Pencak Organisasi (PO) Pasca 1965: Pengembangan Organisasi Oleh Pejabat Militer

Sejarah

Imam Soedja’i atau yang akrab dipanggil Pak Dja’i yang saat itu menjadi pimpinan Partai Sarekat Islam (PSI) pada bulan Agustus 1927 mendirikan sebuah Perguruan Silat Pencak Organisasi (PO) menjadi sayap organisasi Pergerakan nasional Partai Sarekat Islam.

Oleh : Mansur Hidayat

Dengan keahliannya untuk melakukan lobby ke tingkat pusat partai dan kemampuannya mengorganisir para tokoh Perguruan Pencak Organisasi berkembang secara pesat di Jawa dan kemudian dibuktikan dengan adanya cabang di Bojonegoro pada sekitar tahun 1928 dan pendirian organisasi di Sulawesi Selatan pada tahun 1937.

Sumedi Purbo kusumo adalah seorang pemuda berbakat yang  sejak usia 15-an tahun sudah belajar teknik-teknik pencak silat pada Pak Dja’i turut serta mendirikan Perguran Pencak Organisasi (PO) pada tahun bulan Agustus 1927. Sebagai seorang pemuda yang cukup berbakat nampaknya Sumedi Purbokusumo lebih banyak berlatih di bidang teknik silat sehingga menjadi pendekar yang mumpuni sedangkan Imam Soedja’i sebagai pendiri dan juga pimpinan Partai Sarekat Islam di Lumajang disamping sebagai pendekar utama juga aktif mengembangkan organisasinya tidak hanya di Jawa Timur namun juga sampai di Sulawesi.

Pasca ditinggal berpulang oleh pendirinya yaitu Imam Soedja’i yang akrab dipanggil Pak Dja’i pada 29 Januari 1953, ilmu kependekarannya diamanatkan supaya terus dikembangkan oleh Sumedi Purbokusumo yang merupakan seorang  anak didik dan orang kepercayaan sang pendiri. Pada saat pengembangan organisasinya,  Sumedi Purbokusumo merupakan seorang anggota TNI AD di Lumajang berinisiatif untuk terus berhubungan dengan para kollega nya di kalangan tentara yang notabane nya dahulu pernah di didik oleh sang pendiri Imam Soedja’i yang pernah memimpin Divisi VII Untung Suropati dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal.

Pada tahun 1950-1960-an perguruan Pencak Organisasi (PO) dikembangkan sebagai sebuah perguruan silat yang bersifat persaudaraan sebagaimana perjalanannya sebagai organisasi pendukung dari Partai Sarekat Islam. Dimana-mana pendekarnya banyak melatih masyarakat umum untuk diajarkan seni bela diri Nusantara ini. Karena saat itu yang menjadi pemegang amanat dan penerus kependekaran sang pendiri yaitu Sumedi Purbokusumo yang notabane nya  adalah seorang tentara disamping para koleganya yang juga anak didik Imam Soedja’i di ketentaraan, maka pengembangan perguruan silat ini banyak dilakukan oleh tentara.

Menurut dokumen Anggaran Dasar Pencak Organisasi, pasca geger politik tahun 1965 dimana posisi tentara berada dijajaran atas, maka konsolidasi maupun pengembangan perguruan Pencak Organisasi lebih mudah dilakukan. Oleh karena itu setelah konsolidasi politik nasional relatif aman maka pada tahun 1970-an diadakan Mubes (Kongres) Pencak Organisasi di Lumajang yang kemudian menghasilkan Anggaran Dasar/ Anggaran Rumah Tangga yang disahkan pada tahun 10 Nopember 1970 yang ditanda tangani oleh Sekretaris Jenderal Letkol. Haji Wignyo Adi Soe’eib  mantan Komandan Markas Komando Besar (KMKB) Surabaya. Dalam Mubes PO tahun 1970 ini di putuskan pimpinan pusat PO ada di Lumajang yaitu dibawah komando penerima amanat pendiri Pencak Organisasi Bapak Imam Soedja’i yaitu Sumedi Purbokusumo. Untuk kepengurusan pada tahun 1970-an ini rata-rata dijabat oleh tentara dengan susunan sebagai berikut:

