TENGGER Dalam “PETITE HISTOIRE”

Opini

Pegunungan Tengger terkenal dengan pesona alam Gunung Bromo-nya yang begitu indah dan eksotis, berhawa sejuk serta memiliki keunikan budaya, sehingga menjadi destinasi wisata dunia, yang menghipnotis wisatawan domestik dan mancanegara. Namun dibalik itu, tidak banyak yang mengetahui bahwa kawasan ini mengandung catatan sejarah. Di masa lampau, tlatah Tengger berperan penting dalam mewarnai panggung sejarah yang dibalut kisah mitos dan legenda.

Oleh : Zainollah Ahmad

Dalam beberapa naskah tradisi Jawa seperti Babad Tanah Jawi, Serat Kandha, Babad Blambangan (Babad Sembar dan Babad Tawangalun), Serat Centhini dan lainnya, nama Tengger dan Gunung Bromo juga disebut-sebut. Misalnya sebagai tempat pelarian orang-orang dari Majalengkha (Majapahit) yakni Brawijaya V, tempat Minak Anisraya (Lembu Anisraya), Ajar Pamengger, Lembu Miruda (Panembahan Bromo) dan sebagainya. Beberapa catatan sejarah juga menyebut nama Dyah Suraprabhawa (1466-1478 M) raja Majapahit akhir sebagai penguasa kawasan ini.

Para petinggi pelarian Majapahit lebih memilih pegunungan ini sebagai tempat yang aman, berupaya mendirikan peradaban millenarisme untuk meneruskan warisan budaya kepada anak keturunannya yakni suku Tengger yang sekarang terkenal memiliki norma dan kepribadian adiluhung.

Antropolog Robert W. Hefner dalam bukunya Hindu Javanese: Tengger Tradition and Islam, memaparkan bahwa orang-orang suku Tengger merupakan keturunan dari para pengungsi Kerajaan Majapahit. Pada sekitar abad ke-16, Kerajaan Majapahit mulai melemah karena serangan kerajaan Islam Demak yang dipimpin oleh Raden Patah. Mereka menyelamatkan diri dari serbuan tersebut, sebagian masyarakat Majapahit eksodus menuju pulau Bali. Sebagian lainnya memilih untuk menempati sebuah kawasan pegunungan di Jawa Timur, mengisolasi diri dari pengaruh luar. Para pengungsi inilah yang kelak dinamakan sebagai suku Tengger. Mereka rupanya memiliki hubungan emosional dengan Majapahit, karena tanah leluhur mereka dulu pernah menjadi bagian sima perdikan saat Majapahit mencapai kejayaan di masa Hayam Wuruk.

Di kalangan suku Tengger sendiri, berkembang sebuah mitos atau legenda yang menceritakan tentang sejarah leluhur mereka yang begitu dipercaya, sehingga dimanifestasikan dalam tradisi ritual mereka, Kasada.

Arkian singkat cerita, tersebutlah seorang bernama Rara Anteng, putri pembesar Kerajaan Majapahit, dan Jaka Seger yang merupakan putra dari seorang wiku (brahmana). Rara Anteng dan Jaka Seger kemudian menikah dan mereka turut menjadi pengungsi di Pegunungan Tengger. Di sanalah kemudian mereka menjadi pemimpin dengan gelar Purbawisesa Mangkurat Ing Tengger. Keturunan dari Rara Anteng dan Jaka Seger inilah yang kelak menjadi suku Tengger di Jawa Timur.

Nama Tengger disinyalir berasal dari legenda Rara Anteng dan Jaka Seger yang diyakini sebagai asal usul nama Tengger, yaitu “teng” merupakan akhiran dari nama Rara Anteng dan “ger” akhiran nama dari Jaka Seger. Muasal cerita legenda yang melahirkan toponimi tersebut memang simpang siur, tetapi narasi yang berkembang menceritakan bahwa Rara Anteng adalah putri Raja Brawijaya V dari Majapahit. Belum teridentifikasi secara tepat, siapa yang dimaksud dengan Brawijaya V? karena  namanya memang banyak disebut dalam beberapa naskah tradisi Jawa pasca keruntuhan Majapahit. Di Tengger, Rara Anteng diangkat anak oleh salah seorang pandhita yang bernama Resi Dadap Putih. Sementara Jaka Seger konon adalah seorang pemuda kelana dari Kadhiri yang mencari pamannya di Pegunungan Tengger. Lalu mereka berdua kemudian bertemu dan membentuk keluarga yang akan menurunkan generasi penduduk Tengger.

