Lembu Miruda Atau Panembahan Bromo, Pendiri Blambangan dan Ibu Kota Tepasana Yang Terlupakan

Sejarah

Blambangan adalah sebuah kerajaan yang luar biasa dinamis namun begitu survive dalam catatan sejarah Indonesia. Diperkirakan berdiri sejak tahun runtuhnya kerajaan Majapahit sirna ilange kertaning Bhumi yang diartikan dengan 1400 Saka atau 1478 Masehi dan kemudian timbul tenggelam sampai di taklukkan oleh Sultan Agung dari kerajaan Mataram pada sekitar tahun 1639 namun bangkit lagi pada sekitar tahun 1646 pasca raja besar Mataram tersebut wafat.

Oleh : Mansur Hidayat

Pangeran Mas Kembar yang pernah menjadi tahanan  Sultan Agung dan kemudian dipercaya kembali menjadi Adipati Blambangan bawahan kerajaan Mataram kemudian mendeklarasikan kerajaan Blambangan dan mengangkat dirinya menjadi Prabu Tawangalun II. Kedaulatan kerajaan Blambangan ini kemudian terus berlanjut sampai terjadi Puputan Bayu atau perang habis-habisan antara Wong Blambangan  melawan pasukan VOC Kumpeni yang di bantu kerajaan Mataram pada tahun 1771.

Wacana tentang kerajaan Blambangan sampai sekarang ini hanya memunculkan Kabupaten Banyuwangi sebagai pewaris tunggal dan pewaris sahnya. Hal ini wajar dan di maklumi karena ada keterputusan budaya dan keterputusan sejarah Blambangan yang dilakukan saat usaha penaklukan kerajaan ini oleh kerajaan Mataram maupun oleh VOC Kumpeni. Menurut Samsubur, penulis sejarah kerajaan Blambangan, berdirinya kerajaan besar dan merupakan benteng kedaulatan kerajaan Hindu terakhir di Jawa ini tidak lepas dari berbagai wilayah yang turut membesarkannya mulai dari Lumajang, Jember sampai di Situbondo. Bahkan lebih jauh pria yang berprofesi menjadi guru tersebut mengatakan bahwa menurut Babad Sembar yang di tulis oleh Patih Kertajaya dari Probolinggo pada akhir abad ke-18, sang pendiri kerajaan Blambangan adalah Lembu Miruda yang beribukota di Tepasana, Lumajang yang masuk wilayah pegunungan Tengger.

Menurut Babad Sembar yang merupakan salah satu rujukan dari sejarah Blambangan, ketika saat keruntuhan Majapahit pada tahun Candrasengkala yaitu Sirna Ilang Kertaning Bhumi yang berarti tahun 1400 Saka atau 1478 Masehi nampaknya situasi istana dan pasukannya sangat kacau. Lebih lanjut menurut Samsubur, Prabu Kertabhumi yang sedang berkuasa dan berperang dengan keponakannya yaitu Girindra Wardhana Dyah Ranawijaya gugur di kraton dalam mempertahankan ibu kota. Sejak saat itu ibu kota Majapahit kemudian dipindahkan dari Trowulan ke Bhumi Daha di wilayah Kediri. Tentang runtuhnya kerajaan Majapahit sendiri memang banyak pendapat dan studi yang menyatakan berbeda-beda. Kalau menurut babad- babad tradisional seperti Babad Tanah Jawi diberitakan bahwa tentara Demak Bintoro memasuki gerbang menyerang Majapahit maka Prabu Brawijaya naik ke panggung dan ketika melihat anaknya sendiri yaitu Raden Patah yang memimpin pasukan besar tersebut, maka ia kemudian melarikan diri keluar kota dan hendak menyeberang ke pulau Bali. Namun sampai di Blambangan dapat disusul oleh Sunan Kalijogo untuk kemudian di Islamkan. Menurut Babad Sengkala kisah jatuhnya kerajaan Majapahit menyebabkan Prabu Brawijaya menyingkir keluar kota yaitu di kerajaan Sengguruh atau Supiturang yang kemudian dilanjutkan pelarian tersebut menuju Panarukan. Dalam Babad Sembar diceritakan bahwa runtuhnya kerajaan Majapahit menyebabkan kekacauan keluarga kerajaan sehingga salah satu putranya yaitu Lembu Miruda menyingkir ke arah timur dan menjadi pertapa di pegunungan Tengger. Cerita tentang penyingkiran Lembu Miruda ini nampaknya sejalan dengan cerita runtuhnya kerajaan Majapahit versi cerita rakyat Tengger tentang asal muasal Tengger yaitu dongeng Ki Jaka Seger dan Nyi Rara Anteng.

