Empu Sanibin: Bertapa di Pinggir Sungai Hingga Penggarapan di Bulan Suro

Sejarah

Berbagai versi cerita tentang Empu Sanibin, seorang Empu pembuat wedhung pusaka yang bermanfaat untuk keselamatan pemegangnya banyak beredar di masyarakat. Namun berbagai versi yang beredar tersebut semuanya adalah versi tradisi lisan yang perlu di verifikasi kebenarannya yang salah satunya bahwa Empu Sanibin adalah salah seorang pande besi putra Empu Sidik atau dalam bahasa orang Lumajang disebut Mbah Seddek yang merupakan seorang Empu yang tinggal di Gunung Semeru dan berasal dari Mataram.

Oleh : Mansur Hidayat

Dalam versi ini dikatakan bahwa setelah dewasa Sanibin muda suatu waktu meminta ijin sang ayah untuk mencari tempat yang tepat untuk memulai pekerjaan sebagai pande guna meneruskan profesi sang ayah. Setelah berkelana, sampailah ia ke sebuah tempat yang cocok bernama Kunir. Namun nampaknya versi ini cukup lemah karena para punggawa dari kerajaan Mataram biasanya akan selalu menghindari pegunungan Semeru karena perlawanan sengit orang-orang Lumajang yang bertahan di sekitar pegunungan tersebut sejak melakukan perlawanan terhadap hegemoni Mataram tahun 1600-an.

Tim MMC kemudian melakukan telusur dan berhasil melakukan wawancara dengan Subakir (70 tahun) pada Jum’at (15/10) keturunan Empu Sampuro yang merupakan adik dari Empu Sanibin sendiri. Dalam penjelasannya Subakir mengatakan bahwa sang Empu merupakan putra daerah asli Desa Kunir dan merupakan keturunan para pande besi sejak turun temurun-temurun. Dilihat dari sejarahnya memang wilayah Kunir merupakan suatu daerah yang cukup penting dan bahkan telah tercantum dalam Babad Deca Warnana, sebuah babad yang ditulis oleh Mpu Prapanca yang merupakan mantan pejabat Dharmadyaksa Ring Kasogatan pada tahun 1365 Masehi. Babad Deca Warnana sendiri merupakan sebuah cerita perjalanan dari perjalanan raja Hayam Wuruk dengan Maha Patih Gajah Mada mengunjungi daerah Lamajang pada tahun 1359 Masehi.

Dalam Babad Deca Warnana pupuh 22 ayat 4 diceritakan:

“Ringenjingahawan Kunir Basini saksana dhatengi Sadeng sira megil,

Pirang wengi kuneng lawas nira jenek mamengamengi sarampwa nanglengong,

Ri sah nirawewng teka Kuta Bacok Narapati nawilasa ring pasir,

Jenek lumihating karang kinasuting ryyakasirasira tanghirib jawuh”

Yang artinya adalah:

Pagi harinya menuju Kunir Basini segera tiba di Sadeng untuk bermalam,

Entah berapa malam Baginda raja asyik bercengkerama menikmati keindahan alam di Sarampuan,

Sepeninggalnya Baginda tidak lama di Kuta Bacok lalu bersenang-senang di pantai,

Asyik memperhatikan karang yang tersiram gelombang berpencaran ibarat ujan.

Dari runutan sejarah Desa Kunir yang tertera dalam Babad Deca Warnana dan kemudian peninggalan arkeologinya yang berupa percandian, Lingga Yoni dan arca Nandi dapatlah dikatakan bahwa wilayah ini merupakan Kawasan para Brahmana. Dengan pernyataan Subakir yang menyatakan bahwa Empu Sanibin adalah keturunan pembuat senjata pusaka turun temurun dapat di duga wilayah Kunir merupakan sebuah komplek kawasan bagi komplek peribadatan dan pembuatan senjata pusaka kerajaan Lamajang Tigang Juru jaman Arya Wiraraja dan para penerusnya. Dalam dongeng tentang Adipati Lumajang bernama Menak Koncar yang kalah perang pada sekitar abad ke-15 diceritakan bahwa salah seorang Senopati perangnya yaitu seorang perempuan bernama Sindu Bromo yang ditugaskan menjaga pusaka kerajaan di gunung Grobokan, maka dapat diduga bahwa kerajaan Lamajang mempunyai banyak senjata pusaka yang disimpan secara turun-temurun dan dibuat oleh para pande besi kerajaan yang berasal dari Kunir.

Lebih jauh Subakir menceritakan bahwa Empu Sanibin yang telah memperoleh keahlian membuat senjata dari ayahnya kemudian mempertajam keilmuannya dengan bertapa di pinggir kali tempuran atau pertemuan 2 sungai yang ada dipinggir desanya. Bagi orang Jawa memang kali tempuran dipercaya membawa energi yang baik karena ada 2 kekuatan besar dari penunggu sungai yang kemudian dimanfaatkannya. Alhasil pertapaan Empu Sanibin untuk mempertajam ilmu linuwih atau kesaktian dan digabungkan dengan keahlian memande besi yang di dapatnya secara turun temurun membuatnya dapat menghasilkan senjata pusaka yang berbeda dengan kakek moyangnya. Untuk keperluan tersebut, maka bengkel kerja sang Empu terletak dipinggir kali yang sekarang ada di pinggiran desa Kunir kidul. Untuk kegunaan dan manfaat wedhung pusaka buatannya, jika secara turun-temurun para pande besi membuat senjata yang biasanya digunakan untuk melukai dan membunuh lawan, maka Empu Sanibin membuat senjata pusaka berupa wedhung yang tujuannya untuk menjadi tayuhan untuk keselamatan si pemegangnya. Biasanya Empu Sanibin membuat pesanan wedhung pusakanya hanya pada bulan tertentu yaitu bulan Suro yang merupakan bulan pertama dalam kalender Islam Jawa dan juga bulan yang baik dan biasa digunakan untuk mencuci dan membersihkan keris pusaka. Empu Sanibin-pun dalam membuat wedhung pusaka nya biasanya dalam setahun di fokuskan pada bulan Suro dan tidak mau menerima pesanan diluar bulan ini. Demikian juga ketika wedhung pusaka yang telah dibuat ternyata tidak selesai sampai penghujung bulan Suro, maka sang pemesan harus bersabar untuk menunggu diselesaikan pada bulan Suro di tahun yang berikutnya.

  • Reporter : Kenyo/Yoshi
  • Editor : Oren

2 thoughts on “Empu Sanibin: Bertapa di Pinggir Sungai Hingga Penggarapan di Bulan Suro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.