Paron Keramat Empu Sanibin Baru Lenyap, Tiga Kali Dilarung Ke Laut Selatan

Cagar Budaya Sejarah

Berbicara tentang Empu Sanibin, seorang Empu pembuat Wedhung pusaka dari Kunir Lumajang memang seperti tiada habisnya. Keampuhan wedhung buatannya menjadi buah bibir di masyarakat sehingga banyak orang memburunya dan tidak jarang uang puluhan juta dikeluarkan untuk mendapatkan senjata istimewa tersebut. Disamping hal-hal yang bersifat positif, banyak juga para mafia yang memanfaatkan ketenaran wedhung Pusaka Empu Sanibin ini untuk dibuat tiruannya dan berbagai macam bumbu cerita sehingga dijual dengan harga yang selangit.

Oleh : Mansur Hidayat

Pada hari Jum’at (15/10/2021) tim MMC melakukan penelusuran ke desa Kunir Kidul yang merupakan tanah kelahiran Empu Sakti tersebut. Dalam penelusuran ini, tim MMC kemudian menemui beberapa orang orang yang masih keturunan sang Empu. Subakir (70 tahun) salah seorang cucu buyut Empu Sanibin dari adiknya yang bernama Empu Sampuro dan juga Mai (60 tahun) yang merupakan menantu cucu dari Subakir. Dalam keterangannya Subakir yang mengaku secara turun-temurun bekerja pande besi sebagai warisan keluarga dan baru berhenti sekitar 5 tahun yang lalu menyatakan bahwa Empu Sanibin telah mewariskan alat-alat  kerja pande besi kepada keturunan sang adik yaitu Empu Sampuro.

Dalam keterangannya Subakir menceritakan bagaimana keanehan dari wedhung pusaka kakek moyangnya tersebut termasuk salah satunya adalah Paron pusaka atau besi tempat penempaan warisan sang Empu. Lebih jauh tentang keanehan Paron pusaka tersebut, karena dahulu sering digunakan sang Empu untuk menempa besi yang dijadikan wedhung yang diiringi dengan berbagai doa dan mantra. Lebih jauh, pria sepuh ini mengatakan bahwa Mai-lah yang menjadi saksi langsung peristiwa dilarungnya paron pusaka tersebut.

Mai kemudian menceritakan pengalamannya ketika ditugaskan keluarga besarnya untuk melakukan larung paron pusaka warisan Empu Sanibin. Paron pusaka tersebut dilarung atau dibuang ke laut dikarenakan ketidak-mampuan keluarga besar dan keturunan Empu Sampuro untuk merawat benda pusaka tersebut. Ketidak mampuan tersebut diyakini keluarga besarnya karena banyak hal aneh yang terjadi pada keluarga besar, namun ketika di desak lebih lanjut ia tidak mau membeberkannya. Mai kemudian lebih focus menceritakan tentang keanehan dan keajaiban paron pusaka warisan Empu Sanibin ketika dibuang ke laut.

Proses dibuangnya paron pusaka yang sudah disepakati oleh keluarga besar keturunan Empu Sampuro tersebut pada awalnya berlangsung dengan lancer. Paron yang merupakan besi tepat menempa wedhung tersebut kemudian diangkat ke pegon atau cikar yang merupakan kereta lembu sebagai alat transportasi pengangkut barang saat itu. Memang sejak awal diangkat mulai terasa hal aneh karena paron tersebut terasa sangat berat, sampai kereta lembunya harus berhenti beberapa saat. Jarak antara dusun Pandean Desa Kunir Kidul dengan laut selatan diperkirakan sejauh 5 kilo meter dengan jalanan yang masih terdiri dari pasir dan belum bagus seperti sekarang ini. Paron keramat ini kemudian dilarung atau dibuang ke laut, namun anehnya  ketika Mai sebagai anggota keluarga yang ditugaskan untuk melarungnya sampai dirumah yang ada di Dusun Pandean Kembali, sang paron keramat ini telah ada di tempatnya semula.

Hal ini tentu saja membuat geger keluarga besar keturunan Empu Sampuro yang Sebagian besar bekerja sebagai pande besi pada saat itu. Oleh karena itu keluarga besar kemudian berembuk kembali tentang cara untuk melarung paron keramat peninggalan Empu Sanibin tersebut. Keluarga besar kemudian menyepakati Kembali paron keramat tersebut dilarung ke laut kembali. Oleh karena itu, Mai ditugaskan kembali untuk melakukan persiapan dengan mempersiapkan pegon atau kereta lembunya.

Seperti pelarungan yang pertama, Mai-pun melarung paron keramat itu ke pantai selatan.  Namun sepulangnya dari pantai selatan, Mai kemudian mendapati bahwa barang tersebut telah ada di rumah keluarga besarnya seperti semula. Hal ini tentu saja membuat heboh keluarga besar Empu Sampuro. Mereka kemudian melakukan rembuk keluarga dan menyepakati untuk sekali lagi melarung paron keramat tersebut. Untuk ketiga kalinya, Mai ditugaskan untuk melarung paron keramat warisan sang Empu. Dalam pelarungan ketiga ini tentu saja keluarga mempersiapkan pelarungan dengan lebih maksimal mulai dari ugo rampe atau sesaji yang lebih lengkap. Setelah dilarung yang ketiga kalinya, paron keramat ini moksa ke laut selatan dan tidak pernah kembali.

Bagi keluarga besar keturunan Empu Sampuro, pelarungan Paron keramat ini mendapat tempat yang istimewa dan dikenang oleh anak cucunya. Profesi pande telah dilakoni oleh keluarga besar Empu Sampuro sebagai sebuah profesi keluarga puluhan generasi, namun pasca dilarungnya paron keramat Empu Sanibin tersebut dunia pande semakin tidak menguntungkan bagi keluarga besar Empu Sampuro. Alhasil, banyak keluarga Empu Sampuro berhenti sebagi pande besi termasuk Subakir yang kemudian pada tahun 2015-an berhenti sebagai pande penerus tradisi pembuat senjata pusaka atau alat-alat kebutuhan rumah tangga.

• Penulis : Mansur Hidayat
• Reporter : Yoshi
• Editor : Kenyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.