Sumedi Purbokusumo: Tokoh Penerima Amanat Imam Soedja’i

Tokoh

Berbicara tentang perguruan pencak silat Pencak Organisasi (PO) tentu saja tidak bisa dilepaskan oleh peran serta 2 (Dua) tokoh sentralnya.

Oleh : Mansur Hidayat

Pertama tentu saja sang pendiri dan guru besarnya yaitu Imam Soedja’i, seorang tokoh pergerakan kebangsaan dan juga perintis Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Yang kedua adalah tokoh yang ikut menyertai sang pendiri saat membentuk pencak organisasi (PO) yang sejak muda sudah berlatih jurus-jurus pencak organisasi dan kemudian ketika sang pendiri wafat menjadi pemegang amanat untuk meneruskan perguruan silat ini untuk dikembangkan sampai sekarang. Tokoh ini tidak lain adalah RM Sumedi Purbokusumo.

Tidak banyak catatan pribadi yang ditinggalkan oleh tokoh yang sangat dihormati kalangan perguruan silat Pencak Organisasi (PO) ini. Menurut Surat Ijin Mengemudi (SIM) C bertahun 1973, ia dilahirkan di Tulungagung pada tahun 1910-an. Pada masa sangat muda RM Sumedi Purbokusumo pindah ke Lumajang ikut dengan “Pak De” nya yang bernama Ki Purwo yang saat itu adalah pegawai kereta api di kota Lumajang.

Menurut salah seorang keponakannya yang bernama Dayat (56 tahun), Sumedi Purbokusumo sejak kecil sudah senang namanya silat, sehingga ketika bertemu dengan pendekar bernama Imam Soedja’i maka ia-pun turut mengiringi pengembaraannya bersilaturahmi dengan berbagai macam perguruan silat sebelum membentuk Pencak Organisasi (PO). Sebagai kader Pencak Organisasi (PO) dan tentu saja anggota Partai Sarekat Islam (PSI), Sumedi Purbokusumo belajar teknik bela diri dengan jumlah 35 jurus atau yang dikenal sebagai  35 nomer yang kemudian dikenal sebagai menjadi dasar teknik PO. Sebagai kader Partai Sarekat Islam tentu saja wawasan kebangsaan dan keislaman sudah menjadi bagian hidupnya sehingga ketika pada tahun 1944 sang pendiri Pencak Organisasi (PO) Imam Soedja’i kemudian direkomendasikan oleh Bung Karno yang dulunya juga mantan anggota Sarekat Islam dan kawan seperjuangannya sejak muda untuk masuk pelatihan pasukan Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor, mama RM Sumedi Purbokusumo menerima tanggung jawab untuk menjaga dan mengembangkan Pencak Organisasi (PO).

Pada tahun 1950 setelah non aktif menjadi tentara, Imam Soedja’i kembali lagi ke Lumajang untuk berkumpul dan berlatih bersama kembali dengan keluarga besar Pencak Organisasi (PO) dan kemudian setelah wafat pada 29 Januari 1953, RM Sumedi Purbokusumo yang saat itu berumur 43 tahun ditunjuk sebagai pemegang amanat pendiri PO. Tanggung jawab pemegang amanat pendiri PO ini kemudian menjadikan RM Sumedi Purbokusumo sebagai pendekar yang sangat dihormati oleh bekas anak buah sang pendiri yang berkarir di dunia militer maupun para pendekar dari kalangan masyarakat. RM Sumedi Purbokusumo-pun memang melaksanakan tanggung jawab tersebut dengan sepenuh hati ketika perguruan silat pencak organisasi (PO) telah berkembang tidak hanya di Jawa Timur namun juga sampai di Propinsi Maluku. Pengembangan perguruan silat ini di Sulawesi selatan sebenarnya sudah dirintis sejak tahun 1937 oleh Kusairi namun kemudian diperkuat kembali ketika para anggota Kodam Brawijaya yang berasal dari bekas Divisi VII Untung Suropati yang dahulunya didirikan oleh Imam Soedja’i sewaktu Revolusi Indonesia tahun 1945 ikut dikirim memadamkan pemberontakan Kahar Muzakkar pada sekitar tahun 1957-an. Demikian juga pengembangan perguruan silat Pencak Organisasi (PO) di Propinsi Maluku yang dibawa oleh anggota Kodam Brawijaya dalam rangka memedamkan pemberontakan republik Maluku Selatan (RMS) pimpinnan Dr. Soumokil pada tahun 1950-an.

