Sejarah Desa Wisata Argosari dan Ranu Pani: Benteng Terakhir Tengger Di Lereng Mahameru

Sejarah

Beberapa waktu yang lalu dalam salah satu perlombaan Desa Wisata yang dilakukan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dalam 100 daftar Desa Wisata terbaik di Indonesia muncul 2 nama Desa Tengger yang masuk Kabupaten Lumajang yaitu desa Wisata Argosari dan desa Wisata Ranu Pani. Dalam perkembangannya kemudian Desa Ranu Pani masuk dalam 50 Desa Wisata terbaik di Indonesia. Dalam kesempatan ini tim MMC akan melaporkan tentang sejarah dan asal muasal kedua Desa tersebut.

Oleh : Mansur Hidayat

Berbicara masalah Desa Tengger yang paling dekat dengan puncak Mahameru yaitu Desa Argosari dan Ranu Pani dapat kita runtut dalam catatan penemuan prasasti yang ada di pinggir Ranu Kumbolo. Prasasti ini berisi tulisan Ling Dewa Mpu Kameswara Tirta Yatra,  yang artinya ketika Dewa Mpu Kameswara melakukan perjalanan mencari air suci. Prasasti ini tidak berangka tahun, berdasarkan jenis tulisan maupun isinya diperkirakan dibuat pada tahun 1182 Masehi. Berdasarkan pada tulisan tersebut, maka di duga di wilayah sekitarnya telah ada pemukiman yang berupa asrama para Brahmana yang bertugas melayani ziarah suci tersebut. Setelah perjalanan besar dan legendaris tersebut, catatan maupun laporan spesifik terkait peristiwa besar maupun perkembangan sosial di wilayah Tengger Lumajang berdasarkan sumber prasasti tidak bisa kita dapatkan. Laporan dari babad-babad tradisional maupun dongeng-dongeng masyarakat masih dapat kita ambil untuk merangkai puzzle yang cukup gelap tersebut. Catatan dari Babad Sembar  menceritakan tentang pelarian putra Prabu Brawijaya yaitu Lembu Miruda maupun para pejabat Majapahit ke wilayah Tengger dan kemudian mendirikan ibu kotanya di Tepasana yang diperkirakan berada di sekitar Desa Purwosono,  Karanganom maupun Pagoan. Namun tidak pernah menyinggung secara spesifik wilayah Desa Argosari maupun Ranu Pani.

Dalam buku berjudul Masyarakat Tengger: Latar Belakang Daerah Taman Nasional Bromo yang menjelaskan dongeng rakyat Tengger yang sangat terkenal yaitu cerita tentang Nyi Rara Anteng dan Ki Jaka Seger mempunyai 25 orang anak dimana yang bungsu adalah Raden Kusuma mengorbankan dirinya di kawah gunung Bromo yang memulai adanya upacara Kasada yang memberikan sesaji kepada sang Hyang Brahma. Dalam dongeng ini putra ke- 24 yang bernama Demang Diningrat disebutkan moksa di gunung Mahameru yang secara geografis bisa masuk dalam kawasan desa Argosari maupun Ranu Pani. Dalam kepercayaan masyarakat Argosari sendiri dikenal adanya Pedanyangan Mbah Jogoniti maupun Mbah Jogonoto yang terletak di dekat puncak B-29.

