Arya Wiraraja dan Lamajang Tigang Juru

SUARA REDAKSI

Berbicara sejarah Indonesia terutama untuk periode klasik Jawa Timur tidak bisa dilepaskan dari kisah kepahlawanan dari para tokoh dengan kerajaan besar seperti mahfumnya yang kita lihat dalam suatu kontestasi musik atau kompetisi olah raga. Juaranya tidak jauh dari yang “itu-itu saja” baik orang atau klubnya sehingga tampak menjemukan bagi yang melihatnya.

Oleh : Mansur Hidayat

Dalam penulisan sejarah klasik periode Jawa Timur, kita sudah sangat familiar dengan nama kerajaan seperti Medang, Kahuripan dan Kediri dengan raja-rajanya seperti Mpu Sindok, Dharmawangsa Teguh, Airlangga maupun Jaya Baya. Periode yang lebih muda dan sudah sangat biasa kita dengan adalah kerajaan Singosari dan Majapahit dengan para raja atau ratunya seperti Ken Arok, Kertanegara, Raden Wijaya, Tribuwana Tunggadewi, Hayam Wuruk dan seterusnya. Oleh karena berbagai alasan diatas maka dalam edisi kali ini redaksi memilih suatu tema yang agak asing di pendengaran publik seorang tokoh yang jarang diangkat ke permukaan dan pada masa yang lampau cenderung dinistakan dalam sejarah Indonesia yaitu Arya Wiraraja dan kerajaannya yaitu Lamajang Tigang Juru.

Dalam penulisan sejarah secara umum, nama Arya Wiraraja disebut hanya dalam satu periode yang sangat sulit ketika runtuhnya kerajaan besar Singosari yang merupakan cikal bakal kerajaan pemersatu Nusantara yang prematur tersebut tumbang. Bubarnya kerajaan besar ini dikarenakan ada pemberontakan orang dalam yang kemudian dijadikan kambing hitam adalah salah seorang Juru atau Adipati Glang Glang bernama Jayakatwang atau Jayakatong. Segala sumpah serapah dan kenistaan diperlukan untuk menangisi kepergian kerajaan Singosari. Ternyata tidak cukup hanya Adipati Jayakatwang yang jadi sasaran kambing hitam, ternyata ada juga seorang otak penasehatnya yaitu Banyak Wide atau Arya Wiraraja yang saat itu merupakan Adipati Sumenep juga sering dituding sebagai duet mautnya. Tulisan-tulisan tentang keculasan dan kelicikan Arya Wiraraja ini sudah mulai terbantahkan ketika muncul para penulis sejarah dari wilayah Lumajang dan Jember melakukan pelurusan sehingga sekarang ini peran hitam dan putih sang Adipati Sumenep tersebut sudah mulai diperlihatkan. Namun cerita dan keadaan politik yang ada pada masa kerajaan Singosari akhir tersebut belum diungkap. Peranan sang Adipati Sumenep ini ternyata tidak berhenti sampai disini saja. Dalam pendirian sebuah kerajaan muda yang nantinya menjadi raksasa di Nusantara, ternyata Adipati yang menurut salah satu serat ini punya tutur kata yang sangat halus berperan besar memunculkan seorang bangsawan muda yang pada saat runtuhnya Singosari menjadi buronan bagi Jayakatwang yang sudah berkuasa menggantikan Prabu Kertanegara. Sosok muda bernama Nararya Sanggramawijaya atau lebih dikenal dengan nama Raden Wijaya ini kemudian diselamatkannya, diterima dengan sambutan kehormatan di Sumenep, dimintakan pengampunan pada sang penguasa baru bernama Jayakatwang yang merupakan kawan politiknya. Pasca diampuni, Raden Wijaya selalu diberi saran nasehat, bantuan sumber daya manusia pendukung dan bahkan berupa finansial. Namun lagi-lagi penulisan sejarah Indonesia menisbikan hal seperti ini. Tim MMC juga akan mengungkap bagaimana peran Arya Wiraraja dalam mendidik, menjaga, menyelamatkan dan mendudukkan Raden Wijaya di singgasana emas kursi kebesaran kerajaan baru bernama Majapahit. Demikian juga berbagai laporan sejarah tentang nasib kerajaan sang penyelamat Nararya Sanggramawijaya ini pasca dirinya meninggal dan tinggalan-tinggalan yang ada. Mari simak lebih jauh dan ikuti pelaporan penelusuran kami dalam edisi spesial ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.