Pro Kontra Status Tanah Padepokan Pencak Organisasi (PO) Cabang Lumajang

Sejarah

Terletak di pojok jalan Kayubi di tengah kota Lumajang berdiri sebuah papan nama bertuliskan Padepokan Pencak Organisasi (PO) Cabang Lumajang dan didalamnya juga tercantum nama sang pendiri yang juga guru besarnya yaitu Mayjen Imam Soedja’i.

Oleh : Mansur Hidayat

Ketika tim MMC mengunjungi padepokan pencak silat ini tidak nampak aktifitas karena memang saat itu Kabupaten Lumajang sedang ada pembatasan kegiatan kemasyarakatan akibat pandemi covid-19. Sebelum adanya wabah Padepokan  ini selalu ramai aktifitas anak-anak muda yang sedang berlatih silat dengan pakaian hitam-hitam lambang kebesarannya.

Menurut penelusuran Tim MMC,  belakangan ini warga Pencak Organisasi (PO) Cabang Lumajang sebenarnya sedang resah karena memang ada permasalahan menyangkut kepemilikan dan status tanah Padepokan. Menurut Makhmud (53 tahun) salah seorang pengurus Pencak Organisasi (PO) Cabang Lumajang, sejak dahulu Padepokan Pencak Organisasi (PO) terletak diatas tanah jalan Kayubi tersebut. Sejak kecil ketika latihan, warga PO Lumajang bisasanya berlatih di Padepokan tersebut. Namun belakangan status tanah dan kepemilikan Padepokan ini menjadi lebih rumit karena ternyata tanah tersebut diakui menjadi asset pemerintah Kabupaten Lumajang. Berbekal informasi tersebut, maka tim MMC   mencoba mengadakan penelusuran terkait status tanah Padepokan yang menjadi kebanggaan warga perguruan silat yang dilahirkan di kota pisang tersebut.

Petang hari selepas isya’ sekitar pukul 19.00 tim MMC meluncur untuk menemui seorang sesepuh Pencak Organisasi (PO) di kota Lumajang. Menurut informasi yang di dapatkan, orang tua tersebut adalah satu-satunya sesepuh yang masih tersisa yang mengetahui sejarah status kepemilikan padepokan pencak organisasi (PO) tersebut. Setelah bertemu di sebuah poskamling tempat ia biasa menghabiskan waktunya dengan tetangga sekitar rumahnya pada petang hari, sang pendekar sepuh ini menyapa dengan ramah tim MMC dan mengajak ke rumahnya yang tak jauh dari poskamling tersebut.

Eyang Affandi (83 tahun) merupakan seorang pria dengan tinggi sekitar 165 cm dan terlihat masih gesit ketika berjalan menuju lokasi rumahnya. Setelah dijelaskan maksud kedatangan tim MMC, sesepuh Pencak Organisasi (PO) Lumajang ini sangat bersemangat untuk menceritakan tentang dirinya yang belajar pencak silat tersebut sejak tahun 1956. Ketika itu yang melatih angkatannya adalah RM Sumedi Purbokusumo yang merupakan penerus dan pemegang amanat langsung Mayjen Imam Soedja’i.

Berkaitan dengan kepemilikan tanah padepokan Pencak Organisasi (PO), mantan Carik Rogotrunan sampai tahun 1980-an ini menjelaskan bahwa kepemilikan tanah di padepokan jalan Kayubi tersebut memang benar milik perguruan silat PO. Ia menceritakan asal muasal kejadiannya sejak tahun 1990-an ketika pada jaman Bupati Syamsi Ridwan menyatakan di berbagai kesempatan bahwa ia telah memberikan tanah dan bangunan yang sekarang menjadi padepokan tersebut untuk PO. Lebih jauh mantan Sekretaris PO Cabang Lumajang era 1980-an ini menyatakan bahwa bangunan yang ada merupakan hasil sumbangan dari para pengusaha dan bukan uang dari negara. Oleh karena itu dirinya heran ketika ada kabar bahwa kepemilikan tanah padepokan tersebut sekarang ini diakui sebagai asset Pemkab Lumajang. Sementara itu terkait pro kontra informasi kepemilikan tanah padepokan PO tersebut, Plt. Kepala Dinas Dispora Lumajang Yudo, belum bisa memberikan komentar baik dalam wawancara langsung maupun lewat telepon maupun pesan singkat, sedangkan Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Lumajang Ramlan sempat menerima tim MMC dan menjelaskan bahwa harus ada permintaan tertulis lebih dahulu terkait status tanah tersebut.

  • Reporter : Yoshi/Aji
  • Editor : Oren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.