Kudeta Berdarah Singosari 1292 Masehi, Benarkah Adipati Jayakatwang Sebagai Pelakunya?

Sejarah

Berbicara kudeta berdarah di Singosari yang menjadikan Prabu Kertanegara, seorang raja Singosari dengan cita-cita tinggi dan prestasi yang moncer. Cita-citanya akan persatuan diwujudkan secara intern di kerajaan Singosari dengan penyatuan antara 2 agama besar yang dianut oleh masyarakat saat itu yaitu agama Syiwa dan Buddhaa.

Oleh : Mansur Hidayat

Persatuan ini merupakan prestasi tersendiri karena sejak itu masyarakat Singosari menjadi lebih harmonis dan cenderung untuk lebih menghormati sehingga kedua agama tersebut bisa seiring dan sejalan. Oleh karena itu tidak mengherankan jika Prabu Kertanegara sangat dihormati oleh kedua agama tersebut sehingga ketika beliau meninggal dunia pada tahun 1214 Saka atau 1292 Masehi, maka beliau di beritakan Kembali ke-alam Syiwa Buddha seperti yang tertera dalam Babad Deca Warnana yang ditulis Mpu Prapanca pada pupuh 43 ayat 5 sebagai berikut,

“Ring Sakaabdhi janaryyma nrpati mantuk ring jinendralaya,

Sangkewruhnira ring kriyantaralawansar-/-wwo padesa dhika,

Sang mokteng Syiwa Buddha loka kalahan Sri Natha ling ning sarat,

Ringke sthana niran dhinarmma Syiwa Buddharcca halepnyottama.

Yang artinya:

Tahun Saka Abdhi janaryyama – 1214 (1292 Masehi) Baginda wafat Kembali ke Jinaloka,

Berkat kemahiran Baginda tentang upacara serta segala doktrin yang luhur,

Mendiang Baginda raja dimakamkan di alam Syiwa Buddha,

Di dalam candinya diabadikan arca Syiwa Buddha indahnya luar biasa”.

Di samping prestasi Prabu Kertanegara secara politik dalam negeri yang berhasil menyatukan kedua agama besar di Singosari tersebut, prestasi dalam bidang politik internasional tidak bisa diragukan lagi. Keberaniannya dalam menolak utusan Kaisar Mongol Tar Tar yang sudah termasyhur di seantero dunia saat itu yang kemudian ditindak lanjuti dengan penggalangan kekuatan dwi pantara yaitu penyatuan 2 kekuatan besar antara Jawa dan Melayu (Sumatra) merupakan suatu lompatan bagi para tokoh politik sejamannya. Perlu diketahui bahwa Jawa dan Sumatra semenjak jaman Dinasti Syailendra di masa Balaputra Dewa yang kemudian pindah ke Sumatra dan menjadi raja-raja Sriwijaya pada sekitar abad ke-9 tidak pernah akur kembali dengan Jawa. Kekuatan Sriwijaya di Sumatra malah dapat dikatakan ancaman bagi Jawa dan berpuncak ketika terjadi Mahapralaya pada tahun 1016 Masehi dimana pada pernikahan putri raja Dharmawangsa Teguh dari kerajaan Medang dengan Pangeran Airlangga dari Dinasti Warmadewa  Bali terjadi serangan mematikan oleh raja Wura Wari yang di duga adalah raja bawahan Sriwijaya. Ide besar penyatuan Dwi pantara tersebut dilaksanakan dengan mengirim pasukan besar untuk mengunjungi negara-negara sahabat di Melayu yang kemudian di kenal dengan nama ekspedisi Pamalayu atau perang ke Melayu pada tahun 1275 Masehi. Ekspedisi yang di pimpin oleh salah seorang pejabat tinggi Singosari yaitu Rakyat Mahamantri Dyah Adwayabrahma yang kemudian berhasil menjalin persahabatan dengan raja Melayu Dharmasraya yaitu Sri Maharaja Srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa.