Menurut Monograf desa Argosari, sejarahnya tidak terlepas dari sejarah jaman Kerajaan dan Ki Raden Pacet yang memiliki anak bernama Sundoro. Di lain pihak Dahyang Dono Sari memiliki seorang anak yang bernama Sundari. Kedua anak tersebut yakni Sundoro dan Sundari diperintahkan membabat hutan, dan dalam perjalanannya bertemu Patih Tanggul Langin. Keduanya saling jatuh cinta dan mereka berdua berencana menikah tetapi niat tersebut dilarang oleh Ki Raden Pacet. Sundoro dan Sundari sendiri bersama kawan kawannya terus menerus membabat hutan sehingga kemudian menemukan sumber yang besar dan bersih. Oleh karena itu tempat tersebut dinamakan Sumbersari. Sumber tersebut terletak ditengah Pedukuan dan dengan menggunakan Pikulan airnya diarahkan ketimur, dengan demikian maka mata air yang tadi kering, tidak lama berselang waktu kemudian Sundoro dan Sundari bersama kawan-kawannya yang kehausan minum dan mandi di Kedungpikul.  Disamping itu keduanya banyak member nama-nama tempat yaitu Madang caring, Karangsari, Dadapan, Ledok Kercis dan Tempursari. Sundoro dan Sundari berkumpul ditengah Desa dan kemudian member nama Argosari yang artinya Argo adalah Gunung dan Sari/Sarine adalah inti/pusatnya Gunung. Pada awalnya desa Argosari bernama Sumbersari dan secara resmi dirubah namanya menjadi desa Argosari Pada tahun 1907.

Adapun nama-nama  Kepala Desa di Argosari adalah sebagai berikut:

Pertama adalah Sariyat (1907- 1930).

Kedua adalah Suriyat (1930 –1940) yang berhenti karena beliau meninggal dunia.

Ketiga adalah Sudar (1940- 1948).

Keempat adalah Tirto Guno (1948-1958).

Kelima adalah Musin yang terpilih lewat Pemilihan langsung (1958-1968).

Keenam adalah Kariyo Wiguno (1968-1979).

Ketuju adalah Sainan (1979- 1988).

Kedelapan adalah Harianto (1988- 1998).

Kesembilan adalah Markatun (1998- 2008).

Kesepuluh adalah Pejabat Kepala Desa Marti’am (2008-2013).

Kesebelas adalah Ismail (2013-2019)

Kedua belas adalah Markatun (2019- sekarang)

Dalam masa pemerintahan Kepala Desa Markatun ini pada tahun 2001, Dusun Ranu Pani yang letaknya hampir 40 kilo meter dari Desa Argosari secara resmi di mekarkan dan menjadi Desa tersendiri dengan kepala desa bernama Sulkan.

Dusun Ranupani Berpisah dengan Induknya Desa Argosari

Setelah Politik Pintu Terbuka dengan banyaknya modal asing masuk ke Hindia Belanda yang kemudian diiringi dengan disahkannya Agrarische Wet atau Undang Undang Agraria jaman Belanda, maka dimulailah pembukaan-pembukaan perkebunan di seluruh wilayah Hindia Belanda. Menurut Dr. Abdul Wahid, seorang sejarawan Universitas Gajah Mada pembukaan perkebunan di Lumajang di mulai sekitar tahun 1880-an. Beberapa titik yang bisa kita lihat sampai sekarang adalah perkebunan teh dengan pabriknya yang ada di Desa Kertowono dan Gucialit sedangkan perkebunan teh di Desa Kandang tepus dan perkebunan kopi di Pasru Jambe sudah lama diambil alih rakyat.

Catatan tentang Ranu Pani diawali pada jaman Belanda sekitar tahun 1880-an ketika Onderneming atau perkebunan Belanda mulai dibangun secara intensif di Lumajang yang saat itu masih ikut Regentschaap atau Kabupaten Probolinggo. Banyak perkebunan dibangun di sekitar kawasan Tengger tengah seperti wilayah Kecamatan Gucialit, Kecamatan Senduro dan Kecamatan Pasru Jambe. Karena Wong Tengger menolak untuk bekerja dengan Belanda dan kebutuhan Onderneming atau perkebunan tersebut, maka didatangkanlah para pekerja dari berbagai wilayah di Jawa terutama di Jawa Mataraman maupun Madura yang rata-rata beragama Islam. Para pekerja yang beragama Islam ini kemudian banyak menguasai kawasan Tengger tengahan seperti yang dapat kita lihat di 3 (tiga) Kecamatan diatas. Oleh karena itu sesuai dengan laporan Jasper pada tahun 1926 tentang desa-desa Tengger di Lumajang  yang penduduknya beragama Hindu dan kuat mengikuti tradisi kakek moyangnya kemudian menyingkir semakin ke atas khususnya di Desa Argosari dan Ranu Pani.

