Perjalanan Panjang Majapahit: Dari Hutan Terik Sidoarjo Sampai Ke Kedawung Jember

Sejarah SUARA REDAKSI

Kerajaan Majapahit adalah sebuah kerajaan yang mempunyai sejarah gemilang tidak hanya dalam sejarah Jawa, namun juga mencapai tinta emas dalam penyatuan Nusantara. Kerajaan yang bersifat Syiwa Buddha ini telah mampu membentangkan kekuasaannya dari pulau Malaka sampai dataran Papua sehingga menjadi kerajaan yang disegani tidak hanya di Asia namun juga di berbagai belahan dunia.

Oleh : Mansur Hidayat

Kekuasaan Majapahit ini tidak saja diterangkan dalam berbagai babad seperti Babad Deca Warnana atau Negara Kretagama yang telah diakui dunia, namun juga banyak cerita-cerita rakyat dari berbagai daerah misalnya dari Bali, Sumbawa, Melayu sampai Banjar. Kejayaan Majapahit yang mulai tersohor di era pemerintahan Ratu Tribuwana Tunggadewi mencapai puncaknya ketika anaknya yaitu Hayam Wuruk atau Rajasa Negara menggantikannya menjadi raja pada sekitar tahun 1350- an Masehi. Sang Maha Patih Gajah Mada menjadi seorang pelaksana pemerintahan yang tiada tandingannya sampai meninggalnya sekitar tahun 1364 Masehi.

Sepeninggal sang Maha Patih yang sangat berkharisma tersebut pamor kerajaan Majapahit meredup dan kemudian sepeninggal raja Hayam Wuruk pada tahun 1389 Masehi pada umur 55 tahun kekuasaan ke- Maharajaan Majapahit berangsur-angsur turun drastis. Pergantian tahta kepada putrinya yang bernama Kusumawardhani telah menjadi sumber pertentangan karena ternyata sang Maha Rani tidak sekuat para pendahulunya dan bahkan menyerahkan pelaksanaan pemerintahan pada suaminya yaitu Wikramawardhana. Keadaan ini kemudian menyebabkan adik tirinya yaitu Bhre Wirabhumi mengadakan perlawanan politik karena merasa sebagai anak laki-laki dari raja Hayam Wuruk lebih pantas menjadi raja dari pada  sang kakak yang kemudian dalam kenyataannya menyerahkan kekuasaan de facto pada sang suami. Hal inilah yang kemudian menyebabkan perselisihan menjadi peperangan besar yang disebut Perang Paregreg yang berlangsung dari 1401-1406 Masehi dan sedikit demi sedikit meruntuhkan kekuasaan ke Maharajaan Majapahit. Bhre Wirabhumi kalah dan dipancung, namun hal ini telah menyebabkan luka di hati keluarga besar dan terus menerus menyebabkan pertentangan tajam sehingga kekuatan Majapahit menjadi jauh berkurang.

Disamping pertentangan internal dari para bangsawan, keruntuhan ke- Maharajaan Majapahit disebabkan berkembangnya agama baru yaitu Islam di daerah-daerah pesisir yang kaya. Pada awalnya para penguasa dan Ulama islam dibawah komando Raden Rakhmat Sunan Ampel tetap melakukan penghormatan kepada para penguasa ke- Maharajaan Majapahit. Menurut Babad Tanah Jawi Sang pemimpin para ulama Islam di tanah Jawa atau yang dikenal sebagai Wali Songo ini merupakan keponakan permaisuri raja Majapahit yaitu Prabu Brawijaya yang  bernama putri Champa atau dikenal sebagai Dewi Dwarawati. Karena masih keluarga dari sang Permaisuri maka syiar Islam yang dilakukan oleh Raden Rahmad mendapat dukungan dari sang Bibi dan kemudian dinikahkan dengan putri Tumenggung Wilatikta Ki Gede Manila dan diberikan fasilitas keamanan sekaligus Pesantren tempat mengajar di Desa Ampel Denta. Kelak kemudian hari, Raden Rahmad kemudian dikenal sebagai Sunan Ampel Denta atau Sunan Ampel.