Namun semua cita-cita dan prestasi Prabu Kertanegara ini luluh lantah seketika diterjang pemberontakan berdarah yang melibatkan orang-orang disekitarnya. Seperti umum diketahui bahwa catatan tentang peristiwa kelam ini ditulis oleh Babad Pararaton dan Prasasti Kudadu yang ditulis pada tahun 1294 Masehi ketika salah satu aktor sejarah peristiwa tersebut yaitu Nararya Sanggrama wijaya yang telah menjadi raja baru di Majapahit. Dalam Pararaton diceritakan catatan tersebut diberitakan bahwa runtuhnya Singosari dikarenakan serangan tantara Daha yang dipimpin Adipati Jayakatwang, saudara ipar dan besan Prabu Kertanegara sendiri. Demikian juga Prasasti Kudadu menceritakan tentang pelarian Nararya Sanggramawijaya ketika dikejar oleh pasukan Kediri. Dalam berbagai babad maupun prasasti yang ada, jelas diceritakan bagaimana seorang tokoh yang jahat dan pengkhianat bernama Jayakatwang atau Jayakatong telah melakukan pengkhianatan dibantu oleh Adipati Arya Wiraraja dari Sumenep. Tokoh yang bersih dan setia yang ditulis adalah Nararya Sanggramawijaya yang kemudian mempunyai legalitas untuk menjadi raja dari dinasti yang baru sebagai penerus Wangsa Rajasa.

Dalam tulisan singkat ini saya ingin menggugah kesadaran dan pemahaman para pembaca bahwa tidak ada suatu peristiwa yang mutlak kebenarannya kalau dilihat dari satu sudut pandang. Peristiwa sejarah secara keumuman ditulis oleh para pemenang dan apapun akan dilakukan sang pemenang untuk menutup celah informasi yang kurang menguntungkannya. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika suatu peristiwa biasanya cenderung kaku dan dogmatis sehingga tidak boleh di bongkar untuk sedikit melihat dari sudut pandang yang berbeda. Sejarah seperti ini dapat kita temui juga dalam masa Indonesia modern yaitu tentang peristiwa politik kelam 30 September 1965 yang cenderung dilakukan 1 arah sehingga pelaku yang paling  bertanggung jawab dalam peristiwa tersebut adalah Partai Komunis Indonesia (PKI). Namun sejarah seperti ini sedikit demi sedikit sudah diperbaiki sehingga banyak informasi-informasi baru terkait peristiwa tersebut yang berbeda dari pemaparan sebelumnya. Dalam hal ini, kudeta berdarah 1292 Masehi di Singosari jarang dipertanyakan oleh kaum sejarawan sendiri.

Untuk memahami kudeta berdarah tahun 1292 Masehi di Singosari, kita akan memandang tidak hanya dari sudut teks sejarah semata namun kita akan mencoba mengurai peristiwa tersebut secara antropologi dan sosio-politik sehingga nantinya diharapkan mampu mengurai berbagai benang kusut yang selama ini menjadi dogma tanpa di pertanyakan lagi. Kita akan coba uraikan tokoh-tokoh yang dapat di duga terlibat dalam kudeta berdarah ini satu persatu:

1. Prabu Kertanegara

Raja terakhir Singosari ini dapat dikatakan sebagai seorang raja yang mempunyai cita-cita tinggi dan mencoba menerapkan dalam masa pemerintahannya. Cita-cita persatuannya yang luar biasa mulai dari penyatuan 2 agama besar yaitu Syiwa dan Buddha menyebabkan dia dicintai oleh pemeluk kedua agama tersebut, meski ada beberapa pemeluk Syiwa yang kurang sepakat sehingga dalam Pararaton yang lebih bersifat Syiwais, Prabu Kertanegara dianggap mempunyai kepercayaan aneh dengan ritual Ma Lima nya yang tentu saja berbeda dengan Deca Warnana yang lebih bersifat Buddhis yang menggambarkan tanpa cela. Disamping penyatuan 2 aliran agama, penerapan cita-cita dwi pantara atau penyatuan antara Jawa dan Sumatra berlangsung dengan gemilang.

