Wong Tengger, Penjaga Gunung Suci Pelindung Para Raja Tanah Jawa

Sejarah

Menurut banyak studi berbicara tentang Tengger banyak dikaitkan kekayaan adat-istiadatnya yang masih di junjung tinggi dan dilestarikan sampai sekarang. Memang begitu kita menginjakkan kaki di bumi Tengger yang berada di ketinggian lebih dari 1000 meter dpl maka akan terlihat  nuansa Jawa klasik yang begitu kental dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh : Mansur Hidayat

Pakaian yang dikenakan mulai dari beskap, sarung, udeng maupun sewek masih sangat melekat dalam kehidupan sehari-harinya. Namun kita jarang mengetahui bagaimana asal mula kehidupan Wong Tengger ini sehingga dapat kita saksikan sekarang ini. Laporan Tim MMC kali ini akan mengungkap bagaimana sebenarnya asal mula dan penemuan jejak kuno yang ada di sekitar gunung Mahameru dan Brahma ini.

Dalam pandangan umum, asal muasal Wong Tengger banyak dikaitkan dengan dongeng terjadinya upacara Kasada dimana kakek moyangnya yaitu Ki Jaka Seger berasal dari Kediri sedang nenek moyangnya yang bernama Nyai Rara Anteng merupakan pelarian dari Majapahit setelah kerajaannya dikalahkan oleh pasukan Demak Bintoro yang muslim. Jika kita memakai pandangan dari cerita dongeng ini maka kita akan memandang asal mula kedatangannya sekitar tahun 1478-an atau pasca Majapahit jatuh. Namun dalam kenyataannya, ternyata terdapat jejak arkeologi dan catatan sejarah yang terekam dari wilayah ini telah berumur ribuan tahun.

Dalam penelusuran jejak arkeologi, tim MMC mendapati berbagai peninggalan yang ada di sekitar gunung Mahemeru dan gunung Brahma yang dapat menjadi petunjuk terkait jejak-jejak suku Tengger yang masih tersisa. Jejak peninggalan besar dan tua kita temukan di Desa Kandangan Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang yaitu Situs Selo Gending yang jika ditelisik lebih jauh berupa peninggalan megalitik punden berundak yang sampai saat ini belum pernah diteliti secara mendalam. Melihat struktur yang ada,  situs ini menyimpan sisa-sisa pemujaan terhadap gunung Mahameru yang berlangsung sejak jaman pra sejarah yang dilanjutkan sampai masa kerajaan Hindu yang ada di Lumajang masih eksis seperti kerajaan Lamajang Tigang Juru maupun Blambangan. Disamping peninggalan Megalitik Punden Berundak ini, Gatot Harjo yang merupakan Dukun Desa setempat masih menyimpan berbagai alat upacara maupun pakaian resmi yang diperoleh secara turun temurun. Peralatan upacara dari seorang dukun adalah Prasen atau Perasian sebuah mangkok dari bahan kuningan yang diwariskan secara turun- temurun yang berangka tahun 1265 Saka atau 1343 Masehi atau sejaman dengan pemerintahan raja-raja Lamajang yang sudah menjadi bagian dari Majapahit.

Sesuai dengan Prasasti Walandit berangka tahun 851 Saka atau tahun 929 Masehi yang menyatakan sebuah desa bernama Walandit merupakan sebuah tempat yang suci karena dihuni oleh Hyang Hulun. Keterangan dalam prasasti ini kemudian diperkuat dengan diketemukannya sebuah prasasti di daerah Penanjakan (Desa Wanakitri Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan) yang berangka tahun 1327 Saka atau tahun 1405 Masehi. Prasasti ini menyebutkan bahwa Wong Tengger adalah keturunan Hila-Hila yang dibebaskan dari pajak tetileman.  Dari keterangan dalam kedua prasasti ini kita bisa menyimpulkan bahwa Wong Tengger sudah ada lebih dahulu sebelum kerajaan Majapahit berdiri.

Disamping kedua prasasti tersebut, sumber keterangan lainnya kita dapatkan dari prasasti Ranu Kumbolo yang sampai sekarang dapat kita saksikan di pinggir danau Ranu Kumbolo yang termasuk bagian dari Desa Ranu Pani Kecamatan Senduro. Prasasti yang berisi sebuah keterangan Ling Dewa Mpu Kameswara Tirta Yatra ini diperkirakan berasal dari tahun 1182 Masehi atau sejaman dengan kerajaan Kadiri Daha dimana rajanya yaitu Kameswara telah melakukan perjalanan mencari air suci. Prasasti Pasru Jambe sebanyak 24 buah yang berangka tahun 1459 Masehi menceritakan kehidupan para Brahmana di timur gunung Mahemeru dengan Mandala- Mandala yang disucikan.