Secara etimologis Lembu Miruda yang merupakan salah satu putra Prabu Brawijaya mempunyai nama dan jabatan kehormatan yaitu Lembu. Jabatan Lembu sendiri pada saat kerajaan Singosari maupun Majapahit merupakan sebuah jabatan yang sangat penting setingkat panglima perang suatu pasukan. Dalam Babad Pararaton banyak pejabat yang  dengan nama Lembu, Kebo atau  Mahesa yang memegang posisi penting saat itu, contoh salah satu orang kepercayaan Akuwu Tumapel Tunggul Ametung adalah Kebo Ijo yang kemudian menjadi korban kedua pembunuhan keris Mpu Gandring. Demikian juga ada nama Kebo atau Mahesa Rubuh dan Kebo Mundarang atau Mahesa Mundarang sebagai panglima perang Gelang-Gelang Daha maupun Patih di Gelang-Gelang Daha yang saat itu mampu merebut kraton Tumapel atau Singosari. Demikian juga ada salah seorang panglima perang yang terkenal dari Singosari yang memimpin ekspedisi ke Melayu atau Pamalayu yaitu Kebo atau Mahesa Anabrang. Terkait dengan putra seorang raja biasanya diberi jabatan panglima perang kehormatan karena kebangsawanannya seperti putra raja dari istri-istri yang tidak diakui, biasanya disebut Lembu Peteng. Jadi kalau dilihat dari etimologis, nama Lembu Miruda itu sendiri merupakan jabatan panglima perang yang di dapatnya karena ia merupakan putra raja Majapahit.

Terkait dengan pelarian Lembu Miruda ke pegunungan Tengger, ini perlu dilihat dari penelusuran sejarah lebih lanjut sehingga kita dapat menilai sejauh mana peran strategis wilayah Tengger baik dari segi geografis maupun sosiologis sehingga sangat baik untuk digunakan sebagai pelarian bagi bekas penguasa Majapahit yang mempertahankan kedaulatan baik secara politik maupun keagamaan. Wilayah Tengger secara geografis merupakan suatu daerah yang bergunung-gunung dengan ketinggian 750-3676 diatas permukaan laut dengan lembah yang curam dan sangat sulit dijangkau karena terletak di antara pegunungan Mahameru dan Bromo yang dewasa ini meliputi 4 Kabupaten yaitu Malang, Pasuruan, Probolinggo dan Lumajang. Dewasa ini yang disebut kawasan dan wilayah Wong Tengger sudah jauh berkurang, sebagai contoh di Kabupaten Lumajang jika dibandingkan laporan Jasper dalam Tengger en de Tenggereezen Kabupaten Lumajang sendiri yang pada tahun 1926 mempunyai 12 Dukun Desa yaitu Kandang Tepus, Burno, Kandangan, Wonoayu, Bedayu, Bedayu Talang, Pandansari, Gucialit, Pakel, Kenongo, Dadapan dan Kertowono diluar Desa Argosari yang saat itu masuk wilayah Probolinggo. Namun dewasa ini hanya  4 desa yang mempunyai Dukun Desa dan berani menyatakan sebagai keturunan Tengger yaitu Argosari, Ranu Pani, Kandangan dan Wonocepokoayu. Disamping itu hawa dingin Tengger yang sangat menusuk tulang dengan suhu antara 5-15 derajat  Celsius merupakan suatu pertahanan yang baik dalam menghadapi musuh yang rata-rata dari pesisir saat itu.

Disamping faktor geografis, faktor kultural dan sejarah telah membuat para raja dan pengungsi dari Majapahit bisa diterima dengan baik oleh masyarakat Tengger saat itu. Kalau kita melirik sejarah, tentu Wong Tengger yang merupakan keturunan Hyang Hulun sudah disebutkan dalam Prasasti Walandit pada tahun 929 Masehi atau sejaman dengan pemerintahan kerajaan Medang jaman Mpu Sindok. Prasasti kedua adalah prasasti batu yang cukup besar, terletak di pinggir Ranu Kumbolo menyebutkan Ling Dewa Mpu Kameswara Tirta Yatra menyatakan bahwa Dewa Mpu Kameswara melakukan perjalanan suci ke Ranu Kumbolo dengan angka tahun sekitar 1182 Masehi. Sedangkan prasasti ketiga yang ditemukan di daerah Pananjakan yang menyebutkan bahwa Wong Tengger adalah keturunan Hila Hila dan karenanya dibebaskan dari pajak Tetileman pada tahun 1405 Masehi atau sejaman dengan pemerintahan raja Wikramawardhana dari Kedaton Kulon dan Bhre Wirabhumi dari Kedaton Wetan yang keduanya adalah pewaris tahta Majapahit. Kita tidak mendapatkan informasi yang pasti kepada siapa pihak Tengger berpihak dalam perang Paregreg antara Kedaton Kulon dan Kedaton Wetan tersebut, namun nampaknya kesetiaan Wong Tengger terhadap para penguasa Majapahit tidak perlu ditanyakan lagi. Mungkin hal ini dikarenakan status sosial Wong Tengger sebagai keturunan Brahmana merupakan suatu posisi terhormat secara keagamaan dan politis sehingga ketika agama Hindu Syiwa terancam oleh agama Islam maka dengan sendirinya Wong Tengger juga ikut melindungi dan mempertahankan agama yang telah dianut dari kakek moyangnya tersebut. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika babad atau dongeng rakyat menyatakan pelarian Prabu Brawijaya maupun pengikutnya ke wilayah Tengger.

