Imam Soedja’i Mengembara di Dunia Persilatan, Jadikan Para Pendekar Sadar Politik

Sejarah

Berbicara tentang Perguruan Pencak Silat Pencak Organisasi (PO) yang didirikan oleh Imam Soedja’i tentu saja sangat berkaitan erat dengan riwayat hidup pendirinya yang merupakan tokoh pergerakan politik sekaligus juga sebagai pendekar tangguh di dunia persilatan.

Oleh : Mansur Hidayat

Keahlian Imam Soedja’i dalam dunia persilatan dan kependekaran di mulai sejak usia dini dimana sebagai seorang pemuda yang lahir dari keturunan bangsawan, nampaknya dunia persilatan bukan hal yang asing baginya. Sebagai putra Raden Nitiastro yang merupakan seorang Ajunct Penghulu Lumajang saat itu sejak masa kanak-kanak latihan pencak silat sudah diperkenalkan dan dunia silat inilah yang kemudian mengantarkan namanya di kenang sebagai pendiri sebuah Perguruan Silat bernama Pencak Organisasi (PO).

Menurut buku Mayor Jenderal Imam Soedja’i: Sumbangsih Untuk Pergerakan Rakyat dan Revolusi Indonesia,  pada saat lulus sekolah Burger Ambacht School (BAS) yang merupakan sekolah teknik pada tahun 1924 maka ia diterima bekerja di sebuah perusahaan pelayaran. Baru 6 bulan bekerja nampaknya timbul pertentangan antara Imam Soedja’i dengan atasannya yang merupakan orang Belanda ketika dikatakan “Inlander” yang merupakan kata-kata penghinaan saat itu. Ia kemudian berhenti dan menyatakan tidak mau bekerja lagi dengan bangsa Belanda. Setelah keluar dari pekerjaannya, Imam Soedja’i muda tidak lantas pulang ke Lumajang namun pergi ke rumah salah satu keluarganya bernama Eyang Kusumo di Ciwidey Bandung untuk memperdalam pencak silat.

Menurut Edwin Setyo Kriswanto dalam buku Pencak Silat: Sejarah dan Perkembangan Pencak Silat, Teknik-teknik Dalam Pencak Silat, Pengetahuan Dasar Pertandingan Pencak Silat bahwa pencak silat merupakan kebudayaan asli Nusantara dari masing-masing individu yang ingin mempertahankan kehidupan (survival) dalam menghadapi kerasnya alam yang sangat ganas di kehidupan masa lampau. Pada jaman dahulu Nusantara dipenuhi oleh gunung dan rimba belantara yang mengharuskan penghuninya untuk mempertahankan diri menghadapi binatang buas seperti harimau, srigala, babi hutan, banteng liar dan sebagainya. Oleh karena itu, dalam masyarakat Nusantara di masa lampau, orang yang mempunyai kemampuan pencak silat tingkat tinggi dianggap tokoh panutan dan pelindung bagi kelompok dan sukunya.

Pada masa kerajaan kuno kemampuan silat ini sangat dibutuhkan untuk menjadi prajurit yang mumpuni untuk mempertahankan kerajaan dari serangan musuh yang saling bersaing. Dari kalangan prajurit-prajurit yang berkemampuan silat tinggi inilah kemudian muncul pemimpin pasukan atau Senopati Perang seperti Kebo Anabrang, Ronggo Lawe dan Maha Patih Gajah Mada. Demikian juga para Senopati yang kemudian menduduki jabatan sebagai raja seperti Ken Arok yang berasal dari perampok jalanan berkemampuan silat tinggi dan menjadi Senopati andalan dari Tumapel dan kemudian menjadi raja Singosari, Raden Wijaya yang merupakan Senopati perang muda andalan kerajaan Singosari yang kemudian mendirikan kerajaan Majapahit, Joko Tingkir yang berkarir dengan menaklukkan kerbau liar dan kemudian menjadi pemimpin pasukan Tamtama  kemudian mendirikan kerajaan Pajang maupun Danang Sutawijaya yang merupakan prajurit berkemampuan silat tingkat tinggi yang kemudian mendirikan kerajaan Mataram.

