Kutha Sembara: Benteng Terakhir Pertahanan Majapahit Melawan Demak

Cagar Budaya Sejarah

Dalam sumber naskah tradisi Serat Kandha dan Babad Tanah Jawi menyebutkan kehancuran Majapahit pada tahun 1478 karena serangan Raden Patah dari Kerajaan Demak. Riwayat keruntuhan Majapahit pada tahun Saka 1400 menurut isi serat tersebut tentu saja tidak benar, karena tidak didukung dengan bukti-bukti dari sumber primer yang lebih valid.

Oleh : Zainollah Ahmad

Bukti-bukti mencatat bahwa Majapahit sebenarnya tidak runtuh sebagaimana yang disebutkan tahun 1478 M. Karena banyaknya prasasti yang menjelaskan bahwa Majapahit masih eksis dalam jangka waktu yang lama. Seperti Prasasti Jiyu tahun 1486 M. yang masih mencatat adanya kekuasaan Majapahit dengan raja yang berkuasa waktu itu bernama Ranawijaya yang bergelar Girindrawardhana Dyah Ranawijaya.

Girindrawardhana Dyah Wardhana merupakan penguasa Majapahit, Jenggala dan Kadiri sesuai dengan gelarnya Sri Wilwatikta Jenggala Kadiri. Pada tahun 1513 Tome Pires yang ditulis dalam Suma Oriental, masih menyebut adanya raja Majapahit bernama Bhatara Vigiaya yang bertahta di Dayo, yang pemerintahannya dikendalikan oleh Pate Amdura. Bhatara Vigiaya adalah ejaan Portugis untuk Bhatara Wijaya atau Brawijaya. Dayo mempunyai makna Daha yang kala itu diperintah oleh Dyah Ranawijaya pada tahun 1486. Dengan kata lain, Brawijaya adalah Bhatara Wijaya yang merupakan nama lain dari Dyah Ranawijaya.

Rupanya keberadaan peninggalan arkeologis di Kutha Dawung, Beteng dan Penggungan Jember, lebih diselaraskan dengan naskah tradisi babad dan serat serta cerita tutur. Kehancuran Majapahit yang diceritakan dalam Serat Kandha menyebutkan runtuh pada tahun 1478 Masehi, dengan candrasangkala (kronogram) Sirna ilang kertaning bhumi atau tahun 1400 Saka. Tengara ini dikaitkan dengan serangan Raden Patah dari Demak kepada ayahnya Brawijaya V yang konon tidak mau menyerah dan memeluk agama Islam sehingga memilih menyingkir ke luar ibu kota. Dalam kitab Pararaton, kehancuran Majapahit disebutkan pada tahun yang sama, dengan kronogram Sunya nora yuganing wong – 1400 Saka (1478 M). Namun tesis ini dianggap tidak valid karena hingga tahun 1526 Majapahit ternyata masih eksis, berdasarkan sumber Portugis dan kronik Cina. Catatan Tomé Pires, Fernao Mendéz Pinto, dan Joao de Barros, menyebutkan kehancuran Majapahit ternyata tidak terjadi pada tahun 1478.

Ketika Tome Pires berada di Jawa (1512-1515) ia masih menyaksikan Majapahit belum runtuh dan beribu kota di Daha yang kala itu disatukan dengan Majapahit, di bawah kendali Girindrawardhana Dyah Ranawijaya. Raja ini diidentikkan dengan Bhattara Vigiaya atau Brawijaya yang pernah diserang Trenggana dari Demak tahun 1527, lalu menyingkir ke Sengguruh kemudian menuju Kaniten sebelum akhirnya ke Panarukan (Groeneveldt, 1960; Mulyana, 1983:318). Dalam Serat Kandha disebutkan bahwa Girindrawardhana Dyah Ranawijaya melarikan diri ke Bali setelah jatuhnya Daha oleh serangan Demak. Kiranya keterangan ini juga menjadi bahan kajian bahwa pelarian Brawijaya V (Dyah Ranawijaya) ke arah timur, sama dengan kronik Portugis. Beberapa kali serangan Demak ke Majapahit yang beribu kota di Daha dilakukan pada tahun 1517. Sultan Demak kedua, Pati Unus juga menyerang Majapahit pada tahun 1521, menyebabkan kondisi Majapahit makin terpuruk, yang sebelumnya dilanda perang saudara. Serangan terakhir Majapahit dilakukan oleh Sultan Trenggana dari Demak pada tahun 1527. Namun banyak yang salah kaprah dalam menerjemahkan serangan Demak ini terjadi dalam tahun 1478, berdasarkan narasi babad atau serat disebutkan di atas.