Keterangan tentang tempat-tempat suci di lereng pegunungan Mahameru dan Brahma yang sekarang ini masuk kawasan yang di diami suku Tengger didapatkan dalam Serat Bujangga Manik yang ditulis pada sekitar tahun 1470-an dan menyebutkan Mandala besar yaitu Kukup di gunung Mahameru dan Dingding di gunung Brahma. Dari berbagai keterangan tersebut diatas dapat dirunut dengan jelas bahwa Wong Tengger yang merupakan keturunan Hyang Hulun atau orang suci merupakan sekelompok orang yang mempunyai kewajiban menjaga tempat-tempat suci di sekitar gunung Mahameru dan gunung Brahma, sehingga mendapat kedudukan cukup penting dalam pandangan raja.

Keterangan yang agak berbeda dididapatkan dari Babad Sembar yang ditulis oleh Patih Kertajaya Probolinggo pada abad ke-18 yang menceritakan asal-muasal kerajaan Blambangan. Dalam keterangannya dinyatakan bahwa ketika Majapahit runtuh dan kalah oleh Demak Bintoro pada tahun  Sirna Ilang Kertaning Bhumi  atau tahun 1478 Masehi, salah satu putranya yang bernama Lembu Miruda atau Lembu Agnisraya kemudian melarikan diri ke pegunungan Tengger untuk meminta perlindungan kepada pendeta-pendeta yang masih beragama Hindu. Sementara itu menurut penulis buku sejarah kerajaan Blambangan, Samsubur menyatakan bahwa nantinya Lembu Miruda mendirikan sebuah kerajaan di pegunungan Tengger dengan pusatnya di Tepasana Lumajang dan bergelar Panembahan Bromo.

Pasca kejayaan Blambangan, masih banyak jejak dan spirit perjuangan Wong Tengger untuk menjaga kejayaan Majapahit dan tradisi yang sangat mereka banggakan. Pada saat perlawanan Suropati dan Blambangan terhadap VOC Kumpeni, Wong Tengger aktif menjadi pendukungnya maka wilayah pegunungan yang terpencil ini menjadi momok bagi pemerintah kolonial karena selalu menjauh dan mengasingkan diri dan selalu turut dalam perlawanan menentang pemerintah kolonial Belanda. Menurut Dr. Sri Margana dalam disertasinya yang kemudian menjadi buku berjudul Perebutan Hegemoni Blambangan, pada saat Kartanagara yang merupakan cucu Untung Surapati menjadi Bupati Lumajang dan kemudian kalah melawan VOC Kumpeni pada tahun 1767 ia kemudian melarikan diri ke pegunungan Semeru atau suatu wilayah yang di diami oleh Wong Tengger.

Konsistensi Wong Tengger dalam melawan para penyerbu seperti VOC Kumpeni inilah yang nampaknya membuat Belanda sangat berhati-hati dalam menentukan kebijakan terkait penduduk yang ada di kawasan ini. Ketika pada tahun 1800-an keadaan politik dan keamanan sudah mulai stabil, kawasan Tengger seolah dipisahkan dengan daerah-daerah sekitarnya sehingga nampak terasing dan terpencil. Belanda sendiri yang pada tahun 1880-an mulai membuka Onderneming-onderneming atau perkebunan hanya di wilayah Tengger pertengahan dan kemudian banyak memasukkan orang-orang dari daerah lainnya untuk mengisi daerah ini, sehingga wilayah Wong Tengger semakin berkurang. Dewasa ini Wong Tengger dengan adat- istiadatnya hanya dipakai sebagai gambaran budaya Jawa yang serba nerima dan lebih banyak pasif dalam melihat suasana sosial di sekitarnya. Oleh karena itu terjadi rasa minder atau kurang pecaya diri ketika sebuah desa dikatakan sebagai kawasan Tengger dan menjadikan jumlah desa yang mengaku keturunan Wong Tengger semakin berkurang. Menurut laporan Jasper dalam Tengger en de Tenggereezen Kabupaten Lumajang sendiri yang pada tahun 1926 mempunyai 12 Dukun Desa yaitu Kandang Tepus, Burno, Kandangan, Wonoayu, Bedayu, Bedayu Talang, Pandansari, Gucialit, Pakel, Kenongo, Dadapan dan Kertowono diluar Desa Argosari yang saat itu masuk wilayah Probolinggo. Namun dewasa ini hanya  4 desa yang mempunyai Dukun Desa dan berani menyatakan sebagai keturunan Tengger yaitu Argosari, Ranu Pani, Kandangan dan Wonocempokoayu. Oleh karena itu sudah saatnya cerita tentang peradaban besar Tengger dengan jaman keemasannya ketika menjadi pusat pendidikan dengan Mandala- Mandala besarnya sampai pendirian  kerajaan Blambangan mesti digali lebih dalam supaya muncul kebanggaan bersama.

  • Editor : Yoshi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.