Pada sekitar tahun 1910-an ketika penduduknya yang jarang dan letak geografisnya bisa terhubung dengan Malang, maka para pengusaha Belanda memanfaatkan sebuah tempat di sekitar danau atau Ranu Pani menjadi peternakan sapi perah. Demikian juga cuacanya yang dingin sangat digemari oleh orang Belanda karena mengingatkan mereka pada tanah airnya di Eropa. Oleh karena besarnya peternakan tersebut bekas wilayah peternakan tersebut disebut dengan Bantengan atau peternakan sapi.

Setelah pendudukan Jepang dan Revolusi Indonesia 1945-1949 nampaknya peternakan Belanda di Ranu Pani sudah terbengkalai. Oleh karena itu warga Tengger terutama dari Desa Argosari pada sekitar tahun 1952-an dipimpin Suwandi atau Pak Subo mulai menempati wilayah di Ranu Pani. Ada sekitar 17 Kepala Keluarga yang  bermukim  dengan membangun rumah seadanya yang terdiri dari dinding kayu maupun atap alang-alang.

Berkaitan dengan wisata pendakian gunung Semeru yang mulai ramai pada tahun 1970-an, apalagi dengan meninggalnya seorang mantan aktivis mahasiswa bernama Soe Hok Gie telah membuat wisata gunung semakin digemari. Banyaknya para pendaki semakin menjadikan Dusun Ranu Pani sebagai daerah yang penting bagi wisata dan pendakian gunung Semeru. Cerita tentang keindahan dan romantisme Ranu Pani ini semakin dikenal dengan sentuhan lagu dari Almarhum Soedjarwoto Soemarsono alias Gombloh dengan judul Ranu Pani.

Pada saat menjelang tahun 2000-an ketika banyak desa dikembangkan, dusun Ranu Pani yang saat itu masuk desa Argosari mengalami pemekaran dan berdiri sendiri terpisah dengan Desa Argosari. Pemekaran ini dikarenakan juga letak desa Ranu Pani yang sekitar 40 kilo meter dari pusat desa Argosari dengan jalan tanah dan batuan sehingga menyusahkan dalam proses administrasi. Oleh karena itu pada saat kepemimpinan desa Argosari di tangan Markatun yang pertama (1998-2008) maka pada tahun 2001, dusun Ranu Pani resmi menjadi sebuah desa. Menurut Sukodono seorang pegiat adat Tengger menceritakan urut-urutan  Pejabat kepala desa yang pertama adalah Sulkan (2001-2006), dilanjutkan dengan Kepala Desa Thomas hadi (2006-2011), setelah itu diganti oleh Pejabat Kepala Desa Suroto (2011-2014), yang kemudian digantikan oleh Satumat (2014-2019) dan sekarang ini dijabat oleh Untung Raharjo. Lebih jauh Sukodono menceritakan, meskipun masih kuat adat dan tradisi Tenggernya, penduduk Ranu Pani sendiri lebih beragam agama yang dipeluknya mulai dari islam, Kristen dan Hindu. Namun dalam masalah pelaksanaan adat, nampaknya warga Tengger Ranu Pani masih kokoh berpegang teguh pada tradisi nenek moyangnya. Beberapa waktu lalu sempat ada konflik dikarenakan ada seorang pimpinan yang nampaknya enggan melaksanakan ketentuan adat dan menimbulkan gejolak maupun protes warga sehingga adat tradisi Tengger tetap dijalankan dengan baik sekarang ini.

  • Reporter : Ezzy
  • Editor : Oren/Yoshi

1 thought on “Sejarah Desa Wisata Argosari dan Ranu Pani: Benteng Terakhir Tengger Di Lereng Mahameru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.