Empu Sanibin, Sang Pembuat Wedhung Pusaka Dari Lereng Mahameru

SUARA REDAKSI

Dalam banyak babad seperti Deca Warnana atau yang dikenal dengan Negara Kertagama maupun Pararaton disebutkan bahwa daerah Lamajang Tigang Juru yang dikuasai oleh Arya Wiraraja dan kemudian diteruskan oleh Maha Patih Mpu Nambi diceritakan bagaimana dahsyatnya perang Majapahit versus Lamajang Tigang Juru.

Oleh : Mansur Hidayat

Dua penguasa yang dahulu bahu membahu dalam menegakkan kekuasaan kemudian berganti menjadi dua penguasa yang saling membunuh satu sama lain tanpa rasa belas kasihan. Prabu Jayanagara yang menggantikan ayahnya yaitu Nararya Sanggramawijaya memimpin sendiri ekspedisi untuk mengalahkan Lamajang Tigang Juru yang dipimpin oleh Empu Nambi. Dalam keterangan yang lebih mendetail, babad Pararaton menguraikan bahwa tiga panglima Majapahit yaitu Jabung Trewes, Lembu Peteng dan Ikal Ikalan Bang mengeroyok sang Maha Patih Mpu Nambi sehingga kemudian terbunuh di medan pertempuran. Tidak hanya berhenti disana, keluarga Mpu Nambi dibantai habis tidak tersisa dan payung kebesaran kerajaan yang berkuasa di timur Jawa ini runtuh.

Dalam dongeng Menak Koncar yang banyak dikenal oleh orang Lumajang sampai sekarang juga diceritakan bagaimana terjadi peperangan besar antara Adipati Menak Koncar dengan penyerangnya yang berakhir dengan menyingkirnya penguasa Lamajang tersebut ke luar kota ke wilayah barat menuju dataran tinggi Mahameru dan kemudian meninggal disana. Disamping itu Senopati Sindu Bromo, seorang panglima perempuan sang Adipati dipasrahi untuk menyelamatkan pusaka kerajaan dalam sebuah keropak dengan dikawal oleh seorang kepercayaannya yaitu Lindu Boyo kemudian ditaruh disebuah bukit yang kelak bernama gunung Grobokan.

Masa silih berganti ketika pada sekitar tahun 1600-an wilayah Lumajang kemudian menjadi salah satu tujuan ekspedisi Sultan Agung yang berkeinginan menaklukkan Blambangan. Wilayah Lumajang yang memberikan perlawanan kemudian dapat ditaklukkan dengan korban yang tidak sedikit. Perang berkepanjangan kemudian dilanjutkan dengan perlawanan habis-habisan wilayah Lumajang yang dipimpin seorang cucu Untung Suropati bernama Bupati Kertonegoro terhadap serbuan pasukan VOC pimpinan Kapten Lodewijk Tropponegoro yang terkenal kejam. Lumajang jatuh pada sekitar bulan Juni 1767 dengan meninggalkan luka akibat peperangan yang berkepanjangan.

Berbagai peristiwa tersebut tidak bisa dihilangkan begitu saja bagi para penduduk Lumajang yang mendiami wilayah timur gunung Mahameru. Masyarakat Lumajang yang terbiasa dalam menghadapi peperangan dalam memorinya kemudian terbiasa dengan kekerasan dalam menyelesaikan berbagai  permasalahan. Kedatangan para penduduk migran dari Madura yang juga mempunyai budaya keras sebagai pekerja perkebunan pada abad ke-19 juga menambah deretan budaya kekerasan bagi masyarakat yang ada di wilayah ini. Oleh karena itu tradisi membawa senjata tajam merupakan sikap hidup sehari-hari bagi masyarakat Lumajang pada jaman penjajahan Belanda.

Namun diantara berbagai macam tradisi kekerasan yang sudah mengakar tersebut ada seorang Empu pembuat senjata yang sangat berbeda dari wilayah Kunir di Lumajang selatan. Empu Sanibinmerupakan seorang pembuat senjata wedhung atau golok pusaka yang terbilang unik. Jika pada umumnya senjata tajam di produksi untuk melukai dan bahkan membunuh lawan, tidak demikian halnya dengan Empu yang satu ini. Dari tangannyalah lahir puluhan wedhung yang hari ini menjadi buah bibir karena fungsinya bukan untuk membunuh lawan, namun untuk memberi berkat keselamatan bagi pemegangnya. Empu Sanibin sendiri merupakan seorang Empu pembuat wedhung pusaka yang keahliannya di dapatkan secara turun- temurun. Dibantu oleh adiknya yaitu Empu Sampuro, wedhung pusaka yang dibuat dari besi pilihan menjadi legenda tersendiri dikalangan pecinta pusaka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.