Perasaan sebagai satu saudara dan satu keturunan Rara Anteng-Jaka Seger inilah yang menyebabkan suku Tengger tidak menerapkan sistem kasta dalam kehidupan sehari-hari meskipun penganut keyakinan Syiwais.

Gunung Brahma (Bromo) yang berada pada lingkup Pegunungan Tengger dan berdekatan dengan Gunung Semeru (Mahāmeru) yang disebutkan dalam kitab Tantu Panggelaran, sebuah karya sastra yang ditulis pada masa Majapahit. Disebutkan dalam teks tersebut, riwayat gunung-gunung di Jawa memang tidak bisa dilepaskan dari proses penciptaan gunung dan manusia pertama di Jawa ini (Pigeaud, 2008)

Dikisahkan bahwa pada saat itu Pulau Jawa masih berguncang ke sana ke mari, selalu bergerak berpindah-pindah sebab tidak ada gunung-gunung (manana sang hyang Mandaraparwwata), bahkan belum ada manusia (nguniweh janma manusa). Sehingga Bhatara Jagat Pramana (Bhatara Guru) bersemadi (mayugha) di Pulau Jawa, di daerah Dihyang tepatnya, (sekarang bernama Pegunungan Dieng, Wonosobo). Sesudah Bhatara Guru selesai bersamadi, ia kemudian menitahkan Bhatara Brahma dan Bhatara Wiṣṇu untuk menciptakan manusia (motus ta sira ri sang hyang Brahma, Wiṣṇu magawe manusa). Selanjutnya dipaparkan tentang perintah Bhatara Guru untuk memindahkan Gunung Mahāmeru yang berasal dari Jambhudwipa (India) ke Pulau Jawa untuk dijadikan sebagai pemberat, agar Pulau Jawa berhenti bergerak menjadi stabil.

Denys Lombard, mengutip Pigeaud (2008 :7) juga menguatkan keterangan dalam kitab Tantu Panggelaran tersebut yang banyak menyebutkan petunjuk tentang pertapaan-pertapaan (mandala) Hindu di Pulau Jawa dan menceritakan asal mula Bhatara Guru (Syiwa) yang pergi ke Gunung Dieng (Dihyang), untuk bersemedi dan meminta kepada Bhatara Brahma dan Wiṣṇu agar Pulau Jawa diberi penghuni. Brahma menciptakan kaum lelaki dan Wiṣṇu menciptakan kaum perempuan, lalu semua dewa memutuskan menetap di bumi baru tersebut dan memindahkan Gunung Meru yang saat itu berada di negeri Jambhudwipa (India). Sejak itu gunung tinggi “yang menjadi lingga bagi dunia” (pinkalalingganing bhuwana) itu tertanam di Pulau Jawa yang menjadi kesayangan para dewata. Kiranya penciptaan kaum lelaki yang dimanifestasikan Jaka Seger oleh Bathara Wisnu dan kaum perempuan yang diwakili Rara Anteng oleh Bathara Brahma, masih dikaitkan dengan narasi dalam kitab Tantu Panggelaran.

Mengutip Soekmono (1981) dalam Pengantar Sejarah Kebudayaan, mencermati tentang cerita mitos tersebut, dengan memindahkan Gunung Mahāmeru dari India ke Pulau Jawa, memungkinkan terjadinya proses ‘Indianisasi’. Karena Gunung Mahāmeru yang dianggap sebagai makrokosmos (titik pusat alam semesta) itu, kemudian dipindahkan ke Pulau Jawa untuk digunakan sebagai penyeimbang dan poros kekuatan gunung dari gunung-gunung lain. Gunung-gunung lain itu terjadinya dari serpihan tanah yang runtuh dari Gunung Mahāmeru ketika dipindahkan, yaitu Gunung Kelasa, Wilis, Kelud (Kampud), Kawi, Arjuna, Kumukus (Welirang), dan gunung lainnya. Dewa Wiṣṇu kemudian menjadi raja pertama di Pulau Jawa, dengan nama Kandhiawan (Kandihuwan). Ia mengatur pemerintahan, masyarakat dan keagamaan.

