Tri Angle Jember Kuno: Bagaimana Pendapat LSM Tapal Kuda dan Kadispar Jember?

Sejarah

Pada hari sabtu (14/8) tim MMC turun ke lapangan bersama peneliti sejarah Zainollah Ahmad ke 3 situs Jember kuno yang kemudian dikenal sebagai Triangle Jember Kuno.

Oleh : Mansur Hidayat

Dalam penelusuran lapangan ini tim mendapati kenyataan bahwa di Situs Beteng Desa Sidomekar Kecamatan Semboro sebagai bekas benteng pertahanan Majapahit akhir keadaan situs sudah rusak parah, di Situs Kutha Kedawung di Desa Paleran Kecamatan Umbul Sari sebagai bekas kota Nampak gundukan batu bata yang membentuk pematang sawah ditumpuk begitu saja dan yang lebih parah lagi di Situs Penggungan sebagai tempat Tumenggung keadaannya sudah banyak yang menjadi hunian maupun pemakaman.

Ketiga situs yang disebut Triangle Jember kuno ini sampai sekarang belum pernah dilakukan penelitian oleh lembaga resmi pemerintah baik ditingkat Kabupaten maupun Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur dan Balai Arkeologi. Oleh karena itu data arkeologis dari ketiga situs ini sangat minim.

Berkaitan dengan tidak adanya penelitian dan minimnya pelestarian terhadap ketiga situs ini, Tim MMC melakukan wawancara dengan Sekjen LSM Dewan Perjuangan dan Advokasi Cagar Budaya (DANG ACARYA) yang merupakan Lembaga kordinasi LSM se- Tapal Kuda Irwan Rakhmad Hidayat  maupun Plt. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jember Debora Kresnowati.

Berikut wawancara Tim MMC dengan Sekjen DANG ACARYA, Irwan Rakhmad Hidayat.

Informasi di lapangan kabarnya situs Triangle Jember kuno  ini sudah semakin rusak dan belum pernah diteliti. Bagaimana menurut sekjen DANG ACARYA?

Tentunya perlu ada langkah taktis dari pemerintah setempat selaku elemen yang memiliki tanggung jawab, bisa mengeksplorasi sejauh kemana keberadaan situs tersebut dan juga partisipasi dari lembaga-lembaga pemerhati cagar budaya diharapkan lebih bersinergi. Kalau ini hanya dilakukan pihak swasta maka akan timpang.

Seharusnya menurut pak Sekjen, yang paling berwenang itu lembaga mana?

Lembaga penelitian memang secara formal itu memang Balai Arkeologi,  tetapi yang paling penting adalah kebijakan dari Pemerintah Daerah (Pemerintah Kabupaten) yang harus ada inisiatif untuk mendatangkan mereka para ahlinya. Dan Ujung-ujungnya diharapkan menjadi arsip daerah sehingga literasi tentang cagar budaya semakin dinamis dan berkembang. Bukan hanya data-data yang ada disana tapi setiap tahunnya selalu update seperti situs-situs yang belum pernah tersentuh seperti Situs Kedawung. Diharapkan itu bisa menjadi program Pemerintah Kabupaten.

Jadi menurut pak Sekjen yang  menjadi garda terdepan harusnya  Pemerintah Kabupaten?

Tentunya begitu, Karena yang tahu wilayahnya, data-datanya seperti apa kan Pemerintah Kabupaten. Kalau pihak swasta saya kira tanpa dicampur pun mereka selama ini memang aktif tetapi kalau Pemerintah Kabupaten tidak ikut mengimbangi akan menjadi timpang.

Apa harapan Pak Sekjen terkait adanya situs yang begitu besar di Jember?

Harapannya tentunya ada kepedulian lebih dan ada kejelasan tentang penanganan situs-situs Cagar Budaya khususnya dari masa klasik yang selama ini cenderung terbengkalai. Sebab kalau kita bandingkan dengan penanganan situs-situs di daerah Mataraman ini terlihat timpang. Diperlukan langkah taktis untuk penanganan situs di masa klasik yang posisinya berada di wilayah tapal kuda sehingga perlu digenjot lagi.

Jadi DANG ACARYA melihat masih ada ketimpangan ya?

Ya masih ada ketimpangan dan itu sudah bisa kita buktikan dari tahun ke tahun. bagaimana misal ada temuan situs baru yang berlokasi di wilayah tapal kuda, ketika ditindak-lanjuti itu tidak berlanjut lagi. Berbeda dengan yang di daerah Mataraman. Ini saya kurang paham apa penyebabnya, tapi kenyataannya itu di Mataraman sampai ekskavasi sampai berbulan-berbulan.

Berarti melihat adanya ketimpangan, baik itu dari segi penelitian apalagi menuju ke pemugaran. Ini yang perlu dibenahi dimananya? Apa dari Pemerintah Kabupaten, BPCB atau Balai Arkeologi?

