Imam Soedja’i, Jenderal Kepercayaan Bung Karno di Kancah Revolusi

SUARA REDAKSI

Genta Revolusi Indonesia yang dimulai sejak 17 Agustus 1945 dengan dikumandangkannya Proklamasi di jalan Pegangsaan Timur nomor 56 Jakarta telah membangkitkan berbagai catatan suka duka dalam sejarah Nusantara yang kemudian dikenal dengan Republik Indonesia.  Catatan perjalanan yang penuh dengan kisah suka para tokoh pergerakan yang bahu membahu bersama rakyat dalam menggaungkan seruan Bung Karno dan Bung Hatta untuk menjadi manusia merdeka sekaligus juga mempertahankan  teriakan segenap unsur pendukungnya dalam mengalunkan asa kemerdekaan yang sudah berada ditangan.

Oleh : Mansur Hidayat

Catatan perjalanan yang serba mendebarkan dan penuh dengan kejutan yang tidak terkirakan menjadi pernak-pernih sejarah yang perlu dikenang.  Dalam Revolusi, berbagai macam status sosial terjungkir balik tanpa mengenal pakem dan pedoman sehingga nasib seseorang bagaikan buih yang sedang meniti gelombang. Terombang-ambing tiada bertepi. Demikian juga berbagai macam tokoh silih berganti merebutkan kuasa jalannya Revolusi yang terkadang saling berdebat dan tidak jarang saling menikam baik secara politik maupun secara fisik. Semua berada dalam payung kebesaran Revolusi yang terkadang memakan anaknya sendiri.

Dalam memoarnya, Adam Malik mantan Wakil Presiden Republik Indonesia yang pada jaman Revolusi merupakan tokoh pemuda angkatan 45 menggambarkan ada 3 pasangan tokoh yang bersinar dan menjadi panutan rakyat saat itu. Pasangan pertama tentu saja Bung Karno dan Bung Hatta yang dikenal sebagai tokoh pergerakan yang sudah teruji sejak jaman penjajahan Belanda, pasangan kedua adalah Sutan Syahrir dan Amir Syarifuddin yang dikenal sebagai tokoh gerakan bawah yang anti Jepang dan pasangan ketiga adalah Tan Malaka dan Jenderal Sudirman yang dikenal tidak mau berkompromi dengan Belanda sehingga nantinya dikenal semboyan merdeka 100%.

Pasangan Sutan Syahrir dan Amir Syarifuddin yang pada tanggal 14 Nopember 1945 dapat menyingkirkan pasangan Bung Karno dan Bung Hatta ke tepian permainan Revolusi di dukung oleh kalangan laskar kepemudaan yang saat itu dikuasai oleh Pesindo yang kemudian membentuk dan menguasai lembaga bernama Biro Perjuangan dan TNI Masyarakat dengan pimpinannya yaitu Mayor Jenderal Jokosuyono. Pasangan ini kemudian tumbang pada tanggal 28 Juni 1947 pasca Sutan Syahrir menyepakati pemerintahan bersama dengan pihak Belanda dan kemudian menyusul berhentinya Amir Syarifuddin sebagai Perdana Menteri pada 29 Januari 1948 pasca menyetujui Perjanjian Renville yang sangat merugikan pihak Republik.  Pasangan Tan Malaka dan Jenderal Sudirman yang saat itu mengusung semboyan merdeka 100% mendapat sokongan para petinggi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang kebanyakan dari bekas perwira PETA tidak mau berkompromi dengan Belanda.

Pasangan Bung Karno dan Bung Hatta sendiri diawal Revolusi sudah membangun kekuatan militer yang berasal dari kalangan pasukan Pembela Tanah Air (PETA) terutama dari unsur bekas aktifis Sarekat Islam seperti Menteri Pertahanan Ad Interim Muhammad Sulyoadikusumo, Panglima Divisi III Kolonel Aruji Kartawinata dan Panglima Divisi VII Untung Suropati Mayor Jenderal Imam Soedja’i. Dari ketiga orang pendukung Bung Karno tersebut hanya Mayor Jenderal Imam Soedja’i yang bertahan cukup lama dalam kancah Revolusi untuk mengawal pemerintahan Proklamasi yang telah di kumandangkan oleh Bung Karno sebagai Presiden dan pemimpin rakyat di jaman serba tidak menentu tersebut.

Pengebirian kekuasaan Bung Karno sebagai pemimpin pemerintahan telah menyebabkan pendukungnya tidak berdaya menghadapi persaingan diantara para elit militer. Menteri Pertahanan ad Interim Muhammad Sulyoadikusumo dan Panglima Divisi III Kolonel Aruji Kartawinata tersingkir di penghujung tahun 1945 dan Panglima Divisi VII Untung Suropati Mayor Jenderal Imam Soedja’i akhirnya harus menyerah menghadapi persaingan di awal Agresi Militer Belanda I pada Agustus 1947.

Edisi kali ini masmansoer akan mengulas suatu cerita perjalanan Mayor Jenderal Imam Soedja’i sejak direkomendasikan Bung Karno ikut pelatihan perwira PETA di Bogor tahun 1944 dan kemudian mengikuti seruan Bung Karno untuk membentuk Badan Kemanan Rakyat (BKR) di Malang yang disertai dengan perlucutan senjata Katagiri Butai dan pasukan laut Jepang di Malang secara besar-besaran. Karena perlucutan senjata yang sukses ini Badan Kemanan Rakyat (BKR) Malang yang kemudian berubah menjadi Divisi VII Untung Suropati mempunyai senjata yang sangat lengkap diantara Divisi yang ada dalam tubuh Tentara Keamanan Rakyat (TKR) lainnya.

Banyak hal yang ingin kita informasikan kepada sidang pembaca yang terhormat termasuk bagaimana situasi pemilihan Panglima Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang selama ini lepas dari perhatian publik, pengorganisiran kekuatan rakyat Malang Besuki menghadapi Inggris di Surabaya, pengamanan diplomasi beras maupun pemulangan tentara Jepang lewat pelabuhan Probolinggo, pengamanan sidang terpenting Komite Naisonal Indonesia Pusat (KNIP) di Malang dan terakhir ide besarnya menerapkan taktik Perang Gerilya dalam menghadapi Agresi Militer Belanda I. Semua dilakukan sang Jenderal untuk mengamankan jalannya Revolusi Indonesia yang dipimpin oleh Bung Karno. Semoga informasi ini nantinya akan menjadi pelengkap dalam menyambut Hari Pahlawan pada 10 Nopember yang akan datang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.