Jelang Lahirnya Pencak Organisasi (PO), Cokroaminoto dan Bung Karno Bertemu Imam Soedja’i

Cagar Budaya Sejarah

Suatu petang bakda maghrib, jurnalis MMC mengunjungi Masjid Muhammadiyah At Taqwa yang terletak di depan Stasiun Tempeh Jalan Raya Tempeh Kabupaten Lumajang Jawa Timur. Selesai sholat berjamaah nampaknya para pengurus masjid tidak langsung membubarkan diri namun menyempatkan ngobrol dan diskusi bersama sambil menikmati secangkit kopi ditemani jajanan mulai pisang, pisang rebus, singkong sampai pisang goreng.

Oleh : Mansur Hidayat

Para pengurus yang sedang berkumpul kemudian menanyakan kedatangan jurnalis MMC sambil menawarkan untuk ngobrol bersama secara kekeluargaan. Ketika jurnalis MMC menyatakan maksudnya untuk menggali informasi terkait kedatangan pak Cokroaminoto, semua yang hadir sangat antusias.

Memang saat itu secara tidak sengaja dan di programkan berkumpul para pengurus yang usianya rata-rata lebih dari 60 tahunan. Takmir Masjid Pak Sugeng (71 tahun) dengan pak sujono (61 tahun) sangat bersemangat ketika menjelaskan cerita kedatangan Cokroaminoto. Mereka ini juga mendengar dari para sesepuh dan takmir Masjid lama yang bernama Kyai Asnawi yang bercerita bahwa Masjid At Taqwa ini dulunya dikenal dengan nama Langgar Kyai Senawi yang ukurannya kecil dan merupakan wakaf dari seorang pengusaha tembakau sukses bernama Haji Muhammad Said yang rumahnya berada bangunan langgar tersebut. Lebih jauh keduanya bercerita bahwa di samping Haji Muhammad Said ada tokoh-tokoh seperti Pak Kepala Desa Drawi dan juga Pak Amari. Lebih jauh keduanya juga menambahkan bahwa kedatangan Cokroaminoto sebagai Ketua Sarekat Islam (SI) yang di dampingi Bung Karno untuk bertemu dengan tokoh Sarekat Islam Lumajang yang salah satunya adalah Imam Soedja’i dan mengunjungi sekolah partikelir yang didirikan oleh Sarekat Islam (SI) yang terletak di selatan Langgar tersebut. Hari bangunan sekolah itu telah berubah menjadi rumah milik Masjid yang bentuknya tidak banyak berubah dan ditempati oleh Takmirnya.

Informasi kedatangan Cokroaminoto dengan Bung Karno untuk bertemu dengan Imam Soedja’i ini juga di dapat dari makalah tentang lahirnya Pencak Organisasi (PO) yang ditulis oleh Imam Hidayat yang merupakan putra sulung pendiri perguruan silat ini pada tahun 2013. Pria yang akrab dipanggil Pak Guk yang tahun lalu meninggal dunia tersebut menyatakan bahwa sebelum mendirikan perguruan silat Pencak Organisasi (PO) ayahnya pernah melakukan pertemuan dengan Pak Cokroaminoto dan Bung Karno di sebuah langgar kecil di Desa Tempeh Lor. Nah kedua informasi ini menemukan titik yang sama meskipun tidak pernah diperoleh angka tahun yang pasti. Namun melihat catatan sejarah saat Cokroaminoto sering mengajak Bung Karno yang merupakan anggota Sarekat Islam dan menantunya saat itu maka dapat diduga kunjungan dan pertemuan bersejarah ini terjadi pada sebelum tahun 1927 atau sebelum lahir perguruan Pencak Organisasi (PO) yang kemudian menjadi salah satu sayap perguruan silat Partai Sarekat Islam (PSI). Hubungan antara Langgar Kyai Senewi dengan perguruan Pencak Organisasi (PO) sendiri terus berlangsung pasca kemerdekaan. Meneurut Pak Sugeng pada tahun 1977 Langgar direnovasi menjadi Masjid sebagai cikal bakal seperti sekarang ini. Pada saat peresmian para pengurus Masjid mendatangkan para pendekar Pencak Organisasi (PO) untuk meramaikan acaranya. Saat itu para pendekar dipimpin langsung oleh Bapak Sumedi yang saat itu adalah Ketua Dewan Pendekar sekaligus Ketua Umum Pencak Organisasi (PO) dan juga Ketua Cabang Lumajang yaitu RM. Yunani Prawirokusumo. Dalam kesempatan tersebut, Bapak Sumedi kemudian memberikan jam dinding yang sampai sekarang masih dirawat keberadaannya.

  • Reporter/Foto : Yoshi/Ezzy
  • Editor : Oren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.