JEJAK – JEJAK SUCI DI LERENG MAHAMERU

SUARA REDAKSI

Gunung Mahameru atau yang sekarang ini dikenal sebagai gunung Semeru pada masa yang lampau waktu jaman pra sejarah dan kemudian berlanjut ke masa Hindu Buddha merupakan gunung yang dianggap suci. Keyakinan Nusantara pada masa yang lampau sangat menghormati gunung di karenakan wujudnya yang menjulang seperti raksasa dan bahaya yang mengancam nyata di depan mata. Hal inilah yang menyebabkan kakek moyang kita senantiasa menghormati dan memuja gunung sehingga diharapkan dapat berdamai dengan lingkugan sekitar yang dianggap membahayakan.

Oleh : Mansur Hidayat

Kebudayaan masyarakat pada masa pra sejarah ini kemudian melahirkan peninggalan yang berupa punden atau pedayangan yang merupakan tempat yang sangat dihormati karena merupakan makam atau petilasan sesepuh yang telah membuka desa setempat. Sifat Punden atau pedanyangan dalam hal ini diartikan positif karena meskipun sudah meninggal, para sesepuh dan pembuka desa tersebut diyakini akan selalu melindungi keberadaan desanya.

Kebudayaan masa pra sejarah ini kemudian melahirkan berbagai macam punden dan pedanyangan di sepanjang lereng gunung Mahameru yang biasanya berupa batu Menhir atau batu tegak, batu besar dan batu tertentu yang dianggap unik. Biasanya sebagai kelengkapan, punden atau pedanyangan ini berada dibawah pohon besar yang berusia ratusan tahun.

Pada masa kepercayaan Syiwa Buddha datang ke Nusantara, agama ini ternyata tidak menyisihkan atau menyingkirkan kepercayaan lama yang sudah berkembang dan bahkan bisa berkolaborasi dan saling melengkapi sehingga menjadi lebih sempurna. Pada masa ini disamping adanya punden, kemudian dikenal adanya pemujaan terhadap gunung dan salah satu yang dianggap suci adalah gunung Mahameru. Oleh karena itu tidak salah jika disepanjang lereng Mahameru ini kemudian ditemukan berbagai macam tempat pemujaan berupa candi yang dilengkapi dengan Lingga Yoni yang merupakan inti dari pemujaan Syiwa. Di lereng timur Mahameru yang sekarang masuk wilayah Kabupaten Lumajang banyak ditemukan berbagai macam Lingga Yoni untuk pemujaan terhadap Dewa Syiwa yang biasanya dilengkapi dengan arca Nandi atau Lembu Nandini yang merupakan kendaraan Dewa Syiwa.

Pada edisi kali ini masmansoer.com akan mengangkat topic tentang keberadaan jejak- jejak suci di lereng Mahameru yang biasanya berupa punden atau pedanyangan, Lingga Yoni maupun arca Nandi. Namun keberadaan peninggalan leluhur untuk menghormati dan memuja Mahameru dewasa ini terancam punah keberadaannya karena pandangan kurang baik masyarakat terhadapnya. Bagi masyarakat Lumajang yang dewasa ini Sebagian besar sudah berganti keyakinan dari Syiwa Buddha menjadi Islam, penghormatan terhadap benda-benda ini dianggap melanggar ketentuan agama sehingga sering kali di terlantarkan dan bahkan tak jarang juga di hancurkan dan bahkan diubah menjadi makam Islam. Dari sudut pandang Cagar Budaya tentu saja hal ini sangat memprihatinkan sehingga perlu adanya sosialisasi secara bertahap terhadap keberadaan dan pelestarian peninggalan-peninggalan suci tersebut. Banyak punden dan pedanyangan yang kemudian menjadi makam sesepuh beragama Islam dan dihubungkan dengan ulama penyebar agama Islam, demikian juga seluruh Lingga Yoni sudah kehilangan Lingga dan hanya menyisakan Yoni dan bahkan ada beberapa yang berusaha dihancurkan. Yang paling tragis tentu saja keberadaan arca Nandi atau Lembu Nandini sebagai wujud kendaraan Dewa Syiwa yang semuanya kehilangan kepalanya. Berbagai hal diatas ini merupakan perwujudan dari pola pikir masyarakat yang masih kurang maksimal kesadaran sejarahnya sehingga kedepan perlu diajak berdialog untuk membangun dan melestarikan peninggalan leluhur Nusantara yang masih tersisa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.