Masyarakat Tengger: Latar Belakang Daerah Taman Nasional Bromo

Resensi Buku
Judul BukuMasyarakat Tengger: Latar Belakang Daerah Taman Nasional Bromo
PengarangSimanhadi Widyaprakosa
Halaman117
PenerbitKanisius
Tahun Terbit1994  

Oleh : Retno Dumilah

Pada tahun 1982 oleh pemerintah Republik Indonesia telah dikeluarkan SK Menteri Pertanian  No. 736/MENTAN/X/1982 yang menyatakan bahwa suaka alam Bromo – Tengger – Semeru   direncanakan menjadi suatu Taman Nasional. Hal ini berarti bahwa kawan Tengger akan menjadi daerah wisata. Sebagai daerah wisata nasional yang akan sering kedatangan dan berhubungan dengan para wisatawan dari seluruh Indonesia maupun wisatawan asing, budaya Tengger yang adiluhung dan mempunyai khazanah Kenusantaraan yang masih terjaga dengan baik akan mengalami pergaulan kebudayaan secara intensif dengan budaya yang lain. Supaya pengaruh kebudayaan luar tidak menyebabkan efek yang negatif dan juga Wong Tengger dapat me-manage kedatangan kebudayaan lain tanpa merusak budaya nya, maka berbagai usaha dilakukan oleh pemerintah termasuk melakukan berbagai penelitian di wilayah Tengger.

Simanhadi Widyaprakosa adalah seorang peneliti dibidang pendidikan melakukan penelitian terhadap budaya Tengger yang saat itu memang belum banyak digeluti peneliti dalam negeri. Satu-satunya acuan penelitian hanya dilakukan oleh peneliti asing Hefner suami istri pada tahun 1970-an. Dalam penelitian yang kemudian dijadikan buku ini, guru besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember mencatat beberapa hal yang berkaitan dengan sejarah dan budaya Tengger yang menjadi garis – garis besarnya.

Dalam catatan sejarah, Prasasti Walandit I tahun 1929 telah menjadikan dasar dan pijakan tentang adanya Wong Tengger yang telah mendiami kawasan pegunungan Bromo. Dalam hal kebudayaan penelitian ini mencatat berbagai macam ritual budaya yang diwujudkan dalam upacara-upacara keagamaan khas Tengger yang bersifat Hindu Tengger seperti upacara Kasada yang merupakan upacara pengorbanan hasil bumi Tengger di kawah Bromo, upacara Karo adalah upacara untuk kembali kepada kesucian, upacara Unan-Unan yang merupakan upacara 5 tahunan dalam perayaan Karo, upacara Entas-Entas atau peringatan 1000 hari kematian, upacara Mubeng untuk mohon keselamatan dusun dan upacara Praswala Gara atau perkawinan. Disamping itu, buku ini juga banyak menjelaskan peranan Dukun Tengger yang sangat sentral dalam keseharian masyarakat maupun upacara-upacara yang sangat sentral tersebut. Buku ini juga mencatat berbagai kesenian yang ada di kawasan Tengger seperti tari ujung maupun sodoran yang biasanya dilaksanakan pada rangkaian perayaan Karo. Terakhir buku ini juga menjelaskan tentang tata rumah karena geografisnya ada di pegunungan yang terjal dan curam.

Buku ini ditulis oleh seorang guru besar yang sangat berpengalaman dalam penelitian dan tentu saja memenuhi kaidah-kaidah akademis yang ketat. Tujuan buku ini adalah sebagai suatu pedoman bagi para peminat kebudayaan pemula, mahasiswa, peneliti maupun pemerintah sehingga dapat dengan cepat menentukan kebijakan yang berkaitan dengan masyarakat yang ada di kawasan Tengger. Uraian dan penjelasan yang singkat namun padat dapat membuat pembaca mengetahui dengan bagaimana situasi kebudayaan yang menjadi pedoman Wong Tengger. Demikian juga gaya bahasa yang ringan dapat memudahkan setiap pembaca untuk mempelajari dan memahami budaya Tengger dengan cepat. Buku karya Simanhadi Widyaprakosa yang ditulis 35 tahun yang lalu ini sehingga telah menjadi karya klasik dibanding buku-buku tentang budaya Tengger yang lebih baru. Disamping itu, karena sifatnya sebagai karya pengantar tentu saja buku ini tidak menjelaskan secara lebih dalam bagaimana perkembangan sosial dan gerak kebudayaan seperti karya peneliti-peneliti yang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.