Kurnia Ifinatalia: Srikandi Mungil Yang Mendunia

Tokoh

Tak banyak pesilat muda Pencak Organisasi (PO) yang mengenang namanya, tidak ada juga catatan khusus dari untuk sekedar mengenang prestasi perempuan mungil paruh baya yang sekarang masih tetap konsisten melatih pencak silat.

Oleh : Mansur Hidayat

Lahir dari pasangan Bagyo Oyon Sucahyono (Pak Oyon) dan Narindrani pada 27 Desember 1968 Kurnia Ifinatalia memang sejak dalam kandungan ditakdirkan sudah bergaul bersama para pendekar Pencak Organisasi (PO). Menurut penuturannya sejak dalam kandungan, ketika hamil dirinya saat itu sang Ibu sering mondar-mandir untuk membantu para atlit Pencak Organisasi (PO) ketika sedang berkunjung maupun bertanding di Surabaya. Hal ini dikarenakan keluarga besar perempuan yang akrab dipanggil Fina ini adalah pengurus pusat Pencak Organisasi (PO). Ayahnya yang akrab dipanggil Pak Oyon pernah menjabat sebagai Sekretaris II Pengurus Pusat Pencak Organisasi dan Kakeknya yaitu Letkol HWA Soe’eib adalah seorang purnawirawan TNI AD yang kemudian menjadi Sekretaris Jenderal perguruan silat ini sejak tahun 1970.

Fina kecil bersama adik laki-lakinya yang bernama Donovan Ramo Triono yang 2 tahun lebih muda dilatih sendiri oleh sang ayah yang juga pendekar Pencak Organisasi (PO). Karena latihan yang intensif sejak muda tersebut, maka keduanya menjadi pendekar yang disegani sejak usia muda. Bagi perempuan sendiri pada tahun 1980-an masih menjadi hal yang aneh ketika mendalami pencak silat, demikian juga bagi seorang Fina banyak pujian sekaligus cibiran di awal karirnya mendalami dunia kependekaran. Namun atas dorongan dan motivasi sang ayah yang juga merangkap pelatihnya, berbagai hal yang negatif tersebut diacuhkan begitu saja oleh dirinya.

Fina mulai berprestasi pada saat Kejurcab Pencak Silat Remaja II memperebutkan Piala Wali Kota Surabaya pada tanggal 2-11 Oktober 1982 . Saat itu Fina merebut Juara I Kelas A Putri  dan Pesilat Terbaik Putri Remaja II. Sebulan kemudian pada Bulan Nopember tahun 1982, pesilat mungil ini merebut juara II Kelas A Putri Kejurda Pencak Silat Remaja II yang diadakan di Malang. Setelah kejuaraan di Malang ini ia yang mewakili kontingen pencak silat putri Jawa Timur terus menerus menyabet gelar juara I baik yang beregu, tunggal tangan kosongmaupun Tunggal bersenjata di ajang Nasional yang dilangsungkan sejak tahun 1985-1991.

Pada bulan Oktober 1992 Fina yang mewakili kontingen Jawa Timur merebut juara I dalam kategori tunggal tangan kosong Putri  dan Kategori beregu untuk seleksi Nasional menuju Kejuaraan Dunia yang diadakan di Jakarta. Setelah mempersiapkan latihan dengan baik maka 2 bulan kemudian tepatnya Desember 1992 Fina bersama sang Adik yaitu Ramo, Firman, Diah dan Roro menjadiJuara I Kategori Beregu di Kejuaraan Dunia tersebut. Hal ini tentu saja mengharumkan nama pencak silat Indonesia di mata dunia dan khususnya Pencak Organisasi (PO) dimana para atlitnya bisa menjadi Juara Dunia untuk pertama kalinya.

Setelah kemenangan di Kejuaraan Dunia tahun 1992 ini, Fina terus menyabet gelar juara di berbagai kejuaraan yang ada seperti Juara I Tunggal Tangan Kosong Putri mulai dari Brawijaya Cup Tahun 1992, Exibisi PON XIII Tahun 1993, Kejurnas Pencak Silat Seni dan Bela Diri Tahun 1994 maupun Tunggal Bersenjata Putri (Trisula) Tahun 1994. Setelah berbagai kemenangan tersebut, Fina mempersiapkan dirinya untuk persiapan dan seleksi Nasional Kejuaran Dunia Pencak Silat di  Jakarta pada 20 Nopember 1994. Dengan persiapan yang cukup maka Fina berhasil meraih Juara I dalam seleksi Nasional ini dan karenanya berhak untuk mengikuti Kejuaran Dunia kedua kalinya. Dalam Kejuaraan Dunia yang di gelar di kota Hattyai, Thailand pada 13-18 Desember 1994 Fina yang mewakili kontingen Indonesia menyabet Juara I Tunggal Tangan Kosong Putri.

Selepas menjadi Juara Dunia Tunggal Tangan Kosong Putri di Thailand ini, Fina kemudian mulai menekuni dunia kepelatihan dengan membina para yuniornya di Pencak Organisasi (PO). Salah satu pesilat yunior yang dilatihnya yaitu Rina Dwi Astuti kemudian mampu merebut berbagai prestasi di Kejuaran Nasional, Asia dan bahkan di Kejuaraan Dunia. Demikianlah kisah Srikandi Silat Indonesia yang berhasil menorehkan prestasinya baik sebagai atlit maupun sebagai pelatih. Pasca tahun 2012 prestasi atlit Pencak Organisasi (PO) tidak semoncer pada dekade 1990- 2000 an. Kesibukan Fina setiap hari adalah melatih ekstra kulikuler pelajar yang mendalami Pencak Organisasi (PO) di Surabaya. Hari-harinya di isi untuk me-motiovasi para yuniornya di perguruan silat yang didirikan salah seorang perintis Tentara Nasional Indonesia (TNI) ini untuk meraih prestasi di berbagai kejuaraan. Disamping itu kedua putrinya juga sudah menujukkan prestasinya dengan meraih gelar di berbagai Kejuaran Pencak Silat tingkat Daerah maupun Nasional.

  • Editor : Retno Dumilah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.