Babad Sangkalaning Momana menyebutkan bahwa di tahun 1527 tentara Demak menguasai pelabuhan penting Majapahit di Tuban. Babad tersebut menyatakan dalam kronogram Duk Ingosak-asiking Kadhiri, Wawu 1449 Jawa (1527 Masehi). Kronik Sam Po Kong di Semarang juga menyebut tahun yang sama tentang keruntuhan Majapahit di Kadiri tersebut. Babad Sangkala ini memiliki bukti catatan yang lebih valid berdasarkan catatan Portugis Tomé Pires yang diperkuat Fernao Mendes Pinto, dibandingkan yang lain.

Jika mengacu kepada cerita tutur setempat, nama tokoh yang dimaksud yaitu Brawijaya V lebih mengacu kepada Girindrawardhana Dyah Ranawijaya yang lari kala terjadi serangan Sultan Trenggana ke Majapahit (Mulyana, 1985). Raja ini melarikan diri ke Sengguruh (Supit Urang), kemudian menuju arah timur yang disebutkan ke Panarukan. Menurut Serat Kandha dan Babad Sangkala, setelah runtuhnya Majapahit sisa-sisa kekuatannya terkonsentrasi di Jawa Timur bagian selatan seperti di Sengguruh (Malang). Menurut sejarawan Hermanus Johannes de Graaf, bahwa sudah jatuhnya kota Majapahit yang direbut oleh orang-orang Islam, kiranya anak laki-laki patih Majapahit, Raden Pramana masih bertahan di pegunungan Sengguruh yang strategis.

Terkait tentang Panarukan dimaksud, masih menimbulkan tafsir terutama jika dihubungkan dengan wilayah saat itu, karena wilayah Panarukan bagian barat berbatasan dengan Pajarakan dan Pasuruan, sebagai tiga kerajaan yang bersaing pada abad ke-15 – 16 (de Graaf, 1955 ; Cortesao, 2014). Sedangkan Pajarakan yang disebutkan masih menjadi pertanyaan, apakah sekarang Kecamatan Pajarakan di Probolinggo atau Desa Pajarakan di Lumajang?, karena nama ini memiliki perjalanan sejarah yang disebutkan dalam naskah-naskah kuno. Dalam Babad Blambangan disebutkan bahwa Puger (termasuk wilayah Kedawung) juga pernah menjadi wilayah Panarukan ketika terjadi invasi raja Klungkung (Bali Selatan) dan Mataram (Arifin, 1995). Sehingga dengan kuatnya cerita tutur dan bukti arkeologis pengaruh Majapahit, cukup untuk menguatkan dugaan bahwa pelarian Girindrawardhana Dyah Ranawijaya (Brawijaya) adalah ke wilayah Sembara (Semboro) dengan membangun benteng pertahanan di Situs Beteng, menetapkan pemukiman di Kutha Kedawung dan mendirikan asrama militer di Tumenggungan (Penggungan). Namun selanjutnya berpindah lagi ke timur, tepatnya di pusat ibu kota Panarukan.

Menurut sejarawan Dwi Cahyono (2019), toponimi Semboro dimungkinkan berasal dari kata “Sembar” yaitu nama Minak Sembar, seorang penguasa di Kedawung yang “konon” berkedudukan di Kutha Kedawung, termasuk Beteng di Kutha Sembara (Semboro). Hipotesis tentang keberadaan nagari Kedawung yang berpusat (ibu kota) di Kutha Kedawung, didukung oleh sebuah tempat yang bernama Babatan, salah satu dusun di Semboro yang juga disebut dalam Babad Blambangan sebagai lokasi bagian ibu kota.

