Wawancara Sejarawan Dwi Cahyono: Tentang Triangle Jember Kuno

Cagar Budaya Sejarah Tokoh

Banyak pendapat Kabupaten Jember tidak mempunyai akar sejarah yang kuat dan hanya merupakan sebuah kota yang didirikan oleh kepentingan kolonial Belanda ketika membangun Onderneming atau perkebunan pada abad ke- 19. Oleh karena itu tidak mengherankan jika Hari Jadi atau Tahun Kelahiran-nya sampai saat ini masih menggunakan peristiwa kolonial sebagai wujud keterwakilan dari kejadian yang dianggap mewarnai perjalanan sejarahnya.

Oleh : Mansur Hidayat

Namun demikian, beberapa tahun belakangan ini ternyata ditemukan beberapa situs besar yang disebut Triangle Jember Kuno seperti Situs Kuto Kedawung, Situs Beteng dan Situs Penggungan yang diduga berasal dari jaman Majapahit sehingga klaim bahwa sejarah kota yang identik dengan perkebunannya ini mesti dipertanyakan kembali.

Terkait keberadaan Triangle Jember Kuno ini Media masmansoer.com melakukan wawancara dengan Sejarawan dan Arkeolog Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono pada Kamis (19/08/2021). Berikut wawancara tersebut.

Tim MMC       : Situs Kedawung itu dari masa apa?

Dwi Cahyono  : Menurut legenda biasanya dihubungkan dengan kerajaan Kedawung padahal itu bukan dari kerajaan Kedawung namun semacam kerajaan kecil di era jaman Islam seperti kesultanan. Karena sudah masuk pada tahun 1600-an di masa Sultan Agung dan VOC sudah ada di panarukan.

Jadi menurut legenda berkenaan dengan Kesultanan kecil yang merupakan cikal bakal dari Tawang Alun yang ada di Banyuwangi. Saya sempat cek lapangan dan memang di Kedawung ada kampung yang masuk wilayah Semboro dengan persawahan subur, pengairan bagus dan berseberangan dengan situs benteng di Sido Mekar. Kebetulan di Situs ini terdapat penemuan situs kuno  yang bersebrangan dengan Kedawung.

Kalau dilihat dari penemuan tersebut merupakan situs lintas masa, mulai dari Hindu-Buddha namun juga ada masa yang lebih muda dari legenda tahun 1600-an. Situsnya berkesinambungan dan sebarannya luas, banyak penemuan mulai dari gerabah sampai pecahan keramik. Ada beberapa titik penting yang salah salah satunya di sekitar sumber air. Jadi dulu ada sumber air tersebut besar seperti sendang namun mengecil, juga di beberapa rumah penduduk kita dapati struktur-struktur.

Yang di legenda dikaitkan dengan Kesultanan kecil Kedawung di sebelah timur Sido Mekar yang kemudian dihubungkan dengan kerajaan Blambangan dalam Babad Sembar. Kalau menurut saya itu adalah kerajaan  Blambangan awal di benteng sebelah baratnya Kedawung. Ketika di era Blambangan yang sempat berpusat di Sido Mekar, Kedawung mungkin masih menjadi  tetangga dan belum berkembang menjadi pusat pemerintahan kesultanan.

Penemuan situs-situs kuno seperti Sido Mekar, Kedawung dan Penggungan,  itu saya yakin masih banyak lagi temuan-temuan karena itu situsnya yang luas. Sehingga pada masa lalu itu menjadi sentra peradaban di era transisi masa Hindu-Buddha akhir dan awal-awal perkembangan Islam karena itu di babad-nya sudah disebutkan unsur-unsur Menak yang sebutannya Sembar. Saya berpendapat ini asal usul kata Jember. Nah sembar itu ada di area Kecamatan Semboro. Semboro itu juga berasal dari sembar, sembara menjadi semboro. Jadi cikal-bakal jember awal justru di daerah ini dan kemudian bergeser ke arah ke timur wilayah kota sekarang.

Tim MMC       : Menurut dongeng masyarakat yang berkembang, katanya situs benteng dimulai dari masa Majapahit akhir akibat serangan Demak. Apa perpindahan dulu dari Brawijaya V bisa ke arah sana ?

Dwi Cahyono  : Menurut legenda kan memang begitu cikal-bakalnya karena Kedawung  juga tidak bisa dilepaskan dari Babad Sembar, juga nanti muncul lagi Kedawung di Babad Tawang Alun dan juga di kisah-kisah lokal yang berkembang. Memang di kisah-kisah lokal itu perkembangannya dari masa Majapahit akhir.  Nah kalau perkara kemudian dari masa Majapahit akhir terjadi serangan ke arah semboro dan sekitarnya kita belum mendapat informasi lebih lanjut. Tapi  menurut saya tidak harus ada serangan dari Majapahit ke arah timur karena itu sangat jauh karena pada masa Majapahit akhir kerajaan ini sudah terengah-engah menghidupi dirinya sendiri saja sudah mengalami kesulitan sehingga ketika ada konflik di dalamnya harus berpindah-pindah ibukota. Malahan karena kerajaan majapahit sudah tidak se kokoh dulu, muncul penguasa daerah yang semi otonom seperti Pasuruan, Blitar, Kediri dan semboro . Mungkin kedawung awal ini sudah ada sejak sebelum 1600-an yang memang sempat berkonflik dengan utara seperti kerajaan Panarukan. Tapi cikal-bakal Kedawung ini kan sudah ada sejak jaman Hindu- Buddha. Ini kan situs yang lintas masa baik di Kedawung maupun Sido Mekar sampai berlanjut pada masa perkembangan Islam.

