari Dusun Dadapan yang letaknya begitu berdekatan, hal ini jelas berkaitan dengan pemujaan terhadap Dewa Syiwa yang telah ada di wilayah ini sejak tahun tersebut. Pada jaman tersebut di wilayah Lamajang belum dikenal pemerintahan, namun pemujaan terhadap Dewa Syiwa oleh para Brahmana telah berlangsung. Kegiatan para Brahmana di lereng Mahameru ini terus berlangsung sampai nanti masuknya VOC Kumpeni di Lumajang pada tahun 1767 Masehi.

Punden Mbah Lecari terletak di tepian Dusun Dadapan, di tengah-tengah persawahan yang alami. Menurut Romo Mangku Sutirto Muncul (72 tahun), seorang pemangku agama Hindu yang terus merawat dan melestarikan punden ini nama Mbah Lecari diambil dari nama pohon Lecari sejenis pohon kembang yang bunganya sangat harum. Pada waktu Romo Muncul masih berumur 10 tahun, lokasi punden masih sangat luas yang dengan pohon-pohon yang sangat lebat. Namun sekarang ini keadaannya sangat memprihatinkan dimana areal punden tinggal kira-kira 5 meter persegi karena sawah-sawah telah menggerusnya. Punden Mbah Lecari adalah sebuah punden yang peninggalannya berupa arca Nandi maupun batu bulat seperti bola. Arca Nandi posisinya sedang mendekam dan ekornya menekuk ke arah kanan dan ke depan. Namun kepala Nandi keadaannya sudah hancur karena pernah dirusak oleh orang gila. Punden Mbah Lecari ini masih terus dirawat dan dilestarikan oleh masyarakat. Setiap ada upacara agama Hindu, masyarakat Dadapan dan sekitarnya datang ke Punden ini. Demikian juga ketika seseorang dikabulkan keinginannya, maka selamatan-pun dilakukan di punden ini. Melihat kondisinya yang merana dan mengenaskan ini tentu saja diperlukan bantuan dari berbagai pihak baik dari Lembaga penelitian seperti Balai Arkeologi, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lumajang maupun pemerintah Desa Kertosari. Hal ini diperlukan untuk membantu perawatan dan pelestarian punden Mbah Lecari sehingga arealnya tidak semakin tergerus dan juga adanya sosialisasi terhadap masyarakat untuk senantiasa melakukan pelestarian.

  • Reporter : Kenyo/Yoshi
  • Editor : Oren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.