Pada saat VOC Kumpeni masuk ke Nusantara, mereka harus menghadapi perlawanan dari kerajaan-kerajaan besar yang mempunyai pasukan tangguh dengan kemampuan silat tingkat tinggi. Pada tahun 1619 VOC Kumpeni harus menghadapi perlawanan oleh pasukan Pangeran Jayakarta Wijayakrama dalam mempertahankan Batavia. Demikian juga menghadapi serangan besar Sultan Agung dari Mataram sejak tahun 1627-1629 yang dipimpin oleh Tumenggung Bahureksa dan Dipati Ukur. Dari Makassar-pun VOC Kumpeni harus menghadapi perlawanan raja Goa Sultan Hasannudin pada tahun 1665-1666-an maupun perlawanan bangsawan Madura yaitu Pangeran Trunojoyo pada tahun 1677-1678 dan menghadapi Perang Diponegoro pada tahun 1825-1830. Semua perlawanan ini mengandalkan para prajurit perang berkemampuan silat tinggi. Setelah hancurnya kerajaan besar dan perlawanan-perlawanan dahsyat ini maka pemerintah Kolonial Belanda-pun melarang masyarakat umum berlatih silat. Sejak itu kemampuan silat hanya dikuasai oleh kaum bangsawan semata.

Setelah cukup lama memperdalam silat pada Eyang Kusumo, maka Imam Soedja’i muda ditugaskan berkelana dan mengembara di tanah Sunda guna mengasah kemampuan silatnya. Berbagai Padepokan dan Perguruan silat ia datangi terutama di daerah Garut yang merupakan gudangnya para pesilat tangguh. Sambil mengembara di daerah Garut tersebut, Imam Soedja’i muda juga bersilaturahmi dengan para tokoh Sarekat Islam (SI) yang saat itu cukup kuat pengaruhnya. Kebetulan daerah masyarakat Garut  5 (Lima) tahun sebelumnya dianggap Belanda sebagai sarang pemberontakan yang dikenal sebagai Sarekat Islam (SI) Afdelling B yang berujung penembakan kepada Haji Hasan, salah seorang simpatisan partai politik penentang Belanda. Kasus Garut inilah yang kemudian menyebabkan tokoh-tokoh Sarekat Islam (SI) seperti Cokroaminoto dan Sosrokardono dipenjara. Oleh karena itu kebencian masyarakat Garut terhadap pemerintah Kolonial Belanda sedang memuncak saat itu. Dari pengembaraannya di daerah Garut ini, Imam Soedja’i muda banyak memperoleh pengalaman di dunia kependekaran sekaligus memperkuat jiwa kebangsaan dan kebencian terhadap pemerintah Kolonial Belanda.

Pasca pengembaraan tersebut, Imam Soedja’i muda kemudian balik ke Lumajang guna memimpin Partai Sarekat Islam (PSI) sembari menyelami dunia persilatan di Lumajang dan  Jawa Timur. Berbagai petualangan dan silaturahmi dilakukan termasuk mengunjungi berbagai Perguruan silat untuk mengasah kemampuan sekaligus menjalin ajang bersilaturahmi untuk mengorganisir dukungan dari para pesilat dalam melawan Belanda. Oleh karena itu dalam dunia kependekaran tidak heran jika Imam Soedja’i dikenal sebagai pendekar tangguh dan mumpuni. Bagi Imam Soedja’i potensi dan kekuatan para pendekar Nusantara begitu besar dan tidak disangsikan lagi, namun dewasa itu kekuatannya tidak ditujukan kepada perlawanan pada pemerintah Kolonial. Saat itu para Jawara dan pendekar lebih suka jika dapat disegani diantara orang-orang satu desanya sambil mengunggulkan daerahnya masing-masing dan berharap nantinya dijadikan centeng atau penjaga keamanan dari Onderneming (perkebunan) pengusaha-pegusaha Eropa dan Cina.

Melihat hal seperti ini Imam Soedja’i muda berinisiatif membuat sebuah perguruan silat yang berbeda dengan yang sudah ada. Imam Soedja’i muda ingin perguruan silat yang dipimpinnya tidak mengandalkan nama ke-daerahan dan lebih menginginkan sebagai bagian dari pergerakan nasional melawan pemerintah Kolonial Belanda. Oleh karena itu pada tanggal 1 Agustus 1927 Imam Soedja’i kemudian mendirikan sebuah Perguruan Silat bernama Pencak Organisasi (PO) sebagai bagian dari Partai Sarekat Islam (PSI) di Distrik Tempeh Kepatihan Lumajang Regentschaap (Kabupaten) Probolinggo. Pendirian perguruan silat di Distrik Tempeh ini dikarenakan untuk menghindari pantauan Belanda terhadap para tokoh Sarekat Islam (SI) yang saat itu sedang melakukan politik Non Cooperatie. Setelah mendirikan perguruan silat Pencak Organisasi (PO), Imam Soedja’i kerap mengembara dan berpetualang untuk mendatangi para pendekar guna diajak berlatih bersama, memberi pemahaman kebangsaan secara damai namun tidak jarang pula para pendekar itu mesti ditundukkan dalam sebuah pertarungan. Hal ini dilakukan oleh Imam Soedja’i sehingga perguruan silatnya banyak dikenal orang terutama di wilayah Jawa Timur.

  • Editor : Oren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.