Pelaksanaan dua cita-cita besar ini selayaknya di tunjang oleh birokrasi yang mendukung sehingga Prabu Kertanegara kemudian banyak mengganti pejabat-pejabat yang mempunyai cara pikir agak berbeda. Dalam hal pergantian birokrasi ini nampaknya Prabu Kertanegara juga merugikan kepentingan Wangsa Rajasa yang sudah kokoh dalam pemerintahan raja sebelumnya. Karena menyangkut kepentingan wangsa, tentu saja emosional kelompok menjadi dasar utama dan mau tidak mau kekuatan sang Prabu kemudian mendasarkan pada kekuatan wangsanya sendiri yaitu Wangsa Sinelir. Sejak itu, 2 wangsa besar pemegang tahta di Singosari ini bertarung mati-matian.

2. Adipati Jayakatwang

Dalam Pararaton di sebutkan bahwa Adipati Jayakatwang dari Kediri adalah seorang pengkhianat yang tidak membalas budi baik Prabu Kertanegara meski dia sudah diberikan tempat yang layak yang salah satunya adalah besan sang Prabu sendiri. Namun keterangan dalam Babad Deca Warnana hanya menyebutkan sekilas saja kematian Prabu Kertanegara tanpa banyak menyebutkan kudeta berdarah tahun 1292 tersebut. Dari berbagai catatan yang sampai pada kita telah umum diketahui bahwa Adipati Jayakatwang masih menaruh balas dendam terhadap kekalahan moyangnya yaitu raja Dandhang Gendis atau Prabu Kertajaya oleh pendiri kerajaan Singosari yaitu Ken Arok. Oleh karena itu, Adipati Jayakatwang digambarkan sebagai seorang yang masih menaruh dendam kesumat terhadap sang Prabu Kertanegara meskipun saat itu posisinya sudah sangat kuat karena disamping bersepupu juga saudara ipar sang Prabu Kertanegara dimana adiknya yaitu Nararya Turuk Bali adalah istrinya.

Dalam Babad Deca Warnana, pada tahun 1271 Masehi Prabu Kertanegara menganugerahkan jabatan sebagai Adipati Kediri yang merupakan salah satu negara utama di kerajaan Singosari. Perlu diketahui bahwa pengangkatan seseorang menjadi raja Kediri pada saat itu adalah prestasi tersendiri karena bisa dianggap sebagai pengganti Raja. Hal ini dapat dirunut dalam masa Wisnu Wardhana dimana jabatan Ratu Angabhaya atau Wakil Raja yang dijabat oleh Narasinghamurti berkedudukan di Kediri. Demikian juga Prabu Kertanegara yang sebelum menjadi Raja mesti menjadi Pangeran Mahkota di Kediri atau Daha dengan nama Nararya Murdhaya. Oleh karena itu, pengangkatan Jayakatwang menjadi Adipati di Kediri tentunya merupakan simbol bahwa tak lama lagi tongkat kepemimpinan bakal diserahkan kepada Jayakatwang yang bisa jadi saat itu mewakili Ardharaja yang kemungkinan merupakan calon menantu Prabu Kertanegara yang utama.

Posisi politis Jayakatwang yang sangat kuat ini tidak pernah dianalisa dan di perhitungkan sebagai dasar pertimbangan dalam menganalisa langkah-langkah politiknya, semua hanya di dasarkan pada catatan babad semata. Dalam kudeta berdarah tahun 1292 Masehi ini, Jayakatwang digambarkan sebagai seorang pengkhianat yang tercela dan tidak membalas budi kebaikan pada Prabu Kertanegara yang kenyataannya adalah sepupu, saudara ipar dan bahkan besannya sendiri.