Saya kira sangat kompleks persoalannya, ini yang paling utama adalah SDM- nya. Jadi perlu ada orang yang punya kompetensi untuk menangani bidang cagar budaya. Kalau dari daerah itu kan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Atau juga ada di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Itu bidang kebudayaan khususnya seksi cagar budaya itu harus diisi oleh orang-orang yang kompeten dan memiliki mindset yang kuat  tentang pelestarian cagar budaya. Kalau tidak, maka yang seharusnya dia itu yang menjadi penghubung komunikasi ke BPCB dan Balai Arkeologi. Paling tidak mereka bisa mengkomunikasikan secara intensif, jemput bola. Jadi kalau itu ditempati oleh orang tepat  saya kira bisa jalan.

Ini di wilayah Tapal Kuda atau kawasan timur jawa mulai dari Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, Probolinggo dan Banyuwangi sampai sekarang SDM kebudayaan dibandingkan wilayah Mataraman sangat jauh?.

Saya melihatnya kurang lebih demikian karena begini, satu cerminan misalnya di sebuah Kabupaten  terbentuk Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) dan ada yang tidak. Ini merupakan sebuah indikator  bagaimana penanganan cagar budaya di Kabupaten atau Kota tersebut. Kalau tidak ada TACB- nya, berarti disana ada sebuah persoalan. Bahwa  Pemerintah Kabupaten ini inisiatifnya kurang untuk meningkatkan kompetensi atau semacam pembentukan tim ahli dan membangun ke-cagar budayaan-nya lebih meningkat lagi. Saya kira itu bisa menjadi indikator.

Jadi yang perlu menjadi garis bawah, Pemerintah Kabupaten juga harus mengimbangi?

Tentunya demikian, karena kita tahu kalau berbicara tentang cagar budaya ini juga tidak bisa lepas dari perlu adanya arkeolog. Akan tetapi kan tidak semuanya itu harus ada arkeolog, paling tidak Tim Ahli Cagar Budaya ini sebagai amanat dari Undang Undang (UU) ini kan memang beragam, ada ahli arstitektur, ahli hukum, ahli sejarah sehingga semuanya itu bisa saling berkesinambungan.

Harapan paling mungkin atau secepatnya apa yang menjadi perhatian DANG ACARYA?

Untuk awal tentunya adalah koordinasi. Koordinasi semua elemen. Dan dari koordinasi itu kemudian diharapkan ada langkah konkrit. Tentu tergetnya tahun ini harus melakukan apa. Jadi kalau memang bersungguh-sungguh lakukan saja apa yang bisa di lakukan seperti ekskavasi tahap awal atau semacamnya.

Sementara itu Plt. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kadisparbud) Jember, Debora Kresnowati dengan adanya temuan Triangle Jember Kuno menanggapinya dalam wawancara per telepon dengan Tim MMC sebagai berikut.

Terkait temuan peninggalan bersejarah besar di Jember yang disebut kawan-kawan sebagai Triangle Jember Kuno. Bagaimana pandangan Dinas Pariwisata terkait pelestarian cagar budaya di Jember, apakah ada penelitian dari Balai Arkeologi dan BPCB Jawa Timur?

Kalau dari Balai Arkeologi kebetulan belum, penelitian kebetulan dari komunitas-komunitas seperti Batara Sapta Phrabu. Untuk Situs Penggungan di Desa Klatakan saya barusan dengar dan akan menelusurinya. Sementara ini yang kita kenal dan ada Juru Peliharanya hanya di sidomekar, disana termasuk cagar budaya yang kita lindungi tapi untuk saat ini kita belum punya Museum.

Adakah Perda Cagar Budaya di Kabupaten Jember ?

Ini masih kita olah, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) kita belum punya. Kita memang ketinggalan dan berusaha mengejar. Kita  saat ini masih diskusi dan mencari orang-orang yang ahli di bidangnya.

Dari Disparbud apa saja program terkait dengan cagar budaya?

Kita kebetulan ada MOU dengan Fakultas Ilmu Budaya, mereka ada magang 54 mahasiswa dan langsung kami lobi berdayakan untuk membantu pen- registeran benda-benda  cagar budaya yang belum teregister. Setelah di catat, di ukur dan sebagainya, jadi nanti mengarahnya ke Story line untuk pengembangan Museum Daerah. Rencananya kita nanti akan membuat Taman Megalitikum.

Untuk Perda Cagar Budaya sudah dirancang dengan inisiatif dari Pemkab. Kemungkinan tahun 2022 selesai, karena tidak mudah merancang pokok-pokok pikiran cagar budaya.

Harapannya terkait Triangle Jember Kuno?

Tidak sekedar menjadi obyek wisata, tetapi ini betul-betul kebudayaan yang harus kita angkat, peradaban yang betul-betul pernah ada di Jember dan ini peradaban yang luar biasa. Jember juga kalau dilihat dari sejarahnya tidak miskin-miskin amat.

  • Reporter : Fifi
  • Editor : Yoshi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.