Benarkah Raden Wijaya dan Pasukan Majapahit Usir Mongol Tar Tar dari Jawa?

Sejarah

Berbicara masalah pengusiran pasukan Mongol Tar Tar dan pendirian kerajaan Majapahit itu tentu tidak bisa dilepaskan dari sosok tokoh bernama Nararya Sanggramawijaya atau Raden Wijaya yang merupakan tokoh muda pemimpin Wangsa Rajasa.

Oleh : Mansur Hidayat

Hampir semua catatan baik prasasti Kudadu, Babad Deca Warnana, Babad Pararaton, Kidung Harsawijaya dan bahkan berita Cina dari Dinasti Yuan menceritakan perjuangan sang tokoh muda Wangsa Rajasa ini ketika mengalahkan pasukan Jayakatwang dan kemudian mengusir pasukan Mongol Tar Tar dari tanah Jawa.

Dalam prasasti Kudadu berangka tahun 1294 yang dikeluarkan oleh Nararya Sanggramawijaya yang saat itu sudah menjadi raja Majapahit bergelar Kertarajasa Jayawardhana menyatakan tentang pelariannya diburu oleh tentara Jayakatwang yang kemudian sampai di Sumenep Madura dan dibantu oleh Adipati Arya Wiraraja. Dalam Babad Deca Warnana diceritakan dalam Pupuh 44 ayat 4 yaitu:

“Pangdani wruhnireng sastra pangawasani kotsahan haji dangu,

Mogha wwanten weka sri nrpati malahaken satrawamahayu rat,

Ndan mantwanggehnira dyah Wijaya panelahing rat mastawasira,

Arddha mwan gwwang tatar mamrepi haji jayakatwang bhrasta sahana”.

Yang artinya:

“Berkat mahir dalam sastra serta tekun Baginda raja dahulu,

Ternyata ada putra Baginda raja dapat mengalahkan musuh sehingga negeri tenteram Kembali,

Adapun menantu Baginda Raja terkenal bernama Dyah Wijaya terpuji dunia,

Bersekutu dengan orang-orang Tartar menggempur Jayakatwang hingga hancur luluh”.

Disamping itu menurut W.P. Groeneveldt yang menterjemahkan sumber berita Cina yang berasal dari catatan para panglima perang Mongol yang dikirim ke Jawa yaitu Shi bi, Gao Xing dan Ike Mese menyatakan menyerang Jawa karena beberapa waktu sebelumnya raja Jawa bernama Haji Ga-da-na-ga-la (Haji Kertanegara) dari Tumapan (Tumapel) telah melukai utusannya yang bernama Men Qi. Akhirnya pasukan Mongol-pun menyerang Jawa dan mendarat di Pelabuhan Du- bing-zu (Tuban), ditempat inilah kemudian datang utusan dari Tuhan Pijaya (Raden Wijaya)  yaitu Perdana Menteri Xi-la-nan-da-zha-ya dan 14 lainnya menghadap untuk menyatakan tunduk dan ingin bersekutu menyerang musuhnya raja Kalang yang bernama Haji Katang.

Dari ketiga sumber baik berupa prasasti, babad maupun berita Cina pemberitaannya hanya terbatas mengenai sosok pemimpin muda Jawa bernama Nararya Sanggramawijaya atau Raden Wijaya yang sedang mencari sekutu dan utusan menghadap panglima Mongol Tar tar untuk menyerang musuhnya yaitu Adipati Jayakatong dari Daha Kediri. Namun ketiganya nampaknya seolah lupa untuk menceritakan sosok dibalik kesuksesan Nararya Sanggaramawijaya tersebut yaitu Banyak Wide atau Arya Wiraraja yang saat itu menjadi Adipati Sumenep. Berita yang cukup lengkap hanya ada dalam babad Pararaton saja, sedang prasasti Kudadu hanya memberitakan sekilas tentang bantuan Arya Wiraraja. Bagaimana peran Adipati Sumenep dalam membantu perjuangan Nararya Sanggaramawijaya mari kita simak dibawah ini:

Pertama ketika Nararya Sanggramawijaya sedang menjadi buronan Prabu Jayakatwang, maka menantu Prabu Kertanegara tersebut malarikan diri kepulau Madura yang notabene wilayah kekuasaan Arya Wiraraja dan diterima dengan penghormatan yang luar biasa seolah tidak terjadi masalah di Singosari.

Kedua Arya Wiraraja kemudian menasehati Nararya Sanggramawijaya untuk minta pengampunan ke Prabu Jayakatwang dengan jaminan dirinya.

