Desa Ranu Pani Menjadi 50 Desa Wisata Terbaik Indonesia, Apa Kata Plt. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lumajang, Yoga Pratomo, S.IP

Budaya Lokal

Lokasi Lumajang yang berada di kaki  gunung Semeru membawa berkah tersendiri. selain sumber daya alam yang melimpah, Lumajang juga memilih pemandangan alam yang sangat indah. Salah satunya desa wisata Ranu Pani yang berada di pos pendakian Gunung Semeru.

Oleh : Mansur Hidayat

Pada tahun ini Desa Ranu Pani masuk menjadi 50 besar desa wisata terbaik di Indonesia dan sedang diusulkan menjadi 10 Desa Wisata terbaik. Pada kesempatan kali ini, tim MMC melakukan wawancara dengan Plt. Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lumajang Kepala Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Lumajang,  terkait dengan masuknya 50 besar desa Ranu Pani sebagai desa wisata terbaik di Indonesia.

Kepala Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Lumajang:

Alhamdulillah, kita bersyukur desa Ranu Pani pake huruf “i” ya jangan salah karena biasanya orang-orang menyebutnya desa Ranu Pane pake huruf “e” yang betul adalah Ranu Pani. Ranu Pani masuk 50 besar desa wisata dalam rangka Anugerah Desa Wisata Indonesia yang dilaksanakan oleh Kementrian Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif. Awalnya itu ada desa wisata berjumlah 1831 se-Indonesia. Jawa Timur kalau tidak salah ada 8 Kabupaten. Kemudian disaring lagi menjadi 300, dan perwakilan Lumajang  ada dua yang lolos yaitu Ranu Pani dan Argosari. Kemudian mengerucut lagi menjadi 100, dari perwakilan Lumajang hanya Ranu Pani yang. Mengerucut lagi 50, allhamdulillah Ranu Pani masih ada. Nah ini 50 se-Indonesia suatu karunia yang besar yang patut disyukuri. Ini merupakan momen kita untuk berbangga dan juga intropeksi diri (mengevaluasi) apa kekurangan kita. Yang jelas ada, karena Ranu Pani sendiri juga harus berbenah bagaimana menyambut wisatawan lokal maupun mancanegara yang harus lebih baik. Karena Pak Bupati dan Bu Wabup menghendaki seperti itu dan juga pak Sandiaga Uno sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menginginkan meskipun desa wisata tetapi wisata kelas dunia.

Tim MMC :

Nah, gimana sih konsep wisata kelas dunia? Apa harus Hotelnya besar atau pertunjukannya besar, kan pak Kadis lebih paham soal itu ?

Kepala Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Lumajang:

Kita kalau dibandingkan dengan Bali masih jauh dibawahnya Bali, namun beberapa faktor yang perlu kita siapkan di Ranu Pani itu sekitar ada 7 faktor. Yang pertama Desa Digital, alhamdulillah Ranu Pani ini sudah masuk smart village mulai tahun 2020.

Tim MMC :

Apa smart village itu?

Kepala Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Lumajang:

Ini adalah salah satu program yang digagas oleh telkom, Smart village yang dari telkom hanya 5 dari seluruh Indonesia. Salah satunya Ranu Pani. Nah ini ada beberapa aplikasi yang memudahkan warga untuk melakukan aktivitas.

Dulu mungkin kalau ngomong soal Ranu Pani ini kita kesana sudah blank sinyal. Sekarang alhamdulillah sudah bisa bahkan 4G, itu yang disebut desa digital. Kemudian yang kedua adalah daya tarik desa wisatanya, itu yang harus kita siapkan. Kita tahu disana itu pemandangannya sangat bagus, landscapenya, panoramanya. Landscape pemandangan kebun pertaniannya warga disana kan ada kentang, bawang pre, kubis, itu kan hamparannya bagus apalagi dengan latar belakang gunung, hutan cemara, dan lain-lain.  Kemudian juga danaunya yang disebut Ranu Pani yang menjadi nama desanya itu, kemudian ada Ranu Regulo kira-kira 500 meter dari jalan utama.  Kalau Ranu Regulo itu masih alamiah karena tidak dekat dengan pemukiman. Kemudian budayanya Ranu Pani, kita tahu warga Ranu Pani yang mayoritas Tengger itu masih menjaga budaya Tengger. Beberapa hari yang lalu, kemarin tanggal 8 September itu puncaknya Hari Raya Karo Tengger, yaitu nyadran. Jadi mereka masih ngugemi upacara-upacara adat suku tenggernya. Ada Karo setahun sekali, ada Unan-Unan 5 tahun sekali, kemudian kalau Kasada sudah Probolinggo ya. Kemudian tradisi kebiasaan sehari-hari masih unik, natural, tradisional. Pak Mansur kalau kesana pasti dipinarakkan oleh warga setempat itu ke dapur. Kalau kita kesana kan dingin, makanya orang-orang mempersilahkan tamu masuk kerumahnya itu langsung ke dapur  dengan kebiasaan gegeni (dihadapan bara api).

Tim MMC :

Barangkali ada makna atau filosofi diluar gegeni itu?

