Lingga Yoni Boreng, Pemujaan Syiwa Yang Mengandung Khasiat Ghaib

Cagar Budaya

Penghormatan dan pemujaan terhadap gunung Mahameru atau gunung Semeru di lereng timur gunung tertinggi di Jawa yang telah ada sejak jaman pra sejarah kemudian terus dilanjutkan pada masa Syiwa Buddha. Hal ini karena memang budaya Jawa pada dasarnya adalah budaya yang bisa menerima berbagai  macam budaya dari masyarakat luar.

Oleh : Mansur Hidayat

Pada saat agama Syiwa atau Hindu masuk di tanah Jawa, budaya pemujaan terhadap gunung tetap dilanjutkan dan bahkan mendapat tempat yang utama. Hal ini karena di India keyakinan terhadap Dewa tertinggi yaitu Syiwa yang berasal dari gunung Kailasha dan kemudian beristana di Jonggring Salaka puncak gunung Mandara atau Himalaya. Pada masa agama syiwa berkembang di tanah Jawa banyak candi pemujaan dibangun diatas gunung seperti gugusan candi Dieng di Jawa Tengah, candi sukuh dan cetho juga di Jawa Tengah maupun candi candi dilereng gunung Penanggungan di Jawa Timur.

Di lereng pegunungan Mahameru atau Semeru, tempat pemujaan dari masa pra sejarah yang biasanya berupa batu menhir secara perlahan disesuaikan menjadi Lingga Yoni lambang Syiwa dan ada juga yang berupa arca Nandi lambang kendaraan sang Syiwa. Salah satu Lingga Yoni yang masih dapat dilihat sekarang ini adalah Lingga Yoni yang ada di Desa Boreng Kecamatan Lumajang, Kabupaten Lumajang. Yoni ini terbuat dari batu andesit berukuran Panjang 53 centi meter, lebar 51 centi meter dan tinggi adalah 40 centi meter. Lubang tempat lingga berukuran Panjang 21,5 centi meter, lebar 16,5 centi meter dan dalamnya 11 centi meter. Di salah satu sisi Yoni ada tulisan yang memuat angka 1287 Saka atau 1375 Masehi. Disamping itu tidak jauh dari Lingga Yoni ini terdapat batu pipih yang bentuknya seperti menhir jaman pra sejarah sehingga dapat dikatakan Lingga Yoni ini meneruskan tradisi pemujaan jaman megalitikum, namun belum tampak tanda-tanda adanya candi karena daerah sekitarnya sudah banyak dibuat perumahan atau persawahan.  Berdasarkan angka tahun yang terdapat dalam Lingga Yoni, kita bisa mengetahui bahwa tempat pemujaan ini dibangun setelah masa Arya Wiraraja dan Lamajang Tigang Juru yang berdaulat berakhir dengan gugurnya Mpu Nambi pada tahun 1316 Masehi yang kemudian disusul Perang Sadeng dan Keta pada tahun 1331 Masehi. Perlu diketahui pada jaman Arya Wiraraja dan Lamajang Tigang Juru, wilayah Lamajang dikenal sebagai wilayah yang mengedepankan kehidupan spiritual dalam kesehariannya yang dibuktikan dengan adanya peninggalan-peninggalan sejaman yang berbau keagamaan. Oleh karena itu,  bekas wilayah Lamajang Tigang Juru banyak ditemukan tempat-tempat pemujaan baik berupa punden, Lingga Yoni, Arca Nandi maupun Lingga Yoni, termasuk yang ada di Desa Boreng.

Menurut Suhari (65 tahun) warga sekitar yang sering merawat Lingga Yoni Boreng, masyarakat menamakannya batu padasan karena bahannya terbuat dari batu padas. Lebih jauh ia menambahkan bahwa  sampai sekarang ini batu padasan  tersebut dirawat dengan baik dan dalam waktu-waktu tertentu diberi ritual slametan  misalnya pada Jum’at manis. Terkait hal-hal yang bersifat gaib menurutnya, beberapa kali tuah dari batu padas ini membuktikan, misalnya pada masa yang lampau ada masyarakat yang kebetulan membawa ayam jago aduannya ke padasan dan kemudian memberi  minum ayam jagonya dari air yang ada di Yoni bagian atas lubang Lingga. Setelah minum air tersebut yang terjadi kemudian ayam tersebut menang dan tidak terkalahkan. Hal yang sama terjadi ketika ada musim aduan jangkrik ketika seseorang yang melakukan ritual melekan dibatu padasan ini kemudian menemukan jangkrik yang kemudian dibawanya ke arena pertarungan. Dalam pertarungan tersebut, berkali- kali jangkrik tersebut menang dan akhirnya juara, Sesuai perjanjian maka Jangkrik tersebut keesokan harinya dikembalikan ke tempat semula yaitu di padasan atau Lingga Yoni. Disamping sering menang dalam pertarungan ayam dan jangkrik, banyak peziarah yang doanya terkabul dan salah satunya ikut membangun pagar yang ada di sekeliling batu padasan tersebut. Oleh karena berbagai khasiat kegaibannya, maka masyarakat tetap merawat dan melestarikannya dengan baik. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) pada tahun 1990-an keberadaan Lingga Yoni di Desa Boreng ini menjadi salah satu obyek penelitian karena dianggap sebagai salah satu benda cagar budaya yang dianggap penting. Demikian juga ketika penelitian dilakukan untuk verifikasi Cagar Budaya Kabupaten Lumajang oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur pada tahun 2012, maka Lingga Yoni Boreng ini adalah salah satu benda Cagar Budaya yang terdata namun sayangnya belum ada perhatian dari pihak-pihak terkait untuk lebih memaksimalkan potensi yang luar biasa tersebut sehingga tidak nampak papan petunjuk maupun anggaran perawatan bagi benda cagar budaya tersebut.

  • Editor : Oren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.