Wong Tengger, Keturunan Hyang Hulun dan Penerus Kejayaan Majapahit

Sejarah SUARA REDAKSI

Beberapa waktu yang lalu, ada dua Desa Wisata Tengger yang masuk 100 Desa Wisata Indonesia  yaitu Desa Ranu Pani dan Desa Argosari yang berada di kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang. Masuknya dua desa tersebut terasa membanggakan namun juga memprihatinkan jika kita hanya berpangku tangan tanpa berbuat lebih jauh untuk merunut catatan sejarah dan perjalananannya.

Oleh : Mansur Hidayat

Pada umumnya wilayah Tengger sampai saat ini masih dipandang sebagai daerah yang terasing, ketinggalan dan primitif. Kelebihan daerah ini hanya berdasarkan pada pemandangan alamnya yang luar biasa sebagai anugrah Tuhan Yang Maha Kuasa, namun sangat jarang dihubungkan dengan sumber daya manusia apalagi sejarahnya yang luar biasa di masa lampau.

Berbicara tentang Wong Tengger pandangan kita pada umumnya akan tertuju kepada sekelompok orang Jawa yang tinggal di pegunungan dan mempunyai adat-istiadat, bahasa maupun pakaian yang berbeda dengan orang Jawa kebanyakan. Disamping kebudayaan yang berbeda, biasanya asal-usul Wong Tengger hanya dilihat dari dongeng-dongeng yang berkembang. Oleh karena itu dalam edisi VI ini, masmansoer.com ingin mengangkat keberadaanya dari sisi sejarah, dongeng maupun adat budayanya yang sangat unik sehingga para pembaca menjadi lebih mengerti.

Sejarah tentang Wong Tengger sebenarnya dimulai sebelum jaman Majapahit dengan ditemukannya Prasasti Walandit berangka tahun 851 Saka atau tahun 929 Masehi yang menyatakan sebuah desa bernama Walandit merupakan sebuah tempat yang suci karena dihuni oleh Hyang Hulun. Keterangan dalam prasasti ini kemudian diperkuat dengan diketemukannya sebuah prasasti di daerah Penanjakan (Desa Wanakitri Kecamatan Tsosari Kabupaten Pasuruan) yang berangka tahun 1327 Saka atau tahun 1405 Masehi. Prasasti ini menyebutkan bahwa Wong Tengger adalah keturunan Hila-Hila yang dibebaskan dari pajak tetileman.

Sementara itu dari sumber dongeng diceritakan ketika kerajaan Majapahit runtuh, maka salah satu putri raja Brawijaya bernama Nyi Rara Anteng yang masih gadis melarikan diri bersama para pengawalnya ke timur dan sampai di pegunungan Tengger yang kemudian diasuh oleh seorang pendeta bernama Ki Dadap Putih. Di lain pihak ada seorang pemuda tampan dari Kediri bernama Ki Jaka Seger ingin mencari pamannya dan kemudian tersesat ke pegunungan Tengger. Dalam kebingungannya, pemuda tampan tersebut kemudian diijinkan tinggal di padepokannya Ki Dadap Putih. Setelah tinggal beberapa saat, Ki Jaka Seger kemudian berkenalan dengan Nyi Rara Anteng dan kemudian mereka dinikahkan oleh Ki Dadap Putih. Dalam perkembangan cerita berikutnya Nyi Rara Anteng dan Ki Jaka Seger inilah yang kemudian menurunkan Wong Tengger yang ada sekarang ini.

Sementara itu dari sumber-sumber babad tradisional cerita tentang kehebatan Wong Tengger malah jarang diungkapkan. Babad Sembar yang merupakan sebuah karya Patih Kertajaya dari Probolinggo pada sekitar abad ke-18 menyatakan bahwa pada waktu runtuhnya kerajaan Majapahit  pada tahun Candrasengkala yaitu sirna ilang kertaning bhumi  yang berarti pada tahun 1400 Saka atau 1478 Masehi salah satu putra Brawijaya bernama Lembu Miruda atau Lembu Aginisraya melarikan diri ke pegunungan Tengger yang kemudian mendirikan padepokan besar dan juga cikal bakal kerajaan Blambangan Raya yang kemudian mampu berjaya menguasai Kawasan timur gunung Mahameru yang ke baratnya sampai di wilayah Blitar dan berkuasa mulai dari tahun 1500-an sampai 1750-an  atau sekitar 350 tahun lamanya.

Pasca kejayaan Blambangan, masih banyak jejak dan spirit perjuangan Wong Tengger untuk menjaga kejayaan Majapahit dan tradisi yang sangat mereka banggakan. Pada saat perlawanan Suropati dan Blambangan terhadap VOC Kumpeni, Wong Tengger aktif menjadi pendukungnya maka wilayah pegunungan yang terpencil ini menjadi momok bagi pemerintah kolonial karena selalu menjauh dan mengasingkan diri dan selalu turut dalam perlawanan menentang pemerintah kolonial Belanda.

Dari berbagai catatan sejarah, dongeng maupun keterangan dalam babad tradisional ternyata riwayat dan keberadaan tentang Wong Tengger jauh sebelum jaman Majapahit dan juga puncak kejayaannya pada masa kerajaan Blambangan menguasai hampir separo Jawa Timur sekarang ini. Namun dalam kenyataannya dewasa ini Wong Tengger hanya di identikkan dengan suku terasing yang sejarahnya diceritakan secara samar-samar dan hanya berdasarkan dongeng belaka. Tentu hal ini sangat memprihatinkan dan sudah menjadi kewajiban kita untuk memperoleh informasi yang benar tentang kejayaan dan konsistensi Wong Tengger dalam menjaga tradisi Hindu Majapahit sampai sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.