Pada masa hidupnya Sunan Ampel menyebarkan Islam dengan cara damai dan sangat menghormati pemerintah ke-Maharajaan Majapahit yang telah banyak membantunya. Meskipun keadaan internal keluarga kerajaan terpecah, sang Sunan Ampel tetap mengajak Adipati- Adipati yang beragama Islam senantiasa tunduk dan menghormati Prabu Bhrawijaya. Namun sepeninggal dirinya timbullah pertentangan sehingga kemudian muncul suatu tindakan untuk menyerang ke- Maharajaan Majapahit yang dianggap kafir karena masih bersifat Syiwa Buddha. Menurut Serat Kandaserangan pertama koalisi pasukan pesisir dibawah komando Adipati Demak Raden Fatah yang dipimpin Sunan Ngudung gagal dan menyebabkan gugurnya ulama besar ini. Menurut Babad Tanah Jawi serangan kemudian diteruskan kembali dengan menujuk putra Sunan Ngudung yaitu Sunan Kudus dan kemudian berhasil mengalahkan ke- Maharajaan Majapahit yang telah berusia senja dengan mengerahkan lebah sehingga pasukan Majapahit koca-kacir. Prabu Brawijaya yang diberi tahu ada pasukan Demak menyerang kemudian naik ke mimbar dan ketika melihat anaknya memimpin pasukan (Raden Fatah) kemudian melarikan diri bersama pengiringnya. Secara tradisional runtuhnya Majapahit disebutkan dalam candra sengkala Sirna Ilang Kertaning Bhumi yaitu tahun 1400 saka  atau 1478 Masehi.

Kehancuran dan runtuhnya Majapahit ini ternyata masih menjadi multi tafsir di kalangan para sejarawan. Menurut Prof. Slamet Mulyana runtuhnya ke- Mahautonnya dan dikalahkan oleh Girindra Wardhana Dyah Rana Wiajaya yang kemudian memindahkan keratonnya ke Dahana Pura atau Daha. Menurut Hasan Jakfar dalam bukunya Masa Akhir Majapahit, raja Girindra Wardhana sendiri terus melanjutkan kebesaran ke- Maharajaan Majapahit yang dibuktikan dengan pembangunan  tempat-tempat suci agama Syiwa di lereng gunung Penanggungan antara tahun 1486- 1511 Masehi dan baru pada tahun 1519 kerajaan Demak yang merupakan keturunan raja Kertabhumi dibawah pimpinan Adipati Unus mampu merebut mengalahkan kerajaan Majapahit yang diperkirakan ada di Dahanapura (Kediri). Menurut babad tradisional yaitu Serat Kanda ketika Prabu Brawijaya dikalahkan ia kemudian lari melarikan diri ke Sengguruh yang beribu kota di Supiturang sekitar Semeru Selatan dan ketika kerajaan Sengguruh jatuh maka sang raja terus lari ke timur` yaitu di Panarukan. Menurut seorang Portugis bernama kerajaan Panarukan yang merupakan penerus ke- Maharajaan Majapahit yang masih Hindu ini kemudian mengirim utusan ke Malaka pada tahun 1528 Masehi.

Menurut Samsubur dari Babad Sembar bahwa ketika Prabu Brawijaya kalah, seorang anaknya bernama Lembu Miruda kemudian lari ke timur memasuki hutan Blambangan. Ia kemudian berkuasa menjadi raja Blambangan dengan di Tepasana dengan wilayah dari pegunungan Tengger sampai ke timur Jawa yang kemudian digantikan anaknya yaitu Mas Sembar yang beribukota di Puger. Sepeninggal Mas Sembar kedudukannya sebagai raja digantikan oleh Gede Cinde Amoh yang berkedudukan di Puger dan anaknya yang lain bernama Bima Koncar bertahta di Blambangan yang berkedudukan di Lamajang. Dari Bima Koncar inilah kemudian kerajaan Blambangan yang meliputi wilayah Lamajang, Babadan- Prasada (Panarukan) sampai Kedawung Umbul Sari) terus berkembang sampai masa Pangeran Tawangalun yang menjadi cikal bakal raja-raja Blambangan yang lebih muda. Dari keterangan diatas ada 2 cabang keturunan Dyah Suraprabawa yang kemudian meneruskan kerajaan Blambangan Pedalaman yaitu Dinasti Mas Sembar yang dimulai dari Lembu Miruda/ Lembu Agnisraya yang menguasai daerah Lamajang, Puger dan Kedawung dan kerajaan Blambangan Pesisiryang berpusat di Panarukan yang diperintah oleh Wangsa Dyah Rana Wijaya dari Majapahit- Kediri yang mengungsi ke Sengguruh terus ke Panarukan pada tahun 1527 Masehi. Baik kerajaan Blambangan Pedalaman maupun Blambangan Pesisir masih bercorak Hindu. Terkait masalah ibu kota sejak awal para ahli sepakat bahwa ibu kota ke- Maharajaan Majapahit itu berpindah mulai dari jaman Kertarajasa Jayawardhana yang ada di hutan Terik yang sekarang diperkirakan ada di Desa Tarik Kecamatan Tarik Kabupaten Sidoarjo kemudian berpindah ke Trowulan. Pada masa Girindra Wardhana Dyah Rana Wiajaya tahun 1478 kemudian dipindahkan ke Daha di wilayah Kediri dan kemudian sampai di Panarukan di wilayah Situbondo dan terakhir di Kuto Kedawung Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember yang meneruskan kebesaran Majapahit sampai tahun 1600-an.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.