Kepala Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Lumajang:

Jadi memang karena disana cuacanya dingin untuk menambah keakraban kehangatan persaudaraan silaturahmi orang sana biar lebih dekat itu ke dapur.

Tim MMC :

Oh memang mereka menerima tamu dengan terbuka ya. Sebelum menjadi Desa wisata mereka memang sudah seperti itu?

Kepala Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Lumajang:

Sudah seperti itu, terus kemudian pakaiannya bukan pakaian biasa seperti kita, cuman mereka pakai aksesori udeng kemudian sarung. Kalau orang Tengger melipat udengnya bolak-balik sehingga khas ikatan di kepala itu mulus seperti disetrika. Terus terang saya belum bisa, saya melipatnya putar-putar seperti hasduk pramuka lalu saya ikat. Kalau di Tengger tidak, dia melipatnya bolak-balik sehingga mulus kemudian dipakai agak tebal seukuran telapak tangan dan itu rapi dan bagus. Kemudian ada sarung, sarungnya tenun istilahnya sarung goyor karena bahannya lembut jadi memakai itu. Kemarin ketika berkunjung kesana saya tidur di Ranu Pani pakai sarung itu terasa hangat, memang ada pengaruhnya. Kalau kita gegeni pakai celana bahan yang sintetis akan terasa panas kemudian kita lapisi dengan sarung menjadi hangat.

Terus kemudian orang perempuan Ranu Pani itu memakai kain batik yang orang-orang masih menyebut kawung, itu dipakai oleh perempuan dan itu ada filosofinya. Kalau ikatannya di belakang otomatis dadanya tertutup, itu artinya masih perawan. Kalau ikatannya di pundak itu berarti orang itu sudah menikah. Kalau ikatannya didepan kemudian kainya dibelakang, dia janda. Kemudian masih banyak lagi seperti mainan anak-anak itu masih banyak yang hingga kini masih dilestarikan di Ranu Pani. Secara garis besar, ini kan ada kekayaan alam, kekayaan budaya.

Tim MMC :

Terkait kekayaan budayanya ini apa kira-kira strategi Pemkab Lumajang dalam hal ini dinas Pariwisata dan Kebudayaan untuk memperkaya budaya ?

Kepala Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Lumajang:

Sayangnya, saat ini PPKM. Nah kita mau mempromosikan secara massif kita terkendala oleh PPKM. Kalau strategi kita itu, jadi begitu ada upacara Karo istilahnya kan hari raya, kita blow up. Nah untuk tahun ini, keterbatasan itu. Jadi kalau mereka di blow up hari raya karo ini mereka welcome apalagi pada saat karo itu ada yang namanya andon mangan. Pak Mansur kesana bebas makan, ke setiap penduduk pasti disuruh mampir dan makan. Kalau tidak makan, ya pasti marah. Jadi harus makan meskipun sedikit.

Tim MMC :

Barangkali kedepan kalau di Malang mungkin ada desa Ngadas, di Probolinggo ada desa Ngadisari untuk menjadi desa adat. Barangkali ada keinginan atau kemauan besar Pemerintah Kabupaten Lumajang mewujudkannya?

Kepala Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Lumajang:

Alhamdulillah kemarin itu bapak–bapak anggota DPR sudah pernah silaturahmi ke pak Sekda berkaitan dengan rencana anggota DPR menggunakan hak inisiatif untuk membuat perda mengenai kebudayaan Lumajang. Nanti kita bisa bersinergi mengusulkan juga ada pasal-pasal mengenai desa adat. Kita harus sadar bahwa syarat-syarat pariwisata itu 3A, yang pertama adalah amunitas seperti hotel, penginapan, homestay, restoran. Kedua adalah akses jalan, angkutan, allhamdulillah nanti tahun 2022 pak Bupati Lumajang sudah merencakan pembangunan atau pelebaran jalan dari Senduro ke Ranu Pani secara bertahap mulai 2022. Ketiga, adalah atraksi. Atraksi ini kan macam-macam mulai keindahan alam termasuk budayanya tadi, kesenian. Makanya kita juga harus memunculkan tampilan-tampilan tari yang tradisional di Ranu Pani tapi juga mengandung unsur cerita. Misalnya budaya Tengger itu dulu cerita rakyatnya apa?. Seperti misalnya Maling Kundang  itu di sendratarikan, kalau di Tengger nanti akan kita gali apa saja yang bisa di sendratarikan.

Tim MMC :

Apa pesan dan pesan dari pak Kadis?

Kepala Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Lumajang: Jadi kita selaku generasi penerus bangsa jangan malu mempunyai budaya yang begitu arif di Lumajang. Ini harus kita lestarikan. Jadi anak-anak muda itu biasanya malu pakai batik, pakai udeng, pakai kebaya. Jangan malu belajar tari, wayang. Siapa lagi kalau bukan kita yang meneruskan. Karena apa, takutnya orang-orang bule yang belajar ini, malah nanti kita yang belajar kesana. Kita harus bangga punya budaya, tradisi dan kearifan lokal, seni ini yang harus kita lestarikan. Okelah kita bisa gadget, bisa komputer tapi jangan lupakan budaya. Kita lestarikan budaya lokal karena itu yang menjadi modal kita bagaimana memajukan pariwisata Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.