Dengan begitu bisa disimpulkan, Situs Beteng Sidomekar merupakan ‘benteng pertahanan’ nagari Kedawung, yang sebelumnya pernah digunakan oleh dinasti terakhir Kerajaan Majapahit. Kerajaan Kedawung tentu menggunakan benteng bekas Majapahit tersebut untuk mempertahankan keberadaannya dari serangan musuh yang kala itu intensitas peperangannya sangat masif. Sehingga benteng yang ada dan begitu kokoh tersebut lalu dimanfaatkan untuk menangkal para agresor dari luar. Berdasarkan kajian arkeologis, Situs Beteng, Situs Kutha Kedawung dan Situs Penggungan (Tumenggungan) adalah peninggalan era Majapahit. Seperti bukti adanya tinggalan batu bata kuno yang bergurat, keris/tombak yang bertangguh Majapahit, terakotta dan artefak lainnya, menunjukkan ciri yang sama dengan temuan di Trowulan, Mojokerto. Keterangan yang didasarkan pada cerita tutur ini cukup kuat karena didukung oleh catatan sejarah, namun terdapat juga mitos yang  melemahkan. Dalam cerita tutur yang masih dipercaya oleh juru pelihara (jurpel) situs dan masyarakat setempat disebutkan, Situs Beteng merupakan benteng pertahanan raja Majapahit yaitu Brawijaya V yang menyingkir ke Bang Wetan karena diserang oleh anaknya, Raden Patah dari Demak pada tahun 1478 M.

Asumsi keberadaan Situs Beteng yang dihubungkan dengan Brawijaya V dalam cerita tutur, kiranya identik dengan catatan tentang pelarian Girindrawardhana Dyah Ranawijaya ke wilayah Kaniten dan Panarukan, dimana kawasan Jember (Puger) dulu merupakan bagian kekuasaan Panarukan.

Keberadaan bekas benteng di Kutha Sembara yang merupakan bagian terluar sebagai basis pertahanan Kedawung tidak bisa dilepaskan dengan konflik dan peperangan antara kekuatan kontestasi dari Mataram, Bali, Panarukan, Pasuruan dan Blambangan pada abad ke-16 sampai dengan ke-17.  Ketika Pasuruan menguasai dan menduduki Blambangan (di Kedawung) sekitar tahun 1601, raja Dewa Agung dari Mengwi dan Gelgel mengadakan serangan ke Blambangan. Kapal-kapal Belanda di Teluk Gilimanuk yang berisi prajurit Bali bergabung untuk membantu Blambangan. Penguasa Bali Gelgel selanjutnya mengangkat Mas Kriyan sebagai adipati di Blambangan (Mula) yang berkedudukan di Kedawung (Jember), antara tahun 1613 sampai tahun 1625 M. Kedudukan Mas Kriyan sebagai Adipati Blambangan atas nama raja Bali kembali jatuh ketika Sultan Agung raja Mataram melancarkan serangan ke Blambangan. Serangan ini merupakan usaha Sultan Mataram membinasakan raja-raja Bali yang menguasai Blambangan. Penyerangan tahun 1625 ini dilaksanakan dengan mengerahkan tentara Mataram sebanyak 20.000 sampai 30.000 prajurit. Hal ini terjadi sesudah Sultan Agung menaklukkan Surabaya (Dasuki Noer, 2002).

Tetapi karena letak Mataram berjauhan dengan Blambangan, maka negara baru ini (Kedawung) kurang mendapat pengawasan dari pusat, sehingga memberi peluang bagi Dewa Agung sebagai Raja Gelgel untuk menanamkan pengaruh kekuasaannya di Blambangan kembali. Hingga pada tahun 1632, Dewa Agung kembali berkuasa di Blambangan, Panarukan, dan Blitar. Sedangkan penguasa-penguasa setempat di Ujung Timur Jawa meminta bantuan raja-raja Bali untuk menghadapi ancaman serangan mendadak dari laskar Mataram.