3. Banyak Wide atau Arya Wiraraja

Banyak Wide atau Arya Wiraraja adalah seorang tokoh intelektual Singosari yang sangat mumpuni. Sepak terjang ke-intelektualannya dimulai pada umur yang sangat muda. Dalam Babad Manik Angkeran, Banyak Wide yang datang ke Jawa dalam rangka mencari kakeknya yaitu Ida Dang Hyang Siddi mantra atau Mpu Bekung bertemu dan diangkat anak oleh Mpu Sedah. Ketika berada di rumah Mpu Sedah inilah Banyak Wide kemudian berkenalan dan jatuh cinta dengan I Gusti Ayu Pinatih yang merupakan putri Arya Buleteng yang merupakan Patih Kediri. Kedekatannya dengan para pembesar Kediri memungkinkan Banyak Wide berkenalan dan belajar dari Raja Kediri yaitu Ratu Angabhaya Narasinghamurti. Dari Kediri inilah, karir Banyak Wide kemudian melesat dan pada masa pemerintahan Prabu Kertanegara menjadi Babatangan atau penasehat raja dengan pangkat Demung. Ke-intelektualan Banyak Wide ini sudah menjadi buah bibir di kalangan para pejabat Singosari termasuk kedekatannya dengan Wangsa Rajasa karena sejarah kedekatannya dengan para pembesar Kediri yang dipimpin oleh Narasinghamurti.

Pada masa pemerintahan Prabu Kertanegara dimana ada perombakan tata birokrasi dalam mendukung politik persatuan 2 agama besar, terutama politik Dwi pantara terkait hubungan Singosari dengan kerajaan Melayu Dharmasraya di pulau Sumatra Babatangan Banyak Wide menunjukkan ketidak-setujuannya. Hal ini kemudian menjadi alasan Prabu Kertanegara untuk melakukan mutasi besar-besaran termasuk posisi Banyak Wide yang kemudian dipindahkan jauh menjadi Adipati Sumenep di Madura dengan gelar Abhiseka Arya Wiraraja. Babad Pararaton kemudian mencatat bahwa Arya Wiraraja sangat menaruh dendam karena kepindahannya tersebut dan kemudian terus berhubungan dengan Adipati Jayakatwang untuk bisa menyerang istana Singosari pada saat negara tidak terkawal dan hanya dijaga oleh macan tua yang sudah ompong. Atas saran Arya Wiraraja inilah kemudian Adipati Jayakatwang dapat memenangkan pertempuran melawan Singosari dan menyebabkan Prabu Kertanegara dan para pembesar Singosari gugur di istana pada tahun 1292 Masehi.

Sepak terjang Arya Wiraraja ternyata tidak berhenti disitu semata, ia kemudian menerima kedatangan buronan politik musuh Jayakatwang yaitu Nararya Sanggrama Wijaya di istana Sumenep. Kesuksesannya menasehati Adipati Jayakatwang kemudian menjadi kontra dengan bantuannya terhadap musuh utama Jayakatwang tersebut. Dalam pelariannya ke Sumenep, Nararya Sanggrama wijaya di sambut dengan baik layaknya tamu negara, kemudian dimintakan pengampunan ke Jayakatwang, nasehat-nasehat politik yang berharga, bantuan keuangan dan bantuan pasukan ketika membabat hutan Terik dan dalam menggempur Jayakatwang. Hal ini kemudian berbuah kesuksesan dengan memanfaatkan pasukan Mongol Tar Tar yang sedang menyerang tanah Jawa untuk menghukum Prabu Kertanegara. Arya Wiraraja sukses menjadi penasehat utama Nararya Sanggrama Wijaya dalam menjungkalkan Jayakatwang, kawan politiknya yang sebelumnya sukses dibantu untuk menapaki tampuk kekuasaan menggantikan Prabu Kertanegara. Tentu saja hal ini sangat berbanding terbalik dengan sikap politik Arya Wiraraja ketika membantu Adipati Jayakatwang merebut kekuasaan dari Prabu Kertanegara dan kemudian menjungkalkan Jayakatwang untuk menjadi korban Langkah politiknya.