Pasca geger politik tahun 1965 yang membuat prahara bagi bangsa, pada tahun 1970 RM Sumedi Purbokusumo kemudian melakukan konsolidasi organisasi dengan mengadakan Musyawarah Besar Pencak Organisasi (PO) di Lumajang. Pada Musyawarah Besar (Mubes) itu ia ditunjuk sebagai Ketua Dewan Pendekar sekaligus Ketua Umum Pencak Organisasi (PO) dengan kedudukan di Lumajang sedangkan Sekretaris Jenderal dijabat oleh Letol. TNI AD Purn. HWA Soe’eb dengan pusat organisasi di Surabaya. Dan kemudian dalam catatan pergantian pengurus pusat Pencak Organisasi (PO) pada tahun 1979, RM Sumedi Purbokusumo kembali menjadi Ketua Dewan Pendekar dan Ketua Umum PO sampai meninggal pada tahun 1984 dan dimakamkan di Pemakaman Umum Ditotrunan Lumajang.

Tidak banyak catatan tentang kehidupan pribadinya, yang kemudian kita mengetahui pada tanggal 1 Oktober 1945 RM Sumedi Purbokusumo melangsungkan pernikahan yang kedua kalinya dengan Soepiyah yang kelahiran tahun 1928 sebagai istri keduanya. Namun nampaknya dari kedua perkawinanannya ini RM Sumedi Purbokusumo tidak mempunyai anak sehingga mengangkat para keponakannya sebagai putra angkatnya seperti Ismandoyo yang kemudian ikut meneruskan menjadi pendekar Pencak Organisasi (PO) namun sudah meninggal beberapa waktu yang lalu maupun Dayat yang saat ini menempati rumah keluarga besar RM Sumedi Purbokusumo.

Menurut pendapat banyak kalangan di kalangan Pencak Organisasi (PO), RM Sumedi Purbokusumo dianggap berasal dari kalangan militer. Namun dalam catatan resmi, tidak sekalipun pendekar ini mencantumkan tanda kepangkatan militernya dan bahkan dalam surat nikah dengan istri keduanya yaitu Soepiyah pada 1 Oktober 1945 dicantumkan pekerjaannya adalah dagang dan dalam keterangan Surat Ijin Mengemudi (SIM) C yang dikeluarkan oleh Komando Daerah Kepolisian X Jawa Timur , pekerjaannya adalah Pengemudi. Kita tidak mengetahui lebih lanjut apakah pekerjaan pendekar ini pengemudi umum atau pengemudi dari lembaga Kepolisian. Dari beberapa catatan yang masih sedikit dan bisa dikembangkan lagi kita bisa mengetahui bahwa kepemimpinan di Pencak Organisasi sepeninggal sang pendiri yaitu Imam Soedjai diberikan kepada RM Sumedi Purbokusumo, seorang pendekar yang mempunyai tanggung jawab menjaga amanat. Mempunyai dedikasi tinggi terhadap organisasi PO maupun disegani di kalangan kawan-kawan baik yang berasal dari kalangan militer dengan pangkat tinggi maupun kalangan sipil dan rakyat kebanyakan.

  • Reporter : Aji
  • Editor : Oren

2 thoughts on “Sumedi Purbokusumo: Tokoh Penerima Amanat Imam Soedja’i

  1. Semoga dharma bhakti RM Soemedi Purbokusuma (alm) dlm mengemban amanah menjadi berkah barokah dlm bentuk tempat yg mulia di sisi Alloh Swt, Aamiiin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.