Wangsa Sinelir Kalahkan Wangsa Rajasa, Hegemoni Tampuk Kekuasaan di Singosari

Sejarah

Berbicara tentang tokoh Banyak Wide atau Arya Wiraraja tentu tidak  bisa dilepaskan dari situasi politik di kerajaan Singosari, sebuah kerajaan yang didirikan oleh Ken Arok yang kemudian mendirikan dinasti baru atau wangsakerta bernama Wangsa Rajasa.

Oleh : Mansur Hidayat

Dalam tulisan ini kita ingin mengangkat kondisi persaingan yang terus menerus antara Wangsa Sinelir yang merupakan garis keturunan Ken Dedes dan Tunggul Ametung dengan Wangsa Rajasa yang berlangsung sepanjang usia kerajaan Singosari itu sendiri yaitu sekitar 70an tahun.

Berbicara politik kerajaan Singosari, sebenarnya tidak lepas dari 3 sosok utama yaitu Tunggul Ametung, Ken Dedes dan Ken Arok. Tunggul Ametung sendiri adalah seorang Akuwu Tumapel sebelum wilayah tersebut menjadi kerajaan besar dan beristri seorang perempuan cantik nan muda bernama Ken Dedes yang merupakan putri seorang Wiku Buddha bernama Mpu Purwa dari Desa Panawijen. Konon dalam salah satu cerita putri Ken Dedes yang masih muda tersebut suatu hari ditinggal sang Ayah ke hutan dan pada saat itu rombongan Akuwu Tunggul Ametung yang sedang melewati desanya bertemu dengan putri Ken Dedes dan tanpa basa-basi kemudian menculiknya. Pada saat Mpu Purwa balik ke rumahnya dan menemui kenyataan putrinya telah diculik oleh seorang Akuwu Tumapel, maka keluarlah sumpah supata dan kutukan terhadap Tunggul Ametung. Ken Arok sendiri menurut Pararaton adalah putra dari Ken Endok dan Betara Brahma yang sedang turun ke dunia. Kesehariannya Ken Arok diasuh oleh Lembu, Ki Bango Samparan dan pendeta Budha bernama Lohgawe. Dalam kehidupan kesehariannya Ken Arok muda yang tidak mempunyai ayah menjadi petualang dan pengembara di rimba perjudian dan dunia hitam sehingga kemudian bisa menjadi prajurit pengawal Tunggul Ametung. Dan setelah Akuwu Tunggul Ametung terbunuh dalam tragedi berdarah, maka Ken Arok kemudian menggantikan Tunggul Ametung sebagai suami Ken Dedes. 

Dalam perjalanan waktu ternyata karir dan perjalanan politik seorang Ken Arok semakin gemilang, ia kemudian mampu merebut tahta kerajaan dari tangan Prabu Kertajaya yang sedang berkuasa di Kediri. Pasukan Kediri yang saat itu dibawah komando rajanya yaitu Dandhang Gendhis atau Kertajaya dikalahkan oleh pasukan Tumapel dibawah komando Ken Arok dalam suatu pertempuran menentukan di desa Ganter. Sejak itu kekuasaan berpindah ke tangan Ken Arok yang kemudian mengangkat diri menjadi raja dengan gelar abhiseka Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi dan garis keturunannya dengan Ken Dedes disebut Wangsa Rajasa. Ken Arok dan Ken Dedes sendiri mempunyai anak-anak yaitu Mahesa Wongateleng, Panji Saprang, Panji Agnibaya dan Dewi Rimbu yag kemudian menjadi penerus bagi Wangsa Rajasa. Sementara itu Ken Dedes dengan Tunggul Ametung mempunyai anak bernama Anusapati yang kemudian nantinya sering disebut sebagai Wangsa Sinelir (wangsa Selir) karena meskipun lebih tua anak-anak dari Tunggul Ametung, namun mereka ini bukan dari keturunan raja seperti Ken Arok.