4. Nararya Ardharaja

Nararya Ardharaja adalah putra Adipati Jayakatwang dari Kediri dan Nararya Turuk Bali yang merupakan Adipati Glang Glang. Perlu diketahui bahwa Nararya Turuk Bali adalah adik perempuan Prabu Kertanegara sehingga Nararya Ardharaja dapat dikatakan sebagai keponakan raja secara langsung. Dalam masa dewasanya Nararya Ardharaja kemudian diangkat menjadi menantu dari Prabu Kertanegara, namun tidak diberitakan apakah istrinya adalah putri tertua atau yang muda dari ke-4 putri Kertanegara yang diberitakan dalam Babad Deca Warnana. Namun jika kita melihat aspek kebiasaan raja-raja dalam mengangkat menantu utama yang biasanya jatuh kepada keponakan langsung, seperti Prabu Dharmawangsa Teguh yang menjadikan Pangeran Airlangga sebagai menantunya demikian juga raja-raja Panjalu dan Janggala dalam cerita Panji yang saling berbesanan menjadikan kerukunan keluarga merupakan tolak ukur utama. Oleh karena kebiasaan raja-raja Jawa tersebut, maka dimungkinkan bahwa Nararya Ardharaja merupakan menantu dan suami putri mahkota Singosari.

5. Nararya Sanggramawijaya

Nararya Sanggrama wijaya adalah salah seorang tokoh muda penerus Wangsa Rajasa yang saat keruntuhan Singosari menjadi salah satu menantu Prabu Kertanegara. Secara politik, posisi Wangsa Rajasa pada saat pemerintahan Prabu Kertanegara terpinggirkan dan tersingkir dari elit politik Singosari saat itu. Sejarah mencatat bahwa putra Narasinghamurti yang bernama Dyah Lembu Tal tidak mempunyai posisi penting dalam jabatan kenegaraan di jaman Prabu Kertanegara. Sebuah hadiah pelipur lara dilakukan oleh Prabu Kertanegara dengan mengangkat Nararya Sanggramawijaya sebagai menantu sang Prabu, namun melihat susunan ke keluargaannya yang berhubungan agak jauh dengan Prabu Kertanegara (Dalam hal ini Kakek Nararya Sanggramawijaya bersepupu dengan Kakek putri Kertanegara) sehingga dapat diduga bahwa istri Nararya Sanggramawijaya bukanlah putri mahkota Singosari.

Dalam catatan sejarah, Nararya Sanggramawijaya merupakan sosok yang penting ketika kerajaan Singosari runtuh dan ia mendirikan sebuah kerajaan baru dibantu oleh Adipati Arya Wiraraja dari Sumenep. Perannya dalam mendirikan suatu kerajaan baru di bekas hutan Terik akhirnya mampu membuat torehan emas karena kerajaan yang didirikannya adalah cikal bakal negara besar yang menyatukan Nusantara.

Logika Politik Kudeta Singosari

Berdasarkan latar belakang politik para aktor sejarah yang memainkan peran dalam akhir pemerintahan Prabu Jayanegara disertai dengan keadaan politik yang terjadi akibat penyingkiran Wangsa Rajasa yang merupakan suatu wangsa yang mempunyai legitimasi sangat kuat dalam pemerintahan Singosari dan pergantian para pejabat tinggi Singosari saat itu menyebabkan situasi politik menjadi tidak menentu. Wangsa Sinelir sebagai basis kekuatan Prabu Jayanegara yang mana dalam hal ini termasuk Jayakatwang beserta keluarga merasa mempunyai kekuatan yang tidak akan terkalahkan karena semua birokrasi pemerintahan di genggamnya. Di samping itu, lawan politiknya yaitu Wangsa Rajasa sebagai pihak underdog menunggu kesempatan pembalasan tiba sehingga dapat memanfaatkan situasi. Tokoh-tokoh yang termasuk dalam barisan Wangsa Rajasa adalah Nararya Sanggramawijaya sebagai pemimpin muda nya disertai seorang pendukung atau dapat dikatakan penasehatnya yaitu Adipati Sumenep Arya Wiraraja.