Nah, terkait tokoh Lembu Miruda sebagai seorang bangsawan Majapahit maupun pejabat yang memimpin pasukan dengan gelar Lembu sangat tepat memilih wilayah Tengger berdasarkan pertimbangan Geografis dan kultural seperti yang telah diuraikan diatas. Berkaitan dengan catatan sejarah, sejak jaman pemerintahan Prabu Dharmawangsa Teguh dari kerajaan Medang posisi pra Brahmana mendapat tempat yang cukup penting dalam pemerintahan. Hal ini dibuktikan ketika terjadi Maha Pralaya pada tahun 1019 Masehi ketika terjadi perkawinan antara Pangeran Airlangga dengan putri Dharmawangsa Teguh yang menyebabkan raja Medang tersebut gugur di istana karena serangan raja Wura Wari. Sang Pangeran kemudian melarikan diri ke pegunungan di wilayah Lamongan dan mendapatkan dukungan dari para Brahmana. Setelah dirasa kuat, maka Pangeran Airlangga dapat menyerang balik para penyerangnya. Demikian pula ketika terjadi pertentangan antara raja Kertajaya dari Kediri dengan para Brahmana Syiwa yang kemudian menyingkir dan mendukung Ken Arok yang saat itu menjadi Akuwu Tumapel. Karena dukungan besar para Brahmana yang sangat dihormati masyarakat, maka Ken Arok bisa merebut tahta Kediri. Catatan sejarah ini kemudian diulangi para bangsawan Majapahit yang salah satunya tercatat dalam Babad Sembar sebagai Lembu Miruda yang kemudian berhasil mendirikan cikal bakal kerajaan Blambangan.

Setelah kita memahami latar belakang dan alasan Lembu Miruda melarikan diri ke pegunungan Tengger dan berusaha menarik dukungan para Brahmana yang sangat dipercaya masyarakat maka ia mulai mengembangkan cikal bakal pemerintahan baru dengan berusaha mewarisi kerajaan pendahulunya yaitu Majapahit. Babad Sembar menyatakan bahwa kerajaan itu bernama Blambangan yang beribu kota di Tepasana, Lumajang. Nah sekarang yang ingin kita uraikan dimanakah letak Tepasana, Lumajang tersebut?.

Nama Tepasana sendiri sebenarnya sudah ditulis dalam perjalanan Prabu Hayam Wuruk bersama Maha Patih Gajah Mada ke negara Lamajang pada tahun 1359 Masehi yang kemudian dilaporkan dalam kumpulan lontar yang disebut Babad Deca Warnana karangan Mpu Prapanca yang selesai ditulis pada tahun 1365 Masehi. Lebih jauh tentang nama Tepasana kita bisa mengambil petikan dari Babad Deca Warnana pupuh 21 ayat 2 sebagai berikut:

“jurang babo runting mwangi pasawahan teki kahenu,

Muwah prapteng jaladhipatalapika mwang ri Padhali,

Ringarnon lawan Panggulan Payaman len Tepasana,

Teking rembung prapte kamirahan pinggirninggudadi”

Yang artinya:

“Menuruni jurang serta melintasi persawahan,

Maka tiba di Jaladipa, Talapika, serta Padali,

Di Arnon, Panggulan, Payaman lain lagi Tepasana,

Menuju ke Rembang sampai Kamirahan letaknya dipinggir pantai”.

Dari keterangan yang ada di Babad Deca Warnana tersebut nama Tepasana sudah menjadi suatu kota penting yang dikunjungi oleh Prabu Hayam Wuruk dan Maha Patih Gajah Mada dalam kunjungannya keliling nagara Lamajang pada tahun 1359 Masehi. Demikian juga menurut Babad Sembar, nama Tepasana  juga menjadi nama ibu kota Blambangan pertama yang didirikan oleh Lembu Miruda seorang keturunan dan pembesar kerajaan Majapahit pada sekitar tahun 1500-an Masehi.