  • Pelindung                                                        : Mayor Jenderal TNI AD (Purn.) Muhammad Wiyono
  • Ketua Umum/Ketua Dewan Pendekar           : Sumedi Purbokusumo
  • Wk. Ketua Umum                                           : Kolonel TNI AL (Purn.) Muhammad Affandi
  • Wk. Ketua Umum                                           : AS. Cokroharsono
  • Sekretaris Jenderal                                          : Lekol TNI AD (Pun.) Soe’eib
  • Bendahara                                                       : Kolonel TNI AD (Purn.) Harun Al Rasyid

Dalam catatan Anggaran Dasar/ Anggaran Rumah Tangga Pengurus Pimpinan Pusat Pencak Organisasi (PO) yang dikeluarkan pada tanggal 26 Mei 1979 kepengurusannya lebih jelas, Kepengurusan saat itu pelindungnya adalah:

  • Pelindung                                                        : Mayor Jenderal TNI AD (Purn.) Mohammad Wiyono
  • Penasehat                                                        : Kolonel TNI AL (Purn.) Mohammad Affandi
  • Pembina Bid. Umum                                      : Mayor Jenderal Pol (Purn.) Drs. Subadi
  • Ketua Umum/Ketua Dewan Pendekar           : Sumedi Purbokusumo
  • Ketua I                                                              : Letkol HWA Su’eb
  • Ketua II                                                          : Mayor TNI AD Suraji
  • Sekretaris Umum                                            : Abdul Majid
  • Sekretaris I/Sekretaris Dewan Pendekar         : Heru Wibisono
  • Sekretaris II                                                    : Santoso HWA Soe’eb
  • Bendahara                                                       : Kapten TNI AD (Purn.) Sapra’i
  • Pembantu Umum                                            : Bekti Sunandar SH

Dari 2 (Dua) periode kepengurusan ini kita dapat melihat bahwa kepengurusan dan pengembangan organisasi perguruan silat Pencak Organisasi (PO) ini rata-rata di jabat oleh pejabat militer yang saat itu mempunyai prestise politik sangat tinggi dan kebetulan sang pendiri Imam Soedja’i disamping sebagai aktivis pergerakan kebangsaan juga merupakan perintis Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Oleh karena itu, terjadi perbedaan kepemimpinan  organisasi yang sebelum tahun 1945 perguruan silat Pencak Organisasi (PO)  banyak dikembangkan oleh para aktivis pergerakan politik, namun pasca meninggalnya Imam Soedja’i lebih banyak dikembangkan oleh tentara. Dasar-dasar keorganisasian tentara dengan disiplin yang tinggi yang kemudian di adopsi dalam latihannya menyebabkan Pencak Organisasi (PO) berkembang dan berprestasi dalam bidang kejuaraan pencak silat sebagai salah satu bidang keolahragaan. Hasil pada PON VIII 1973 Pencak Organisasi (PO) menyabet juara I Putri atas nama Sudarmi dari Blitar. Hasil yang lebih baik dicapai oleh perguruan silat ini lewat nama Kurnia Ifinatalia yang berhasil menyabet juara Dunia pada Kejuaran Dunia Pencak Silat beregu pada tahun 1992 dan dan juara Dunia Pencak Silat Tunggal pada tahun 1994, sedangkan Donovan Ramo Triono menyabet juara Dunia Pencak Silat  beregu pada tahun 1994 dan Juara Pencak Silat Sea Games pada tahun 1997 dan Rina Dwi Astuti yang menjuarai Kejurnas Pencak Silat pada tahun 1997, 1999 dan 2001,  disamping juga Juara 1 Pencak Silat ASIAN GAMES Busan Korea 2002,  Juara 1 Kejuaran Dunia Pencak Silat Malaysia 1997  dan Juara 1 Pencak Silat Festival Antar Bangsa di Malaysia tahun 2003.

  • Editor : Oren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.