Situasi politik Singosari mulai memanas dimulai ketika ada penyatuan 2 agama besar yaitu ajaran Syiwa dan Buddha. Wangsa Rajasa yang merupakan wangsa pendukung Syiwais Nampak menunjukkan ketidaksukaannya akan hal ini. Hal ini dapat dirunut sejak jaman Ken Arok yang menurut babad Pararaton merupakan keturunan Betara Brahma dan kemudian bergelar Betara Guru atau Betara Syiwa. Dalam hal keyakinan atas ajaran Syiwa, Arya Wiraraja merupakan seorang pemeluk ajaran Syiwa yang sangat taat seperti yang diberitakan dalam Babad Manik Angkeran dimana ketika berada di Kediri, ia memilih keyakinan Syiwa. Terkait masalah mutasi birokrasi secara besar-besaran yang melibatkan jajaran tingkat tinggi seperti Maha Patih Mangkubumi Mpu Raganata, Demung Arya Wiraraja, Tumenggung Wirakerti dan Pendeta Syiwa Santasmerti membuat suasana politik Singosari bagai api dalam sekam.

Dalam masa akhir pemerintahan Prabu Kertanegara, Arya Wiraraja merupakan tokoh kunci yang mempunyai hubungan komunikasi dengan berbagai pihak baik Wangsa Sinelir lewat Jayakatwang dan tentu saja Wangsa Rajasa dimana ia menjadi pendukungnya. Sikap politiknya secara sekilas memang terkesan mendua, namun jika kita amati tokoh ini sebenarnya merupakan pendukung utama Wangsa Rajasa karena pertaruhannya sewaktu membantu Nararya Sanggramawijaya ketika melarikan diri ke Sumenep merupakan sesuatu yang sudah direncanakan dan bukan bersifat dadakan. Terkait Adipati Jayakatwang yang saat itu posisinya sangat superior dengan menjadi Adipati Kediri dan besan Prabu Kertanegara dengan kemungkinan putranya Nararya Ardharaja merupakan menantu utama, sangat berat jika harus melakukan kudeta. Logika politik mengatakan, Adipati Jayakatwang tinggal menunggu waktu pergantian itu tiba, mengapa harus bersusah payah melakukan kudeta. Pasca keruntuhan Singosari dan berdirinya Majapahit kita melihat juga adanya kejanggalan ketika Nararya Sanggrama Wijaya yang sudah bergelar Kertarajasa Jayawardhana menikahi 4 putri mendiang Prabu Kertanegara. Apakah Tindakan yang dilakukan raja pertama Majapahit ini adalah tindakan untuk menghormati keluarga besar Wangsa Sinelir atau lebih pada suatu Tindakan politis untuk memaksa keluarga Wangsa Sinelir tunduk pada Wangsa Rajasa. Pada masa itu seorang raja menikahi banyak wanita adalah hal yang biasa, namun seorang raja besar seperti Prabu Kertanegara yang keempat anaknya dinikahi secara bersamaan adalah ketidak laziman dan dapat dikatakan suatu pemaksaan.

Melihat situasi politik di masa pemerintahan Prabu Kertanegara ditambah dengan kekuatan Wangsa Sinelir yang begitu perkasa maupun tindakan politik Wangsa Rajasa dalam hal ini Nararya Sanggramawijaya pasca menjadi raja Majapahit, masihkah kita menghakimi secara mutlak tentang pengkhianatan Adipati Jayakatwang terhadap Prabu Kertanegara?. Semoga tulisan ini menjadi sebuah titik awal untuk membongkar kotak pandora terkait Kudeta berdarah Singosari 1292 Masehi.

3 thoughts on “Kudeta Berdarah Singosari 1292 Masehi, Benarkah Adipati Jayakatwang Sebagai Pelakunya?

  1. Terima kasih, apa yang sudah Bapak uraikan sangat berkesan bagi saya. Bagaimanapun sejarah, bagi saya adalah sebuah logika yang dibentuk oleh kelompok pemenang politik pada saat itu yang di prasastikan dalam babad babad. Dan dimana logika tersebut diinginkan akan menjadi dasar dari segala dasar pemikiran, mindset dan paradigma (kosmologi?) bagi generasi selanjutnya.

    1. Sejarah memang dibentuk oleh pemenang, namun saat itu orang-orang yang kalah dalam sejarah sudah saatnya mendapat tempat yang lebih layak. Semoga ke depan tidak ada penghakiman mutlak pada aktor-aktor sejarah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.