Pada saat Ken Arok atau Sri Rajasa Sang Amurwabhumi meninggal di kratonnya oleh seorang Pengalasan atas suruhan sang Anusapati yang merupakan putra Ken Dedes, seluruh penghuni kraton geger atas kehilangan rajanya dalam waktu yang cepat. Namun atas kharisma yang dipunyai oleh sang Ratu Ken Dedes, pergantian kepemimpinan Singosari ini berjalan lancar. Sang Anusapati-pun kemudian menggantikan Sri Rajasa Sang Amurwabhumi menjadi raja Singosari. Namun bulan berganti bulan, nampaknya keturunan Sri Rajasa Sang Amurwabhumi dari pihak istri muda bernama Ken Umang menunjukkan ketidak-sukaannya karena mengetahui bahwa sang Anusapati bukanlah putra sang pendiri Singosari. Oleh karena itu, putra Ken Umang dengan Ken Arok atau Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi yang bernama Panji Tohjaya berusaha merebut kekuasaan dan membunuh sang Anusapati. Menurut Pararaton, karena situasi mulai kurang kondusif dan kewaspadaan sang Anusapati yang terlampau berlebihan, maka ia mulai mewaspadai segala kemungkinan mulai dari memeriksa semua orang yang mau menghadap tanpa pandang bulu sampai sekeliling kamarnya di bangun parit-parit supaya saat tidur dirinya juga bisa aman. Namun kewaspadaan itu menjadi hilang Ketika Panji Tohjaya membawa ayam jago aduan untuk dipertandingkan dengan ayam jago sang raja. Nah, dari sinilah kewaspadaan tersebut hilang sehingga Ketika ayam jago keduanya bertarung, maka Panji Tohjaya-pun menusuk  sang Anusapati dengan keris Mpu Gandring. Dari sinilah gonjang-ganjing kekisruhan keluarga kerajaan Singosari bermula.

Menurut Pararaton pada awal menjadi raja, Panji Tohjaya berusaha merangkul keponakannya yaitu Mahesa Campaka yang merupakan putra Mahesa Wongateleng yang merupakan garis keturunan Ken Arok – Ken Dedes atau yang dikenal sebagai Wangsa Rajasa dan Ranggawuni yang merupakan putra dari sang Anusapati atau dikenal sebagai Wangsa Sinelir. Kedua keponakannya ini dipanggil dan diajak untuk bersatu, namun atas nasehat salah seorang penasehatnya yang bernama sang Pranaraja, maka Panji Tohjaya-pun menjadi waspada dan kemudian berbalik ingin menangkapnya dengan menyuruh orang kepercayaannya yang bernama Lembu Ampal. Dalam pesannya Panji Tohjaya berpesan bahwa ia harus menangkap Mahesa Campaka dan Ranggawuni dan jika tidak terlaksana maka nyawanya sendiri yang akan menjadi tumbalnya. Mendengar perintah tersebut, Lembu Ampal-pun mencari keberadaan 2 pemuda tersebut kemana-mana namun tidak pernah ketemu sehingga ia menjadi takut jika dirinya akan dijadikan tumbal oleh sang raja Panji Tohjaya. Dalam ketakutannya ia kemudian jarang keluar rumah, namun suatu hari ia ketemu dengan 2 orang yang dicarinya tersebut dirumah salah seorang pejabat tinggi bernama Panji Pati. Namun situasi saat itu sudah berbalik, karena Lembu Ampal sendiri sudah merasa terancam oleh sang raja yang mulai menaruh curiga kepadanya. Oleh karena itu Lembu Ampal kemudian bersepakat dengan kedua pemuda keponakan raja itu untuk saling melawan sang Panji Tohjaya.

Dalam suatu diskusi, Lembu Ampal kemudian mengusulkan agar keduanya tidak bersembunyi terus menerus dan mulai mengadakan perlawanan. Salah satu yang akan dikerjakan Lembu Ampal adalah berpura-pura mengadu domba antara Wangsa Sinelir dan Wangsa Rajasa sehingga membuat kewaspadaan Panji Tohjaya kendor. Taktik kemudian dijalankan dengan baik, Lembu Ampal berhasil saling mengadu domba antara Wangsa Rajasa dan Wangsa Sinelir dan membuat penjagaan istana menjadi teledor. Ketika puncak kerusuhan antara kedua Wangsa berlangsung, maka pasukan khusus kedua wangsa tersebut menyerbu istana sehingga Panji Tohjaya yang terkejut berusaha melarikan diri, namun ia terkena tombak dan kemudian dipikul oleh anak buahnya. Dalam pelariannya, putra Sri Rajasa Sang Amurwabhumi ini kemudian meninggal di Katang Lumabang.