Adipati Singosari yang telah banyak memberikan hadiah-hadiah besar kepada Raja Bali, pada tahun 1633 diangkat sebagai raja di Blambangan dan Adipati Kriyan bersama seluruh keluarganya melarikan diri setelah dikejar-kejar oleh Adipati Singosari. Hingga akhirnya dapat tertangkap dan dibunuh oleh Adipati Singosari serta dikremasi (Lekkerkerker, 1923). Rupanya Mataram menyadari ancaman dan pengaruh Bali ini hingga pada tahun 1636 M, kembali Mataram melancarkan serangan ke Blambangan. Kali ini Blambangan dibakar dan dihancurkan sama sekali. Namun usaha menyerang Bali gagal dan pasukannya kembali ke Mataram (Ketut Ginarsa, Suparman (t.t)).

Dengan kembalinya prajurit-prajurit Mataram ke negerinya, memberi peluang bagi Adipati Singosari membenahi kembali Kerajaan Blambangan (Kedawung) yang sudah porak poranda. Belum sampai tuntas usahanya dalam memperbaiki negerinya, kembali pada tahun 1639 Mataram mengadakan serbuan ke Blambangan. Bantuan dari Bali yang dipimpin seorang raja dari Tabanan rupanya tidak mampu menghadapi gempuran laskar Mataram yang dahsyat. Bantuan lain dari Bali masih mengalir dalam usaha campur tangannya raja-raja Bali dalam sejarah bagian tengah dan timur pulau Jawa ini. (De Graaf, hal. 245).

Menurut C. Lekkerkerker, Gubernur Jenderal Van Diemen menulis surat kepada Ratu Belanda ke XVII tentang perang tahun 1639 M. Surat tersebut tertanggal 18 Desember 1639, intinya tentang keberhasilan Sultan Agung menundukkan seluruh Jawa Timur dan melakukan pendaratan di Bali. Dan yang kedua, Raja Bali meminta bantuan berupa 3 sampai 4 buah kapal untuk membendung infiltrasi dan lain-lainnya. Namun di sini secara tidak langsung VOC sudah mulai akan turut campur tangan dalam permasalahan Bali-Blambangan-Mataram. Dalam pertempuran tahun 1639 M itu rupanya laskar Blambangan mendapat tekanan yang sangat keras, sehingga dengan personil 500 sebagai bantuan dari Bali pimpinan Adipati Singosari tidak mampu menandingi kekuatan Mataram yang dipimpin tokoh-tokoh sakti, menyebabkan sang Adipati melarikan diri dan tidak diketahui di mana rimbanya. Konon ketika akan maju menyongsong musuh, sang Adipati sempat menyerahkan pertahanan kotanya kepada putranya, Ki Mas Kembar yang berkedudukan di Kedawung (Jember). Bagaimanapun semangat Ki Mas Kembar untuk mempertahankan kota kerajaan dengan gigih, namun kekuatan musuh dengan dipimpin orang-orang tangguh, maka mau tak mau memaksa Ki Mas Kembar rela menyerahkan ibu kota kerajaannya kepada pasukan Mataram. Di samping prajuritnya banyak yang terluka parah dan tewas, banyak pula sisa pasukan dan rakyatnya yang melarikan diri ke daerah pegunungan untuk menyelamatkan diri. Walaupun demikian masih dapat dikejar oleh pasukan Mataram sehingga dalam keadaan yang sangat terjepit, akhirnya harus pula menyerah. Mas Kembar beserta sejumlah besar rakyat Blambangan menyerah dengan hasil rampasan perang yang segera dikirim ke Mataram. Setibanya di Mataram, Mas Kembar dibebaskan dari tahanan dengan syarat bersumpah setia kepada Mataram. Dengan sumpah setia kepada Mataram itu, Mas Kembar diangkat sebagai Adipati di Blambangan, maka kekuasaan atas Blambangan telah berpindah dari Bali ke tangan Mataram.

  • Editor : Mansur Hidayat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.