Keris dan Wedhung Pusaka, Berdasar Prasasti dan Relief Candi

Sejarah

Ketika membaca catatan sejarah Nusantara, sudah umum bagi kita ketika membaca informasi kesejarahan terkait adanya peperangan antar kerajaan yang silih berganti. Tentu saja dalam peperangan tersebut, masing-masing kerajaan yang didukung oleh ribuan pasukan dilengkapi dengan persenjataan yang memadai yang berupa panah, pedang, golok atau wedhung dan bahkan juga keris. Namun catatan sejarah tentang persenjataan terutama tentang keris dan wedhung pusaka ternyata hanya samar-samar sehingga kita diharapkan untuk merunut dan meneliti lebih jauh tentang permasalahan ini.

Oleh : Mansur Hidayat

Menurut perkiraannya keris yang merupakan senjata pusaka nusantara dibuat pada sekitar tahun 600-700an tahun Masehi yang kemudian dinamakan keris Buda. Keris yang dibuat masa ini mempunyai ciri khas sangat sederhana dengan bentuk pendek, tebal, gemuk dan tidak berpamor karena dibuat dengan pola yang sangat sederhana. Memang ada beberapa keris Buda ini yang mempunyai pamor, namun pamor tersebut lebih bersifat pamor tiban atau sifatnya kebetulan.

Menurut Bambang Harsrinuksmo dalam bukunya Ensiklopedi Keris disebutkan dalam Prasasti Dakuwu dari daerah Grabag di Magelang di duga dari tahun 500-an Masehi yang menyebutkan adanya sebuah mata air yang bersih dan jernih. Diatasnya terdapat gambar trisula, kapak, sabit kudi, belati atau pisau yang bentuknya seperti keris buatan Nyai Sombro seorang Empu Wanita dari Pajajaran. Disamping itu, ada penyebutan keris dan pusaka ini terdapat dalam prasasti Lempeng perunggu dari Karang Tengah berangka tahun 748 atau 842 Masehi menyebut beberapa sesaji untuk menetapkan daerah “Poh” sebagai daerah bebas pajak. Sesaji tersebut antara lain  Kres atau Keris, Wangkiul atau sejenis tombak dan dan Tewek Pununan atau senjata bermata 2.

Lebih jauh Bambang Harsrinuksmo menjelaskan bahwa jejak peninggalan berupa keris atau senjata tikam (wedhung) dapat dijumpai dalam peninggalan arkeologis di Berdasarkan prasasti Kelurak yang berangka tahun 782 dan prasasti Manjusrigrha yang berangka tahun 792 dan ditemukan pada tahun 1960, nama asli candi ini adalah Prasada Vajrasana Manjusrigrha. Istilah Prasada bermakna candi atau kuil, sementara Vajrajasana bermakna tempat wajra (intan atau halilintar) bertakhta, sedangkan Manjusri-grha bermakna Rumah Manjusri. Manjusri sendiri adalah adalah salah satu Boddhisatwa  dalam ajaran buddha.

Candi Sewu diperkirakan dibangun pada abad ke-8 masehi pada akhir masa pemerintahan Rakai Panangkaran. Rakai Panangkaran (746–784) yang merupakan raja termahsyur dari kerajaan Mataram kuno. Salah satu relief di Candi Sewu menggambarkan seorang raksasa yang menyelipkan senjata tajam mirip keris. Penggambaran adanya keris atau senjata tikam pusaka juga terdapat pada Candi  Borobudur yang merupakan candi Buddha dari jaman kerajaan Mataram wangsa Syailendra  yang dibangun pada masa pemerintahan Ratu Pramodawardhani pada sekitar tahun 800-an Masehi. Di sudut bawah bagian tenggara terdapat relief seorang prajurit membawa senjata tajam yang serupa dengan keris. Penggambaran terkait keris atau senjata tikam pusaka juga terdapat dalam Candi Prambanan yang dibagun oleh raja Rakai Pikatan dari wangsa Sanjaya pada tahun 860-an Masehi. Demikian juga ketika stupa induk candi Borobuddur dibongkar, Prof. Van Der Lith menemukan sebilah keris tua yang menyatu antara bilah dan hulunya dan kini tersimpan di Museum Etnografi di Leiden Belanda.

