Kerajaan Blambangan Di Bawah Prabu Tawangalun

Sejarah

Kerajaan Blambangan di masa munculnya raja Mas Kembar (Ki Mas Tanpauna) setelah menetap lama di Bali, telah menggugah kembali semangat rakyat Blambangan yang hampir padam. Sebelum penyerangan pasukan Mataram terakhir, ia lebih berhati-hati dalam menyusun siasat.

Oleh : Zainollah Ahmad

Kali ini Mas Kembar berpikir dan bersiasat lebih strategis praktis. Maka, dipindahkannyalah pusat pemerintahannya ke Kedawung (Jember), dan bergelar Pangeran Kedawung. Kejadian ini sekitar tahun 1651 – 1655.

Kemudian disebutkan juga dalam kisah Babad Tawangalun (anonim), bahwa dalam perjalanan tahun ke tahun kekuasaannya nampak kehidupan rakyatnya bertambah baik. Muncullah kemudian generasi-generasi dari Pangeran Kedawung yaitu dengan putera sulungnya Raden Mas Tawangalun  (1645–1691), Mas Wila, Mas Ayu Tanjung Sekar, Mas Ayu Melok dan Mas Ayu Gringsing Retna.

Ketika Ki Mas Tanpauna wafat, tampillah putra mahkota Pangeran Tawangalun menggantikan kedudukan ayahandanya sebagai Raja Blambangan, di Kedawung (Jember). Sebagai patih diangkatnya, Mas Wila. Kehidupan dan ketentraman rakyat di kerajaan tersebut terjamin aman dan tentram. Bulan silih berganti, waktu berjalan terus, merangkai aneka kehidupan dan peristiwa. Badai fitnah memaksa Tawangalun menyerahkan ke tangan adiknya Mas Wila dan Mas Ayu Tunjung Sekar sebagai patihnya (Babad Tawangalun, Anonim).

Kejadian tersebut di atas terjadi berkisar tahun 1659-1665 M. Sebagai seorang raja yang bijaksana dan berjiwa besar, penyerahan Kerajaan Blambangan Mula (Kedawung)  kepada Ki Mas Wila, dimaksudkan untuk meredam sifat-sifat ambisius dari adiknya. Prabu Tawangalun mengalah dan rela meninggalkan tahta kerajaan dengan tujuan keutuhan keluarga tetap terpelihara dengan baik. Lain halnya dengan sifat dan iktikad dari Mas Wila. Kesempatan yang diperolehnya digunakan sebaik-baiknya untuk memenuhi nafsu dan ambisi pribadinya. Kepada para pendukung Tawangalun, Ki Mas Wila bertindak sewenang-wenang dan tidak segan-segan mengambil langkah keras untuk menyingkirkannya. Prabu Tawangalun akhirnya meninggalkan Kedawung dengan bantuan beberapa pengikut setianya menuju daerah Bayu (sekarang termasuk Songgon, Banyuwangi) yang dianggap potensial dan strategis untuk mendirikan kerajaan baru.

Ternyata memang demikian kenyataannya, kerajaan yang didirikan Tawangalun di Bayu berkembang dengan pesat dan sangat maju. Sebaliknya di Kedawung yang ditinggalkan Tawangalun situasinya bertambah tidak menentu dan makin kacau. Banyak rakyat dan simpatisan dengan sembunyi-sembunyi meninggalkan Kedawung dan bergabung dengan Tawangalun di Bayu.

Berita tentang kemajuan serta perkembangan kerajaan baru tersebut akhirnya  sampai ke telinga  Mas Wila melalui telik sandinya. Terdorong rasa khawatir, takut dan iri akan kejayaan Bayu, Mas Wila berhasrat menghancurkan kerajaan yang baru berdiri itu. Dipersiapkannya pasukan penggempur yang tangguh, dan Kerajaan Blambangan di Bayu mulai diserang. Hal ini sangat memprihatinkan Prabu Tawangalun, karena Mas Wila begitu tega berbuat sesuatu hal di luar dugaannya. Maka dengan terpaksa Prabu Tawangalun menyiapkan pasukan guna mempertahankan kedaulatan negerinya. Dalam pertempuran sengit tersebut, Patih keraton Kedawung Mas Ayu Tanjung Sekar dan Senapati Wilateruna gugur dalam pertempuran, sehingga pasukan Kedawung bercerai-berai.  Begitu mendengar patihnya gugur, Mas Wila sangat marah, ia kemudian menyiapkan pasukan yang lebih kuat dan menggempur istana Bayu.