Nah, Mari kita mencoba merunut keterangan yang kita dapatkan dari Babad Deca Warnana  seperti yang telah diuraikan diatas seperti yang pernah diuraikan oleh Hadi Sidomulyo dalam bukunya yang berjudul Napak Tilas Perjalanan Mpu Prapanca. Dalam analisa dan studi lapangannya penulis asal Inggris ini menyatakan bahwa Pawijunganyang berarti babi hutan bisa dihubungkan dengan lembah di selatan desa Bantaran yang terkenal sebagai tempat berburu babi hutan. Demikian juga Babo Runting dan Pesawahan yang diidentifikasikan sebagai Desa Leces sebelum memasuki Ranuyoso. Lebih jauh analisa tentang Padhali dapat diidentifikasikan terhadap Ranu Bedhali  yang merupakan nama sebuah danau terkenal yang ada di utara Lumajang sekarang ini.  Dari Padhali rombongan Prabu Hayam Wuruk kemudian bergerak menuju Arnon yang merupakan ibu kota Lamajang yang dapat diidentifikasi sebagai Desa Kutorenon yang sekarang ini masih kita dapatkan peninggalan arkeologi yang disebut Kawasan Situs Biting berupa pondasi tembok benteng sejauh 10 kilo meter dengan menara pengawas dan taman sari.  Di Arnon nampaknya Prabu Hayam Wuruk dan rombongan kemudian bergerak ke arah barat menuju Panggulan yang dapat diidentifikasi sebagai Desa Tanggung dan kemudian bergerak kearah selatan menuju Payaman yang diidentifikasi sebagai Desa Bayeman sekarang ini. Setelah itu Prabu Hayam Wuruk bergerak lagi ke barat menuju Tepasana. Dari analisa tempat maka Tepasana seharusnya terletak di sebelah barat Desa Tanggung dan sebuah tempat bernama Bayeman yang termasuk Kelurahan Citrodiwangsan sekarang ini.

Menurut Babad Sembar perlu diketahui bahwa Lembu Miruda kemudian mendirikan cikal bakal kerajaan Blambangan di pegunungan Tengger dengan pusatnya yaitu Tepasana. Oleh karena itu Lembu Miruda kemudian dikenal sebagai Panembahan Bromo. Kawasan pegunungan Tengger Lumajang sendiri pada tahun 1926 menurut laporan Jasper masih didentifikasi meliputi 2 Kecamatan yaitu Senduro dan Gucialit yang ada di sekitar gunung Semeru dan gunung Bromo. Oleh karena itu, pada abad-16 tentu saja area kawasan Tengger masih sangat luas yang diperkiarakan meliputi seluruh area pegunungan Semeru ditambah 3 Kecamatan yaitu Pasru Jambe, Candipuro maupun Pronojiwo. Untuk toponim Tepasana sendiri dapat identifikasi sebagai Desa Purwosono yang terletak disebelah barat Bayeman. Menurut cerita rakyat, sumber air alami Selo Kambang adalah peninggalan raja-raja Lamajang dan pada tahun 1980-an disekitar nya sekelompok siswa Pramuka sempat menemukan artefak kuno dari emas. Sementara itu dari jejak peninggalan arkeologis yang ada ternyata di Desa Pagoan banyak ditemukan artefak-artefak kuno berupa Paidon (tempat meludah) dari perunggu, mata panah, mata tombak yang disimpan di tempat penyimpanan benda purbakala di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lumajang pada tahun 1990-an. Benda-benda ini kemudian raib entah kemana namun foto-fotonya masih tersimpan di kantor Balai Arkeologi Yogyakarta. Melihat toponim dan jejak peninggalan arkeologisnya maka letak Tepasana seharusnya dapat dicari lebih jauh di sekitar Desa Purwosono Kecamatan Sumbersuko dan Desa Pagoan Kecamatan Pasru Jambe yang ada di Kabupaten Lumajang.

  • Editor : Oren

2 thoughts on “Lembu Miruda Atau Panembahan Bromo, Pendiri Blambangan dan Ibu Kota Tepasana Yang Terlupakan

  1. Pernah ada pertanyaan salah satu netizen di salah satu chanel di youtube , diya menanyakan knp pada jaman kerajaan orang”nya banyak yg memakai nama hewan …
    Dn skrng terjwbkan di sini ….
    Trimakasih Mas Mansur atas jwbn yg pernah dipertanyakan oleh seorang netizen …
    Salam …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.