Pencak Organisasi (PO) Berkembang di Indonesia Bagian Timur

Sejarah

Pencak Organisasi (PO) adalah sebuah perguruan silat yang turut menghantarkan jabang bayi Republik Indonesia dari dalam kandungan ibu pertiwi sejak tahun 1927-an sampai lahir dan mempertahankannya dari rongrongan penjajah Belanda dalam medio 1945-1949.

Oleh : Mansur Hidayat

Terkait era pergerakan kebangsaan nasional catatan perjuangan sang pendiri Imam Soedja’i dengan Pencak Organisasi (PO) nya. Imam Soedja’i banyak merekrut para pemuda dari kampung ke kampung yang sebelumnya hanya belajar silat untuk menjaga diri dan keluarganya semata kemudian diajarkan bagaimana bahwa pencak silat bisa dipakai untuk melawan kekuatan Kolonial Belanda yang saat itu punya senjata api modern. Salah satu rekrutan dari kalangan muda yang di catat adalah Sumedi Purbokusumo yang pada saat pendirian Pencak Organisasi baru berumur 17 tahun. 

Disamping para pemuda, para pendekar juga menjadi kelompok yang dirangkul oleh tokoh pergerakan dari Partai Sarekat Islam (PSI) tersebut. Sebelumnya para pendekar hanya melakukan perkelahian antar peguruan silat dan kebanyakan menjadi centeng Onderneming atau Perkebunan milik orang-orang Eropa. Perangkulan para pendekar ini mempunyai cerita tersendiri di kalangan para sesepuh perguruan silat ini. Para pendekar yang merasa berilmu tinggi biasanya tidak mudah ditaklukkan dan diajak berdiskusi tentang kebangsaan. Tidak jarang Imam Soedja’i kemudian mengajak duel mulai dari tangan kosong sampai menggunakan senjata api, setelah ditundukkan baru mereka diajak berjuang bersama-sama untuk pergerakan nasional. Dari berbagai kisah petualangannya ini, Pencak Organisasi (PO) mempunyai tempat tersendiri di benak masyarakat.

Pada saat Revolusi Indonesia 1945-1949 pendiri sekaligus guru besar Pencak Organisasi (PO) menjadi garda depan perjuangan mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945 dengan menjadi perintis Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang meraih kesuksesan merebut senjata terbesar dari tangan Jepang di kota Malang yang saat itu menjadi kota militer. Kepeloporan ini tentu saja diikuti oleh para anggota Pencak Organisasi (PO) yang giat mempertahankan negara Republik Indonesia yang baru lahir dengan memasuki Tentara Keamanan Rakyat (TKR) maupun badan ke-laskaran seperti Hizbullah.

Menurut Donovan Ramo Triono, cucu sesepuh Pencak Organisasi (PO) Letkol Wignyo Adi Su’aib pada Tim MMC lewat wawancara telepon dan tertulis  menceritakan penyebaran pencak silat ini di Kawasan Timur Indonesia. Pada saat kemerdekaan sudah bisa dipertahankan tahun 1950-an dan negara sedang menghadapi bahaya pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) pimpinan Dr. Soumokil maupun Darul Islam Indonesia/ Tentara Nasional Indonesia (DI/TII) pimpinan Kahar Muzakkar  pemerintah Republik Indonesia (RI) mengirimkan para prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI). Para prajuri TNI dari Kodam Brawijaya terutama yang berasal dari Divisi VII Untung Suropati yang notabane nya banyak diantaranya anggota Pencak Organisasi (PO) membawa pencak silat ini ke daerah-daerah yang menjadi wilayah tugasnya. Lebih jauh Ramo yang juga cucu sesepuh Pencak Organisasi (PO) Letkol HWA Su’aib tersebut mengatakan pada saat aktif menjadi atlit pencak silat ia sering bertemu dengan kontingen Sulawesi dan Maluku yang berasal dari Pencak Organisasi (PO). Dari Makasar ada Kapten Suhadi sebagai pendirinya dan dari Maluku ada Mayor Sakur sebagai pendirinya. Dari penelusuran Tim MMC berdasarkan dokumen Pencak Organisasi (PO) Maluku yang kini kePemimpinan Pusat Pencak Organisasi di Surabaya tercatat nama Mayor Sakur sebagai pendirinya, sedang di Kabupaten Luwu ada Mohammad Ali Usman sebagai Ketua Cabang pada tahun 1978.

  • Editor : Oren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.