Menurut penulis, nama Brahma disematkan kepada Gunung Bromo, karena tidak bisa dilepaskan dari proses penciptaan gunung tersebut sebagaimana ditulis dalam kitab Tantu Panggelaran, di mana Dewa Brahma memiliki peran utama yakni ditugaskan untuk menata dan menempatkan gunung-gunung di seluruh tanah Jawa. Selain itu kawasan Pegunungan Tengger pada masa lampau merupakan lokasi para pertapa yaitu dharma kabuyutan, wanasrama dan kadewaguruan. Mengingat tradisi kerohanian dan spiritualitas masih kental, seperti adanya keberadaan para dukun yang masih memiliki peran signifikan. Keyakinan sebagai penghuni “tanah suci” itu rupanya masih dipegang masyarakat Tengger hingga kini. Dalam prasasti Gulung-Gulung (929 M) menyebutkan nama tempat suci di kaki Pegunungan Tengger yakni Himad dan Pangawan selain Gapuk yang merupakan desa Buddhis sebagaimana yang dideskripsikan oleh Mpu Prapanca dalam Desawarnana (Sidomulyo, 2007).

Berdasarkan versi lain yang dikaitkan dengan catatan prasasti, masyarakat Tengger sudah ada jauh sebelum hadirnya Jaka Seger dan Rara Anteng muncul. Hal itu dibuktikan dengan adanya temuan prasasti Walandhit I yang diperkirakan ditulis pada zaman Mpu Sindok, era Medang Bhumi Mataram di Jawa Timur. Di mana dalam prasasti itu disebutkan, kerajaan pada kala itu memberikan sebidang tanah sima atau mungkin watak (watek) di kawasan hila-hila (diperkirakan di kawasan Penanjakan) untuk dihuni kaum Brahmana.

Hak istimewa itu diberikan lantaran dalam strata agama Hindu, kaum Brahmana merupakan orang-orang suci dan kasta tertinggi. Bukan hanya hak lahan. Karena kesucian kaum Brahmana, pemerintah kala itu juga membebaskan mereka dari kewajiban membayar pajak kepada negara. Sehingga sejak awal masa Klasik di Indonesia, pegunungan Tengger memang diakui sebagai tanah suci (hila-hila). Penghuninya dianggap sebagai abdi spriritual tunggal sebuah sebutan hulun (abdi). Fakta itu terungkap dalam prasasti Walandhit dari abad ke-10 yang berangka tahun 851 Saka (929 Masehi). Lalu adanya prasasti itu diperkuat dengan angka tahun 1327 Saka atau 1405 Masehi yang ditemukan di daerah Penanjakan, Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.

Pada prasasti ini disebutkan, bahwa Desa Walandhit dihuni oleh Hulun Hyang (abdi Tuhan) yang tanah sekitarnya disebut hila-hila. Karena itu, desa tersebut dibebaskan dari pajak, terutama pajak in natura (hasil bumi). Orang-orang suci yang menghuni tanah hila-hila inilah yang diyakini sebagai cikal-bakal warga Tengger. Ada dua prasasti Walandhit yang sempat dibuat sebagai penanda hak istimewa yang diberikan kerajaan kala itu kepada masyarakat di Tengger. Pertama, dibuat pada era Medang Bhumi Mataram sebagai instruksi pertama pemberian hak istimewa kepada kaum Brahmana kala itu. Kedua, pada era Majapahit, tepatnya Rajasanegara (Hayam Wuruk) dengan Mahapatih Gajah Mada. Prasasti kedua dibuat sebagai penegasan atas prasasti pertama yang disalin kembali sebagai bentuk penegasan atau pengukuhan yang lazim disebut prasasti tinulad.

Masih menurut sumber yang sama, Rajasanegara merasa perlu membuat penegasan itu menyusul upaya desa lain untuk menguasai tanah hila-hila dan memungut pajak dari warganya. Untuk menghentikan upaya itu, Rajasanegara kemudian menitahkan agar itu tidak dilakukan, sebagaimana yang tertulis pada prasasti Walandhit II.

  • Editor : Mansur Hidayat

5 thoughts on “TENGGER Dalam “PETITE HISTOIRE”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.