Empu Sanibin, Penerus Tradisi Pembuat Pusaka Kraton Lamajang

Sejarah

Berbicara tentang Empu Sanibin, seorang Empu pembuat Wedhung pusaka yang dewasa ini hanya menjadi buah bibir dan dongengan warung kopi atau pengantar tidur tentu memerlukan keberanian sendiri bagi seorang sejarawan.

Oleh : Mansur Hidayat

Jika legenda Ken Arok yang hidup pada abad ke-13 sempat tertulis dalam babad Pararaton yang dibuat 4 abad atau 400 tahun kemudian dan ternyata menurut seorang epigraf kenamaan merupakan seorang aktor sejarah, maka terkait Empu Sanibin terserah publik yang akan menilainya.

Merunut siapa dan dimana kelahiran Empu pembuat wedhung pusaka yang satu ini memang banyak versi yang beredar. Ada versi yang mengatakan bahwa sang Empu adalah putra pertapa sakti Mbah Siddhi Wacana dari Mataram,  ada versi yang mengatakan bahwa sang Empu berjalan dari gunung Semeru kemudian bertapa di wilayah Kunir. Demikian juga terkait tahun kelahirannya, ada yang mengatakan bahwa sang Empu hidup sejaman dengan ayahnya, ada pula yang hidup sejaman dengan kakeknya dan tentu masih banyak versi yang lain.  Oleh karena itu masmansoer.com mencoba untuk mengirimkan tim untuk menelusuri runutan dari berbagai versi tersebut. Pada Jumat (15/10) tim kemudian bertemu dengan Pak Subakir (70 tahun) salah seorang cucu buyut dari adik sang Empu bernama Sampuro yang juga seorang pembuat wedhung pusaka. Dari narasumber inilah tim kemudian membuat paparan terkait siapa dan dimana Empu Sanibin sang pembuat wedhung pusaka tersebut lahir dan berkarya.

Empu Sanibin lahir di sebuah wilayah bernama Kunir yang terletak kira-kira 10 kilo meter ke arah selatan kota Lumajang. Kita tidak tahu pasti tahun berapa kelahirannya yang sebenarnya, namun dari wawancara kita mulai bisa meraba kapan kelahiran Empu pembuat wedhung pusaka yang legendaris tersebut. Subakir sendiri tidak mengetahui kapan lahirnya, namun dari pandangan wajahnya sosok ini diperkirakan lahir 70 an tahun yang lampau atau sekitar tahun 1950-an. Ia menambahkan bahwa dirinya merupakan cucu buyut Empu Sampuro yang merupakan adik Empu Sanibin dan juga anggota timnya saat membuat wedhung pusaka. Jika dirunut dari keterangan ini, kita bisa perkirakan bahwa sang Empu berada 3 generasi dari nara sumber kita yang jika dihitung rata-rata 50 an tahun, menjadi 150-an tahun atau sekitar tahun 1820-an. Oleh karena itu diperkirakan Empu Sanibin hidup dipertengahan abad ke-19.  

Dalam runutan sejarah, wilayah Lumajang yang dahulunya bernama Lamajang merupakan sebuah daerah Makmur yang kaya akan sumber daya alam, namun selalu diperebutkan oleh wilayah lainnya. Tidak mengherankan jika di wilayah Lumajang sepanjang waktu terjadi peperangan untuk mempertahankan dirinya. Kita bisa merunut rangkaian peperangan tersebut seperti Perang Lamajang yang berlangsung sepeninggal Arya Wiraraja pada tahun 1316 Masehi dimana sang pengganti yaitu Mpu Nambi yang juga Maha Patih Majapahit diserang oleh Prabu Jayanagara dikarenakan fitnah. Perang kemudian terjadi lagi ketika terjadi Perang Paregreg pada tahun 1401- 1406 Masehi antara Majaphit Kedaton kulon dengan Majapahit Kedaton timur. Dalam rangkaian perang ini nampaknya wilayah Lamajang juga turut andil dalam peperangan seperti yang sering diungkapkan dalam dongeng Menak Koncar dan terbakarnya ibu kota sehingga dinamakan Kutorenon (kota yang terbakar). Rangkaian peperangan di wilayah Lamajang ini kemudian berlangsung lagi ketika kerajaan Majapahit runtuh dengan candra sengkala sirna ilang kertaning bhumi pada tahun 1478 Masehi atau juga kalau dalam Analisa para sejarawan pada tahun 1527 Masehi. Dalam Babad Tanah Jawi  diceritakan ketika diketahui yang menyerang adalah putranya yaitu Adipati Demak Bintoro, maka Prabu Brawijaya menyingkir keluar kota dan dalam  Babad Sangkala diceritakan bahwa Prabu Brawijaya yang merupakan raja Majapahit yang terakhir lari ke Sengguruh kemudian ke Panarukan.. Dalam Babad Sembar diceritakan ketika kerajaan Majapahit runtuh, maka salah seorang putranya yang bernama Lembu Miruda melarikan diri ke wilayah Tengger dan kemudian mendirikan sebuah kerajaan dengan ibu kota Tepasana yang diperkirakan berada di wilayah Lumajang dan nantinya menjadi cikal bakal kerajaan Blambangan.