Ketiga ketika Nararya Sanggramawijaya sudah diterima menjadi abdi terpercaya Prabu Jayakatwang, ia kemudian dinasehati Arya Wiraraja untuk minta hutan Terik yang biasa dipakai sang Prabu berburu diserahkan kepadanya untuk ditempati sambil melayani jika sewaktu-waktu Prabu Jayakatwang sedang berburu.

Keempat Ketika hutan Terik dibuka, ternyata Arya Wiraraja banyak mengirim orang-orang Madura untuk membantu baik tenaga dan tentu saja keuangannya. Karena banyaknya orang Madura yang menebang hutan, maka ketika sedang membuka lahan, cuaca sangat panas dan tiba-tiba seseorang menemukan buah yang kelihatannya sangat segar, namun ketika dimakan pahit sekali. Oleh karena itu desa ini kemudian disebut, Maja Paik dalam bahasa Madura atau Maja pahit. Pada waktu pembukaan hutan Terik ini, Nararya Sanggramawijaya sendiri belum datang di Desa baru ini dan baru setelah padi sudah menguning baru di perbolehkan mengunjunginya.

Kelima ketika suatu saat sudah di desa Majapahit, Nararya Sanggramawijaya sempat berkonsultasi pada Arya Wiraraja untuk menyerang  Kediri, namun tidak di ijinkan karena belum kuat. Arya Wiraraja kemudian menyarankan untuk bersabar menunggu temannya raja Tar Tar datang menyerang.

Keenam Arya Wiraraja disamping memberi nasehat dan mengirim orang-orang Madura yang notabene pasukan Sumenep untuk membuka hutan Terik, juga banyak mengirim kuda-kuda perang ke Desa Majapahit dibawah pimpinan Ronggolawe yang suatu saat hampir ketemu ketika ada pengawasan dari Menteri Kediri bernama Segoro Winotan.

Ketujuh ketika pasukan Mongol Tar Tar tiba di Pelabuhan Du-Bing-Zu (Tuban), atas saran Arya Wiraraja, maka Nararya Sanggramawijaya mengirim utusan khusus diiringi 14 orang untuk menghadap panglimanya, mengakui kedaulatan Mongol Tar Tar, menyerahkan peta wilayah Kediri dan mengajak menyerang bersama dan kemudian menjanjikan putri-putri cantik Singosari yang dalam hal ini adalah putri mendiang Prabu Kertanegara sebagai tanda takluk.

Kedelapan ketika menyerang Kediri, Arya Wiraraja dan pasukan Madura turun ke medan tempur bergabung bersama laskar Majapahit.

Kesembilan ketika Kediri sudah dikalahkan dan Prabu Jayakatwang sudah ditahan, panglima Mongol Tar Tar meminta janji Nararya Sanggramawijaya untuk menyerahkan rampasan perang berupa harta jarahan dan putri-putri Prabu Kertanegara. Nararya Sanggramawijaya bingung bagaimana menjawabnya, namun Arya Wiraraja kemudian membuat tipu daya sehingga pasukan Mongol Tar Tar lengah, menjemput sang putri tanpa senjata sehingga mudah dikalahkan. Sebagai catatan dalam tulisan ini terutama yang kedelapan, yang dimaksud pasukan Majapahit ini pada intinya adalah pasukan Madura pimpinan Arya Wiraraja dan sebagai bantuan adalah laskar Majapahit. Hal ini dikarenakan sampai saat penyerangan Kediri tersebut, desa Majapahit sendiri masih dalam pengawasan ketat dari Kediri sehingga tidak bisa berbuat lebih banyak untuk mempersiapkan merekrut sumber daya manusia, mempersiapkan perbekalan logistik berupa berapa luas sawah yang mesti dicetak dan juga latihan perang yang kontinyu dalam mempersiapkan peperangan. Oleh karena itu dalam peperangan ini, tentu saja Majapahit yang merupakan desa kecil yang baru tumbuh tidak mempunyai pasukan sehingga pasukan yang dimaksud dalam berbagai tulisan sebenarnya adalah pasukan Madura. Dalam hal ini begitu besar peranan Arya Wiraraja baik dari segi nasehat, taktik perang, sumber daya pasukan bahkan sampai logistik dan keuangannya. Baru setelah 10 hari perang dengan Kediri dan Mongol Tar Tar usai, maka pasukan Pamalayu bekas kerajaan Singosari yang dipimpin Kebo Anabrang datang dari kunjungan persahabatannya di Melayu dan bahkan membawa hadiah termasuk 2 putri yaitu Dara Jingga dan Dara Petak. Pasukan inilah yang nantinya menjadi pasukan inti kerajaan baru bernama Majapahit.

  • Editor : Oren/Yoshi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.