Situs Beteng – Kutha Kedawung – Penggungan: Triangle Warisan Jember Kuno

Cagar Budaya Sejarah

Berbagai hipotesis dan analisis dari para sejarawan menyebutkan bahwa tiga peninggalan arkeologis di Jember yakni Situs Beteng, Desa Sidomekar, Kecamatan Semboro, Situs Kutha Kedawung (Kuto Dawung) Desa Paleran, Kecamatan Umbulsari dan Situs Penggungan, Desa Klatakan, Kecamatan Tanggul adalah peninggalan era Majapahit.

Oleh : Zainollah Ahmad

Meskipun ada klaim seperti Kutha Dawung di Palaren sebagai ibu kota Blambangan (1646-1649) saja. Namun hipotesis ini kiranya perlu di-review kembali, mengingat landasan tesis ini masih lemah karena hanya dihubungkan dengan kesamaan toponimi dari naskah tradisi (babad) tanpa analisis berdasarkan pada sumber lain.

Selain itu kelemahan pendukung teori ini ialah mengabaikan beberapa tempat selain Kutha Dawung (Paleran) dimaksud, yaitu Situs Beteng di Semboro dan Situs Penggungan (Tumenggungan) di Klatakan Tanggul yang sebenarnya memiliki hubungan. Karena ketiga lokasi bekas bangunan kuno itu sangat berkaitan erat dan merupakan tiga kesatuan (triangle) yang tak terpisahkan. Ada kesan seolah-olah para sejarawan (lokal) hanya men-fait-accompli tentang keberadaan Blambangan saja, tanpa menelusuri dan menganalisa sumber-sumber pendukungnya. Dalam konteks ini, ketiga situs yang sangat terkait dengan eksistensi Kerajaan Majapahit (akhir) dinegasikan. Tentu ketiga peninggalan itu selain memiliki kesamaan bukti arkeologis sebagai tinggalan era Majapahit, juga kajian dari cerita tutur (oral history) masyarakat setempat yang tentu tidak bisa diabaikan sebagai sumber penguat. Dalam buku Zainollah Ahmad, Topographia Sacra, Menelusuri Jejak Sejarah Jember Kuno (2015), dan Babad Bumi Sadeng, Mozaik Historiografi Jember Era Paleolitikum Hingga Imperium (2018) sudah dijelaskan tentang ketiga situs cagar budaya ini dengan cukup lengkap dan komprehensif.

Keberadaan ketiga situs sebagai warisan Blambangan Mula (awal) juga tidak bisa dinafikan, karena sejarah bukanlah data statis, namun klaim itu perlu “diuji petik” yang tentu harus disandarkan pada kajian dan penelitian mendalam. Seperti halnya tentang Situs Beteng yang berada di Sidomekar, Semboro.

SITUS BETENG Sidomekar, banyak dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai Sembah Beteng, Mbah Beteng dan Beteng Boto Mulyo. Data peninggalan Situs Beteng berupa pondasi batu bata besar (batabang) yang tersebar seluas sekitar 2,5 km persegi, baik dalam bentuk struktur (susunan) maupun yang terpisah, namun sebagian besar sudah hancur. Selain bekas batu bata besar (batabang) terdapat juga peninggalan artefak berupa batu lumpang, batu pipisan, gunjik, uang kepeng (gobog), terakotta, fragmen arca, beberapa sumur kuno, keris, tombak dan benda antefiks lainnya. Selain itu banyak peninggalan yang telah dicuri, terutama melalui penggalian liar oleh warga. Penggalian yang masif pernah dilakukan di seputar lahan Balai Desa Sidomekar, menemukan manik-manik, jamang emas, tulang belulang manusia dan temuan beberapa sumur kuno.

Dahulu, di sekitar tempat itu ada beberapa tembok kuno yang agak tinggi (berupa perbukitan) yang diperkirakan sebagai pengungakan (bastion). Sehingga tempat itu akhirnya dinamakan beteng (bahasa Jawa, Indonesia : benteng) karena dalam cerita tutur (oral story) dulunya memang benteng, Luasnya areal Situs Beteng sangat mendukung sebagai perbentengan tradisional. Terlebih ada empat buah sungai yang mengalir dan keberadaan sembilan sumur kuno yang sebagian masih tersisa, mengindikasikan bangunan tersebut adalah benteng pertahanan masa Klasik. Kondisi dan syarat sebuah benteng memang tidak terlepas dari keberadaan air sebagai kebutuhan vital dalam peperangan.

Keberadaan Situs Beteng tidak bisa dilepaskan dari dua situs kuno lainnya, yaitu Situs Penggungan (Tumenggungan) di Klatakan (Tanggul) dan Situs Kutha Dawung di Paleran (Umbulsari). Karena ketiga tempat itu dari temuan artefak dan ciri khas batu bata menunjukkan ada kesamaan, terlebih didukung oleh cerita tutur masyarakat. Berdasarkan keterangan tersebut, Situs Beteng adalah benteng pertahanannya, Situs Penggungan (Tumenggungan) merupakan komplek untuk panglima perang yang disebut Tumenggung dan Situs Kutha Dawung merupakan kota pemukiman penduduk dan pusat pemerintahan (Zainollah, 2015: 235). Tetapi luas Situs Beteng ternyata melebihi Situs Kutha Dawung dengan peninggalan yang lebih banyak dan beragam.

Pada awal ditemukan sekitar tahun 1900-an, bangunan ini tertutup belukar dan masih menyisakan berupa tembok dari batu bata setinggi dua meter dengan arca Kumbakarna (Dwarapala ?) yang mengacu kepada aliran agama Hindu-Syiwa. Namun pasca tragedi G 30 S/PKI pada sekitar tahun 1967-1968, bangunan ini nyaris rata dengan tanah karena aksi vandalisme massa.

Daerah Penggungan atau Tumenggungan (desa Klatakan, Tanggul) juga disebutkan terkait dengan sejarah Situs Beteng. Penulis punya asumsi selain berdasarkan cerita tutur bahwa Penggungan atau Tumenggungan adalah asal kata “Tumenggung” yaitu salah satu pangkat pejabat (militer) tinggi di Majapahit. Nama-nama pangkat dalam ketentaraan Majapahit adalah Demung, Mapatih, Kanuruhan, Rangga dan Tumenggung, yang disebut dengan Panca ring Wilwatikta. Dalam kerajaan Blambangan tidak dikenal istilah Tumenggung sebagai panglima perang, melainkan sebutan gelar Agul-agul. Penggungan adalah tempat panglima perang Majapahit yang juga bertugas mengawasi benteng dan perkampungan, karena terletak di tengah-tengah antara Situs Beteng dan Situs Kuto Dawung.

  • Editor : Mansur Hidayat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.