Lebih jauh Babad Sembar menguraikan kisah kerajaan Blambangan yang dimulai dari Tepasana Lumajang kemudian Kuta Kedawung di Jember dan kemudian berpindah di Macan Putih di wilayah Banyuwangi sejak tahun 1600-1771 terjadi peperangan yang tiada hentinya. Sultan Agung yang merasa mewarisi kerajaan Majapahit terus menyerang Lumajang sejak jaman Panembahan Senopati dengan mengadakan penjarahan dan kemudian disempurnakan dengan pendudukan Lumajang pada saat pemerintahan putranya yaitu Sultan Agung yang melakukan pendudukan pada Blambangan pada tahun 1639 Masehi. Ketika Sultan Agung wafat, maka Adipati Tawangalun mendeklarasikan kerajaan Blambangan yang meliputi wilayah timur Jawa termasuk Lumajang lepas dari Mataram pada tahun 1645 Masehi. Masa damai kerajaan Blambangan tidak berlangsung lama, pasca kedatangan Untung Suropati pada 1687 wilayah kerajaan Blambangan dan salah satunya Lumajang direbut Untung Suropati, namun antara Untung Suropati di Pasuruan dan kerajaan Blambangan kemudian bersama-sama melawan VOC Kumpeni. Puncaknya pada tahun 1771 Masehi terjadi Puputan Bayu yang merupakan perang habis-habisan orang Blambangan dan sisa-sisa kekuatan Untung Suropati melawan VOC kumpeni. Peperangan yang berkepanjangan ini tentu saja menjadikan wilayah timur Jawa termasuk Lumajang sebagai wilayah yang menderita kerusakan parah, genosida penduduk, wabah penyakit sehingga tradisi kekerasan merupakan cara hidup sehari-hari di Kawasan ini.  

Pasca tahun 1800-an pemerintahan VOC Kumpeni di timur Jawa termasuk Lumajang sudah mulai stabil, peperangan antar kerajaan sudah tidak terjadi lagi. Para Empu pembuat senjata tentu saja sudah jarang membuat pesanan alat-alat perang seperti tombak, pedang maupun mata panah seperti pada 100 tahun sebelumnya. Pada jaman kerajaan Lamajang Tigang Juru maupun Kadipaten Lamajang yang terus menerus terlibat peperangan berabad-abad, profesi pembuat keris atau Empu menjadi profesi yang sangat penting. Keterampilan pembuatan senjata hanya diperoleh lewat keturunan sehingga para Empu merupakan jaringan keluarga yang disebut Pande. Dengan semakin kurangnya peperangan di wilayah Lumajang dan sekitarnya pada abad ke-19, tentu saja pembuatan senjata tajam tidak booming seperti abad-abad sebelumnya, namun tradisi kekerasan di kalangan masyarakat tidak bisa dihapuskan begitu saja.

Pembuatan senjata perang berganti menjadi senjata tajam keperluan rumah tangga atau senjata pusaka atau tayuhan yang sifatnya tidak untuk membunuh atau melukai lawan. Demikian juga para Empu kerajaan banyak yang beralih profesi untuk membuat senjata tajam untuk keperluan paralatan rumah tangga dan yang masih ingin meneruskan prestise sosialnya lebih fokus pada pembuatan senjata tayuhan atau pusaka. Mpu Sanibin yang dibantu oleh adiknya yaitu Mpu Sampuro adalah salah satu Empu pembuat senjata yang lebih memfokuskan dirinya pada senjata pusaka atau senjata tayuhan khususnya Wedhung Pusaka. Wedhung Pusaka sendiri sebenarnya suatu perpaduan antara pedang dengan pisau sebagai suatu senjata pribadi orang Jawa. Menurut Thomas Stamford Raffles yang menulis buku Hitsory of Java, biasanya orang Jawa ketika keluar rumah membawa 2-3 senjata dipinggangnya berupa keris dan golok. Nah, Wedhung Pusaka karya Empu Sanibin ini memang mempunyai keunikan dan keistimewaan tersendiri karena tidak difungsikan sebagai senjata untuk membunuh dan melukai namun lebih difungsikan untuk senjata keselamatan si pembawanya. Hal ini dikarenakan situasi politik dan keamanan di wilayah Lumajang relatif terkendali dan kalaupun ada ketidak-amanan lebih hanya bersifat urusan sipil kemasyarakatan semata. Namun Empu Sanibin yang nampaknya keturunan Empu dan Pande pembuat senjata kerajaan berupaya mempertahankan prestise kepande-annya dengan membuat senjata khusus untuk tayuhan.

  • Reporter : Kenyo/Yoshi
  • Editor : Oren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.