Namun ambisi Mas Wila sirna, akhirnya ia tewas dengan pasukan yang porak poranda, Tawangalun merasa sedih karena harus kehilangan saudara-saudaranya. Sehingga keraton Kedawung menjadi kosong, namun Tawangalun dengan bijak menyerahkan Keraton Kedawung kepada adiknya yaitu Mas Ayu Melok serta Mas Ayu Gringsing Retna sebagai patihnya. Perselisihan melawan saudaranya yaitu Mas Wila dan mungkin juga serangan-serangan Mataram, menjadi faktor Pangeran Tawangalun pada tahun 1659 M memindahkan ibu kota ke Bayu (30 km dari pantai timur), sekaligus merupakan pergeseran letak ibu kota dari berpusat di daerah pesisir dipindahkan ke pedalaman. Jika perpindahan ibu kota ke Kedawung pada tahun 1600-an sangat memungkinkan, maka dalam waktu 59 tahun kemungkinan ada dua pangeran yang bernama Tawangalun, tetapi sumber sejarah tidak memberikan informasi lebih lanjut. Akan tetapi, dapat diperkirakan bahwa pangeran yang memindahkan istana Macan Putih pada tahun 1665 M adalah Pangeran Tawangalun II. Pangeran Tawangalun II meninggal pada tahun 1691 dalam usia tua (Sudjana, 2001).

Kerajaan Blambangan di bawah Tawangalun II dalam waktu relatif singkat mencapai puncak kejayaannya. Hal ini didukung oleh faktor kepiawaian dan kebijaksanaan Tawangalun yang dibantu para pendampingnya. Sebagai raja besar, Tawangalun dikenal sebagai tokoh yang banyak memiliki istri, selir dan keturunan yang kemudian tersebar. Dari permaisuri Prabu Tawangalun yaitu Dewi Sumekar, dianugerahi empat orang putera yaitu : Mancanapura, Sasranegara, Gajah Binarong dan Kartanegara. Sedangkan dari isteri selirnya menurunkan Wilalodra, Wilasastra, Wilakarma, Wiriatmaja, Wiraguna, Wirayuda dan Wirajaya.

Kekuasaan raja-raja Blambangan yang pemerintahannya selalu berpindah-pindah  antara Tepasana, Wredati, Prasada (Lumajang), Kedawung (Jember), Panarukan (Situbondo) Blambangan (Banyuwangi) cukup menyulitkan sejarawan untuk melacak lokasi ibu kota yang sebenarnya. Sejarawan I Made Sudjana dalam bukunya Nagari Tawon Madu (digunakan sebagai istilah ibu kota Blambangan karena sering berpindah seperti tawon (lebah) yang mengikuti ratunya), tidak pernah menyebut nama ibu kota Blambangan yang berada di Lumajang. Hanya disebutkan dalam bukunya bahwa perpindahan yang terjadi antara tahun 1596-1774 itu sebanyak tujuh kali. Di antaranya Panarukan (1596), Kedawung (1659), Bayu (1665), Macan Putih (1697), Kutalateng (1774), Ulupampang (1774) dan Banyuwangi (1774).

Melalui sejarah yang panjang itu, pusat pemerintahan Kerajaan Blambangan seringkali berpindah, namun perpindahannya cenderung ke arah wilayah ujung timur Pulau Jawa. Salah satunya dicatat bahwa ibu kota kerajaan pernah berada di Kedawung Puger, Kabupaten Jember. Pemerintahan di Kedawung terjadi pada masa Prabu Tawangalun (I), sehingga nama raja itu sangat dekat dengan rakyat Jember. Tetapi dalam mengidentifikasi letak Kedawung sebagai ibu kota, di kalangan sejarawan masih timbul perdebatan dan belum sampai pada satu kesimpulan tentang lokasi sebenarnya ibu kota Blambangan tersebut. Keberadaan ibu kota Blambangan di Kedawung Puger sebagaimana telah disebutkan, menimbulkan interpretasi, karena ketika babad itu ditulis, nama Jember masih belum ada. Nama yang dikenal sejak masa Majapahit di samping Kedawung hanyalah Pagör/Pager (Puger). Sehingga asumsi yang muncul menunjukkan bahwa ibu kota Kedawung berada di Puger, yang maksudnya adalah  mungkin ‘Jember’.

Menurut hasil penelitian arkeologi yang didukung sumber mainstream sebelumnya, menyebutkan bahwa Kutha Kedawung di Paleran adalah situs warisan Majapahit di sekitar abad ke- 15/16, berdasarkan bukti-bukti artefak dan batu bata (batabang) yang terdapat di sana. Situs ini terkait erat dengan Situs Penggungan di Desa Klatakan, Kecamatan Tanggul dan Situs Beteng di Desa Sidomekar, Kecamatan Semboro. Keterkaitan antara ketiga situs ini yang disebut triangle berdasarkan atas kesamaan struktur, bentuk, ukuran, dan corak guratan batu bata dan artefak lain yang ditemukan. Selain itu juru kunci yang memelihara salah satu dari situs tersebut menguatkan dengan cerita tutur.