Sepeninggal Panji Tohjaya, kekuasaan Singosari kemudian jatuh ketangan Ranggawuni dan Mahesa Campaka, oleh Pararaton persatuan kedua saudara bersepupu tersebut diibaratkan “2 ular dalam satu liang” yang saling mendukung dalam persembunyian. Ranggawuni kemudian menjadi raja Singosari dengan gelar Wisnuwardhana atau Sminingrat sedang Mahesa Campaka menjadi Ratu Angabhaya atau wakil raja yang bergelar Narasinghamurti. Keduanya saling kompak dengan membawa payung kebesaran dan menghormati wangsa masing-masing. Namun kekompakan 2 wangsa ini mulai pudar sepeninggal raja Wisnuwardhana yang digantikan oleh putranya yaitu Prabu Kertanegara yang mulai merubah tatanan yang telah diletakkan dengan baik oleh sang ayah. Prabu Kertanegara memerintah sekitar tahun 1270 Masehi dengan banyak melakukan perubahan yang terbilang revolusioner sehingga banyak tidak disukai oleh kalangan pembesar Singosari sendiri.

Prof. Slamet Mulyana menguraikan para pembesar yang bersebrangan dengan sang Prabu dan kemudian diturunkan jabatannya meski pengabdiannya untuk Singosari tak perlu disangsikan lagi. Mpu Raganata adalah seorang Patih Mangkubumi  yang sangat bijaksana namun karena berani berbeda pendapat maka diturunkan jabatannya menjadi Ramadhyaksa,  posisinya diganti oleh Mahesa Anengah Panji Angragani. Arya Wiraraja yang saat itu jabatannya adalah Demung karena dianggap bersebrangan kemudian dipindahkan jauh dari ibu kota menjadi Adipati Sumenep di Madura. Tumenggung Wirakerti diturunkan jabatannya dari jabatan Tumenggung menjadi Mantri Anghabaya (Menteri pembantu). Demikian juga Pujangga Santasmerti yang kemudian meninggalkan ibu kota untuk mengasingkan diri di hutan. Disamping sederetan nama yang diturunkan tersebut, Prabu Kertanegara juga mengadakan pendekatan baru terkait wangsakerta atau asal usul wangsanya sehingga semakin memperuncing keadaan. Pada masa pemerintahan Prabu Sminingrat, posisi Wangsa Rajasa sangat dihormati dengan meletakkan Narasinghamurti sebagai Ratu Angabhaya atau wakil raja yang ditempatkan di kerajaan bawahan utama Singosari yaitu Kediri. Namun pada masa pemerintahan Prabu Kertanegara, jabatan Ratu Angabhaya yang seharusnya jatuh ke tangan putra Narasinghamurti yaitu Dyah Lembu Tal malah dihapuskan. Hal ini mulai membuat Wangsa Rajasa yang merupakan keturunan Ken Arok dan Ken Dedes menjadi tidak senang. Rasa sewenang-wenang terhadap Wangsa Rajasa ini kemudian dipertajam dengan diangkatnya Jayakatwang menjadi raja di Kediri pada tahun 1271 Masehi. Perlu diketahui bahwa Jayakatwang dalam silsilah masih bersepupu dengan Prabu Kertanegara dari pihak ibu dan juga kemudian menjadi saudara ipar karena ia menikahi salah seorang adik raja bernama Nararya Turuk Bali yang saat itu berkuasa di Glang Glang. Demikian juga nantinya perkawinan antara putra Jayakatwang dan Nararya Turuk Bali yaitu Ardharaja dengan salah satu putri Prabu Kertanegara semakin membuat tersingkir Wangsa Rajasa, meski nantinya putra Dyah Lembu Tal dijadikan menantu raja, namun tidak terlalu penting posisinya. Pada saat pemerintahan Prabu Kertanegara, posisi Wangsa Sinelir hampir menguasai seluruh jabatan penting dan Wangsa Rajasa tersingkir dari lingkar utama kekuasaan. Ketidak-senangan para pejabat kerajaan Singosari ini kemudian memuncak ketika terjadi pemberontakan-pemberontakan Caya Raja pada tahun 1272, namun segera dipadamkan. Namun ketidaksenangan Wangsa Rajasa akibat ketiadaan posisinya dalam jabatan-jabatan penting maupun pemindahan sewenang-wenang Prabu Kertanegara telah memunculkan sikap bersatu diantara keduanya yang nantinya berpuncak pada Kudeta yang terjadi pada tahun 1292 Masehi.

  • Editor : Oren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.