Sementara itu di masa selanjutnya yaitu pada jaman kerajaan Singosari dan Majapahit  banyak Candi yang dibangun memiliki relief tentang keris, seperti yang dapat kita lihat di  Candi Jago yang dibangun pada sekitar tahun 1268 M sebagai candi perwujudan raja Wisnu Wardhana. Di candi ini salah satu reliefnya menggambarkan Pandawa yang sedang bermain dadu, sedang punakawannya dilukiskan sedang membawa keris. Demikian juga di Candi Penataran atau Candi Palah yang di bangun pada masa pemerintahan raja Srengga atau Sri Maharaja Sri Sarweqwara Triwikramawataranindita Çrengalancana Digwijayottungadewa yang memerintah kerajaan Kediri antara tahun 1190 – 1200.

Maksud pembangunan adalah sebagai candi gunung untuk tempat upacara pemujaan agar dapat menangkal atau menghindar dari mara bahaya akibat gunung Kelud yang sering meletus dan merusak kawasan pemukiman dan pertanian. Candi Palah ini juga terus dilestarikan dan menjadi tempat pemujaan sampai jaman kerajaan Majapahit dimana dalam Babad Deca Warnana atau Negara Kertagama menyebutkan bahwa raja Hayam Wuruk atau Sri Rajasa Nagara sering melakukan ritual untuk memuja Sang Hayng Acalapati atau raja gunung pada sekitar tahun 1360-an. Di Candi Palah ini ternyata juga terdapat relief tokoh-tokoh yang memegang keris. Relief terkait pembuatan keris juga terdapat di Candi Sukuh di gunung Lawu pada tahun Saka 1316 Saka atau 1439 Masehi atau yang berasal pada jaman kerajaan Majapahit akhir.

Disamping jejak peninggalan keris atau senjata tikam pusaka yang kemudian berkembang menjadi wedhung dapat dilihat juga dalam berita Cina yaitu dari salah seorang musafir Cina pada tahun 922 M dimana  seorang Maharaja Jawa menghadiahkan kepada Kaisar Tiongkok pedang pendek dengan hulu terbuat dari cula badak atau emas dan juga laporan dari Ma Huan yang merupakan seorang pencatat perjalanan Laksamana Cheng Ho pada tahun 1400-an Masehi mengungkapkan bahwa orag-orang Jawa saat itu dari anak-anak sampai dewasa mempunyai kebiasaan menyandang Pulak atau Keris.

Demikianlah sekilas catatan sejarah tentang keris atau senjata tikam pusaka yang kemudian berkembang menjadi wedhung pusaka dalam catatan sejarah Nusantara. Adanya jejak-jejak peninggalan senjata pusaka ini tentu saja dapat menjadi hal yang berharga dalam sejarah militer karena tanpa adanya persenjataan yang maju, maka kerajaan-kerajan di Nusantara seperti kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 sampai abad ke-12 Masehi dan kerajaan Majapahit pada abad ke- 13-16 Masehi mustahil dapat menjadi penguasa politik di regional Asia Tenggara.

1 thought on “Keris dan Wedhung Pusaka, Berdasar Prasasti dan Relief Candi

  1. Get 450+ Extra Daily Visitors and 3X Your Profits

    “How can I get more traffic to my site?”
    People ask me this question all the time.
    Truth be told, ranking on Google is getting *harder*,
    because everyone and their grandma is targeting
    the same keywords.
    My friend George and his team just released a new
    SEO WordPress plugin that fixes this problem.
    It ranks your site higher in Google, without you
    creating more content or building backlinks.

    Check it out here ==> https://bit.ly/39swbCx

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.