Jadi saya kira bukan karena serangan Demaknamun karena penguasa daerah, dimana ada penguasa lokal yang semula dibawah era kejayaan Majapahit kemudian saat kerajaan besar ini lemah mereka lepas kontrol. Seperti contoh jika Jakarta lemah, maka daerah seperti otonom, Gubernur seolah jadi presiden sendiri-sendiri. Kedawung kan dia juga pingin punya kontrol di utara karena punya akses laut. Utara itu Situbondo sehingga ada upaya untuk bisa mendapatkan akses ke Panarukan dan itu menimbulkan konflik.

Tim MMC       : Kalau juru kuncinya pernah mengakatan dulu ketika Prabu Brawijaya V ketika demak mulai menyerang, dia melarikan diri dan membuat pertahanan di Beteng Sido Mekar dengan ibukota di Kuto Kedawung?

Dwi Cahyono  : Itu menurut saya agak berlebihan karena kalau kita lihat di prasasti akhir majapahit atau sumber-sumber tradisi lain yang lebih kuat dan ada jejaknya atau teks, maka Prabu Brawijaya melarikan kesana justru saya kira nggak. Justru awalnya menunju ke Penanggungan termasuk Kediri, sehingga Patih Udara kerajaan Majapahit akhir menujunya ke selatan. Oleh karena itu Prabu Brawijaya ke arah situ (Situs Beteng atau Kuto Kedawung) dan membuat ibukota disitu, menurut saya hanya cerita lisan yang kebenarannya perlu diuji. Prabu Brawijaya larinya ke wilayah  tapal kuda memang kurang ada bukti. Dan sementara masih bersifat legenda.

Tim MMC       : Prabu Brawijaya V sendiri itu sebenarnya siapa ?

Dwi Cahyono  : Itu menghitungnya dari Wijaya yang mana, kalau Wijaya dihitung dari Raden Wijaya mestinya kan dihitungnya dari Raden Wijaya karena yang disebut dengan nama wijaya awal itu Raden Wijaya. Brawijaya itu kan trah Wijaya atau  dinasti Wijaya. Maka menghitungnya mesti dari Wijaya I  itu Brawijaya, nah kalau Hayam Wuruk kan Brawijaya IV. Nah yang Wikramawardhana itu Wijaya V apalagi kalau masih Wikramawardhana ya pasti salah legenda itu. Ada yang menghitung Brawijaya I, II, III, IV dst itu pasca Hayam Wuruk dan  sebelumnya itu tidak dihitung sebagai Brawijaya. Menghitungnya yang Wijaya pasca Wikramawardhana malahan. Jadi Brawijaya itu raja-raja Majapahit yang sudah akhir pasca Wikramawardhana. Makanya yang disebut Brawijaya dalam legenda-legenda itu sebenarnya siapa. Kalau menurut keterangan yang disebut-sebut teks atau lisan tentang Brawijaya- Brawijaya misal di Babad Tanah Jawi atau di babad- babatd yang lain itu tata urut dari raja-raja agak membingungkan karena pertanyaannya Brawijaya dihitung darimana.

Tim MMC       : Kalau Girindrawardhana itu siapa?

Dwi Cahyono  : Itu juga keturunan Majapahit tetapi dari dinasti lain. Jadi semacam dinasti yang terputus dari dinastinya Wijaya sehingga muncul dinasti sendiri yang disebut Girindrawardhanawangsa. Kerajaannya masih sama Majapahit, cuman dinastinya berbeda.

Tim MMC       : Kalau Girindrawardhana keturunannya siapa?

Melihat  trah-trah yang kuat itu dari keturunan Tumapel, semacam Tumapel come back jadi setelah agak sekian lama. Ya memang Raden Wijaya sendiri juga keturunan Tumapel, keturunan Malang tapi kan pusat pemerintahannya kemudian terus bergeser kearah hulu dan sudah kawin-mawin dengan macam-macam sehingga Tumapel itu  hanya menjadi kerajaan bawahan yang menguat dan penguasa-nya berusaha mengambil alih pimpinan ketika di majapahit mengalami kelemahan. Jadi kalau trah-trahnya itu lebih ke trah  Batara Tumapel, sehingga kembali ke gunung lagi karena memakai unsur wangsa gunung.

  • Reporter : Fifi
  • Editor : Yoshi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.