Dengan begitu dari kesimpulan uraian tersebut di atas, tidak pernah disebutkan secara pasti tentang lokasi sebenarnya bekas peninggalan kedaton Kedawung di Jember. Di Kecamatan Puger yang disebutkan sebagai letak ibu kota Blambangan, sampai sekarang tidak teridentifikasi nama desa atau dusun yang bernama Kedawung. Ada kemungkinan telah mengalami perubahan toponimi, sehingga sudah tidak dikenal lagi. Sedangkan di daerah Jember lain ada beberapa dusun dan desa yang bernama Kedawung. Beberapa nama ‘Kedawung’ di antaranya selain di Paleran Umbulsari (Kutha Kedawung), Gebang, Mumbulsari (Karang Kedawung), Kebonsari dan beberapa tempat lainnya. Di tempat-tempat tersebut menurut laporan beberapa penduduk terdapat beberapa bekas peninggalan arkeologis seperti batu bata besar. Lain halnya dengan ibu kota Blambangan di Macan Putih (Kabat), dan yang berada di Alas Purwo sudah jelas tapak situsnya karena ada bukti peninggalan yang masih terpelihara secara turun temurun.

Kalau kita mencermati pandangan dari sejarawan Hasan Jafar tentang sejarah keruntuhan Majapahit semenjak penyerangan Dyah Ranawijaya Girindrawardhana ke ibu kota Majapahit, maka kemudian Majapahit telah terpecah menjadi kadipaten-kadipaten kecil. Sebelumnya pada masa Prabu Kertawijaya pada tahun 1447-1451 M, wilayah utama Majapahit masih terpantau menjadi 24 wilayah propinsi yang merupakan negara sakawat bhumi (negara vassal) seperti Daha, Kahuripan, Pajang, Mataram, Wengker, Jagaraga, Tanjungpura, Lamajang, Kertabhumi, Wirabhumi, Matahun, Pamotan, dan lainnya.

Maka pada masa akhir Majapahit (abad XV) telah bermunculan wilayah-wilayah baru seperti Demak, Pengging, Giri, Sengguruh, Tepasana, Garudha, Surabaya, Terung, Japan, Wirasabha, Tepasana, Dengkol, Jamunda, Babadan, Tegal, Kendal, Jepara, Semarang, Tedunan, Pati, Binangun, Jipang, Keniten, Balitar, Srengat, Panjer, Hantang, Pamenang, Rawa, Kampak, Mahespati, Panaraga, Wirasara, Jagaraga, Sidayu, Tuban, Tandhes, Lamongan, Pesagi, Pasir, Uter, Taji, Bojong, Tedunan, Jaratan, Kajongan, Rajegwesi, Kanduruwan, Banger, Gending, Kedawung, Blambangan, Puger, Sumenep, Pamadegan, Prombasan, Arosbaya dan Gili Mandangin. Masing-masing satu sama lain mengaku sebagai penerus Majapahit sehingga pecah peperangan di antara mereka.

Dari uraian di atas, dapat ditarik suatu konklusi bahwa Kadipaten Kedawung di Jember dan Kadipaten Puger serta Blambangan telah berdiri sendiri sebagai daerah otonom yang sama-sama mengklaim penerus Majapahit. Sehingga kalau ada sumber yang menyebutkan ‘Kedawung’ berada di Puger tentu akan tumpang tindih dan membingungkan. Penulis cenderung punya asumsi bahwa bila terkait sebagai ibu kota Blambangan, Kedawung yang dimaksud tentu berada agak jauh dari wilayah Puger, Karena bila berbatasan atau berdekatan secara langsung akan memungkinkan terjadi gesekan dan pertikaian antar dua penguasa tersebut. Menurut naturalis J. Hageman dalam laporan penelitiannya menyebutkan tentang  dua nama, yaitu Kadawong dan Kedawoengdalam mengidentifikasi kota-kota kuna di Jember, yang tentu dalam hal ini masih menimbulkan kerancuan. Penelitian Hageman tidak menutup kemungkinan bahwa di antara bekas kota kuna di Jember seperti Kutha Keranjingan, Kutha Boro, Kutha Blater dan Kedawoeng/Kadawong adalah salah satu lokasi yang pernah jadi ibu kota Blambangan awal yang sebenarnya. Mengingat lokasi-lokasi yang dimaksud pernah ditemukan tapak arkeologis berupa struktur batu bata besar dan artefak lainnya (Hageman, 1861).

Editor : Mansur Hidayat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.